31 Berkah

Alhamdulillah…moga berkah..

What a good day today! Nggak biasanya 3355 taruit di penghujung bulan, biasanya sih kudu sabar nunggu tanggal satu, itu juga kalau tanggal satunya bukan merah h3u…

Kerjaan hari ini udah kelar sebelum tengah hari. Eh, pulang dari masjid ba’dah dhuhur, ngedadak siang-siangan diundang masuk group wa alumni SD Lebak Bulus 😀 rumpi-rumpi nostagila sampe sekitar setengah tiga. Masih tiga puluh menit menunggu waktu pulang, aku ambil bacaan hikmah Islam Penerang Hati, terus seperti biasa menjadi kebiasan baruku di Ramadhan ini, bikin taman baca sendiri 🙂 Baru aja kebet tiga halaman, dapet notif via email: Hore! Anda menerima pesanan baru. Segera cek di Bukalapak. Gegas aku kembali ke pc. Alhamdulillah, tas koper second merk Polo yang kupasang iklannya sejak Senin kemarin hari ini dipesan orang Bandung *thumbs up*. Tas dokumen yang dulu dari 2014 kupake buat kuliah program kependidikan akta 4, pikir-pikir baru kepikir daripada bertaun disimpan di gudang kenapa nggak diduitin aja, eh beneran laku deh 🙂 Alhamdulillah Yaa Razaq.

 

Coffiesta: Ayam Gepuk

Satu busur panah satu tujuan heuu…. ya belok aja deh, daripada dikira copy paste.

Panas terik begini, pengen icip-icip menu Ayam Gepuk. Bernama lengkap Ayam Gepuk Pak Gembus Jogjakarta. Lokasinya di Jl. Pekalipan no. 43 Cirebon, yang berderet disana toko distributor tepung.

IMG_20170526_121016
List menu Ayam Gepuk Pak Gembus Pic by: mcoffeey~2017

Sampai disana jam 12:05, si mas berseragam hitamnya langsung menginformasikan kalau jam bukanya sepuluh menit lagi. Hiyaaaa…. mendinglah ini hari Jumat, ada waktu sampai jam satu. “Tenang aja, sepuluh menit lagi ready.” katanya begitu. Ya uislah nunggu aja dulu, mau cari alternatif, ini juga udah alternatif kedua di siang bolong begini 😦

Ayam Gepuk Pak Gembus

Hingga hampir pukul 12:30 menu pesananku baru benar-benar ready. Huaaahhh pedasnya ruaaarrrr biasaaaa!! Kekhasan sambalnya yaitu sambal bawang. Jadi aroma bawang merahnya kerasa banget. Kalau dari tekstur ayam gorengnya mungkin hampir sama dengan ayam geprek. Yah itu aja sih. *Sambil garukin kepala yang mulai gatal oleh keringat. Main target…..oh…later and later again….

Baper

“Udah lah, nggak usah mengharap bintang jatuh dari langit. Iyra itu ibarat temaram indahnya bintang di langit malam, namun sebagai bintang ia tak sendiri, ada bintang-bintang lainnya yang senantiasa mengiringi. Dan kamu berpijak di bumi, tanganmu nggak cukup mampu merengkuhnya. Kecuali kalau kamu punya pesawat ruang angkasa, biar bisa ngapelin dia tiap malamnya.”

Ramenya tuh Di sini

Coffiesta: Sate Gondrong

Aroma asap dari bakaran sate biasanya sedap menggoda, tapi nggak jarang juga kita mikir-mikir menakar berapa banderolan untuk minimal sepuluh tusuk sate, terutama sate kambing dan sapi.

Nggak perlu bingung, Sate Gondrong yang berlokasi di Jl. Kesambi pas seberang Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon secara buka-bukaan memajang price list di depan. Lokasinya sangat mudah terlewati dan teksnya juga mudah terbaca. Bukan sekadar tulisannya tapi nggak bo’ong rasa sate sapi dan sate kambingnya joss! 😀 gulai kambing dan sop iga sapinya juga gurih-gurih maknyus. Untuk sepuluh sate kambing/sapi Rp. 28.000,- buat yang doyan sate ayam Rp. 15.000,- sementara semangkuk sop iga dan sop daging sapinya dibanderol Rp. 15.000,- juga. Ruang untuk makan di warung Sate Gondrong tidak terlalu lapang, hanya tersedia dua meja panjang masing-masing berkapasitas tiga sampai enam orang.

