Kata Ceu Kokom

Sepakat banget sama apa yang pernah diungkapkan oleh Ivan Gunawan dalam salah satu tayangan DA Indosiar, bahwa kemajuan teknologi internet ternyata belum tentu berbanding lurus dengan kecerdasan intelegensi penggunanya.

Bener apa bener… sering kita terpedaya oleh tayangan di dumay. Kadang malah baru baca judulnya saja hati ini sudah terprovokasi. Kadang juga belum tahu pasti, masih samar, berlandaskan semata pada praduga, spontan emosi meluap. Astagfirullah, jauh sudah diri ini dari sikap tabayyun.

Ini kisah kalau saya ingat jadi kadang bikin senyum, meski ada kecewa, tapi ya sudahlah… kan belum tentu niatan baik bersambut baik. Saya punya teman dari jamannya bangku sekolah masih terbuat dari kayu. Nggak akrab-akrab banget sih… seringnya malah bertengkar, gara-gara dia orangnya somse dan sering saya jahilin sampai kelewatan. Pernah juga kita temenan, kita tukeran kado, pernah saling mendoakan waktu sakit, pernah bantuin ngasih contekan juga. Abis itu besoknya diem-dieman lagi karena suka saling cemooh. Ada lebih dari dua dekade yang pastinya kita terpisahkan oleh rentang jarak dan waktu. Boro-boro komunikasi, nomor kontaknya aja nggak tau. Bersua pun sudah tidak pernah sejauh ini. Tiba-tiba dua bulan lalu ada seseorang meng-invite akun facebook saya. Nama ID nya saya nggak kenal, fotonya entah itu siapa, kalaupun memang teman saya dari masa lalu bisa jadi penampilannya saat ini udah pangling dharma sehingga tidak saya kenali. Merasa nggak kenal, saya reject aja. Nggak ada check dan re-check dulu barangkali bisa diliat dulu info profilnya, teman yang samanya siapa, dsb. Di akhir Mei kemarin saya diundang ke group whatsapp alumni teman SD. Nah, disitu baru deh saya ngeh begitu lihat salah satu dp member. Lah, ini kan orang yang invite fb saya beberapa bulan lalu. Karena di wa dia pake nama asli baru saya nyadar, owalaaahh…ternyata yang kemarin di fb itu si pulan? Habis gara-gara dia pake nama ID ‘maminyasikakasiade’ terang aja saya gelap informasi dan langsung saya reject dengan sadisnya. Kalau mungkin dia mengira saya bisa mengenali dari profile picture-nya, ya mana tau lah… dulu nggak kudungan sekarang kudungan dan wajah sekarang udah terpoles make up apik. Dengan segala niatan baik, saya invite fb-nya. Eh, besoknya saya terima respon….Rejected. Sedih sih… mungkin dia balas dendam karena dulu niat menyambung lagi tali silaturahimnya saya tolak. Yah, mau apa dikata? Jadi intinya kita miskom kalau menurut istilah si ceu kokom. Meski sebenarnya masih ada cara lebih baik yaitu direct communication itu tadi, secara kan bisa lewat kontak di whatsapp. Aahhh… hati terlanjur terkungkung emosi, ragu mencekat jemari, untuk sekadar kembali menyapa. Mengapa prasangka dumay begitu meraja? Yiuuuu ah kita kembali ke tabayyun. Kalau belum nyambung ya disambung, kalau nggak ngerti ya ditanyakan.

Real(ationship)

real-vs-fake
ilustration: https://wednesdayswithnancy.wordpress.com/page/6/

Dua puluh empat tahun, luar biasa untuk sebuah perjalanan keterhubungan. Niatan baik untuk kembali bersua sapa bersambut hangat bukan hanya dari satu atau dua melainkan sejumlah lainnya sesama alumni bergaung ingin bergabung. Sampai-sampai kulempar canda, “kita bikin aja reuninya jadi kesebelasan…” Layar dibentang, rencana tertata pada kalender, janji terungkap, berharap jabat erat akan tetap terwujud.

The real is not what is on the screen but on the action or behavior. If we use it solely to strengthen our friendship. Perhaps, someone could be hide behind it and and made it seem like I was not aware. Even So, forget the screen, I’ll join the actual meet-up with friends who is real as they are.

Cheese Om

Telolet eh, omelet

Masih di edisi liburan kira-kira mau bikin sarapan apalagi pagi ini? yang ada ajah bahannya.

Satu butir telur, siapkan dalam wadah, bubuhi sedikit garam, aduk dengan garpu Selembar keju tipe slice potong setengah bagian. Siapkan teflon dan olesi dengan mentega, panaskan. Dadar telur, masukan setengah lembar keju. Lipat dadar telur sebelum matang di penggorengan. Sajikan. Rasanya hmmm…lumerroo uno haha ..

Sedikit irisan mangga simanalagi dari halaman sendiri, taburi irisan cabe merah, sekadar untuk penyegar. Mari sarapan 🙂

 

Renungkan ini

Apa yang membuat hatimu memilihkan menempatkannya dalam singgasana hatimu untuk mendampingi perjalanan hidupmu?

dia yang selalu hadir di hari-harimu
dia yang berbicara denganmu sepanjang waktu dan membuat senyummu mengembang
dia yang menemanimu pergi ke mall, membayarimu makan, nonton, dan tiket wisata

adakah dia…
menyediakan bahunya untukmu?
melapangkan dadanya untuk air matamu?
menguatkan genggamnya untuk menopang yang kamu tak kuasa menopangnya sendiri?
menggelarkan sekujur raganya entah kamu peduli atau tidak, untuk menjagamu dari terpaan badai?

