Berjiwa Miskin

Dalam keseharian sebagaimana naluri sisi sosial manusia adalah ingin membantu, ingin menolong siapapun yang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Tetapi sampai batas mana atau adakah perlu pemilahan siapa dan seperti apa yang pantas menerima bantuan atau pertolongan. Alih-alih niat kita berbuat kebajikan, bersedekah, membantu sesama eh, ternyata yang kita bantu atau kita beri pertolongan justru sebenarnya orang yang mampu, orang yang sebenarnya menyembunyikan kapabilitasnya yang ternyata melebihi kemampuan kita sebagai pemberi, orang mampu, orang kaya, kenapa begitu?  Bisa jadi karena dia malas, kikir, ingin mencari keuntungan pribadi tanpa harus berjerih payah dari usaha sendiri, ingin memanfaatkan orang lain supaya dapat memenuhi kebutuhan pribadinya tanpa harus mengeluarkan biaya dari miliknya sendiri. Tetapi orang seperti itu enggan untuk berlaku sebaliknya. Merasa rugi kalau harus bertimbal balik memberi bantuan pada orang lain, termasuk jika harus memberi bantuan pada orang-orang yang sering membantunya. Di kala kebutuhan pribadinya sudah terpenuhi boro-boro ingin membantu orang-orang yang sudah membantunya di masa sebelumnya, ingat juga nggak.

Saling tolong-menolong memang dianjurkan dan diwajibkan dalam pendidikan kemanusiaan dan juga oleh ajaran agama. Tetapi, jangan mau tertipu oleh perilaku orang yang  bermimik memelas, seolah dirinya sangat papa dan lara. Ingat, kata ‘saling’. Orang tipe begini mana ada mengenal kata ‘saling’. Karena prioritasnya adalah kepentingan pribadi. Intinya,  menurut hemat saya orang tipe begini adalah LICIK.

Berlagak Miskin

Hukumnya meminta-minta dalam Pandangan Islam

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG SESEORANG UNTUK MENGEMIS DAN MINTA-MINTA

  1. Faktor ketidakberdayaan, kefakiran, dan kemiskinan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Karena mereka memang tidak memiki gaji tetap, santunan-santunan rutin atau sumber-sumber kehidupan yang lain.
  2. Faktor kesulitan ekonomi yang tengah dihadapi oleh orang-orang yang mengalami kerugian harta cukup besar. Contohnya seperti para pengusaha yang tertimpa pailit (bangkrut) atau para pedagang yang jatuh bangkrut atau para petani yang gagal panen secara total.
  3. Faktor musibah yang menimpa suatu keluarga atau masyarakat seperti kebakaran, banjir, gempa, penyakit menular, dan lainnya sehingga mereka terpaksa harus minta-minta.
  4. Faktor-faktor yang datang belakangan tanpa disangka-sangka sebelumnya. Contohnya seperti orang-orang yang secara mendadak harus menanggung hutang kepada berbagai pihak tanpa sanggup membayarnya, menanggung anak yatim, menanggung kebutuhan panti-panti jompo, dan yang semisalnya.

JENIS-JENIS PENGEMIS

  1. Kelompok pengemis yang benar-benar membutuhkan bantuanSecara riil (kenyataan hidup) yang ada para pengemis ini memang benar-benar dalam keadaan menderita karena harus menghadapi kesulitan mencari makan sehari-hari.
  2. Kelompok pengemis gadungan yang pintar memainkan sandiwara dan tipu muslihat. Selain mengetahui rahasia-rahasia dan trik-trik mengemis, mereka juga memiliki kepiawaian serta pengalaman yang dapat menyesatkan (mengaburkan) anggapan masyarakat, dan memilih celah-celah yang strategis. Selain itu mereka juga memiliki berbagai pola mengemis yang dinamis, seperti bagaimana cara-cara menarik simpati dan belas kasihan orang lain yang menjadi sasaran.

PANDANGAN SYARIAT TERHADAP MINTA-MINTA (MENGEMIS)

Islam tidak mensyari’atkan meminta-minta dengan berbohong dan menipu. Alasannya bukan hanya karena melanggar dosa, tetapi juga karena perbuatan tersebut dianggap mencemari perbuatan baik dan merampas hak orang-orang miskin yang memang membutuhkan bantuan.

