Anak-Mantu Zaman Now

Semasa sebelum ini, sering pula saya termasuk orang yang kerap menyitir teman atau orang lain di akun sosmed saya setiap kali kesal dengan ybs. Memang saya tahu itu salah, dan resikonya kami bertengkar dan bermusuhan. Namun, setiap kali saya kesal dengan keluarga, orang tua, tidak pernah sepatah katapun saya umbar di akun media sosial saya, apalagi sampai menyitir ibu/mertua sendiri. Semoga saja orang yang menistakan lalu mengumbarnya di akun sosmed tentang ibundanya atau mertua yang notabene orang tuanya sendiri, lebih pula di Bulan Suci Ramadhan, mendapat azab yang setimpal dari Allah SWT.

Advertisements

Pengaruh “Obat”

Pengen bisa banget nolongin teman yang dalam kondisi udah berada di bawah pengaruh obat. Masalahnya, obat yang dimaksud bukan narkotika dan segala cs-annya yang bisa saja dibawa ke panti rehabilitasi, bukan juga obat medis, melainkan obat dalam tanda kutip. Jenis yang terlarang, baik dalam norma sosial apalagi norma agama. Obat itu belakangan ini sudah membiusnya begitu sadis. Efek buruknya yaitu otaknya tercuci. Yang mencucinya emang punya niatan-niatan negatif (baca: indoktrin) – orang yang selama ini menjadi hater telah mencuci jalan pikirannya, tentu saja niat si hater supaya semakin bertambah panjang daftar pengikutnya untuk berseberangan dengan saya. Semakin berkeprok tanganlah hater ini karena dia berhasil lagi merenggut teman yang selama ini sudah saling percaya dengan saya. Tambah-tambah lagi emang bawaan dari dulunya teman saya ini jalan pikiran dan perilakunya mudah banget disetir oleh orang lain. Udah beberapa hari ini aja teman-teman lain menginformasikan pada saya, kelakuan alam bawah sadar si korban belakangan semakin menjadi-jadi. Udah selama ini saya coba menarik kembali kesadarannya, pernah diajak bicara baik-baik malah mbelink, bahkan dengan sitiran keras saking udah berkeraknya pengaruh obat itu melinglungkan dirinya. Tapi sia-sia, upaya saya malah berbuah dimusuhi dan dibenci, disalahartikan, saya jadi bisa apa?

Ya uislah, mending saya beresin urusan ngetok dan ngebenahin lampu sein mobil yang ancur kemaren gara-gara kelakuan anak setan jalanan. Terserah, kalau lebih suka terus-menerus berada di bawah pengaruh obat tersebut ya silakan. Selama ini saya sudah mencoba meminta tolong pada Ahlinya, tetapi mungkin sang Ahli belum berkenan mengizinkan teman saya itu insyaf dan kembali pulih seperti dulu – seperti dulu selalu memanggil saya setiap jam pulang kantor dari depan pintu. Seperti dulu, dia yang dulu sahaja dan teman yang menyenangkan. Sayang, kepribadian aslinya sudah almarhummah. Wallahu a’lam…

Isi Dompet

Usai ngobrol di jelang sore dengan temanku yang punya hobi lari ke hutan dan manjat pohon kalau lagi bete, dari situ aku menarik satu benang merah persamaan dengannya. Doyan makan. Haha… bukan maksudku sama-sama doyan makannya, tetapi maksudnya begini, suka membawa sekadar snack atau makanan cemilan dan dimana merasa ada teman yang klop, teman yang asyik, ada keinginan untuk berbagi snack atau cemilan itu dengannya, tanpa berharap si teman itu membalas hal serupa. Iya adapun lain waktu si teman itu pingin juga berbagi makanan ringan boleh-boleh saja, nggak berkenan pun nggak apa-apa, intinya bukan karena kitanya yang minta.