Menu Sate Gondrong
Menu Sate Gondrong Jl. Kesambi (seberang RS. Gunung Jati) Cirebon. Photo update 17 Juni 2017. Photo by: Mcoffeey

Jadi, Makan siang di mana? Yiuuu… nggak perlu nunggu yang bukanya di angka 13:00 wib hehe…

Ice Mentos Tea

Puaaaanaseee….

Menurut info dari RRI dampak dari era industrialisasi menyebabkan temperatur di permukaan bumi mengalami kenaikan 1,2 derajat celcius.

Terus gimana kalau kita segerin diri aja dulu pake ice mint tea dari Dapoer Mcoffeey?

IMG_20170513_143057

Siang ini sembari mampir ke supermarket sekalian beli sebungkus daun mint. Sampe rumah nyobain kurang lebih sepuluh lembar daun mint direbus dengan air sebanyak 200 cc hingga mendidih, masukkan teh celup sampai melarut kecokelatan. Tuang dalam gelas dan tambahkan gula, aduk, tambahkan es batu, siap diseruput…… rasa mint-nya mana ya? 😆 ide konyol mcoffeey, masukkan saja sebutir permen mentos mint. Baru deh kerasa ice mint tea-nya, eh… ice mentos tea 😀

Secangkir Wedang

“Kita udah tinggal lima ratus meter lagi ke pos lima!!”

Jay mengulurkan tangan ke belakang punggungnya. Lama tersambut. Pengiring di belakangnya dengan sengal nafas menggumamkan sesuatu.

“Gue lelah, Jay,”

Jay mengabaikan keluhan teman sependakiannya. Sama seperti pendakian ke Rinjani beberapa waktu lalu.

“Ayolah! Sedikit lagi, pasti nggak akan kerasa,”

Mereka menapak dalam senyap. Sesenyap alam rindang melingkupi jalur yang mereka lalui.

Kembali Jay memecah kebekuan yang kian mendingin.

“Pake jaket gue nih…”

Rayna diam sembari memeluk erat kedua lututnya. Meski api unggun telah menyala beberapa meter di area pos. Jay bangkit gegas membuatkan minuman wedang hangat. Tiada pula gadis manis itu geming. Jay duduk di sebelahnya menyodorkan secangkir minuman hangat. Kilap-kilap kelebatan api sekilas pintas menerangi wajah Rayna. Kekhawatiran merayapi kalbu. Ada apa denganmu.

“Sakit Ray?”

Rayna menggeleng. “Aku hanya lelah,”

Jawaban Rayna masih serupa tadi. Tidak. Ini bukan Rayna. Setahun lalu mengenal Rayna adalah sosok pendaki mumpuni, tegar, hingga beberapa puncak telah bersamanya mereka kibarkan keberhasilan pencapaian.

“Kalau lo sakit. Kita turun besok. Gue siap anterin lo berobat,”

Rayna tetap menggeleng. “Kita terus naik, Jay.”

“Gue hanya ngerasa nggak nyaman kalau di antara kita meneruskan pendakian dengan keadaan seperti ini, lo terus mengeluh tapi masih ingin kita terus naik…”

“Jay! Bisa diam nggak?!” Hardikan Rayna menggelegar. Wajah kedua teman mereka menoleh. Ara pelan menghampiri. Tetapi sedikitpun dia juga tidak ingin terburu-buru mengajukan tanya, melihat mimik tidak nyaman dari kedua temannya. Jay beringsut menjauh. Ara mendekat di samping Rayna. Menepuk-nepuk pundak temannya. Membisikan tutur menghibur.

“Baiklah…istirahat dulu sob. Kalau lo capek kita bisa teruskan pendakian besok subuh,” Ara berjingkat mengambil ranselnya yang menggeletak agak jauh. Awan bergulir melarutkan kelamnya langit.

“Mungkin dia memang capek aja, Jay,” bisik Ara setelah Rayna terlelap dalam rundungan  tenda.

“Nggak biasa dia begitu, Ra. Dua kali pendakian terakhir dia selalu mengeluh lelah, capek, dan segala turunannya. Kalau dia capek kenapa masih mau ikut?”