Hadits Pertama.

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”.[1]

Hadits Kedua

Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api” [2].

Hadits Ketiga

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu” [3]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/2981-hukum-meminta-minta-mengemis-menurut-syariat-islam.html

Mutiara Maghrib (ed.20-03-2014)

masjid

اَللّهُ telah mengkaruniakan pasangan kepada kita. Adanya kekurangan dari diri karena ada yang dilebihkan dari pasangan, begitu pula sebaliknya, kekurangan yang ada pada pasangan karena ada yang dilebihkan dari diri ini. Lalu mengapa harus mencari-cari jalan untuk mencari seseorang yang lain selain pasangan? Memang sepintas seseorang yang lain memiliki lebih dari segalanya, padahal itu semata hanyalah tipu daya syaiton yang seringnya lalai dari pandangan mata manusia kecuali dilihat dari pandangan iman. Ia sesungguhnya sama sekali tidak memberikan kelebihan apapun kecuali fatamorgana indah dengan tujuan menyesatkan saja selama hayat di dunia agar kelak terjauhkan dari ridho اَللّهُ SWT dan di akhirat terjauhkan pula dari pintu syurga.

Tetes Keringat

“Alhamdulillah….kerjaanku kelar hari ini, jadi besok bisa berlibur!”

Ujar seorang rekan tadi sore. Sementara aku masih memandangi kaca jendela yang sisi luarnya terbasuh derasnya hujan sembari menunggu redanya, waktu telah bergulir satu jam dari jadwal ngantor.

“Kenapa coba kalau kita udah nuntasin kerjaan udahnya bisa tidur nyenyak?” Lanjutnya berceloteh.

“Karena capek,” jawabku.

“Betul teh. Istilahnya kita udah menunaikan kewajiban hidup, mengaplikasikan ilmu, berkarya, sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita, maka setelahnya pasti ke badan ini terasa rileks, pikiran tenang, tetes keringat menjadi tidak sia-sia, tinggal refreshing deh. Coba kalau kita nggak ngerjain apa-apa, meski ada tugas dan tanggung jawab tapi cuek, males, ogah-ogahan, pikiran ngelantur, akal nggak terasah, intelejensi jadi tumpul, kemampuan analisa juga melorot, ngobrol sama orang juga jadi nggak ada makna dan nggak manfaat, ujung-ujungnya cuma pandai ngegosip, dan sangat disayangkan…waktunya terbuang sia-sia. Apa nanti yang bakal dijawabnya saat diminta pertanggungjawaban, iya di dunia, iya di akhirat?”

🙂 Bener banget pemirsa, apa yang barusan disampaikan rekanku itu, meski usianya baru menginjak angka dua puluh tiga tapiiii…emang bener banget yee kata-katanya. Ya semoga ini menjadi introspeksi dan resolusi buat diri kita mulai hari ini dan di tahun berikutnya. Selamat berlibur! *thumbs up*

Masih Rezeki

Siapa yang pikir rezeki adalah melulu soal uang? Tentang berapa jumlah pendapatan yang kamu peroleh? Bagaimana dengan kesehatan, kekuatan, keluarga, sahabat, kesempatan akan kebaikan? Bukankah hal tersebut adalah sisi lain dari kata rezeki? Karena rezeki itu sangat luas maknanya.

Kamis sore, aku tersentak ketika merogoh saku celana panjang. SIM gw manaaa???

Sontak aku mencarinya di tas, dompet, laci dasboard mobil, hingga kamar, nothing! Padahal sore ini aku sudah ada janji untuk suatu urusan dan hendak menuju tempat tujuan dengan kendaraan. Berusaha sekuat ingatan mengingat-ingat dimana terakhir kali menyimpannya. Ya, tadi pagi aku mengendarai mobil untuk membeli sarapan lalu aku langsung menuju kantor. Surat izin mengemudi kusimpan di saku celana panjang, yakin banget. Begitu pula saat istirahat siang, aku masih menyimpannya dalam saku. Lalu mengapa tiba-tiba sore ini selembar kartu penting tersebut raib? Padahal sejak pagi aku tidak mengantongi pernak-pernik lain dalam lipatan celana panjangku.