Sesederhana konsep yang selama ini ada dalam pemikiran aku. *ciaahh…* Awal aku misal melihat seorang teman itu baik, ngga punya sifat angkuh, seneng ngobrol, punya wawasan dan pengetahuan, suka jalan-jalan dan belum bosan dengan aktivitas makan. Aku nggak menuntut bahwa seorang teman itu harus punya hobi yang sama. Aku juga nggak akan minta supaya dia membalas semisal apapun yang mungkin aku pernah berikan. Intinya, nggak ribet kok, aku nggak nuntut ini itu. Jadi teman yang asyik itu udah cukup buatku. Iya memang, isi kepala tiap-tiap individu kan berbeda ya? Kadang sebenarnya yang nggak ribet aja terlihat seolah menjadi masalah. Masalahnya mungkin aku nggak punya seperti apa yang orang lain lebih punya. Namanya juga zaman now. Bisa jadi apapun bentuk relasi, sebelum menjalin keterhubungan antar individu, walau sesederhana berupa pertemanan, yang perlu dilihat utamanya adalah bentukan materi dan kuantitas dalam dompet.

Selamat malam, pemirsa.

Temani Aku

Malam itu Desember 2009, sudah lebih dari tiga jam Ford Everest melintasi jalur panjang Pantura membawa tim EO kembali ke Cirebon dari event arung jeram di Sungai Ciberang Banten.

Tidak ada pemandangan yang bisa kulihat di luar. Pekat malam melingkupi sekitar. Hanya cahaya lampu secara bersilih menyilaukan pandangan. Menoleh ke jok belakang pun, teman-teman yang sudah terlanjur kelelahan lelap dalam alam mimpi masing-masing atau mungkin impiannya masihlah berada di atas perahu karet diombang-ambingkan arus sungai di bawah kaki Pegunungan Halimun siang tadi. Tidak pula ingin kuusik konsentrasi Pak Amin, our office driver. Sayup kudengar sebuah tembang dari radio dalam mobil yang sejak tadi diputarkan dengan volume pelan. “…. Temani, temani aku ….. temani, temani aku….

Usai satu lagu Naff tadi, si penyiar radio menginformasikan sebuah peristiwa ter-update, baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas di kilometer … di Jalan Raya Losarang, Cemara, sebuah motor bertabrakan dengan truk….. “ yang kudengar selanjutnya kejadiannya sangat tragis bagi si pengendara motor yang segera dilarikan oleh pihak Polsek Losarang ke RS Bhayangkara Indramayu.

“Di depan sana, berarti,” ucap Pak Amin memecah hening.

“Depan mana, Pak?”

“Nggak jauh dari sini, kita ini udah sampai Kandanghaur, mbak,” Pak Amin sedikit menggeser volume radio. “Innalillahi, kepalanya sampai putus!” pekiknya lagi. Kerongkonganku berasa tercekat. Semenit kemudian Pak Amin mengganti channel radio ke arah lain. Volumenya kembali dipelankan. Kembali ia berkonsentrasi pada kemudinya. Entah kenapa, tiba-tiba saja bulu tengkukku berasa merinding. Karena pas sekali saat pilihan channel jatuh pada gelombang radio lainnya, sebuah lagu sedang bersenandung ….

Temani, temani aku ….. temani, temani aku….

Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis
Dan Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku

Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku

Kenapa lagu yang sama berulang? Ah, ya bisa saja, kan beda radio.

Hingga kembali tiba ke aktivitas keseharian, kembali kepada kesibukan sebagaimana biasa. Aku bahkan tidak ingat lagi perjalanan malam itu.

Tahun berganti. 2010. Perubahan banyak terjadi. Satu-persatu teman satu timku beranjak untuk beroleh rezeki lebih baik di luar kota. Aku sendiri ditransfer job, pindah kantor. Satu tersisa dari kami pun gegas mencari ladang lebih menjanjikan di lain kota.

Malam itu di bulan kedua 2015. Waktu sudah hampir melarut. Ketika sebuah pesan masuk ke smartphone-ku. Seorang teman dari kantor lama mengabariku kalau satu teman dari tim kerjaku dulu baru saja tutup usia. Aku terlongong membaca pesan di bentang layar mungil dalam genggamanku. Gegas aku mengirimi balasan bertanya balik pada temanku itu mengenai penjelasan lebih jauh. Tanpa kusadar sayup kudengar dari radio di kamar yang memang sedari tadi tengah memutarkan tembang-tembang lawas. Lagu itu lagi… lagu yang sama ketika enam tahun sebelumnya kudengar di lintasan Kandanghaur, Indramayu.

Aku yang dulu sering memintanya menemaniku. Dan dia setia menemaniku, dalam keseharian kerja kami. Dia pun kadang memintaku menemaninya melewati malam di ruang kerja karena job di bagiannya sangat banjir dan luber.  Kita memang saling menemani dan tak jarang pula sesuatu hal membuat kita berpunggungan, dan saat di penghujung penentuan nasib masing-masing pun bahkan sudah teramat jauh wajah kita berpaling.

Kenapa lagu yang sama berulang?

Kenapa peristiwa yang nyaris serupa berulang? 😥

Renungkan ini

Apa yang membuat hatimu memilihkan menempatkannya dalam singgasana hatimu untuk mendampingi perjalanan hidupmu?

dia yang selalu hadir di hari-harimu
dia yang berbicara denganmu sepanjang waktu dan membuat senyummu mengembang
dia yang menemanimu pergi ke mall, membayarimu makan, nonton, dan tiket wisata

adakah dia…
menyediakan bahunya untukmu?
melapangkan dadanya untuk air matamu?
menguatkan genggamnya untuk menopang yang kamu tak kuasa menopangnya sendiri?
menggelarkan sekujur raganya entah kamu peduli atau tidak, untuk menjagamu dari terpaan badai?

Pernah, seorang karib bertutur kegalauannya dalam hitungan bulan jelang pengakhiran masa lajangnya. “Diakah pilihan hati dan hidupku?” Bimbangnya. Pasalnya, sejauh masa penjajakan dua hati mereka untuk menjadi padu buaian rayuanlah yang mengangkasa, sementara tiada usaha membangun pondasi rencana ‘rumah’ bagi hidup mereka kelak. “Selama ini selalu aku yang bayar, alasannya uangnya belum cukup, dagangannya tengah merugi, atau…dompetnya hilang.” Dear karibku, dengarkan kata hatimu. Panjatkanlah doa-doa malam. “Sudah, bahkan sudah aku istikharah, tapi tak kunjung kudapat mimpi. Ibuku menyaran, kalau nggak sreg, mundurlah, selagi janur belum lagi melengkung. Tidak. Tekadku bulat. Aku tidak boleh melihat sisi buruknya semata.” Baiklah….

Hari H karibku pun tiba, sayang, calon mempelai sang calon penopang mahkota dewi tiada kunjung tiba. Beribu alasan, merugi dagangan, dompet hilang (lagi), motor raib, sampai pada kompor rumah meleduk. Karibku tak ingin menyerah pada janji suci yang ia yakini cinta. Berangkatlah ia dan keluarga serta kerabat, membalikkan adat dan tradisi yang semestinya. Nyata, bukan bahagia dijalani ketika sejak kemarin pun jiwa ksatria itu tak pernah lahir dan bertumbuh dari lelaki yang dulu begitu diyakini oleh karibku sebagai cinta.

Mutiara Maghrib (ed.20-03-2014)

masjid

اَللّهُ telah mengkaruniakan pasangan kepada kita. Adanya kekurangan dari diri karena ada yang dilebihkan dari pasangan, begitu pula sebaliknya, kekurangan yang ada pada pasangan karena ada yang dilebihkan dari diri ini. Lalu mengapa harus mencari-cari jalan untuk mencari seseorang yang lain selain pasangan? Memang sepintas seseorang yang lain memiliki lebih dari segalanya, padahal itu semata hanyalah tipu daya syaiton yang seringnya lalai dari pandangan mata manusia kecuali dilihat dari pandangan iman. Ia sesungguhnya sama sekali tidak memberikan kelebihan apapun kecuali fatamorgana indah dengan tujuan menyesatkan saja selama hayat di dunia agar kelak terjauhkan dari ridho اَللّهُ SWT dan di akhirat terjauhkan pula dari pintu syurga.

Narrow Minded

Closed Minded

For most people especially in a small town, a balance relationship sometimes hard to be valued. Whereas in this current global era where communication is very much needed in the work activities and for the work performance itself, but still there are some people have such narrow minded. Invited in exchanging contact numbers then considered intend to start an affair, though we know each other as co-workers.

*pat forehead*

Tetes Keringat

“Alhamdulillah….kerjaanku kelar hari ini, jadi besok bisa berlibur!”