Pernah, seorang karib bertutur kegalauannya dalam hitungan bulan jelang pengakhiran masa lajangnya. “Diakah pilihan hati dan hidupku?” Bimbangnya. Pasalnya, sejauh masa penjajakan dua hati mereka untuk menjadi padu buaian rayuanlah yang mengangkasa, sementara tiada usaha membangun pondasi rencana ‘rumah’ bagi hidup mereka kelak. “Selama ini selalu aku yang bayar, alasannya uangnya belum cukup, dagangannya tengah merugi, atau…dompetnya hilang.” Dear karibku, dengarkan kata hatimu. Panjatkanlah doa-doa malam. “Sudah, bahkan sudah aku istikharah, tapi tak kunjung kudapat mimpi. Ibuku menyaran, kalau nggak sreg, mundurlah, selagi janur belum lagi melengkung. Tidak. Tekadku bulat. Aku tidak boleh melihat sisi buruknya semata.” Baiklah….

Hari H karibku pun tiba, sayang, calon mempelai sang calon penopang mahkota dewi tiada kunjung tiba. Beribu alasan, merugi dagangan, dompet hilang (lagi), motor raib, sampai pada kompor rumah meleduk. Karibku tak ingin menyerah pada janji suci yang ia yakini cinta. Berangkatlah ia dan keluarga serta kerabat, membalikkan adat dan tradisi yang semestinya. Nyata, bukan bahagia dijalani ketika sejak kemarin pun jiwa ksatria itu tak pernah lahir dan bertumbuh dari lelaki yang dulu begitu diyakini oleh karibku sebagai cinta.

Sisir

Menikmati Minggu pagi cerah.

Bersepeda melintasi jalan utama Siliwangi -car free day area- belum lagi bergeser dari agenda hobi mingguanku. Kali ini sekalian mampir ke atm di halaman bank. Usai urusan di dalam. Saat turun kembali ke halaman ada sisi unik yang menurutku halaman kecil ini cantik untuk selfie :mrgreen:

Berjarak 200 meter dari jalan raya dengan posisi menanjak dari luar ke dalam, terdapat pilar aluminium mengkilap dengan dinding marmer sebagai penopangnya. Sekelilingnya ada tanaman-tanaman hias sekadarnya tetapi cukup greeny menghadap ke lapangan alun-alun di seberangnya. Tergelitik di saat aku bersiap-siap dengan kamera saku yang selalu kubawa, ada sebuah sisir kecil terselip di antara pilar aluminum dan penyangga marmer. Berarti memang disini tempat orang selfie. Karena sebelumnya berarti pernah ada yang memanfaatkan pekarangan kecil ini sebagai latar dan memanfaatkan pilar aluminium bening ini sebagai kaca cermin buat rapi-rapi dulu sebelum selfie 😀 Memang aku mendadak pingin selfie dengan berlatar pekarangan cantik ini mumpung di hari Minggu pagi saat sekarang cerahnya matahari sedang menyapa manja, tapi tidak dengan sisir itu tak bertuan yang tergeletak tsb  untuk merapikan rambutku 😉

Narrow Minded

Closed Minded

For most people especially in a small town, a balance relationship sometimes hard to be valued. Whereas in this current global era where communication is very much needed in the work activities and for the work performance itself, but still there are some people have such narrow minded. Invited in exchanging contact numbers then considered intend to start an affair, though we know each other as co-workers.

*pat forehead*

loggoff

offline
feel free! :mrgreen:

Exciting indeed in a state of on-line. You could share anything with everybody with all. And I have set my heart within this line. Unfortunately … it’s getting uncomfortable, when there must be a lie, sensitive, wish being accompanied for all day but confusing, I’m asked to be here but you go along with someone else, being invited in a tête-à-tête but you tell me I’m wrong in all way, omg! Better you go overboard! 😆

iseng.com

Manakala sentak terhenti karena perihal tak dimengerti. Upaya sekuat hati mengerti pun masih tertatih karena belumlah terlatih.

harus apa?

harus apa lagi??

harus kata apalagi???

Pasang aja foto aneh di pp, targetkan berapa jumlah quota komentar dalam satu hari. Haiyyaaahhhh! Langsung diserbu oleh komentar2 my buddies. Daripada berlari dalam pikiran menerawang dan diam dalam kelam. Lumayan! yang datang lebih dari yang ditargetkan, jadi mohon maaf kalau nggak kebagian seat harap mengambil tiket berdiri, halahh apa siih? 😀 The point is…. I invite you all in a fit and fun ^_^

envious

I really do not understand the way his mind
envious just because I stay near
I’ve known you for a long time
he knows you no more than a year

which is always kick over you
which is always throw you away
which is burned whenever we walk concurrently

but you are my best friend
don’t wanna  lose you
just because he act enviously
he doesn’t know like I knew you
(better I tell him) so don’t go attempting

 

“K” song lyrics