Ngasap Pagi-Pagi

Ngapain coba Minggu pagi begini main asap? :mrgreen:

Serabi tradisional, bekas rel kereta api Jl. Siliwangi Gg. Sekhmagelung, Cirebon
Advertisements

Hati-hati di Jalan

Jadi keinget dengan lirik lagu yang pernah dibawain oleh Shiha Zikir di ajang DAA2, belakangan saya baru tahu kalau itu lagunya Rita Sugiarto.

Jum’at sore kemarin niat banget pengen nguliner. Baru aja markirin sepeda di parkiran dekat kantor induk di area pakir motor, tiba-tiba seorang laki-laki memanggil nama saya. Saya pun menoleh usai mengaitkan kunci sepeda pada sebilah tiang. Oww…ternyata Mas Yon, teman lama waktu tahun 2000 silam kita masih di Fungsi Tekres. Gegas dia menghampiri dan menanyakan kabar saya, termasuk bertanya di mana sekarang saya ngantor, hehe…masih di lingkungan yang sama kok, cuma gedungnya beda satu kilometeran. Dia juga nanya saya mau kemana karena nyimpan sepeda di parkiran kantor depan. Lalu saya pun menyebutkan tujuan saya, sekadar berkuliner sore ke Perjuangan.

“Oke kalau begitu hati-hati di jalan, Mutz,” pamitnya pula. Hmmm.. Sebait kalimat yang dulu pernah begitu akrab di telinga saya.

Berat Mana?

images
ilustrasi: dreamstime.com

Tulus itu menurutmu apa?

Yang memberi karena selalu dan terus-menerus diminta? Atau, yang memberi begitu aja tanpa diminta dan tanpa pernah meminta?

Kalau menurutku, Tulus itu….

.

.

.

.

.

.

.

lagunya bagus *_#

Salah Alamat

Baru deh sekali ini saya masuk ke sebuah warung makan tapi berasa ‘salah alamat’. Bukan karena menunya nggak menarik atau nggak enak, tapi berasa aneh dengan surrounding-nya. Malah sempat mendadak terbersit di kepala, jangan-jangan ini tempat pemotongan hewan.

Sebenarnya lokasinya udah cukup strategis, di tepi jalan raya, berjejeran juga dengan semarak penjaja makmin dari mulai gerobakan, resto/cafe, dan food court lainnya di jalur lingkungan kampus, sekolah, dan perkantoran. Ruangan cukup luas, meja panjang dan kursi tersedia cukup banyak, bersih, namun sepi pengunjung. Jalan masuk didominasi pintu besi tertutup rapat, hanya menyisakan celah kecil saja untuk jalan masuk-keluar. Udah lebih mirip tempat ritual pemujaan. Beberapa lembar poster iklan herbal terpampang di dinding. Begitu melangkah masuk, perasaan sungkan mendadak merayapi jiwa, seorang wanita paruh baya berwajah sosialita dengan paras rada jutek langsung menanyai apa keperluan saya. Tiba-tiba aja saya jadi berasa seolah datang dengan maksud minta dana sumbangan 😛 Iya saya langsung aja bilang mau beli bandeng presto goreng satu aja dan dibungkus. Lihat roman si nyonya batal niat semula nanti mau maksi di sini pas ada kesempatan maksi di jam isoma minggu depan. Lalu sembari dipersilakan duduk di salah satu kursi, saya disuguhi minum teh tawar. Oke sih, mungkin bagian dari service mereka. Tapi, makin berasa datang seperti tamu, bukan pengunjung yang mau beli makanan. Untungnya, ini adalah agenda survey di awal, bukan untuk langsung makan di tempat. Setelah pesanan saya diberikan, saya dipersilakan langsung menuju meja kasir, sebuah meja di mana terdapat tumpukkan barang yang sama sekali nggak berkaitan dengan keperluan warung makan. Seorang laki-laki gemuk paruh baya juga, penampilannya juga layaknya golongan elit, lima detik masih saja asyik perhatiannya tertuju pada ponselnya sembari bersandar santai di jok kursi, padahal saya sudah menyodorkan selembar lima puluh ribu *tanpa merasa perlu bertanya berapa harga menu tadi*. Sikapnya kayak yang nggak butuh dibayar jualannya. Setelah akhirnya dia terima lalu memberikan kembalian seraya menyebutkan jumlah uang kembalian tanpa ucapan terima kasih. Hadeeehhh…. salah alamat saiah 😵 *pantes aja kosong gitu, sepi pengunjung*.

IMG_20180406_183725_20180406224306594-777x1036

 

Nasi Uduk Sewiwi

Siaaaang….

Udah pada makan siang ini? Di long weekend hari kedua ini saya sejak pagi berkutat di dapur, eh, diawali belanja dulu tadi ke pasar buat beli bahan-bahan. Nah, akhirnya jadi deh:

Apaan aja?

– 200 gram beras

– 400 gram kelapa parut

– 3 cm serai

– 1 lembar daun salam

– 1 sendok makan pas garam

Bersihkan beras. Sisihkan. Beri dua gelas air bersih pada kelapa parut. Saring, ambil perasan airnya untuk dibuat santan encer. Didihkan. Ambil air santan yang sudah masak lalu tanak bersama nasi, bubuhi garam, serai, dan daun salam. Untuk menambah aroma alami, alasi dulu penanak nasi dengan beberapa helai daun pisang yang sudah dibakar sebentar di atas api. Masak hingga nasi matang.

Untuk tambahan variannya bolehlah saya tambahkan ayam goreng sewiwi, dadar telor, irisan lalapan timun dan daun kemangi, jangan lupa sambal. Mari bersantap 🍽  siang.