Ujar seorang rekan tadi sore. Sementara aku masih memandangi kaca jendela yang sisi luarnya terbasuh derasnya hujan sembari menunggu redanya, waktu telah bergulir satu jam dari jadwal ngantor.

“Kenapa coba kalau kita udah nuntasin kerjaan udahnya bisa tidur nyenyak?” Lanjutnya berceloteh.

“Karena capek,” jawabku.

“Betul teh. Istilahnya kita udah menunaikan kewajiban hidup, mengaplikasikan ilmu, berkarya, sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita, maka setelahnya pasti ke badan ini terasa rileks, pikiran tenang, tetes keringat menjadi tidak sia-sia, tinggal refreshing deh. Coba kalau kita nggak ngerjain apa-apa, meski ada tugas dan tanggung jawab tapi cuek, males, ogah-ogahan, pikiran ngelantur, akal nggak terasah, intelejensi jadi tumpul, kemampuan analisa juga melorot, ngobrol sama orang juga jadi nggak ada makna dan nggak manfaat, ujung-ujungnya cuma pandai ngegosip, dan sangat disayangkan…waktunya terbuang sia-sia. Apa nanti yang bakal dijawabnya saat diminta pertanggungjawaban, iya di dunia, iya di akhirat?”

🙂 Bener banget pemirsa, apa yang barusan disampaikan rekanku itu, meski usianya baru menginjak angka dua puluh tiga tapiiii…emang bener banget yee kata-katanya. Ya semoga ini menjadi introspeksi dan resolusi buat diri kita mulai hari ini dan di tahun berikutnya. Selamat berlibur! *thumbs up*

Masih Rezeki

Siapa yang pikir rezeki adalah melulu soal uang? Tentang berapa jumlah pendapatan yang kamu peroleh? Bagaimana dengan kesehatan, kekuatan, keluarga, sahabat, kesempatan akan kebaikan? Bukankah hal tersebut adalah sisi lain dari kata rezeki? Karena rezeki itu sangat luas maknanya.

Kamis sore, aku tersentak ketika merogoh saku celana panjang. SIM gw manaaa???

Sontak aku mencarinya di tas, dompet, laci dasboard mobil, hingga kamar, nothing! Padahal sore ini aku sudah ada janji untuk suatu urusan dan hendak menuju tempat tujuan dengan kendaraan. Berusaha sekuat ingatan mengingat-ingat dimana terakhir kali menyimpannya. Ya, tadi pagi aku mengendarai mobil untuk membeli sarapan lalu aku langsung menuju kantor. Surat izin mengemudi kusimpan di saku celana panjang, yakin banget. Begitu pula saat istirahat siang, aku masih menyimpannya dalam saku. Lalu mengapa tiba-tiba sore ini selembar kartu penting tersebut raib? Padahal sejak pagi aku tidak mengantongi pernak-pernik lain dalam lipatan celana panjangku.

Gegas sore itu pula kuputar balik langkah kembali ke kantor, setelah kusimpan mobil di garasi. Berbagai macam pikiran buruk mendadak hinggap memenuhi kepalaku, gimana kalau SIM-ku hilang? Berarti harus mengurus lagi ke polres yang lokasinya jauh di wilayah kabupaten, berapa lagi biaya pengurusannya, waktu yang bakal tersita, bisakah diurus hanya dalam sehari? Oh my God!

Setiba kembali di area kantor aku berputar-putar di parkiran kendaraan. Pandanganku menyapu daun-daun kering berwarna cokekat yang berserakan di aspal, bisa jadi SIM-ku yang bersampul kulit berwarna cokelat terjatuh disini tadi siang. Kalau tidak kutemukan di sini aku akan lanjut ke tingkat atas ke ruang kerja, siapa tahu terjatuh di lantai atau tertinggal di laci meja kerja.

Alhamdulillah Yaa Allah
Pandanganku langsung tertumbuk pada sampul kulit cokelat di antara dedaunan kering berserakan. Gegas tanganku memungut dan membuka, isinya masih utuh. Betapa bersyukurnya aku. Alhamdulillah masih rezekiku, kalau ini hilang…. I don’t know what would be.