Gegas sore itu pula kuputar balik langkah kembali ke kantor, setelah kusimpan mobil di garasi. Berbagai macam pikiran buruk mendadak hinggap memenuhi kepalaku, gimana kalau SIM-ku hilang? Berarti harus mengurus lagi ke polres yang lokasinya jauh di wilayah kabupaten, berapa lagi biaya pengurusannya, waktu yang bakal tersita, bisakah diurus hanya dalam sehari? Oh my God!

Setiba kembali di area kantor aku berputar-putar di parkiran kendaraan. Pandanganku menyapu daun-daun kering berwarna cokekat yang berserakan di aspal, bisa jadi SIM-ku yang bersampul kulit berwarna cokelat terjatuh disini tadi siang. Kalau tidak kutemukan di sini aku akan lanjut ke tingkat atas ke ruang kerja, siapa tahu terjatuh di lantai atau tertinggal di laci meja kerja.

Alhamdulillah Yaa Allah
Pandanganku langsung tertumbuk pada sampul kulit cokelat di antara dedaunan kering berserakan. Gegas tanganku memungut dan membuka, isinya masih utuh. Betapa bersyukurnya aku. Alhamdulillah masih rezekiku, kalau ini hilang…. I don’t know what would be.

10 Adab Agar Doa Dikabulkan

dakwatuna.com – Ramadhan adalah syahrud du’aa’ –bulan berdoa-. Sehingga rangkaian ayat-ayat shaum yang panjang itu, disisipi seruan untuk berdoa. Allah swt. berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Pengalihan seruan dari orang-orang beriman terkait dengan hukum-hukum shaum, beralih pada seruan untuk Rasulullah saw. agar beliau mengajarkan dan mengingatkan orang-orang beriman, apa-apa yang mesti mereka perhatikan dalam pelaksanaan ibadah, baik berupa ketaatan maupun sikap ikhlas, juga bersimpuh hanya kepada-Nya dengan doa, doa yang mengantarkan mereka pada petunjuk dan jalan kebaikan. Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah doa. Bahkan ada tiga kelompok yang doanya tidak akan tertolak:
“ثلاثة لا ترد دعوتهم: الصائم حتى يفطر، والإمام العادل، ودعوة المظلوم يرفعها الله فوق الغمام وتفتح لها أبواب السماء ويقول الرب: وعزتي وجلالي لأنصرنك ولو بعد حين ” (رواه أحمد والترمذي)
“Tiga kelompok yang tidak akan ditolak do’anya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka. Pemimpin yang adil. Dan do’a orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: “Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku tolong kamu, walau setelah beberapa waktu.” Ahmad dan At Tirmidzi

Doa adalah perwujudan rasa cinta seorang hamba kepada Allah swt., sekaligus pengakuan akan kebutuhan dan pertolongan-Nya. Hakikat doa sebenarnya juga meminta kekuatan dan kesanggupan dari Allah swt. Dalam doa ada makna memuji Allah swt., ada pengakuan bahwa Allah Maha Mulia lagi Maha Pemurah. Itu semua menjadi ciri pengabdian dan penghambaan. Rasulullah saw. bersabda:
من لم يسأل الله يغضب عليه
“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah marah padanya.” Beliau juga bersabda:
“أفضل العبادة الدعاء“.
“Sebaik-baik ibadah adalah doa”

Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir dari Nabi saw. bersabda: “Doa adalah ibadah. Dan Tuhan Kalian menyeru: Berdoalah kalian kepada-Ku, Pasti Aku kabulkan doa kalian.” Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling bakhil di antara manusia adalah orang yang pelit salam. Dan selemah-selemah manusia adalah orang yang tidak mau berdoa.”
Dari Salman berkata, Rasulullah saw. bersabda:
(لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر(
“Putusan atau qadha’ Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa. Dan sesuatu tidak akan menambah umur kecuali kebaikan atau al-birr.”