Ayam Geprek Arieka

Masih di edisi nguliner sore. Kemarin sekalian nyari cemilan buat buka puasa, nah buat makan malemnya, sekalian deh aku liat-liat sekitar -masih di Jl. Perjuangan- ada ayam geprek mozarela dengan harga mulai dari lima belas ribu rupiah aja. Soal rasa lumayan lah ada cita rasa gurih dari lumeran mozarelanya, pedasnya cukup.

Ayam Geprek Arieka dengan topping mozarela, lokasi: Jl. Perjuangan, depan kampus IAIN Cirebon

Banana Nugget

Kalau jelang maghrib saat shaum sunah, suka pinginnya ngulinerin yang unik dan enak. Baru-baru dapet info dari dunia IG, ada banana nugget melted lokasinya di Jl. Perjuangan, depan kampus IAIN Cirebon. Langsuuuuungg…tadi rada jahil aku nggak pake nunggu teng jam empat sore, masih lima menit lagi jelang jadwal pulang kantor aku langsung ngabur, cincai lah dengan urusan inject print, masih bisa aku mampir sejenak numpang inject print di kantor depan..hehe…lanjoooottt.

Destinasi sore ini menuju Jl. Perjuangan. Ternyata emang bener, ada lumayan aneka kuliner. Aahh dasar aja emang akunya bawaan laper. Niihh…

banana.nugget_cirebon

Banana Nugget. Harga mulai dari 15K. Bentuknya mirip banget nugget ayam tapi isinya pisang. Gurih, maknyuus, cuco buat cemilan sore, apalagi buat buka puasa. Masih ada aneka pilihan rasa, selain topping green tea, ada vanila, oreo, milo, strawberry, dll. Beneran nggak pengen ngikut ngulineran sore sama aku? Masih ada menu unik lainnya lagi di Perjuangan. Nanti aku bahas di posting selanjutnya.

Just to have Somebody

Menetapi dunia yang makin kekinian kadang dirasa perlu kita menarik nafas panjang – jangan lupa dihembuskan kembali – sudah emang semakin beragam saja persoalan, lebih lagi dari sudut pandang yang kadang menggiring pemikiran banyak orang agar ikut-ikutan berpikir miring. Mungkin ini pula yang belakangan sering disebut-sebut dikaitkan dengan ‘kebanyakan makan ‘mitcin’.

Kemarin sore, saya temu kangen dengan seorang teman lama dari luar kota. Sembari kita nongkrong di warung tenda yang harga makanannya agak miring, banyak kisah terbagi. Bisa dibilang teman saya ini rada curhat. Semula saya kira dia mau curhat abis putus sama pacar ter-update-nya, eh..bukan. Ceritanya agak sedih. Jadi, setiap kali seumur hidupnya dia punya seorang teman yang mana kemudian berlanjut dekat sebagai sahabat, saling akrab, saling tolong, saling berbagi kisah, kemana-mana bareng, eh, malah seringnya juga ada aja muncul makhluk-makhluk bertanduk yang berjubah putih mengatasnamakan kebaikan lantas mempengaruhi jalan pikiran sahabatnya itu. Sampai hal tersadisnya pernah atau bahkan sering seseorang yang dekat dan jadi sahabatnya dia itu dibisiki bahwa teman saya ini patut dijauhi karena dicap transgender atau istilah keren sekarang L.G.B.T. Padahal, kata teman saya ini: “ada nggak sih orang yang pernah hadir dan pernah dekat sama gue selama itu pula pernah membuktikan kenistaan itu ada di dalam diri gue? Kalau sahabat gue itu otaknya waras, dia pasti bakal geleng kepala. Karena toh selama ini gue nggak pernah melakukan hal-hal berbau L.G.B.T. Gue selama ini cuma pengen seperti kebanyakan normalnya orang, kemana-mana punya teman yang nemenin walaupun sekadar buat nge-mall, hang out sore, sekadar buat saling berbagi cerita, buat mengarungi hobi-hobi kalau emang kebetulan hobi kitanya sama. Tapi, yang gue herannya, selalu aja kedekatan gue dengan seorang sahabat jadi cemo’ohan. Seolah itu aib buat mereka. Sedangkan tiap-tiap mereka sendiri masing-masing punya sohib yang anytime setia nemenin kemana aja mereka jalan. Lah, gue, baru bentaran doank punya sohib udah dikompor-komporin orang supaya sohib gue itu  ngejauhin gue, gue ditengarai dengan sindiran-sindiran intinya gue dianggap bahaya. Buktinya apa? Apa pernah seseorang yang deket sama gue terus pernah gue perlakuin ngga senonoh? Jangankan gue punya sikap ngurangajarin sohib, pegang tangan sohib aja gue ngga pernah, kecuali dianya yang pengen gandeng atau rangkul gue. Kalau dianya yang pegang tangan atau rangkul gue ya gue biarin. Terus, masalahnya dimana? Yah, nasib gue mesti tabah untuk sendiri dan sendiri lagi.”

Don’ t you wish as everybody, to have somebody in a marriage? Tanya saya gamblang. Dia bilang, dia belum mau ribet dengan pernikahan. Dalam saat ini dia cuma pengen to have somebody as a friend. Simple kan? Tapi, kenapa juga ya orang lain ngeliatnya ribet?

 

Waja Ketan Susu

IMG_20180327_181238-777x1036
Waja – Ketan Susu

“Tak Ketan Maka Tak Sayang

Begitu tag line pada tenda warung spesialis ketan susu di Jl. Pekalipan Cirebon. Bukanya sore-sore, sekitar jam lima, jadi cocok banget buat hang out sepulang kantor. Pilihan menunya, uiiihh beragam, gaul banget, nih… o iya pilihan ketannya bisa pake susu kental manis atau kuah. Cekidot…