“Gue rasa dia lagi galau, sob,” Imran ikut nimbrung. “Mungkin lagi ribut sama cowoknya?”

“Sejauh yang gue tau Dika ngijinin aja Ray mendaki,” Sanggah Ara.

“Mungkin Ray nggak mau bilang ke kita kalau diam-diam dia mengidap penyakit dalam,”

“Huss…ngawur aja lo Im!”

“Wedangnya nggak diminum tuh… buat gue aja kali ya?” Imran gegas menghampiri cangkir minuman hangat yang sedari tadi tak disentuh.

Beragam duga bagai dengingan nyamuk berkecamuk. Jay tak ingin meneruskan. Lebih memilih melelap bersama angin malam meski matanya tiada kunjung mau memejam. Berharap esok sapa hangat mentari pagi mengubah dinginnya jiwa namun kenyataannya tak seindah harap semalam.

Sebagaimana ritual setiap usai pendakian satu ketinggian gunung, berempat di penghujung pekan mereka berkumpul di Tora Café. Kedai ngopi bernuansa serba kayu di tepian deraian air terjun hulu sungai. Tiga puluh menit bergulir semenjak kedatangan mereka bertiga diwarnai jabat erat dan peluk hangat persahabatan, hingga air yang tadi memenuhi cangkir mereka tinggallah sepertiganya. Begitpun piring yang dipenuhi cemilan menyisakan remah.

Mereka saling berpandang. Dan seolah saling pula bertukar pikiran dan mereka tahu persis jawaban yang mesti mengemuka di atas meja kayu bundar. “Gue tau, gue mesti wa dia,” sahut Ara.

“Nggak Ra, biar gue aja,” Jay mengeluarkan handphone dari saku jeansnya.

“Guys, nggak usah mendingan…” Cegah Imran.

“Mungkin dia udah berganti haluan. Dunia kan luas, guys. Angin bisa meniupkan arah kapal kemana aja sekehendaknya,”

“Maksud lo apa Im? Nggak usah sok puitis gitu deh…” Sergah Ara.

“Kalian kan nggak sekantor sama Ray. Jadi cuma gue yang tau, cuma gue yang jadi saksi. Seminggu kepulangan kita dan balik ke kantor, gue liat Ray sekarang dianter-jemput Jag XE R-Sport. Entah siapa laki-laki pengemudinya, yang pasti sih bukan Dika,”

“Mungkin itu hadiah dari Dika buat Ray, terus yang bawa sopirnya,”

“Ngawur kamu Ra! Mana ada nyonya sama sopirnya cipika-cipiki mesra sebelum turun,”

Ara baru saja ingin melepas gelak. Sesaat menahan ketika melihat air muka Jay. Tangan Ara menepuk-nepuk pundak lelaki di sebelahnya. Diikuti oleh Imran.

Angin khas pegunungan masih setia menghilir. Membelai-belai manja dedaunan yang berdesak-desak menggantung pada juntai batang-batang kayu pepohonan.

Hari ini, masih serupa di setahun kemarin. Secangkir wedang hangat dengan kepulan asap tipisnya perlahan terangkat, diletakkan di atas batu datar dekat api unggun. Mata itu masih sejak tadi pula menatap secangkir minuman hangat di hadapannya setelah setengah gelas miliknya dalam genggamnya ia reguk. Kedua teman sependakiannya hanya bisa menatap iba pada pemuda berambut ikal beralis tebal yang kini hanya mematung menatap cangkir wedang masih berisi penuh di hadapannya.

Ray sudah lelah Jay, … berada dalam kabin Jag tentunya lebih nyaman ketimbang secangkir wedang.

Nova Rachma

Cerpenku-Cerpenmu

01 Mei 2017

Raa Cha

Coffiesta: Raa Cha Suki & BBQ

Dari bahasa Thai yang artinya Raja. *Raja tapi kok masak sendiri yah? garukin jempol :mrgreen:

Orapopolah, namanya diundang makan kan mubazir kalau ditolak, nanti kalau yang ngundangnya kapok, gimana? wkwkwkwkw….