Diriwayatkan dari imam Ahmad, Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid, dari Abu Said bahwa Nabi saw. bersabda:
عن أبي سعيد أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الآخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها”. قالوا: إذا نكثر. قال: “الله أكثر”.
“Tiada setiap muslim berdoa dengan suatu doa, dalam doa itu tidak ada unsur dosa dan memutus tali silaturahim, kecuali Allah pasti memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal; adakalanya disegerakan doanya baginya, adakalanya disimpan untunya diakhirat kelak, dan adakalanya dirinya dihindarkan dari keburukan.” Para sahabat bertanya: “Jika kami memperbanyak doa?” Rasulullah saw. bersabda: “Allah lebih banyak (mengabulkan doa).”

Rasulullah saw. bersabda: “Tiada di atas permukaan bumi seorang muslim yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa kecuali Allah akan mendatangkan kepadanya apa yang ia pinta, atau Allah palingkan darinya keburukan. Ketika ia tidak berbuat dosa atau sedang memutus hubungan silaturahim.” Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadits Qudsi, Allah swt. berfirman:
وقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “إن الله يقول: أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا دعاني”.
“Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.”

Adab Berdoa

Pertama, Memakan makanan dan memakai pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” Imam Muslim

Kedua, Hendaknya memilih waktu dan keadaan yang utama, seperti:

1. tengah malam, Rasulullah saw. bersabda:
: قال صلى الله عليه وسلم: “أقرب ما يكون الرب من العبد في جوف الليل الآخر فإن استطعت أن تكون ممن يذكر الله في تلك الساعة فكن”.
“Keadaan yang paling dekan antara Tuhan dan hambanya adalah di waktu tengah malam akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.”
Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” Imam Ahmad menambah: “Itu terjadi di setiap malam.”
2. saat sujud. Rasulullah saw. bersabda: “Dan adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabahi doa kalian.”
3. ketika adzan. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa diistijabah.”
4. antara adzan dan iqamat. Rasulullah saw. bersabda: “Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah.”
5. ketika bertemu musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi saw. bersabda: “Dua keadaan yang tidak tertolak atau sedikit sekali tertotak; doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang.”
6. ketika hujan turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi saw. bersabda: “Dan ketika hujan turun.”
7. potongan waktu akhir di hari Jum’at. Rasulullah saw. bersabda: “Hari Jum’at 12 jam tiadalah seorang muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu bakda shalat Ashar.”
8. doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda’ berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, kecuali Malaikat berkata, bagimu seperti apa yang kamu doakan untuk saudaramu.” Dalam kesempatan yang lain Rasulullah saw. bersabda: “Doa seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak.”
9. hendaknya ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin Jabal dari Nabi saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya.”

Ketiga, Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan.

Dari Salman Al-Farisi berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima doanya, nol tanpa hasil.”

Keempat, Dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan.

Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya tidak tuli dan juga tidak tidak ada / gaib.”

Kelima, Tidak melampaui batas dalam berdoa.

Allah swt. berfirman: “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut (tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.” Al-A’raf:55. Contoh melampai batas dalam berdoa adalah minta disegerakan adzab, atau doa dalam hal dosa dan memutus silaturahim dll.

Keenam, Rendah diri dan khusyu’. Allah swt. berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Al-Araf:55. Allah swt. berfirman dalam surat Al-Anbiya’:90:
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Ketujuh, Sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan.

عن أبى هريرة قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه”،
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Imam Ahmad

Rasulullah saw. juga bersabda: “Jika salah satu di antara kalian berdoa, maka jangan berkata: “Ya Allah ampuni saya jika Engkau berkenan. Akan tetapi hendaknya bersungguh-sungguh dalam meminta, dan menunjukkan kebutuhan.”

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Janganlah salah seorang dari kalian menahan doa apa yang diketahui oleh hatinya (dikabulkan), karena Allah swt. mengabulkan doa makhluk terkutuk, iblis laknatullah alaih. Allah swt. berfirman: “Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” Al-Hijr:36-37

Kedelapan, Hendaknya ketika berdoa memelas, menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga kali.

