Arus

Arus Air Mata-7

Advertisements

Cemilan Tempoe Doeloe

Yang masa Sekolah Dasarnya di tahun 80-an alis kids zaman baheula 😀 tadi pada berkerumun di area pameran Cemilan Tempoe Doeloe di Yogya Grand.

Sayang Cokelat Ayamnya udah ganti kemasan terbaru. Masih banyak lagi tadi pilihannya, ada cokelat payung, permen karet mint Charlote – hmm…seingatku dulu namanya Chicklet, ada cokelat bentuk cigarette, manisan pala, lolipop, kembang gula, whuaah pengennya sih borong semua 🙂

Temani Aku

Malam itu Desember 2009, sudah lebih dari tiga jam Ford Everest melintasi jalur panjang Pantura membawa tim EO kembali ke Cirebon dari event arung jeram di Sungai Ciberang Banten.

Tidak ada pemandangan yang bisa kulihat di luar. Pekat malam melingkupi sekitar. Hanya cahaya lampu secara bersilih menyilaukan pandangan. Menoleh ke jok belakang pun, teman-teman yang sudah terlanjur kelelahan lelap dalam alam mimpi masing-masing atau mungkin impiannya masihlah berada di atas perahu karet diombang-ambingkan arus sungai di bawah kaki Pegunungan Halimun siang tadi. Tidak pula ingin kuusik konsentrasi Pak Amin, our office driver. Sayup kudengar sebuah tembang dari radio dalam mobil yang sejak tadi diputarkan dengan volume pelan. “…. Temani, temani aku ….. temani, temani aku….

Usai satu lagu Naff tadi, si penyiar radio menginformasikan sebuah peristiwa ter-update, baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas di kilometer … di Jalan Raya Losarang, Cemara, sebuah motor bertabrakan dengan truk….. “ yang kudengar selanjutnya kejadiannya sangat tragis bagi si pengendara motor yang segera dilarikan oleh pihak Polsek Losarang ke RS Bhayangkara Indramayu.

“Di depan sana, berarti,” ucap Pak Amin memecah hening.

“Depan mana, Pak?”

“Nggak jauh dari sini, kita ini udah sampai Kandanghaur, mbak,” Pak Amin sedikit menggeser volume radio. “Innalillahi, kepalanya sampai putus!” pekiknya lagi. Kerongkonganku berasa tercekat. Semenit kemudian Pak Amin mengganti channel radio ke arah lain. Volumenya kembali dipelankan. Kembali ia berkonsentrasi pada kemudinya. Entah kenapa, tiba-tiba saja bulu tengkukku berasa merinding. Karena pas sekali saat pilihan channel jatuh pada gelombang radio lainnya, sebuah lagu sedang bersenandung ….

Temani, temani aku ….. temani, temani aku….

Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis
Dan Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku

Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku

Kenapa lagu yang sama berulang? Ah, ya bisa saja, kan beda radio.

Hingga kembali tiba ke aktivitas keseharian, kembali kepada kesibukan sebagaimana biasa. Aku bahkan tidak ingat lagi perjalanan malam itu.

Tahun berganti. 2010. Perubahan banyak terjadi. Satu-persatu teman satu timku beranjak untuk beroleh rezeki lebih baik di luar kota. Aku sendiri ditransfer job, pindah kantor. Satu tersisa dari kami pun gegas mencari ladang lebih menjanjikan di lain kota.

Malam itu di bulan kedua 2015. Waktu sudah hampir melarut. Ketika sebuah pesan masuk ke smartphone-ku. Seorang teman dari kantor lama mengabariku kalau satu teman dari tim kerjaku dulu baru saja tutup usia. Aku terlongong membaca pesan di bentang layar mungil dalam genggamanku. Gegas aku mengirimi balasan bertanya balik pada temanku itu mengenai penjelasan lebih jauh. Tanpa kusadar sayup kudengar dari radio di kamar yang memang sedari tadi tengah memutarkan tembang-tembang lawas. Lagu itu lagi… lagu yang sama ketika enam tahun sebelumnya kudengar di lintasan Kandanghaur, Indramayu.

Aku yang dulu sering memintanya menemaniku. Dan dia setia menemaniku, dalam keseharian kerja kami. Dia pun kadang memintaku menemaninya melewati malam di ruang kerja karena job di bagiannya sangat banjir dan luber.  Kita memang saling menemani dan tak jarang pula sesuatu hal membuat kita berpunggungan, dan saat di penghujung penentuan nasib masing-masing pun bahkan sudah teramat jauh wajah kita berpaling.

Kenapa lagu yang sama berulang?

Kenapa peristiwa yang nyaris serupa berulang? 😥

Affogato

Affogato

Tadi siang sekadar mampir abis dari Gallery Smartfren 😎

 

Idealnya serentak setidaknya berturutan, setelah usai menyantap santapan lalu sebagai penutup manisnya satu cup ice cream. Sayangnya, agak membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk penyajian makanan *yailah kan kudu diolah dulu*.

Satu cup ice cream tidak ingin menunggu lebih lama apakah makanan sudah tersaji lebih dulu atau menyusul di belakang, waktu tak akan membiarkannya tetap pada lekuk uniknya karena ia akan harus segera berubah cair. Dan apakah kita akan segera pula menyicipnya saat ini juga atau tetap berpijak pada idealisme?

 

Upnormal

Giliran memilih menu yang serrrrrba ada malah jadi bingung 😆 itulah kita.

Siang ini sebaliknya dari hari kemarin, terik kembali menyapa menemani perjalanan menuju gerai makan serba Indomie. Nah, bener kan begitu memilih-milih menu andai nggak ingat waktu kembali ke kantor pasti masih bingung memilih di antara sekian banyak ragam menu dengan nama yang unik dan gambar menggugah.

Pilihanku jatuh pada nasi wagyu daging goreng mentega, sementara si neng Idin memilih nasi bakso kuah spesial. Senengnya berkuah melulu 😀

wagyu

minjem ilustasi

Berasa makan di rumah saiah hihi… liat nasinya dilumuri kecap udah gitu ada telor mata sapinya. Yah segitu aja. Semoga masih akan ada banyak cerita nanti.

 

#if today sun’s shinning brightly, because I hide this cloudy inside

 

Biji Pala

Suka masak pakai biji pala? Yepz! Sama, biasanya kalau lagi masak sop. Biji pala menambah cita rasa khas.


Pagi tadi nyoba beli di pasar tradisional di Jl. Siliwangi. Mungkin aku salah alamat. Beli seharga dua ribu rupiah dikasih cuma sebutir, dibungkus kertas koran lebar banget, plus ekspresi jamedud alias manyun si bapak yang jualnya. Siangnya ternyata aku dapetin di Supermarket yang terkenal harganya agak miring. Satu kemasan biji pala ini berisi dua belas butir, ukurannya sama segede jempol, dibanderol dengan harga Rp. 10.500,- jadi hitung aja harga per bijinya adalah Rp. 875,- rupiah. More worth it, right? Nggak perlu ditambah ekspresi cemberut pula 🙂

Warung Aceh

IMG_20171103_114936-777x1036

Kelahiran Aceh tapi belum pernah icipin masakan khas kota Serambi Mekah tersebut. Baru kali ini berkesempatan menyambangi Warung Aceh, di Jl. Ciptomangunkusumo Cirebon bareng sesama personil DC 7 icon :mrgreen:

Menu yang tersedia nasgor aceh, mie aceh kuah/goreng: biasa, daging, udang, ayam tangkap, martabak aceh, kari bebek, gulai aceh, sambal ganja, teri goreng tepung. Minuman khasnya kopi aceh dan Niecah, bentuknya mirip dengan rujak. Selain itu juga tersedia aneka jus dan teh tarik.

Buat yg hobi update sembari nunggu pesanan datang disini bisa free wifi.

pixlr_20171103122526735-1953x1953

Kopi Atjeh

Cara Informasi Mengalir

Dulu pernah ketika masih duduk di bangku SMA, seorang guru Bahasa Indonesia memberikan sebuah simulasi. Caranya, dia memberikan informasi lewat tulisan pada secarik kertas, seorang siswa yang duduk di bangku paling depan ujung diminta membacanya dalam hati. Lalu siswa tadi diminta meneruskan informasi tadi kepada teman di bangku sebelahnya dengan cara membisikan. Dan teman yang menerima informasi tadi diwajibkan meneruskan membisikkan infomasi tersebut secara berantai kepada teman-teman seisi kelas.

Informasi yang tertulis pada kertas, yang pertama kali dibaca oleh siswa pertama isinya seperti ini:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, lengkuas, bawang merah, tidak pakai bawang putih, cabai merah, dan gula merah sedikit saja.”

Begitu informasi sudah sampai di siswa barisan tengah maka informasi semakin berubah. Semakin jauh sampai kepada siswa di bangku belakang informasi semakin jauh akurasinya dari informasi awal. Isinya menjadi:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, labu siam, lada, bawang putih, melinjo, asam merah, dan gula sedikit.”

Itu bisa-bisanya ada penambahan labu siam, bawang putih, melinjo, asam merah dari manaaa? 😆 sedangkan bawang merah, daun salam, lengkuas, cabai merah dihilangkan, begitu pula gula merah menjadi gula saja, kan bisa jadi rancu nanti dikira gula pasir :mrgreen:

Begitulah kita. 🙂

Baru-baru kemarin kita menerima informasi dari Kemenkominfo tentang registrasi ulang pengguna kartu prabayar yang harus dikirim via sms ke nomor 4444. Awal saya mendapat sebaran sms tersebut dari Kemenkominfo bahwa registrasi dilakukan per tanggal 31 Oktober 2017 dengan mengetikkan ULANG#NO NIK#NO KK# dikirim ke nomor 4444. Dari hasil googling, dapat lagi informasi bahwa registrasi kartu prabayar dilakukan mulai tanggal 31 Oktober 2017 sampai dengan 28 Februari 2018. Lebih lanjut lagi, saya menerima sebaran informasi via whatsapp tanggal 28 Oktober 2017 kemarin bahwa waktu registrasi prabayar tinggal dua hari lagi sampai 31 Oktober 2017. Lalu informasi kian berkembang selain NO NIK dan NO KK pakai juga nama ibu kandung. Pagi ini saya terima informasi lagi dari teman-teman di whatsapp bahwa informasi Registasi Ulang dari 4444 itu HOAX yang mengatasnamakan Keminfo.

Hahaha…. here we are, we live in a homeland where the information flows by randomly  💡