Salah satu food court bernuansa Thailand di CSB mall lantai 2. Begitu masuk hmmm….aroma masakan yang berbeda jelas menggoda selera. Antrian panjang mengulur hingga pintu, untunglah karibku sudah memesankan menu nasi plus bakar-bakaran daging (daging BBQ) dan tomyam. Di meja kita merebus dan memanggang sendiri masakannya. Aseekkk… kalau yang begini inget lagi nge-camp. Berikut salah satu korban free act yang berhasil tertangkap camera. Mohon acting berikut ini tidak ditiru hahah…. 😆

Banana Cheese Ball

Salah satu varian menu sarapan di Dapoer Mcoffeey

Banana Cheese Ball

 

Mingguan kemarin lagi bikin percobaan ajah… satu buah pisang, rebus dengan air ditambah dua sendok makan gula pasir. Tiriskan. Bejek-bejek pisang pakai garpu hingga lumat. Masukkan susu kental manis parutan keju, aduk hingga rata. Masukkan potongan keju berbentuk dadu. Bentuk membulat sebesar bola pingpong. Gulirkan dalam taburan tepung terigu. Lalu goreng hingga menguning. Angkat dan sajikan.

Bahan yang perlu disiapkan:

  • satu buah pisang yang bisa diolah
  • 2 sdm gula pasir
  • air untuk merebus
  • keju kraft 35 gram, gunakan secukupnya aja tidak perlu semuanya. sebagian diparut, sebagian dipotong dadu kecil
  • 1/2 sachet susu kental manis
  • 3 sdm tepung terigu
  • minyak untuk menggoreng

Untuk porsi lebih bisa disesuaikan takarannya.

atm

Kelar membereskan urusan kartu atm tertelan mesin *lagian tuh mesin laper kali ya sampe kartu atmku dilahap juga?* Mana dilahapnya pas di penghujung bulan kemarin. Pas bersamaan dengan ‘habisnya masa berlaku paket komunikasi anda’. Huaaaaa…gimana ga komplit tuh? Apa masih perlu diberi ekstra lagi kalau k.a.m.u ingin terus bersilang pemahaman denganku?

Sisa setengah harinya mau ngapain? Hunting sesuatu yang baru! Pas juga momennya karena peristiwa-peristiwa apes kemarin justru menghindarkanku dari kejaran mereka yang menginginkan jasa mediasi dariku. Bukan apa-apa sih, jadi wasit, free of charge, eh giliran ‘kopi pahit’nya diguyurin ke aku. Malesin banget.

Nyari yang baru sih baru… tapi, ini sih serupa los di pasar tradisional yang udah lama ditinggalin. Masih dengan kadar percaya diri lima puluh persen, tanpa mau kehilangan muka begitu saja – keep moving on, cukuplah seminggu lalu tanpa kartu atm, tanpa paket dan quota, dan mungkin tanpa k.a.m.u juga yang aku nggak ngerti kenapah. Alhamdulillah-nya, nemu mushola di sudut terdalam. Yang ini bukan lagi pas melainkan tepat, sebelum jam dua siang bergeser lebih menjauh mendekati waktu Ashar. Tepat supaya nggak kelihatan sedang tersesat gara-gara males pake google map 😀 selalu  mengandalkan logika dan intuisi.

Abis itu kemana? Nyari yang pasti-pasti aja deh. Tabuhan irama keroncong di dalam sudah semakin memainkan ritmenya. Meski untuk ditempuh masih harus agak jauh tapi ya nggak apa-apalah. Semi-garden agaknya cocok buat melonggarkan peningnya kepala Jodha. Eh, masuk-masuk malah langsung disapa “Caan….tik” huahahaahaha…. Nggak usah su’udzon dulu pemirsah. Bukan aku merasa begitu. Semata karena sapaan soft music dari speaker di sudut ruangan yang intronya diawali gitarnya Andri Bayuaji tadi memang udah akrab banget di pendengaranku dan jadi favoritku sepanjang masa. Hah.

Hey… k.a.m.u. biasa ajah, terserah, mau pilih apa, siapa, dan yang mana, bebas aja yang penting elo bahagia. Nggak ada yang maksa juga keleus. So nggak perlu pake ngambek gitu sampai dibawa ke segala sektor: sektor pantry, sektor mushola, sampe sektor pos :mrgreen: nggak perlu seserius seperti k.a.m.u menunaikan pekerjaanmu, dibawa santai donk, de 🙂

#kamumahgitu

#ambekan

#akumahgagitu

#ketawabae

#kalaugabolehketawayaakusenyumaja

#buatmuakuikhlas