Ibnu Mas’ud bekata: “Adalah Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika meminta, meminta tiga kali. Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah, karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.”

Kesembilan, Hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas nabi saw.

Kesepuluh, Taubat dan mengembalikan hak orang yang dizhalimi, menghadap Allah dengan ringan.

Dari Umar bin Khattab ra. berkata: “Sesungguhnya saya tidak memikul beban ijabah, akan tetapi memikul doa, maka ketika saya telah berupaya dalam doa, maka ijabah atau dikabulkan akan bersamanya.”

Ia melanjutkan: “Dengan sikap hati-hati dari apa yang diharamkan Allah swt. Allah akan mengabulkan doa dan tasbih.”

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan kecuali orang yang sadar dalam berdoa. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan dari orang yang mendengar, melihat, main-main, sendau-gurau, kecuali orang yang berdoa dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.”

Dari Abu Darda’ berkata: “Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang. Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah.” Dia juga berkata: “Bersungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang memperbanyak mengetok pintu, ia yang akan masuk.”

Dari Hudzaifah berkata: “Akan datang suatu zaman, tidak akan selamat pada zaman itu, kecuali orang yang berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam.”

Menghindari kesalahan dalam berdoa

Ada beberapa praktek doa yang disebagian umat muslim masih terus berlangsung, padahal itu menjadi penghalang doa dikabulkan. Di antaranya adalah:

Pertama, Berdoa untuk keburukan keluarga, harta dan jiwa.
Dari Jabir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian berdoa untuk kemadharatan diri kalian, dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Jangan berdoa bagi keburukan harta-harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah, padahal doa kalian membawa keburukan bagi kalian.” Imam Muslim

Kedua, Terlalu keras dalam berdoa. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu) dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” Al-Isra’:110

Ketiga, Melampau batas. Seperti berdoa agar disegerakan adzab, doa dengan dicampuri dosa dan memutus tali silaturahim.

Keempat, Berdoa dengan pengecualian. Contoh: “Ya Allah, ampuni saya jika Engkau berkenan.”

Kelima, Tergesa-gesa. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Akan diijabahi doa kalian, jika tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabahi?” Imam Bukhari

Demikian, uraian singkat tentang keutamaan doa di bulan Ramadhan, adab berdoa, waktu-waktu yang istijabah, dan hal-hal yang harus dihindari ketika berdoa. Semoga kesungguhan doa kita, terutama di bulan suci ini didengar Allah swt., Amin. Allahu a’lam.

Oleh: Ulis Tofa, Lc

Sumber : http://www.dakwatuna.com

10 Adab Agar Doa Dikabukan

Berserah Diri

Image

Dalam Al-Qur’an surat Lukman ayat 22, yang artinya:

“Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan.”

Berserah diri bukan berarti mengabaikan usaha, tetapi justru harus berupaya sekuat kemampuan yang ada. Gambaran orang yang berserah diri adalah seperti orang yang menggantungkan jiwanya pada Arasy Tuhan, sementara kakinya menapak di bumi.

Untuk dapat berserah diri, diperlukan sikap mental yang positif. Dasarnya yaitu, kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Meyakini, bahwa ketentuan apapun yang ditetapkan-Nya bagi kita merupakan pilihan terbaik, yaitu sejalan dengan doa yang selalu kita mohonkan pada setiap shalat.

Demikian pula Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Akhmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah danIbnu Hiban, bersabda:

“Jika kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, niscaya Dia menjamin rezekimu sebagaimana Dia menjamin kebutuhan burung yang terbang di waktu pagi dengan perut kosong, dan pulang di waktu sore dengan perut kenyang.”

Adapun indikator keberhasilan dari berserah diri, yaitu tidak adanya rasa was-was, khawatir, ataupun kecewa; tetapi yang adalah ucapan penuh rasa syukur ‘alhamdulillah’ atau dengan penuh rasa ikhlas ‘innalillahi wainnaillaihi rojiun’.

Jelaslah, bagi orang yang berserah diri, segala tindakannya semata-mata karena mematuhi perintah Allah. Dia berlaku baik bukan sebagai balasan karena orang telah berlaku baik kepadanya, tetapi kabaikan itu dilakukannya karena Allah memerintahkannya untuk berbuat kebajikan.

Kunci agar dapat berserah diri kepada Allah yaitu harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Berusahalah dahulu dengan segenap kemampuan yang ada, kemudian serahkan ketentuan hasilnya kepada Allah SWT. Apapun hasil yang diperoleh dari usaha kita, yakinlah itu merupakan yang terbaik atau yang paling sesuai dengan kebutuhan kita saat ini.

Demikianlah yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Fajar Ramadhan segera menghampiri dunia, selembar sutra menghapus noda, sebening embun penyejuk kalbu, sucikan hati bersihkan jiwa di bulan yang suci. Mohon maaf lahir & batin. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Sentuhan Kalbu
Oleh: Ir. Permadi Alibasyah

Ilustrasi Berserah Diri

Ramadhan Sebagai Pembelajaran Diri

Apakah yang akan kita kerjakan setelah melewati Ramadhan ini? Akankah kita berniat untuk melestarikan nilai-nilai shaum dalam keseharian kita dalam upaya meningkatkan kualitas takwa kita? Ataukah kita akan kembali melakukan hal-hal yang merusak nilai shaum kita di sisi Allah Ta’ala dan sekaligus mencemari usaha-usaha yang sudah dan sedang kita lakukan dalam menggapai derajat muslim paripurna?

Evaluasi Pasca Ramadhan 

Merayakan Idul Fitri dengan suka cita, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kita umat muslim saat berkumpul kembali bersama keluarga dan sanak famili, termasuk tradisi memberikan ucapan / salam lebaran kepada seluruh teman, rekan, kerabat, dsb. Namun yang perlu kita ingat dan kita jadikan makna adalah ‘training’ yang telah kita jalani selama satu bulan penuh di Bulan Suci Ramadhan.

Kita mampu menahan diri untuk menahan lapar, lelah, dan dahaga, mampu untuk mengalihkan pandangan dari hal-hal yang semestinya tidak kita lihat, serta memiliki dorongan keinginan diri secara ikhlas untuk bergabung dalam berbagai aktivitas ibadah seperti shalat tarawih berjama’ah di masjid, bergabung dalam majelis taklim, mengikuti tadarus, dsb. (Subhanallah…)

Namun ada kalanya sesuatu yang mendurhakai hati untuk kita hindari atau kita hapus ketika kita secara utuh seluruh jiwa dan raga telah siap, ikhlas, ridho untuk menunaikan ibadah puasa tersebut, bahkan ketika Idul Fitri kita jelang lalu kemana-mana kita berucap “Minal ‘Âidîn wal Faizîn” (semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat) tetapi masih ada hati yang dengki, masih tebal rasa ego, masih memendam rasa dendam, masih mencatat kekhilafan orang lain, masih ada hasrat untuk mengais-ngais kesalahan, kekurangan, dan dosa orang lain di masa lalu (Astagfirullahaladzim…)

Ramadhan telah berakhir, nuansa perayaan Idul Fitri masih terasa di awal bulan Syawal ini, Ramadhan dan Idul Fitri bukan sekadar perayaan tahunan tetapi mari kita jadikan Ramadhan kemarin sebagai pembelajaran diri, karena pada hakikatnya manusia selalu ingin menjadi lebih baik. Minal ‘Âidîn wal Faizîn tak hanya jadi penghias lisan, tak hanya jadi pengindah tulisan, tetapi mari kita niatkan dan bulatkan tekad dalam diri agar kita benar-benar menjadi jiwa-jiwa yang bersih agar kemenangan yang kita peroleh adalah kemenangan sejati. Dari saya pribadi kepada semua teman-temanku di belahan dunia maya, “Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan anda). Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H. Mohon maaf lahir dan bathin”.

 

Lebaran

Always b your friend,

Mutz

Korupsi… dikit aja kok!

tikusSuatu siang pernah saya tanpa sengaja memergoki seorang teman yang memanipulasi bon pembelanjaan kantor. Ketika saya tegur sembari bercanda, ” Loh, berarti ngantongin sepuluh ribu donk?”

Lalu kilahnya, “Ah, ini sih nggak seberapa, cuma kecil-kecilan. Coba bandingkan dengan mereka yang kelas kakap ngambilnya kan lebih dari ini, banyaknya sampe nggak kehitung sama kita-kita yang cuma orang kecil,”

“Iya, tapi walopun kecil-kecilan juga namanya dosa. Emang dosa baru diperhitungkan di akherat kalo yang gede-gede aja?” ledek saya.

“Eh, kalo kita nih namanya juga wong cilik, sementara kebutuhannya banyak, harga-harga kebutuhan pokok aja terus melambung gak sesuai dengan gaji kita, jadi ya gak ada salahnya lah kalo kecil-kecilan begini. Terus juga Allah itu kan Maha Tahu, jadi tau donk kalo kita korupsi tuh bukan apa-apa tapi karena kebutuhan ekonomi,”

“Tetep aja dosa! Nyolong yang bukan hak kita,”

“Heh! Jangan sok tau deh! Coba aja cari emang ada larangan korupsi dalam Al Qur’an?” tantangnya jadi kian berapi-api.

Sambil cengar-cengir saya tanya lagi teman saya itu, “Sampeyan shalat ga?”

“Ya shalat donk, tapi shalat juga gak ada hubungannya dengan korupsi,”

😀

Mau besar mau kecil, korupsi apa pun jenisnya merupakan perbuatan yang haram. Nabi saw. menegaskan: “Barang siapa yang merampok dan merampas, atau mendorong perampasan, bukanlah dari golongan kami (yakni bukan dari umat Muhammad saw.)” (HR Thabrani dan al- Hakim)

Seorang muslim harus bisa menjaga dalam mencari rizki atau mata pencaharian. Ketika bermu’amalah dalam mencari penghidupan, jangan sampai melakukan tindak kezhaliman dengan memakan harta orang lain dengan cara haram. Inilah kaidah mendasar yang harus kita jadikan barometer dalam bermu’amalah. Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” [an Nisaa/4 : 29].
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. [al Baqarah/2 : 188].
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga,” maka salah seorang bertanya,”Meskipun sedikit, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Ya, meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak).”[HR Muslim].

Udah ah, udah mw ramadhan, yuk kita bersihkan amal diri kita ini ^_^

99 Nama Allah SWT Asmaul Husna – Sembilan Puluh Sembilan Sebutan Tuhan Asma’ul Husna

Di dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT disebut juga dengan nama-nama sebutan yang berjumlah 99 nama yang masing-masing memiliki arti definisi / pengertian yang bersifat baik, agung dan bagus. Secara ringkas dan sederhana Asmaul Husna adalah sembilanpuluhsembilan nama baik Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :

“Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT beserta artinya :
1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah
2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi
3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung
4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci
5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera
6. Al-Mu’min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas
8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa
9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya
10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya
11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta
12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan
13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk
14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun
15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa
16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah
17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka
19. Al-‘Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui
20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang
21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat
22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang
23. Ar-Rafi’ (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi
24. Al-Mu’izz (Al Mu’izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina
26. As-Sami’ (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar
27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat
28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili
29. Al-‘Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil
30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus
31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui
32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar
33. Al-‘Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung
34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun
35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur
36. Al-‘Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar
38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara
39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga
40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung
41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia
42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah
43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada
44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul
45. Al-Wasi’ (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas
46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana
47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang
48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
49. Al-Ba’ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan
51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar
52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir
53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat
54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh
55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi
56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji
57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung
58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal
59. Al-Mu’id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan
60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan
61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan
62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup
63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu
65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa
67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal
68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan
69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya
70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa
71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera
72. Al-Mu’akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh
73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama
74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir
75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir
76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin
77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah
78. Al-Muta’ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan
80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat
81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah
82. Al-‘Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun
83. Ar-Ra’uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama
87. Al-Jami’ (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul
88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap
89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90. Al-Mani’ (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah
91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat
92. Al-Nafi’ (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat
93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya
94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95. Al-Badi’ (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal
97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi
98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran
99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar