Gorengan

#cerita mini

tempe

Masih derai merinai dari langit siang ini. Sebagai mana bulir itu mengurai membasahi pipi bulat telur pemilik wajah di balik tirai. Perempuan muda berambut tergerai sesenggukan. Tiada yang pasti memahami gerangan gundah gulana melanda hatinya. Pun karena ia tengah sebatang diri.

“Kenapa menangis?”

Si rambut gerai terkesiap. Hendak pula tirai pelingkup bingkai ia bentangkan agar tiada pula seseorang kan melihat lebih lagi dari jarak terdekat. Namun terlambat. Lelaki bertubuh segi empat dibalut jaket kulit berwarna cokelat tiada juga gegas beranjak.

“Kenapa menangis?” ulangnya. Seperti kali ini ingin benar sekali mengetahui sebab-musababnya.

Si rambut gerai hanya menggeleng. Gagal ia menghentikan sesenggukannya. Gegas ia beranjak meninggalkan bingkai kayu di hadapnya, pun termasuk membiarkan lelaki berambut pendek bermodel bulu landak itu termangu di depan jendela kamar yang menghadap ke ruas jalan setapak. Kedua belah telapak tangannya dibenam ke dalam kedua saku jaket. Bibir tipis kemerahan membentuk garis senyum di bawah tulang hidung berbentuk angka tujuh menukik terbalik, gurat pelipisnya terlihat tegas. Alisnya berbentuk lengkung menaungi sorot mata ramah berwarna kecokelatan menyiratkan rasa iba teramat dalam.

Mungkin lebih baik aku berjalan-jalan keluar rumah. Setidaknya cuaca di luar tinggallah rerintikkan hujan. Siapa tahu udara dingin bisa menghibur lara di kalbu. Meski entah akan kemana. Begitu bersit si rambut gerai. Langkah kecilnya mulai menyusur lorong menuju ruang tamu dan segera ia membuka ambang pintu. Tiada seseorang pun di luar. Bahkan pemuda tadi. Ah, siapalah dia. Nggak penting.

Lepas dari mulut gang. Aspal jalan raya masih menghitam basah akibat guyuran hujan sejak pagi. lalu lalang kendaraan beroda jarang melintas. Adapun melintas dengan kecepatan sangat tinggi di jalur penghubung antar kota ini. Si rambut gerai menyisir tepian jalan aspal. Satu kilometer di depan sana ada hypermart. Mungkin dengan berjalan-jalan sekadar melihat-lihat fashion atau produk-produk terbaru bisa mengusir gulana dari antah berantah membadai di benaknya sejak pagi. Lebih, food court di dalamnya selalu mengepul-ngepulkan asap dari bakaran ayam yang citarasanya limpahan bumbu rempah yang melimpah sangat khas dan nikmat. Sukar ditemui di resto cepat saji atau pujasera manapun.

“Kamu mau kemana?”

Jenis suara itu masih terekam di kepala si rambut gerai. Dia menguntitku??

“Kenapa sendiri saja? Kamu masih sedih?”

Tanyanya lebih jauh. Dan lebih percaya diri untuk bertanya seperti itu pada orang tidak dikenal.

Si gerai menyeka pipinya. Meski bukan karena basah dari air mata tetapi akibat rerintikan air dari langit yang masih menggelayutkan mega kelabu.

“Aku mau ke hypermart,” akhirnya si rambut gerai bersuara.

“Terus, kenapa kamu kelihatan sedih? Baiklah. Kuharap ini bisa mengobati kesedihanmu….”

Cekatan tangan kanannya merogoh saku belakang celana jeans untuk mengambil benda persegi kecil berbahan kulit. Dari kelopaknya cekatan pula tangannya memilah-milah lembaran merah dan biru yang tersusun rapi. Mungkin ada dua atau tiga lembar berwarna merah dan satu lembar berwarna biru cepat ia gulung-gulung dalam kepalannya lalu disodorkan tanpa basa-basi pada si rambut gerai.

“Terimalah….”

“Apa? Nggak. Makasih. Aku nggak mau itu!” Tukas si rambut gerai mulai ketus. Berani-beraninya sosok pemuda yang tidak dikenal ini tadi dia bertanya di depan jendela kamarnya, lalu menguntitnya, dan kini memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu padanya secara cuma-cuma. Apa yang di kepala lelaki mungkin sama. Beranggapan jika mereka mengepal sejumlah banyak nilai tukar barang lantas dengan mudah beranggapan setiap perempuan adalah jalang pun bisa dibeli serampang tanpa pandang.

“Nggak apa-apa, terima aja. Aku nggak akan minta imbalan apapun kok,”

Ulangnya seolah mengerti keambiguan berputar di benak si rambut gerai. Tetap berkeras menolak. Kedua bilah lengannya dia sembunyikan di belakang punggungnya. Kepala bulat telurnya menggeleng. Matanya menyipit pada lelaki sebaya di hadapnya. Lancang sekali! Apa yang akan membersit di kepalanya andai saat ini A’ Rayan, suamiku tiba-tiba muncul di dekat sini. Dia pasti akan segera menghujani wajah tampan pemuda ini dengan tatapan tajam dan gerahamnya yang turut menggeretak. Sayang, dia sedang dinas keluar kota semejak dua hari silam. Rutuk si rambut gerai membatin.

“Jadi, kamu beneran nggak mau uang ini?”

“TID… DAK!” Desis si rambut gerai dengan tatapan mulai menajam. Biarpun ia yakin persis di dalam lipatan dompet di saku celana panjangnya tinggallah selembar lima puluh ribu dan selembar lima ribu, tetapi menerima begitu saja beberapa lembar bernilai tinggi dari seseorang tidak dikenal, tanpa asal-muasal, sebab-musabab, sama saja dengan penistaan terhadap harga diri. Siapa pula gerangan akan menduga andai lelaki di hadapannya ini meski terlihat simpatik justru tengah menghipnotis dirinya dan hendak menjerumuskannya ke dalam jurang kenistaan?

“Ya baiklah. Kalau begitu… Alhamdulillah….” Ujarnya kalem. Beberapa lembar kertas bernilai tinggi tadi dimasukkannya kembali ke dalam lipatan dompet kulitnya. Tangannya tak urung mengelus bidang dadanya. Masih berujar ucapan syukur dari bibir tipisnya yang menyimpul senyum.

“Kamu mau ke dalam sana?”

Masih dengan intonasi ramah ia sembari menunjuk pintu kaca hypermart. Beberapa orang terlihat masuk dan keluar sembari menenteng beberapa bungkusan kantong belanja. Saat pintu kaca membentang otomatis, terhambur aorma dari kepulan asap bakaran ayam dari dalam. Udara dingin di luar makin meramaikan suara perut yang sejak tadi menyenandungkan irama lapar. Si rambut gerai melenggang ke dalam hypermart. Pada salah satu meja kosong dengan empat buah kursi, ia menarik satu darinya. Jemari lentik berhias lingkar logam mulia tipis cekatan meraih lembar daftar menu di atas meja, matanya meneliti satu-persatu daftar makanan dan minuman yang sangat menggoda. Jauh di lubuknya menyenandungkan angan, harapan paling bodoh yang tiba-tiba mengalahkan logikanya, berharap si pemuda tadi masih menguntitnya lalu menghampiri dan duduk di hadapannya, menanyakan pesanan tipe ayam bakar dan minuman yang diinginkannya, dan terakhir, setidaknya melunasi billnya di kasir. Bodooooooooohhhh… andai diterimanya saja beberapa lembar berwarna merah dan biru tadi, tak akan habis seketika untuk satu porsi nasi pulen, dengan ayam bakar beraroma khas, serta sambal selera tiada tara dan irisan lalapan, dan satu gelas jus buah segar. Toh, dia bilang, tidak meminta imbalan apapun. Lalu adakah argumen paling masuk akal untuk menolak rejeki yang tiba-tiba turun beriringan dengan derai hujan dari langit?? Mata kecil si rambut gerai diam-diam melirik ke arah pintu kaca. Berusaha sekuat mungkin agar kepalanya tidak ikut menoleh, khawatir si pemuda tadi masih bediri di luar akan menyadari kalau dirinya kini mencari-cari. Duuh…. kemana dia?

Desahan pelan mengembus dari hidung mungil. Si gerai berdiri. Langkahnya hendak meninggalkan meja. Batal memesan. Mungkin lebih nyaman kalau beralih saja dulu melihat ada produk baru apa di hypermart.

“Kamu mau kemana?”

Sontak si rambut gerai tergugah. Matanya membelalak. Semata karena kini lengan kirinya ada yang menggenggam. Namun perlahan dilepas.

“Mau makan, tapi nggak jadi , lihat-lihat aja dulu lah ke hypermart,”

“Kamu lapar? Mau aku bayarin?”

Si rambut gerai terlongong. Seolah kini jiwanya tergiring semilir.

Si pemuda menelunjuk ke arah luar pintu kaca. Mata si rambut gerai mengikuti.

“Di sana… yuk!” Ajaknya tanpa rasa canggung sedikitpun. Sekali lagi tangan kanannya menggenggam lengan kiri si rambut gerai hingga mau tidak mau langkahnya mengekori langkah panjang si pemuda. Berdua mereka menghabiskan langkah pada lantai paving block hingga batas pagar halaman hyhpermart. Si gerai rambut celingukan bingung. Apa yang tadi ditunjuk oleh si pemuda ini?

“Bang… gorengan campur ya, sepuluh ribu, pake cabe rawit sama petis,” pintanya pada penjaja gorengan dengan gerobak yang tengah mangkal di sudut pagar halaman hypermart.

Tiada sedikitpun kecanggungan tergambar di wajah tegasnya. Si pemuda mengajaknya duduk di atas dinding semen pembatas selokan di depan pagar halaman hypermart. Tangan kanannya sibuk menyuap satu demi satu gorengan dan tangan kirinya memegang bungkusan gorengan yang dikuaknya lebar setelah berulang kali mengajak si rambut gerai duduk dan menyantapnya bersama. Ooohh…. gorengan…. thok.

#cerpenagnez
Thank’s to B*, cerita bunga tidurnya so inspiring :mrgreen:

 

Advertisements

Secangkir Wedang

“Kita udah tinggal lima ratus meter lagi ke pos lima!!”

Jay mengulurkan tangan ke belakang punggungnya. Lama tersambut. Pengiring di belakangnya dengan sengal nafas menggumamkan sesuatu.

“Gue lelah, Jay,”

Jay mengabaikan keluhan teman sependakiannya. Sama seperti pendakian ke Rinjani beberapa waktu lalu.

“Ayolah! Sedikit lagi, pasti nggak akan kerasa,”

Mereka menapak dalam senyap. Sesenyap alam rindang melingkupi jalur yang mereka lalui.

Kembali Jay memecah kebekuan yang kian mendingin.

“Pake jaket gue nih…”

Rayna diam sembari memeluk erat kedua lututnya. Meski api unggun telah menyala beberapa meter di area pos. Jay bangkit gegas membuatkan minuman wedang hangat. Tiada pula gadis manis itu geming. Jay duduk di sebelahnya menyodorkan secangkir minuman hangat. Kilap-kilap kelebatan api sekilas pintas menerangi wajah Rayna. Kekhawatiran merayapi kalbu. Ada apa denganmu.

“Sakit Ray?”

Rayna menggeleng. “Aku hanya lelah,”

Jawaban Rayna masih serupa tadi. Tidak. Ini bukan Rayna. Setahun lalu mengenal Rayna adalah sosok pendaki mumpuni, tegar, hingga beberapa puncak telah bersamanya mereka kibarkan keberhasilan pencapaian.

“Kalau lo sakit. Kita turun besok. Gue siap anterin lo berobat,”

Rayna tetap menggeleng. “Kita terus naik, Jay.”

“Gue hanya ngerasa nggak nyaman kalau di antara kita meneruskan pendakian dengan keadaan seperti ini, lo terus mengeluh tapi masih ingin kita terus naik…”

“Jay! Bisa diam nggak?!” Hardikan Rayna menggelegar. Wajah kedua teman mereka menoleh. Ara pelan menghampiri. Tetapi sedikitpun dia juga tidak ingin terburu-buru mengajukan tanya, melihat mimik tidak nyaman dari kedua temannya. Jay beringsut menjauh. Ara mendekat di samping Rayna. Menepuk-nepuk pundak temannya. Membisikan tutur menghibur.

“Baiklah…istirahat dulu sob. Kalau lo capek kita bisa teruskan pendakian besok subuh,” Ara berjingkat mengambil ranselnya yang menggeletak agak jauh. Awan bergulir melarutkan kelamnya langit.

“Mungkin dia memang capek aja, Jay,” bisik Ara setelah Rayna terlelap dalam rundungan  tenda.

“Nggak biasa dia begitu, Ra. Dua kali pendakian terakhir dia selalu mengeluh lelah, capek, dan segala turunannya. Kalau dia capek kenapa masih mau ikut?”

“Gue rasa dia lagi galau, sob,” Imran ikut nimbrung. “Mungkin lagi ribut sama cowoknya?”

“Sejauh yang gue tau Dika ngijinin aja Ray mendaki,” Sanggah Ara.

“Mungkin Ray nggak mau bilang ke kita kalau diam-diam dia mengidap penyakit dalam,”

“Huss…ngawur aja lo Im!”

“Wedangnya nggak diminum tuh… buat gue aja kali ya?” Imran gegas menghampiri cangkir minuman hangat yang sedari tadi tak disentuh.

Beragam duga bagai dengingan nyamuk berkecamuk. Jay tak ingin meneruskan. Lebih memilih melelap bersama angin malam meski matanya tiada kunjung mau memejam. Berharap esok sapa hangat mentari pagi mengubah dinginnya jiwa namun kenyataannya tak seindah harap semalam.

Sebagaimana ritual setiap usai pendakian satu ketinggian gunung, berempat di penghujung pekan mereka berkumpul di Tora Café. Kedai ngopi bernuansa serba kayu di tepian deraian air terjun hulu sungai. Tiga puluh menit bergulir semenjak kedatangan mereka bertiga diwarnai jabat erat dan peluk hangat persahabatan, hingga air yang tadi memenuhi cangkir mereka tinggallah sepertiganya. Begitpun piring yang dipenuhi cemilan menyisakan remah.

Mereka saling berpandang. Dan seolah saling pula bertukar pikiran dan mereka tahu persis jawaban yang mesti mengemuka di atas meja kayu bundar. “Gue tau, gue mesti wa dia,” sahut Ara.

“Nggak Ra, biar gue aja,” Jay mengeluarkan handphone dari saku jeansnya.

“Guys, nggak usah mendingan…” Cegah Imran.

“Mungkin dia udah berganti haluan. Dunia kan luas, guys. Angin bisa meniupkan arah kapal kemana aja sekehendaknya,”

“Maksud lo apa Im? Nggak usah sok puitis gitu deh…” Sergah Ara.

“Kalian kan nggak sekantor sama Ray. Jadi cuma gue yang tau, cuma gue yang jadi saksi. Seminggu kepulangan kita dan balik ke kantor, gue liat Ray sekarang dianter-jemput Jag XE R-Sport. Entah siapa laki-laki pengemudinya, yang pasti sih bukan Dika,”

“Mungkin itu hadiah dari Dika buat Ray, terus yang bawa sopirnya,”

“Ngawur kamu Ra! Mana ada nyonya sama sopirnya cipika-cipiki mesra sebelum turun,”

Ara baru saja ingin melepas gelak. Sesaat menahan ketika melihat air muka Jay. Tangan Ara menepuk-nepuk pundak lelaki di sebelahnya. Diikuti oleh Imran.

Angin khas pegunungan masih setia menghilir. Membelai-belai manja dedaunan yang berdesak-desak menggantung pada juntai batang-batang kayu pepohonan.

Hari ini, masih serupa di setahun kemarin. Secangkir wedang hangat dengan kepulan asap tipisnya perlahan terangkat, diletakkan di atas batu datar dekat api unggun. Mata itu masih sejak tadi pula menatap secangkir minuman hangat di hadapannya setelah setengah gelas miliknya dalam genggamnya ia reguk. Kedua teman sependakiannya hanya bisa menatap iba pada pemuda berambut ikal beralis tebal yang kini hanya mematung menatap cangkir wedang masih berisi penuh di hadapannya.

Ray sudah lelah Jay, … berada dalam kabin Jag tentunya lebih nyaman ketimbang secangkir wedang.

 

 

01 Mei 2017

From the Café

DSC00206
Ilustrasi dari Raihan’s Blog

Hujan sore itu mengurung langkahku dalam ruang kerja, hingga tak mungkin bagiku untuk bergegas pulang atau memilih tempat tujuan lain untuk bepergian usai jam kerja. Menyelempangkan blazer biru pekat pada sandaran jok berkulit hitam. Beranjak dari kursi mendekati dinding kaca ruang kerjaku di ketinggian gedung. Kulayangkan pandangan menembus benda bening tersebut walau pemandangan di luar masih buram akibat hujaman air hujan. Hampa. Hanya ilusi yang dapat membawaku melayang kepada sebuah kenangan.

~~~~~~~

Entah sudah berapa lama kita menghabiskan detik-detik hingga menghasilkan nilai menit dan hitungan jam untuk duduk di dalam café. Bahkan bulir-bulir orange juice yang kupesan pun sudah tak lagi bersisa dalam gelasnya. Begitu pula cangkir cokelat panas di hadapanmu tinggallah menyisakan warna kelat. Namun kita seperti orang yang paling memiliki sang waktu dan mempunyai stok bahan perbincangan yang tiada berbatas. Tak ada sesuatu yang sangat penting dalam obrolan senja kita, hanya cerita nostalgia antara dua orang teristimewa yang lama tak bersua.

“Pulang yuk! udah jam delapan,”

Kulihat dirimu bergegas dan menggumamkan sesuatu. Samar kudengar kau bertanya kapan aku akan kembali ke kotamu. Aku tak terlalu menghiraukan dan melenggang menuju ambang pintu café. Meski hujaman air di luar sana masih terus mengguyur.

“Hujan, Sean!” Dari dalam tasmu kau mengeluarkan sebuah payung lipat. Lagi-lagi aku tanpa hirau dan terus menyusur halaman café menuju jalan raya. Kau mengejar dan memayungiku, lalu merengkuh pundakku hangat. “Jangan hujan-hujanan donk! Nanti kalau sakit kamu nggak bisa pulang!” katamu menasehati.

“Hujan kan air, orang kalo mandi aja nggak terus jadi sakit kok,” kilahku bandel.

“Eh, jangan sok kuat deh! Nanti kalo kamu kenapa-napa, aku…”

“Kenapa? Huh! Sok-sok nasehatin, pantesnya kamu jadi kakakku aja deh!”

“Hmm… ga pa pa. Jadi selain kakak juga boleh!”

Aku langsung menoleh. Menatap bola matamu yang hitam kecoletan ketika itu sedikit terhalang oleh rambut ikalmu yang terbasahi tetesan air hujan. Sebagaimana percikan rasa dari tempat yang paling jauh di dalam sana selama ini terhalang oleh keadaan, dan suara percikan rasa itu pun senantiasa teredam oleh kekuatan logika kita masing-masing. “Jadi seseorang yang lebih berarti bagimu,” lanjutmu.

Aku terus berusaha mencari tatapan jenaka yang biasa terpancar dari binar bola matamu. ‘Kau pasti bercanda, kan?’ tegas hatiku meyakinkan. Namun sama sekali candaanmu tak kutemukan dalam balasan tatapan matamu terhadapku. Malam itu.

****** (sensor)

“…..ve you, Sean…” hanya itu yang terdengar dari bisikannya selebihnya aku hanya mendengar suara gemuruh hujan dan deru kendaraan bermotor di jalan raya.

Siapapun boleh mencercaku, mencaci-maki sosok ringkih dengan gerai rambut sebahu dan berwajah manis ini. Malam itu dalam pembicaraan di telepon, aku tahu niat baiknya hanya ingin memastikan malam itu aku sudah sampai di rumah tanteku dalam keadaan tiada kurang sedikitpun. Namun tekadku sepanjang perjalanan tadi sudah kian membulat. Pula tak kalah keberanian yang mampu kuhimpun untuk mengungkapkan.

“Den, sebaiknya kita nggak usah ketemuan lagi,”

“Loh, apa maksudmu Sean?”

“Kita lupakan jumpa senja tadi. Aku merasa begitu nista seolah kian mengkhianati Erin. Kita bersua hanya berdua, tanpa kehadirannya lagi,”

“Sean….” Nafasmu terdengar memburu.

“Aku ngerti betapa Erin sangat berarti buatmu. Kamu mengenalnya sebelum aku menemukan kalian. Aku juga peduli pada Erin. Aku juga merasa kehilangan dia.”

“Erin lebih memandang berarti kehadiranmu, Den. Sejak dulu kalian lebih banyak menghabiskan waktu bersama di sela-sela jam kuliah, kalian klop dalam segala hal, selera makan, film, musik, dan kalian partner debat yang hebat dalam setiap forum seminar di kampus karena sesama penggila buku pengetahuan dan informasi berita aktual. Dan kamu ingat Den dulu aku sempat menghilang dari tengah kalian selama kalian tengah berkutat menyusun skripsi dan berlomba mendapatkan nilai terbaik hanya karena aku ingin lihat sahabatku Erin bahagia. Bahagia karena memperoleh impiannya. Bahagia karena menemukan tidak sekadar sosok sahabat, partner diskusi, tetapi seseorang yang sekaligus mengerti dirinya. Karena aku tahu, kebahagiaan Erin hanya akan sementara.”

“Kamu irasional Sean. Aku dan Erin bersahabat. Sama seperti halnya denganmu. Bukankah setahun setelah kelulusan Erin juga pada akhirnya menikah dengan pria yang mencintainya. Lalu apa yang salah kalau aku mengajakmu jalan? Sekadar nongkrong menghabiskan senja seperti dulu? Bukan aku tidak ingat pada Erin. Di sela ibadah pun aku selalu menyisipkan doa untuknya agar ia tenang disana. Di lain pihak kamu tahu selama ini aku tidak pernah mempersoalkan entah kamu sedang jalan dengan siapa, sedang dekat dengan siapa. Sore ini hanya beberapa jam saja kita meluangkan waktu untuk sekadar berkisah setelah bertahun kita terpisah, kamu bilang nista?? Aku begitu peduli padamu selama ini, menyayangimu tanpa berharap balas sejak awal mengenalmu, lalu ternyata begitukah pandanganmu tentangku?”

“Bukan…bukan begitu maksudku, Den… aku… hallo… Den.. Denish….”

~~~~~~~

“Masih mau lembur, mbak?” Pertanyaan dari seorang Office Boy di belakang punggung tiba-tiba menyadarkan diriku bahwa sebenarnya pijakan kakiku kini berada di dalam ruangan lantai lima gedung kantor, bukan di pekarangan café.

“Ya. Biar nanti kuncinya saya yang kembalikan ke pos,” jawabku mantap dan membiarkan si OB pamit pulang. Kembali tatapanku menembus dinding kaca. Mencoba mencari kembali bayang-bayangmu di masa lalu untuk menghibur kepenatanku di sini.

By: Mutz
July 8, 2010 | 08:40 AM

Hujan, entah dia merinai, merintik, atau menghujam, turunnya ke permukaan bumi membasuh setiap permukaan tanpa penghalang kadang menyusupkan pula inspirasi ke dalam jiwa dan pikiran hingga tercipta karya dari apa yang dirasa. Tetapi percayalah, sederas bagaimanapun derainya janganlah lena terbawa hanyut oleh dendang kata tersirat, karena kisah ini dirangkai di musim panas.

:mrgreen:

Pemadam Hati yang Terbakar

Pemadam Hati “Aku pengen berhenti, Ren”

Sembari masih mengulum ice cream dan menahan dinginnya dalam mulut Kiren sahabatku menoleh sejenak saja. Pandangan kami masih lurus menatap tepi laut nun jauh yang seolah tak berbatas dengan apapun. Menjadi tradisi setiap Jum’at sepulang ngantor kami meluangkan sejenak senja duduk-duduk di tepi dermaga sekadar menghantar mentari sore hingga ke ufuk.

“Berhenti? Dari apa?” Kiren membersihkan kedua telapak dan pipinya dengan tissue. Ia menyodorkan sebungkusnya padaku.

“Dari dunia maya.” Jawabku. Selembar tissue kuambil.

“Untung ice cream-ku udah habis. Aku bisa tersedak gara-gara celotehmu,”

“Aku lelah Ren. Jenuh”

“Wait…wait a minute, dear sahabatku, apa sih sebenarnya yang kamu bicarakan? Tadi kukira kamu ingin berhenti dari job. Makanya aku udah siap-siap menutup telinga karena pasti bagai suara petir andai kamu ingin mengatakan itu. Secara aku kenal kamu dari dulu, ambisius.”

Aku terkekeh.

“Aku ingin berhenti dari dunia maya, karena selama ini seolah aku berprofesi sebagai pemadam kebakaran,”

Kiren mengerutkan alis.

“Setiap kali aku online entah itu di facebook, twitter, bbm, wa, path, dll, selalu ada dia, dia, dan dia yang entah itu siapapun datang menyapaku untuk kemudian membagi masalahnya padaku. Tak sekadar berbagi tidak jarang aku dimintai saran, sudut pandang, hingga solusi dengan dosis terendah sampai tertinggi.”

“Artinya mereka percaya sama kamu, Dee,”

“Idealnya seperti yang tampak di permukaan,”

“Kalau begitu kamu buka jasa curhat online aja, Dee. Mana tau bisa jadi sampingan yang menguntungkan?”

“Untungnya dimana?” Cibirku. Kiren tertawa.

“Terus, aku masih nggak ngerti yang kamu sebut tadi pemadam kebakaran?”

“Iya. Ibarat petugas pemadam kebakaran. Tiap orang pasti memiliki masalah. Pada umumnya setiap orang pula beranggapan masalahnyalah yang paling utama dari apapun dan siapapun. Masalah asmara, masalah rumah tangga, masalah uang dan banyak lagi. Aku selalu dimintai jawaban solusi atas persoalan mereka. Kadang tanpa kenal waktu. Seusainya kutunaikan segala kesediaanku memadamkan suluh masalah, mereka tinggal pergi dan berpesta pora bersama sanak, kerabat, dan orang-orang dekat di hati. Cukuplah mengimbalkan pemanis bibir dan sangka aku kan percaya pada omongan kosong. Aku tidak meminta imbalan materi dan bahkan tidak tertarik pada bayaran andaikan mereka anggap seperti itu. Tetapi aku lelah. Sedikitpun aku tidak pernah menjadi bagian manakala bunga-bunga taman hati mereka merekah, namun aku yang dipanggil dan mengapa pula biarkan hati terpanggil manakala si jago merah mencoba mengoyak ketenteraman hati mereka?”

“Hmm… artinya, mereka memperlakukanmu seperti recycle bin untuk setiap permasalahan pribadi? Tapi mereka lekas melupakanmu ketika masalahnya sudah sirna?”

“Yep. Recycle bin.”

“Tapi…bukankah setiap kita pun pasti ada aja berbagi masalah pribadi terhadap orang yang kita percaya? Kau pun mempercayai seseorang kan untuk menumpahkan uneg-uneg?”

“Aku jarang berbagi masalah Ren. Karena yang aku temukan biasanya bukan penyimak-penyimak yang rela meluangkan waktu sebagaimana aku setia meluangkan waktu untuk mereka. Jangankan aku berbagi tentang suatu masalah, bercerita tentang keluargaku pun orang-orang seperti itu tidak sedikitpun menyimak kecuali cukup dengan…..’oooohhh begitu’-nya.”

“Kamu memang Rossa ya? Tegar. Baiklah. Sekarang aku mengerti. Saranku, ambilah keputusan tepat di kala tidak sedang ada bara pula membakar perasaanmu, Dee. Masih ada aku kan Dee?”

Pancaran bola senja kian menemaramkan pijaran cahayanya. Berganti dengan lampu-lampu menara yang mulai menampakkan gagahnya menyambut cakrawala malam. Kiren dan aku beranjak meninggalkan dermaga. Kembali ke parkiran dan tenggelam di balik kemudi masing-masing.

Inspirasi Langit

“Apa yang kau lakukan saat aku berhenti sejenak dari menyapamu via bbm/sms?”

“Banyak. Beberapa pekerjaan harus kuselesaikan,”

“Aku mengirimimu bbm/sms kan di malam hari? Kau mengerjakan apa?”

“Menulis, bikin cerita-cerita pendek,”

“Manaaaa? Mauuu donk aku baca karya-karyamu?”

“Buka aja xxx.com itu tulisanku,”

“Berarti…. aku mengganggumu? Menyita waktu dan perhatianmu hanya untuk meladeni isi pesan-pesan tidak penting dariku?”

“Sama sekali nggak kok. Aku senang mengobrol denganmu. Kau selalu berbagi tentang banyak hal yang selama ini aku belum tau,”

“Kau curang!”

“Curang?”

“Ya. Selama ini selalu saja aku yang berbagi kisah. Kau nyaris tak pernah. Aku jadi suka kebablasan, bercerita tentang semua yang kualami, baik suka mapun duka, dan lupa kalau kau pun manusia biasa yang mungkin mengantongi banyak persoalan,”

” :)“

“Nah, kau selalu begitu kan? Pamer senyum dan menyembunyikan probabilitas galaumu sendiri?”

“Aku tidak galau. Suir. *ngacungin dua jari..tiga jari..empat jari* “

“Hahaha….lagi-lagi kau pintar menghibur orang. Tapi… kau jangan begitu, karena siapapun akan mengira kau adalah empty recycle bin yang selalu siap menampung setiap masalah orang. Hehe…just IMO,”

“Oww…ternyata begitu? Tak apalah, kan aku jadi banyak dapat pahalanya? Siapa tau malah nanti aku naik pangkat jadi malaikat? “

“Hmmmm…..??? Mimpiiiiii….hihihi…..”

“Coba sejenak lihat keluar kamarmu. Tengadahlah ke langit ke arah barat. Hampir setiap malam kulihat begitu. Di sana ada dua cahaya bersinar seolah tampak dekat. Meski sebenarnya keduanya berjauhan. Keduanya teramat jauh bahkan. Yang satu cahaya bersinar lebih terang. Dia tak berkerlip. Karena itu adalah planet. Tampak disebelahnya ada kerlip, cahayanya tak seterang planet tetapi konstan. Letaknya lontar teramat jauh dari jangkauan planet bahkan dari bumi. Itulah bintang. Meski keduanya benda langit yang berbeda dan berjauhan, tetapi dari pandangan kita, mereka dekat.”

“Aku mengerti sekarang 🙂 “

#cerpenagnez

Cerber: Memiliki Hati yang Kedua (II)

Memiliki Hati yang Kedua – Part II

beautiful1Alya: Untuk seseorang yang telah menggenapi hidupku dengan perhatian dan sayangnya. Betapa bersyukurnya aku menemukan dirimu. Merajut hari demi hari dengan gelegak rindu dan gelora hasrat tersurat. Menjalani tiap detik dengan penuh semangat ‘tuk menanti setiap momen perkasihan itu tiba menyapa. Andaikan aku adalah sang waktu, pasti akan segera kuputar cepat sehingga rindu itu akan segera tergenapi dengan sebuah perjumpaan selanjutnya.

Bagus: Kisahku takkan habis di malam keseribu satu. Dan bila engkau masih ragu padaku, hampirilah jendelaku. Di sana, kau bisa nikmati waktu yang berhenti mengalir. Di sana, kau bisa nikmati waktu melambat bagai bulir embun sehingga kau bisa menghitung tetes gerimis rindu yang jatuh. Sehinga kau akan tahu, sebanyak itulah ku di sini memikirkanmu. kucing-berdasi

 

 

 

 

At Fri 08:00 am |Hai.. sdg sibuk apa?| |Eh, mbak cantik. Biasa nih lg upload data-data yang selesai diconvert. knp?|

|Ga ada apa2. Cm minggu dpn jgn nyariin aku yaa|

|Loh, mbak al mw kmn?|

|Mw cuti seminggu. Merayakan honeymoon jilid kedua sm suamiku doonk! Hehe..|

|Ciyus?? Cieee selamat ya! moga sakinah 4ever. Btw, berarti mbak al mw berangkat ke KL?|

|Makasii. Ga, bukan aku yg nyusul ke sana, tp suamiku yg datang. Rencana kami mw ke bdg, sekalian liat perkembangan pembangunan rumah cinta kami di bdg yg udah hampir jd. Eh, mas yu, nanti kalo dah jadi mampir2 ya. ajak ce-mu sekalian kenalin ok? hehe..|

|ck ck ck mantaaap tenan! Iya InsyaAllah nanti ta’ mampirin. waduh… ce-ku siapa? Lah belum ada mbak’e hahaha bisa aja|

———-

 

“Kenapa sih mereka berdua tuh nggak berterus terang aja? Biar jangan membohongi publik begitu?” celetuk Nania membuka sesi rumpi di pantry sementara kesemua rekannya tengah membuka kemasan sarapan paginya masing-masing.

“Masalahnya Nan, mau berterus terang atau nggak, apa mungkin jalin cinta tanpa restu dapat bersatu? Suami mana yang akan merestui hubungan perkasihan istrinya dengan pria lain. Dan aku yakin di pihak keluarganya Bagus juga pasti hal itu tidak akan pernah terjadi!” Jawab Luna.

“Terus kira-kira Mbak Alya kemana ya selama cuti?” Sita, si sekretaris menyela.

“Alya cuti untuk honeymoon sama suaminya ke Bandung,” Tiba-tiba Wahyu tergugah angkat bicara.

“Jadi dia bilang begitu? Yakin lo?” Sita tertawa meledek.

“Memangnya ada apa Mbak Sita?”

“Dear all, aku punya info maha penting. Dan ini sifatnya top secret ya. Bagus juga di kantor Cepu mengambil cuti selama seminggu. Waktunya bertepatan dengan jadwal cutinya Mbak Alya terhitung mulai Senin kemarin,”

“So what gitu loh? Bisa aja kebetulan bareng?” Timpal Reno.

“Sebentar, Ren. Aku kan belum selesai menginformasikan info maha pentingnya. Tadi pagi…” Sita berhenti sejenak. Menarik nafas dalam. Gayanya sudah seperti seorang pimpinan hendak mengambil kebijakan luar biasa. Membuat semua mata memandang geram padanya.

“Hey! Ta, ngomong tuh yang seratus persen donk!” Protes Luna.

“Begini…. Kalian tau kan Mas Hutomo?” Suara Sita merendah dan nyaris berbisik. “Ya setidaknya dari fb-nya Mbak Alya mungkin ada yang pernah tau. Tadi pagi Mas Hutomo datang ke kantor, ke ruanganku. Jauh-jauh dari Kuala Lumpur hingga tiba di sini dia semula berniat memberikan surprise buat istrinya. Sumpah! Awalnya aku sendiri dibuat kelabakan ingin memberikan jawaban kemana Mbak Alya. Aku terpaksa berbohong bilang kalau Mbak Alya sedang dinas sebagai utusan dari kantor ke Surabaya. Kalau aku bilang Mbak Alya sedang cuti, up’s! Terlebih lagi sebelumnya dia beralasan untuk honeymoon sama suaminya kenapa justru Mas Hutomo datang kesini Selasa ini? Kemana Mbak Al? Setidaknya dia udah cabut dari sejak Sabtu pagi kan?”

Semua terserempak membisu. Dingin dirasa menerpa tengkuk.

“Terus kemana Mbak Alya?” Luna membentangkan layar ponsel BB-nya. Serentak tanpa komando dilakukan pula oleh Sita, Nania, dan Irin. ‘Kebahagiaan mumpuni adalah menyoal rasa dan hasrat yang tidak dapat diungkapkan sebatas lewat lirik dan larik. Adalah tentang prestise yang bisa kau gapai ketika seseorang dengan penuh kasih dan tulus mengapresiasi apa adanya dirimu. Bahagiaku bersamamu.’ Senin jam 20:25 nih,” Semua kini saling berpandangan. Wahyu geleng-geleng kepala. Matanya memejam. Gegas dirinya bangkit meninggalkan pantry.

“Mas Wahyu mau kemana?”

“Perutku ngedadak mual, Lun!”

———-

Semilir angin pantai senja menerpa. Posisi tubuh berisi bertelanjang dada menjadi penyangganya.

“Tak ada sunset indah di sini, tapi kukira aku merasakan kenyamanan yang berbeda dibanding di Kuta atau Sanur,”

“Yakin begitu, sayang?” Tangan kekarnya sebilah menyangga di atas pasir. Badan kokoh dan berbidang tak berhelai kain itu dibiarkan menjadi sandaran bagi pemilik punggung didepannya, melunglai manja padanya sembari si pemilik jari lentik memulaskan polesan-polesan pada kanvas terbentang.

“Apa kau tak merasakannya? Ketenangan dan kehangatan. Di sini jauh dari keramaian, Bli. Sedari tadi selain menikmati pemandangan sunset aku menikmati pula alunan musik slow motion,” Tentunya alunan musik yang dimaksud Alya berasal dari Holliday Inn di balik punggung mereka.

“Ya. Segara memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi pemilik jiwa seni yang terpendam,” gurau Bagus.

“Besok aku ingin mengajakmu ke Batik Galuh sekaligus ke Desa Celuk di sana juga terdapat kerajinan emas dan perak. Hari ketiga, kita ke Kintamani ya, sayang. Ada pemandangan perbukitan dengan udara segarnya,”

“Apapun itu. All with you, honey,”

———-

Seminggu kemudian…. Setiap kali melewati cubicle Wahyu, haduh! Apalagi yang terjadi ini? Setelah semua mata kini benar-benar syarat dengan tatapan sinis dan sangat menyayat hati. Wahyu tak lagi terlihat sarapan di pantry dan shalat pun entah di mana. Sapaannya via message pun seringnya tak berbalas, bahkan seringnya malah dinonaktifkan. Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan maafkan diri ini…. Wahyu menyandangkan ransel di pundaknya. Waktu sudah menunjuk pukul lima. Alya pun baru saja menuntaskan tugas tambahan hari ini. Tanpa disengaja berdua mereka menuruni anak tangga gedung menuju parkiran kendaraan. Wahyu menyimak alur kisah tertutur penuh gugah gelora. Dalam pandangannya layaknya seorang ABG sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Jadi, rumah cinta Mbak Al sudah hampir utuh donk ya? Kapan pastinya Mbak Al berhijrah ke sana?”

“Alhamdulillah Mas Yu, semua itu karena cinta suamiku, tentunya. Insya Allah setelah lebaran. Do’akan kami ya?”

“Tentu,” Jawab Wahyu datar dengan mata menanar. Pedih terlintas mendadak dalam benak. Tak ada daya lagi dirasa untuk berkata. Hanya doa dalam batin yang masih mampu melantun… “Ya Rabb, tunjukkan bila aku yang salah. Berikan padaku petunjuk-Mu agar kumampu melihat kebenaran yang nyata, agar aku mampu meyakini salah satunya dan menghindarkan diri dari dusta dan ghibah.”

Diam.

“Jadi, cuti seminggu ber-honeymoon dengan suami yang mana?” Alya terperangah oleh pertanyaan Wahyu. Ia menoleh cepat. Didapatinya mata elang lelaki di sebelahnya begitu dingin menatapnya. Kuduk Alya merinding. Sosok yang tengah menjejeri langkahnya tiba-tiba terasa sangat asing kini.

“Apa maksud pertanyaan Mas Yu? Ya dengan suamiku lah!” Tukas Alya mulai gusar.

“Ya… tentu saja. Seandainya seperti yang pernah Mbak Al ceritakan pasti Mas Hutomo nggak bakalan nyasar jauh-jauh dari negeri Jiran sampai menyusul ke sini.” Rentetan ucapan Wahyu membekukan langkah Alya beberapa detik. Deg! Benarkah yang kudengar? Jadi itukah penyebabnya sudah dua minggu Mas Hutomo tak menelponnya setiap pagi, siang, petang, dan malam sebagaimana biasa?

“Aku nggak sampai sejauh itu dengan Bagus!”

“Oh, jadi memang benar, dengan Bagus?” Wahyu geleng-geleng kepala. Suaranya nyaris mendesis.

“Kami melakukannya tidak sampai melibatkan perasaan terdalam masing-masing,”

“Dan aku bukan saksi atas apapun yang Mbak Al lakukan!”

Alya tak melanjutkan perdebatan sengit ini. Ia bergedik menghampiri kendaraan setianya yang terparkir di dalam basement. Melajukannya segera. Tanpa pamit. Usiamu terpaut tiga tahun lebih dewasa, Mas. Namun kuyakin dirimu masih mentah soal pernak-pernik rumah tangga. Kau belum paham. Mungkin juga seperti Mas Hutomo, kurang peka terhadap impian, keinginan, harapan sang istri, yang bukan hanya melulu pelengkap hidup bagi sang suami. Ingin didengar, ingin disimak, ingin diperhatikan, ingin merasa dibutuhkan, dan terjitunya ingin diapresiasi terhadap hal sekecil apapun yang ia ciptakan dan persembahkan untuk sang suami. Karenanya, salahkah bila aku menemukan pohon rindang untuk bersandar yang sanggup menjadi peneduh bagi jiwa kerontang nan gersang?

———-

Pagi ini sesuatu lebih menyentak perasaan. BBM, SMS, intranet messenger tak satupun berbalas. Bagaimana kabar Bagus hari ini? Apa gerangan dengannya? Mengapa ketika pada akhirnya telepon Alya hanya direspon dengan jawaban-jawaban sepatah-dua patah kata belaka: “Ya / tidak” ; “Baik” ; “Hmm…” ; “Begitu” Dan, haruskah ia merasa senang atau sedih ketika menerima kabar Bagus akan singgah kemari minggu depan? Siapapun boleh menuduh Alya dan Bagus tengah melakoni sandiwara. Bagus tiba kembali di kantor induk. Jumpa mereka kini terpasung kebisuan. Ada jarak direntang. Ada lisan tertahan. Ada tatap saling berhindar untuk beradu.

“Aku hanya singgah dua pekan saja di sini. Itupun untuk mentraining PE junior yang akan melengkapi tenaga engineer di sini,“ Demikian kelu suara itu terdengar. Lelaki tinggi gagah berkulit agak kecokelatan yang begitu ia rindukan itu mengenakan kemeja biru langit bermotif garis abstrak dan jeans biru pekat. Alya pastinya ingat betul itu kado ultah darinya bulan Januari lalu. Bagus terus bicara. Punggungnya bahkan belum lagi berbalik arah. Matanya fokus membaca satu-persatu judul-judul buku di rak di ruang meeting. Alya duduk di salah satu kursi. Usai rapat dengan pimpinan sejam lalu. Mereka berdua sengaja meninggalkan diri usai rapat tadi.

“Oh ya, sekaligus aku minta kesediaanmu untuk membimbingnya juga.”

“Jadi begini caramu mengakhiri?” Tanya Alya lirih.

“Mengakhiri apa?” Kini Bagus membalikkan badan. Mimiknya tak terlihat terlalu berekspresi. Datar.

“Apa maksudmu dengan ini semua? BBM, SMS, IP message, bahkan telponku tak kau jawab. Ada apa denganmu Bli? Caramu tak pernah seperti ini?”

“Apapun yang berkaitan dengan pekerjaan, kau masih bisa menanyakan padaku selagi aku masih di sini. Aku pun mulai hari ini akan mengajar Gilang, si anak baru,” Tolong jangan dekat atau datang kepadaku lagi. Berhentilah pula menghubungiku, karena aku sendiri akan semakin tersiksa, kekasihku. Bagus membatin. Detik ini pula tak kuasa lagi menahan butiran bening yang berdesakan ingin meluruh dari balik kelopak mata. Namun sekuat tenaga pula Alya menahannya. Perlahan tanpa permisi ia mendahului meninggalkan Bagus menyendiri di ruang rapat. Menjalani hari-hari berikutnya yang sangat menyayat batin. Alya dan Bagus benar-benar memainkan peran mereka. Sempurna!

Dan dunia serasa berakhir seketika ketika Alya menemukan ini di email-nya setelah Bagus meninggalkan kantor induk: Kepada dirimu, belahan jiwa dan kekasih sejati Sebagaimana dulu pernah kau ungkapkan, nikmati kebahagiaan ini, belum tentu tahun depan akan merasakan hal yang sama. Kuingat betul kata-kata itu. Hingga akhirnya hari ini aku telah mengambil keputusan. Sebuah keputusan gila. Kau pun pasti berpikir aku sudah gila. Kau tidak salah, kekasihku. Hingga detik ini, aku masih berpikir, benarkah yang kulakukan ini? Tepatkah ini? Dan apakah yang akan terjadi setelah ini?

Kekasihku, Pernah kita genggam dunia berdua. Pernah kita miliki sesuatu yang lebih kuat dari cinta, sesuatu yang lebih hangat daripada asmara. Dan betapa beruntungnya aku karena waktu dan takdir mempersuakan kita. Merasakah hangatnya perhatianmu, memeluk manjamu, mendengar teduhnya ucapan bijakmu, dan tawamu yang melipur setiap kali jiwa ini sepi. Belahan jiwaku tersayang, Hari-hari itu mungkin tidak akan pernah datang lagi. Mungkin aku akan meratapi keputusanku ini. Tetapi kuyakin itu sangat-sangat jauh ketimbang sesalku telah membuatmu melukai dan mengkhianati pendamping hayatmu, merobek janji sakral kalian berdua. Bahagiamulah inginku. Meski aku…. harus mundur dari hidupmu.

Mengundurkan diri dari institusi yang telah mempertemukan sekaligus menautkan hati kita. Tolong jangan tanyakan kemana ku kan pergi, kerena aku sendiri belum memiliki jawabnya. Mungkin aku akan mencari nafkah di tempat lain. Atau mungkin aku akan mencoba peluang wirausaha. Do’akan langkahku yaa. Terima kasih, telah memberiku sepetak ruang di relung hatimu. Kini harus kulepas tanganmu dari genggamanku Belahan jiwamu yang sudah saatnya kau lupakan,

Bagus Oka Bramantyo

———-

Enam bulan terlewati di tahun 2013. Ramadhan menyapa. Kupasrahkan semua pada Yang Kuasa dengan penuh rasa sesak dan sesal di dada dan derai air mata yang tiada lagi berguna. Bagus pergi. Wahyu geming. Mas Hutomo memilih kian merentang waktu, jarak dan komunikasi setelah mengetahui apa yang terjadi. Hatinya hancur meluluh lantah. Rumah cinta di bandung batal kami huni sebelum separuh hati yang tersakiti terobati. Terkadang masih kumenyambangi Corner Café di senja di tengah desing asing lalu lalang kendaraan bermotor. Berharap seminimalnya kutemukan bayangmu di sana, Bli. Menemuiku dalam jumpa rindu. Tapi kutemui hanya hampa dalam kalbu.

———-

Suara itu… rindu kudengar. Suara yang selalu mengingatkan. Kini kembali menyapa usai kumandang adzan Ashar. Masih seperti dulu.

 

~Tamat~ Identified by: cerpenagnez

Tiga Rahasia (Cerpen)

Anton Chekhov

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah telanjur disematkan, mungkin akan berbalik.

Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.
Seorang perempuan berkaus hitam memoles ulang concealer untuk menyamarkan kantong matanya. Lalu, dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.

Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.
Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibu kota.
***
“Apa kau masih sering ke kelab malam?” si rambut ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.
“Sudah lama berhenti,” si kaus hitam menjawab cepat tanpa ragu.
“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu sering mabuk dan pulang pagi.”

Si kaus hitam tersenyum, lalu memalingkan wajah ke perempuan yang mengenakan rok merah. “Eh, Bu Dokter Cantik, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”
Si rok merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”
Si rambut ikal bersuara dengan serius, “Wah… wah… kalian berdua sama sibuknya, dong, sekarang. Aku rasa, kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”

“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi, kenapa mesti ngotot?”
“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Ha…ha…ha…,” kali ini giliran si rambut ikal yang tertawa lepas.

“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain,” si kaus hitam mengarahkan perhatian ke si rambut ikal.
“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”

Jawaban si rambut ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “Wow…!”
Si kaus hitam terdengar merajuk, “Kenapa baru cerita, sih?”

“Aku tiap hari berkicau di Twitter-ku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa, sih, tidak aktif di media sosial?”

“Tak ada waktu,” jawab si rok merah cepat.
Si kaus hitam menyambung, “Anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”
Lalu, si rambut ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritas ibu kota. Biarpun mereka  hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.

“Mungkin kapan-kapan, hari Sabtu atau Minggu siang, setelah siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan kepada teman-teman baruku.”
Si rok merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua dengan suami.”
Si kaus hitam tak mau kalah, “Akhir pekan, ya, acara keluarga, dong.”
Si rambut ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”

Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu, saat mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.
“Kau ingat tidak, anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, ‘kan? Apa kalian dulu satu kampus?”

Si rok merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip. Kampus kami juga beda, kok.”

“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”
“Aku  kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, ‘kan?” si rok merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.
“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”

“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau nggak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, ‘kan?”
“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”
“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”
Si kaus hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”

“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”
Si rambut ikal menjawab dengan percaya diri, “Itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”
“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”
“Berlibur tidak mesti ke luar rumah, ‘kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Tiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”
Si kaus hitam memandang temannya dengan kagum.
“Benar-benar supermom,” katanya.

Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi, suara mereka masih terdengar penuh semangat.
Beberapa kali si rambut  ikal tampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Si rok merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”

Si rambut ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”
Si kaus hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya, penuh semangat.
Si rok merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit. Kedua temannya tampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”

Si kaus hitam menggodanya, “Kau yakin tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”
“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila kepadanya.”
Si rok merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”
Sekali waktu tampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang tampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.

“Tidak mungkin itu anaknya,” si kaus hitam berbicara dengan suara rendah.
“Mungkin keponakannya,” kata si rok merah, mengedipkan matanya.
Si rambut ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”

Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.
Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah ke luar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.

***
Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah mengempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi:  “Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi, kenapa mesti ngotot?”

Profesinya sebagai dokter sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.
Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.

Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.
Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Air matanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”
***

Arumi menghela napas panjang. Tidak sekali, tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.
Memiliki 3 anak, berada di puncak karier sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan, sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibu kota, namanya mulai dilirik.
Tapi, siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat, tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut, segala puji yang sudah telanjur disematkan untuknya, mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada sang ibu dan beberapa pengasuh anak.

Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu yang gencar diembuskannya melalui media sosial ini. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja-puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah.
***
Rinjani menutup mata sambil menenggak tegukan terakhir dalam botol alkohol di genggamannya. Tinggal ia sendiri yang duduk di bar. Rinjani memang pernah berhasil menjauhi botol-botol alkohol yang membius itu. Tapi, itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarier, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali mabuk-mabukan.
Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal, hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.
Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah ia mencoba untuk menjadi penulis lepas. Sekadar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarier di bidang jurnalistik. Tapi, hasilnya sering kali hanya bercangkir-cangkir ampas kopi, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.

Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.

Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, ia didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.
***
Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibu kota, larut dalam keterpurukan masing-masing.  Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasia masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak dihadapan mata.

***
Jihan Davincka

Fiksi Femina

Sampai Nanti

one of my favorite story 🙂

Airport

Siapa yang tahu nasib seseorang, juga nasib pasangan. Tidak seorang pun yang tahu menurutku. Tidak juga kau, dan kita, Kekasihku. Meski sampai saat ini dan nanti, aku berkeinginan kaulah milikku seorang. Tapi ketika jarak mulai membentang, dan pertemuan ragawi mulai jarang, sementara nasib terus saja mempunyai rencananya sendiri – yang sering kali berpunggungan dengan keinginan dan asa kita berdua – apa yang mampu kita lakukan, Sayang. Atas alasan itulah, aku mengikhlaskanmu terbang ke negeri orang, untuk kemudian membiarkan nasib melakukan perannya, tanpa kau perlu risau, dan aku was-was tentang segala hal yang bakal terjadi di antara kita berdua.

Toh, tidak akan ada yang pernah bisa menghadang datangnya kuasa Tuhan, Sayang. Tidak juga besarnya rasa sayangku, dan rasa sayangmu kepadaku. Karena kau pasti juga sangat tahu, yang terbaik buat kita, belum tentu terbaik buat nasib. Demikian sebaliknya, yang buruk buat kita, belum tentu buruk buat nasib.

“Iya, aku tahu. Yang menjadi pemenang pasti nasib. Kau selalu mengulang-ulang itu,” katamu lirih di telingaku, ketika kita berdua rebahan, setelah hampir setengah hari berbenah membereskan barang untuk keperluan hidupmu di negeri rantau.

Tapi, kau melanjutkan kepadaku, “Mengapa harus gentar menanggungkan kesendirian dan keterpisahan ragawi ketika kita masing-masing yakin diciptakan untuk saling mendampingi.”

“Apa pun bayarannya,” balasku.

“Ya, apa pun bayarannya,” jawabmu tangkas.

Bahkan kesepian akan kau lipat, juga kehampaan yang tak terperikan karena terpisah dari orang yang paling disayang?

Memang, meski terdengar naïf, tapi apa yang dikatakan kekasihku tentang rasa sayangnya kepadaku, bukanlah ikhwal yang kacangan. Dari dulu, semenjak berkenalan di bangku semester pertama di tempat kuliah kami, dia selalu mempunyai kecenderungan bersungguh-sungguh atas apa yang diyakini dan dikerjakan. Termasuk ketika kali pertama, dulu, kami saling meyakini jika masing-masing cinta kami akan saling bertaut, untuk kemudian saling mengisi, mewarnai, dan memaknai. Bahkan ketika kedewasaan kami sama-sama mengembang dan berkembang, kau makin yakin kita makin tak terpisahkan.

Saking yakinnya dirimu atas kebersamaan dan kelanggengan hubungan kita, bahkan pada momen ketika kita masih merebahkan kepenatan, kau berujar, “Kau akan menjadi ayah yang baik, dan kuat buat istrimu. Aku yakin itu. Dan aku berjanji akan menjadi ibu yang memayungi anak-anak kita. Bukankah dari dulu kau selalu berjanji agar aku meyakinimu, bahwa kau akan menjadi satu-satunya ayah dari anak-anakku. Anak-anak kita,” katanya mengingatkan kepadaku.

Aku membisu. Berbicara tak, bergerak pun tidak. Hanya angin dari jendela kamarmu yang membawa kelu.

“Mengapa kau hanya diam?” tanyamu.

“Aku tidak terlatih menjalin kasih dalam rentang ruang dan waktu yang berbeda,” kataku. “Aku, sebagaimana kamu, juga tidak mempunyai pengalaman itu. Kita mempunyai pengalaman yang sama.”

“Jadi, apa yang kau takutkan,” katanya dengan nada yang sangat cepat kepadaku.

“Aku mencoba berpikir realistis,” kataku.

“Kau ingin menyudahi hubungan yang luar biasa ini, hanya gara-gara kita dipisahkan ruang dan waktu? Dan kau pikir itu adalah jalan yang paling realistis untuk mengakhiri hubungan kita? Jangan kau mementahkan apa yang kau yakini sendiri atas semua yang pernah kau katakan kepadaku selama ini, Sayang,” katanya.

Aku diam saja.

“Mengapa kau diam,” katanya seperti mengejar jawaban padaku. “Atau jangan-jangan…” katanya melanjutkan.

Ah, tidak seperti yang kau pikirkan, Kekasihku. Aku, sebagaimana kau ketahui selama ini, hanya menginginkan kebaikan dan kebahagiaan. Hanya untukmu seorang. Maksudku, jika tanpa diriku kau di sana nanti menjumpai kebahagiaan dan ketenangan, dengan siapapun yang kau anggap paling bisa melindungimu, aku akan turut berbahagia di sini. Daripada bersetia, tapi saling menanggungkan kelaraan.

Seketika, dalam hitungan detik, kekasihku bangun dari rebahnya, berdiri, dan mengarahkan pandang tajam matanya ke arahku yang masih rebahan.

“Kau pikir aku adalah perempuan murahan, yang dengan gampang menukar kerinduan dengan kehadiran seseorang di luar kekasih sejatinya?”

“Aku tidak mengatakan itu,” kataku.

“Tapi, arah pembicaraanmu kesana, Sayangku,” katanya lagi.

“Tapi dua tahun, dan kalau itu berjalan lebih lama, dalam artian dua tahun lebih, itu bukan waktu yang sebentar.”

“Kau meragukan kekasihmu ini tidak mampu menjaga perasaan cintanya, sehingga memutuskan berpisah dengan pujaan hatinya hanya dalam waktu dua tahun lebih?”

“Aku tidak mengatakan itu, aku hanya mencoba berbicara realistis.”

“Justru kau yang tidak realistis, Sayangku.”

“Sangat menjadi tidak realistis di sini, atau di sana nanti, kalau masing-masing di antara kita ternyata saling menyiksa diri, tapi pada saat bersamaan ada seseorang yang membuat kita menjadi lebih hidup,” kataku.

“Aku hanya hidup untukmu. Aku yakini itu. Aku harap kau juga berpikiran serupa denganku,” katanya.

Aku segera terbangun, berdiri, dan menyongsong matanya, sehingga berada tepat di depan mataku.

“Aku mulai mencemaskan keterpisahan kita, atas semua pikiranmu yang baru saja kau sampaikan padaku, Sayang,”

“Aku tidak tahu Sayangku. Aku tidak pernah berpikir akan berpisah denganmu dalam waktu yang tidak sebentar ini. Meski aku bisa menyusulmu terbang ke sana, dan turut menjadi bagian dari saksi perjalanan hidupmu merampungkan studi S-2-mu. Mungkin aku hanya merasa cemas saja.”

Seketika dia merangkulku. Inilah saat yang aku takutkan dari sebuah perpisahan, kerinduan yang tak terbantahkan. Bahkan sebelum berpisah sekalipun, aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana bila berpisah sungguhan besok?

Tiba-tiba bayangan bandara menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, karena aku sangat tahu sekali di tempat seperti bandaralah, seseorang akan melepas seseorang yang sangat dicintainya, dan menyambut kedatangan orang-orang yang sangat istimewa.

Di bandara, biasanya air mata dan tawa hanya berjarak setipis benang. Dan aku meragukan diriku sendiri mampu menanggungkan perasaan kecamuk itu, kala menyaksikanmu melangkah pergi menyongsong masa depan, dengan cara meninggalkanku. Aku hanya ingin realistis. Kau cantik dan menyenangkan. Tidak sebagaimana banyak perempuan cantik lainnya, yang biasanya pintar tapi sangat tidak menyenangkan.

Hal itulah yang membuat kemungkinan laki-laki mudah jatuh hati padamu, menjadi sangat terbuka sekali. Atas alasan itulah, aku menantang diriku sendiri, untuk membiarkan nasib mengambil perannya atas hubungan kita berdua, tanpa harus menggaungkan janji apalagi sumpah rombengan. Karena aku mencintaimu, maka sebagaimana banyak dikatakan para pujangga, aku akan membiarkanmu bebas pergi kemana pun nasib membawa: Set you free.

Tapi, ketika hal itu kutawarkan kepadamu, malah kemurkaan yang aku dapatkan. Lalu apakah aku harus belajar memahami kata kesetiaan, yang cenderung lebih mudah dikatakan tapi sangat sulit diejawantahkan itu? Meski kau juga sangat tahu, betapapun besarnya cintaku padamu, demikian sebaliknya, tidak ada yang tahu tentang masa depan.

Setelah sekian lama kau peluk diriku, pelan di telingaku kau bisikkan, “Aku masih makmum sama kamu, Sayang.” Aku sangat tahu arti kata itu. Maka pelan-pelan kami akan membasuh muka dan hati untuk berwudhu. Seperti biasa, kami masih belajar untuk mendalami peran kami masing-masing. Aku belajar menjadi imam, dan dia menjadi makmum. Meski dalam banyak perkara kehidupan lainnya, terkadang dia malah menjadi imam buatku.

Pada momen belajar menjadi imam dan belajar menjadi makmum ini, biasanya akan meredakan semua perseteruan yang terjadi di antara kita. Tapi aku merasa, pada perakara menjelang keterpisahan ini, sepertinya hal itu tetap tidak akan menjadi sesuatu yang mudah juga.

Ah, apa pun itu, di bandara, pada hari yang sangat menentukan itu, aku belajar melepaskannya. Pergi. Demikian juga dengan dirinya, juga harus belajar memaknai arti perpisahan. Dan yang pasti, sebagaimana perempuan kebanyakan, dia akan lebih dari mampu menanggungkan kesendirian. Sampai nanti, Sayang.

By: Mario Ginanjar

“Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan”

25 Cerpen Kahitna | Hal 27-32

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Juli 2011

Sumber ilustrasi dari sini

Cerber: Memiliki Hati yang Kedua (I)

2 hearts by mutz

Hujan masih merintik di balik kaca. Sisi dalamnya sampai mengembun dihembus udara oleh mesin pendingin dari dalam mobil. Alya masih menyandarkan sekujur tubuh lelahnya pada jok kursi. Enggan rasa untuk bergegas bangkit, malah ia menggeliat manja. Sebuah kecupan hangat kemudian mendarat di keningnya.

“Selamat pagi, sayang! Met beraktivitas ya!”

“Kau akan berangkat jam berapa, Bli?”

“Ya seperti biasalah. Jam tujuh kita kan sudah di kantor?”

“Maksudku, jam berapa kau akan berangkat ke Cepu?” Sengaja Alya melempar pertanyaan dengan cara sedikit jahil. Bagus memiringkan badannya. Tangan kekarnya mengelus mesra pipi Alya.

“Nanti malam, dik. Naik Sembrani setengah sembilan. Kenapa? Aku masih di sini, kau sudah merindukanku?” Bagus balas menggoda. Alya menggeliat lagi.

“Gendong…” rengeknya kian manja pada kekasih hatinya itu. Bagus tersenyum. Gegas ia keluar dari mobil dan membukakan pintu bagian sebelahnya. Namun sembari tertawa kecil ternyata Alya langsung melompat turun.

“Makasii… udah, ga usah. Khawatir nanti ada yang lihat,”

“Baiklah. Aku akan setia menunggu akan hari itu,”

“Hari itu apa?”

“Sudahlah. Ini pukul empat tiga puluh. Masuk sana! Cepat mandi. Sampai nanti di kantor ya,”

“Kau mau aku bawakan sarapan?”

“Tentu! Apapun yang kau masak aku selalu suka!” Bagus tersenyum lagi sambil bergegas masuk ke dalam cabin mobilnya lalu melajukannya kencang.

Sudah dalam hitungan tahunan Alya dan Bagus bekerja bersama dalam satu lingkup jasa pengelolaan data migas. Bagus, Petroleum Engineer di usia kepala tiga rupa-rupanya telah menyematkan panah asmara dari belahan jiwa terdalamnya tepat pada relung ruang hati Alya, si Operator Analis Data IT. Adegan drama bertema cinta lokasi bersemi beralur lugu dalam keseharian. Hal yang tentunya tak ayal mengundang gossip di kantor. Tak heran jika Luna dkk kini merangkapkan pekerjaan rutin mereka selain sebagai operator sekaligus sebagai tim investigasi yang giat berburu info ter-update ‘ada-apa’-nya antara Alya dan Bagus, biar terlihat macam tayangan gossip selebriti yang marak di televisi.

“Apa salahnya? Aku hanya membalas kebaikannya. Dia sudah banyak membimbing aku selama aku bekerja di sini,” Kilah Alya suatu hari ketika Luna ‘keukeuh’ ingin mengkonfirmasi kejelasan hubungan dua insan yang terlibat skandal jalin cinta tanpa restu tersebut.

“Udah deh, Mbak Al. Kita semua maklum kok. Cinta bisa bisa bersemi di mana saja bagai rumput liar di musim penghujan. Yaa… itung-itung sekadar hiburan selagi jauh dari suami. Asal patuhi rambu-rambu lalu lintasnya ajaaa…”

“Lun, kamu ngomong apa yo..? Aku sama Mas Bagus berteman baik. Sama seperti juga halnya dia bersikap baik pada kalian semua,”

“Iyaa siih Mbak, cuma…. beda kan baiknya Mas Bagus sama kita dengan baiknya Mas Bagus sama Mbak Alya, istimewaaa…!” Timpal Reno.

“Setelah kita berhasil mengupas tuntas apa aja yang selama ini tersurat dalam BB Mbak Al, kali ini….”

“Emang isi BB nya pa’aan aja?”

“Aaah elo sih Ren, makanya lo pake BB juga donk! Hahaha… ya itulah… kata-kata mesra dari statusnya Mbak Al. Begini nih: Bagian tersulit dalam hidupku bukanlah kenyataan yang tidak memungkinkan menyatukan cinta kita dalam ikatan, melainkan momen mengantarmu untuk berpisah”

“Itu kan kata-kata buat suamiku. Maklumlah pasangan LDR,” bantah Alya.

“Oow ya? Terus kalau begitu yang ini apa donk?” Luna memutar kursi berodanya dan menayangkan sebuah gambar berformat jpeg di PC-nya. Sontak semua berkerumun di depan PC Luna.

“Hah? Gila! Serius tuh?!” Reno melotot. Nania, Risti, Yoda, dan Wahyu semua mengangakan mulut memandang sebuah foto terpampang di PC Luna. Seorang lelaki sedang berpangkuan dengan seorang wanita, dalam temaram cahaya, berlatar belakang kursi dan meja balok-balok kayu dan bambu. Helai-helai daun dan ranting tanaman tampak sedikit menghalangi pengambilan gambar obyek dari kamera digital.

“Ehmm… waktu aku ambil foto ini, lokasinya ada di sebuah coffee shop. Lebih tepatnya di Corner Coffee Shop. Tapi pliss yaa kalian jangan langsung men-judge, bisa jadi foto ini cuma …cuma lho yaa… cuma mirip Mbak Alya dan Mas Bagus,”

Semula Alya cuek dan lebih memilih menikmati alunan musik dari mp3 player-nya melalui headset, namun mau tak mau terpancing umpan Luna. Ia pun beranjak dan bergerak mendekati meja Luna. Sama seperti lainnya, Alya terperangah.

Apa??? Nggak Mungkin!!!

Bagaimana Luna bisa tahu kalau ia dan Bagus sering meluangkan waktu di Corner Coffee Shop sepulang jam kerja?

Reno dan kawan-kawan kini terdiam. Menunggu respon apakah yang sekiranya bakal terpantulkan dari Alya. Geming, Alya kembali ke kursinya, melanjutkan pekerjaan. Bisik-bisik terasa makin berisik di telinganya kini. Tak kuasa menahan luapan emosi, Alya meninggalkan ruangan. Semua saling bertatap bingung.

“Lun, lu kok bisa dapet tuh foto? Emang beneran ya? ck…ck..ck sumpeh mana sangka gw sama kelakuan Alya begitu? Secara dia kan selama ini mendapat gelar istri sholeha,”

“Heh! Mbak Rin, istri sholeha dari Hongkong? Udah basi kali gelar itu buat dia. Nih buktinya… fakta cyiin…faktaaa berbicara! Siapa dulu donk paparazzi-nya tim Rempong Investigasi?”

“Hah! Masak sih begitu?” Bagus masih berdiri menyandar pada bilah tiang. Ia sedikit membungkukkan badan untuk mendengar suara Alya. Desing dan gemuruh di Stasiun Kereta Api Kejaksan malam itu membuat samar suara orang terdengar.

“Sayang, kenapa tadi pagi kamu nggak bilang ke aku? Haduuh! Kenapa juga seharian ini aku terlalu sibuk mengurusi analisa data perawatan sumur sampai aku tak sempat menyambangi ruangan kalian seharian ini?”

“Nggak tau lah Bli. Sepertinya semakin hari jadi semakin ramai aja. Entahlah, mungkin suatu hari nanti juga aku akan resign. Aku dah nggak kerasan dengan suasana nggak enak seperti itu,”

Bagus tak bersuara. Ia hanya menarik pelan kepala Alya yang hanya setinggi bidang dadanya, merengkuhkan kedalam hangatnya.

———-

Usai membasuh muka di wastafel toilet pria, Wahyu bergegas menuruni anak tangga menuju lantai dasar menikung di koridor dan turun ke kantin. Begitu ia tiba di ambang pintu Wahyu berpapasan dengan Alya. Dia baru saja menuntaskan aktivitas makan siang di kantin. Wahyu hendak menyapanya dengan seulas senyum ke arah Alya,

“Eh, Mbak Alya….” Wahyu mencoba senyum. Namun sosok wanita muda, bermimik serius sekali di dekatnya ini nyaris tanpa ekspresi.

Hmmff garing! Alya memang balas menatap Wahyu tapi tak membalas senyumnya. Tatapan Wahyu membeku. Sosok di hadapannya ini memang benar. Benar-benar tanpa ekspresi! Padahal ada yang ingin sekali ia sampaikan pada sosok ringkih berbalut jilbab itu. Seorang wanita yang dalam pandangannya seajuh ini selalu tekun dengan tugas-tugas kesehariannya. Hampir tak pernah terdengar suara, apalagi canda tawanya seperti Tim Rempong Investigasi. Alya begitu serius dan sangat pendiam. Hanya buka suara bilamana Rempong-ers mengajaknya ngobrol. Sorot matanya terlihat teduh di balik lensa kacamatanya. Namun wajahnya selalu begitu, tanpa ekspresi. Memang kelebihannya Alya terlihat sisi wanita sholehanya. Sama sekali Wahyu tak habis pikir apa iya ada ‘sesuatu’ antara Alya dan Bagus? Kalau iya, apa yang membuat Bagus sampai tergila-gila pada Alya yang notabene istri orang? Apa karena status Long Distance Relationship Alya dengan suaminya? Kenapa Bagus tidak memilih Risti aja yang jelas-jelas si gadis lajang, pintar lagi periang? Ah, jaman memang semakin gila!

Seminggu tanpa Bagus. Rempong-ers mungkin masih bergerilya memata-matai kelanjutan kisah dua sejoli tanpa status tersebut di ruang mereka yang kini terentang jarak dan waktu. Setiap kali Bagus ditugaskan turun ke field bisa memakan waktu berbulan lamanya untuk bisa kembali lagi ke basecamp-nya di perusahaan Pengelolaan Data Migas di Cirebon.

“Lun, kalo TTM tuh nama sumur apa ya?” Suara Reno memecah keheningan.

“TTM? Teman tapi mesra, maksud lo?” Jawab Luna sambil tertawa.

“Jeehh serius, gue nanya sumur TTM,”

“Tegal Taman, Ren. Pada ngasal aja siih kalian! Haha….” Pungkas Irin.

“Yeee…kan kira’in gitu Teman Tapi Mesrah… gitu loh Mbak Rin,” Luna tak mau kalah argumen sambil matanya mengedip-ngedip memberi sinyal jahil.

“Hey, pagi-pagi dah pada ngegosip aja,” tambah Risti.

“Iya Ris, habis…. Mestinya kan kamu yang jadi topik utama infotainment kita, itu baru wajar, lah ini…. Ibu muda kesepian hehe…”

“Kalo single sama single, infotainment-nya gak rame donk, Lun,”

“Luna! Reno!” Kali ini suara Alya menyentak.

Waktu telah bergulir satu jam dari pukul tujuh. Wahyu meninggalkan ruangan, menuju mushola, sebagaimana kebiasaannya untuk menunaikan ibadah shalat dhuha. Tak diduga Alya mengikuti aktivitas ritualnya. Sama seperti dalam dua hari berturut-turut. Kali ini Wahyu enggan menyapanya. Kapok dicuekin dengan tatapan lempengnya.

“Assalammualaikum, Mas Wahyu,”

Suara lembut itu menyapanya kala Wahyu baru saja selesai dan melipat sajadah. Ia menoleh ke belakang. “Wa’alaikum salam, Mbak….” Wahyu menatapnya bingung. Tumben!

“Dah sarapan mbak?” Tanya Wahyu ketika mereka meninggalkan mushola. “Aku mo ke pantry dulu nih,” Pertanyaan Wahyu tak dijawab. Namun ternyata Alya menyusul masuk ke pantry.

Di pantry Wahyu menyeduh kopi instan dan Alya membuat teh hangat. Keheningan masih melanda. Hingga tiba-tiba keduanya serentak hendak membuka percakapan Alya tersipu, Wahyu pun tersenyum.

“Ya udah, Mbak Alya duluan,”

“Mas Wahyu tadi mo ngomong apa?” Alya tampak masih malu. Kali ini Wahyu menatap mata teduh itu. Tak lagi seperti sebelumnya. Alya lebih terlihat akrab.

“Aku mo nawarin sarapan,” Wahyu mengeluarkan bungkusan sebungkus nasi kuning, Ternyata Alya juga membawa yang sama.

“Hehe… dari tadi ternyata memang niatnya bareng ya?”

“Biasanya nggak pernah keliatan sarapan di kantor, mas?

“Iya, aku baru aja pindah kos-an, barengan sama Dino. Agak jauh dari kantor, makanya ga sempet deh sarapan dulu di kos,”

Kembali hening.

“Mas Wahyu, boleh nggak aku cerita?”

“Oh, boleh banget. Cerita apa?”

“Tapi tolong jangan cerita lagi ke teman-teman lain, apalagi sampai terdengar Tim Rempong,”

“Mbak Al bebas cerita apa aja sama aku, dijamin halal dan aman. Janji,”

“Mas Wahyu tau kan gosip yang lagi hangat saat ini? Buatku sebenernya udah nggak betah dengan semua itu,”

Wahyu tetap menyimak. Alya melanjutkan.

“Aku sih, terus terang aja yah… selama ini aku ngerasa nyaman ngobrol sama Mas Bagus, nyambung lah. Terus dia juga nggak pernah ceritakan lagi ke siapapun. Begitu juga sebaliknya. Apapun yang kami obrolin berdua nggak pernah mengarah ke gosip,”

“Mbak Al, menurutku, kedekatan kalian itu sendiri yang mengundang gosip,”

“Ya aku tau. Tapi suer deh! Yang kami lakukan cuma sebatas curhat-curhatan. Nggak sampai lebih dalam. Bisa jadi itu pandangan teman-teman aja, suka ngartiin beda-beda. Padahal kalian semua tau kalau aku dah punya suami dan anak. Sementara dari sisi dia juga, dia kan beda keyakinan. Jadi mana mungkin kami punya hubungan khusus sebagaimana gosip teman-teman. Adapun kalau kita keliatan berdekatan bukan berarti mesra beneran kok, Bagus emang suka gitu becandanya. Ngaku-ngakuin di depan orang aku sebagai istrinya lah, sekalian aja suka aku bumbuin biar pada rame. Sekarang atau nanti kalian tetap memandang kami sebagai dua sejoli tanpa status yaa… terserah! Aku berani pastikan hatiku ya cuma buat keluarga!” Tandas Alya dengan nada meninggi.

“Oooh begitu.”

Alya segera melipat kertas pembungkus nasi kuning yang tak ia habiskan. Lalu membuangnya ke tempat sampah. Tangannya meraih mug miliknya. Berlalu dari pantry tanpa sepatah kata.

Sehari, dua hari hingga tiga hari berikutnya kebisuan yang tanpa diskenariokan melanda mereka berdua. Masih untung tak ada yang menyadari karena memang biasanya pun Alya tak pernah terlihat akrab dengan Wahyu.

Hingga sore….

“Mbak Al, lembur ya hari ini?”

“Iya Mbak Rin, sampe jam tujuh,”

“Terus…sama siapa? Oh, ada Mas Wahyu. Lembur juga Mas?”

“Aku sih nggak Mbak Rin, cuma lagi maintain software aja. Paling sampai jam enam,”

“O.K. titip Mbak Al ya Mas… hehehe…” Irin berlalu pulang. Teman-teman lain pun sudah bubar sejak jam kerja berakhir setengah jam lalu. Hujan mulai turun dan makin deras. Suara petir pun mulai memekakkan telinga. Agaknya sia-sia belaka Alya dan Wahyu terperangkap oleh derasnya hujan sore itu, nyatanya tak membuat seorang pun dari mereka memulai percakapan. Wahyu melirik jam tangannya.

“Mbak Al, sibuk nggak? Ada yang ingin aku sampaikan,”

Alya menoleh.

“Tentang foto itu. Semua nggak bener, Mbak Al. Aku paksa minta copy foto itu dari Luna. Setelah kuteliti ternyata itu foto palsu. Hasil editing Photoshop. Bukan foto asli Mbak Al dan Mas Bagus. Itu foto orang lain,”

“Percuma aja, mas. Mau itu asli atau palsu. Semua pasti udah semakin terkontaminasi pikirannya. Dugaan mereka ke aku pasti semakin negatif. Udah deh, lagian aku nggak lama lagi di sini. Mau berhenti kerja dari sini. Aku mau pindah ke Bandung,”

“Oh, begitu? Hmm…emang kapan rencananya Mbak Al mau pindah?”

“Sekitar enam bulan lagi,”

Deg. Terdiam. Wahyu merasakan dingin menjalar sekujur tubuhnya. Aliran darahnya dirasa membeku sesaat. Jantungnya seolah terhenti beberapa detik.

“Mas liat sendiri kan? Kok ya tega Luna bikin foto palsu begitu, cuma buat update bahan gossip murahan. Tak bisa kupungkiri mas, kadang aku ngerasa ada kalanya membutuhkan seseorang untuk diajak berbagi cerita. Dan entah kenapa pilihan hatiku jatuh pada Mas Bagus untuk membaginya,”

“Mbak Al, kalau boleh aku saranin, kedekatan mbak dengan Mas Bagus… ya walaupun sebatas curhat-curhatan, menurutku kurang etis juga lho. Mbak Al dah berumah tangga, apapun yang terjadi dalam rumah tangga mbak nggak sepantasnya mbak ceritakan lagi pada orang lain. Apalagi kalau mbak ceritakan kepada laki-laki lain yang bukan muhrim. Karena, dari curhat-curhatan bisa jadi timbul rasa iba, dari rasa iba jadi rasa simpatik, dari simpatik lalu tumbuh rasa cinta. Wah, kalau sampai begitu kan ujung-ujungnya jadi mudharat. Sekali lagi maaf lho ya Mbak Al, aku nggak bermaksud menggurui. Ya, semuanya kembali ke Mbak Al. Memang, terkadang kita membutuhkan seseorang untuk berbagi isi kotak Pandora yang terletak jauh di dalam. Tapi sebagai orang dewasa, apalagi sudah memiliki pasangan, hendaknya lebih bijak untuk menempatkan segala isi hati kita,”

Hening lagi. Suara adzan berkumandang dari Masjid yang berjarak lima puluh meter dari gedung kantor mereka.

“Dah Maghrib. Shalat yuk Mbak Al,”

Tanpa sepatah kata Alya mengikuti Wahyu, mengambil wudhu di tempat yang berbeda lalu menuju mushola. Mereka berdua shalat berjama’ah.

———-

Ding!

Tak ada yang tahu kalau kini Alya dan Wahyu sering chat via intranet messaging dari PC mereka.

|aku jd kepingin ganti aja nopeku atau ganti pin BBM-ku|

|mending buang aja hapenya, Mbak |

|yeee! Enak aja. Mahal2 dibeliin suamiku |

|Nah, tuh kan? Dibeliinnya aj sm suami, masak dipake buat yang lain? O

|Iya, makasi ya, mas yu|

|gmn kbr nya mas bagus?|

|napa mas yu? cemburu ya? hehe…kemarin malam aku bbm dia. bilang k dia, spy kita agak merenggang, mematuhi batasan2 sebatas rekan kerja aja, komunikasi hanya di jam kerja aja, atw aku akan memperlakukan dia seolah gak pernah saling kenal|

|hueeee…. muanteb tenan mbak ayu ini. saluuuuuuttt 3x. pokoke aku padamu mbak! *pingin jingkrak2*|

|iya, itu jg kan spt saran dari mas yu yg waktu kita abs shalat maghrib itu loh. Thx ya mas, aku skrng merasa mendingan. Ayo cepetan sana jingkrak2nya! hahaha|

|ya…ya…ya… tp kita ttp bgini aja di dpn mereka. Kita semua bs rentan gosip lho mbak, palagi buat mbak Al. kan kasian mbak klo dibilang dgn sebutan yg jelek2. pokoknya aku pgn liat mbak Al bahagia bersama suami n anak mbak|

|Mas Hyu, tenkyu yaah…4 everything|

Ding!

Malam semakin melarut dan pekat. Hujan tak turun malam ini. Sayang, mega belum jua bertebar bintang. Usai menemani Riyadh belajar menulis dan menggambar hingga tidurnya, Alya kembali ke kamarnya, menarik selimut di atas kasurnya yang empuk setelah ia menyetel alarm pada ponsel. Insya Allah, sepertiga malam nanti ia akan lebih membagi isi kotak pandoranya pada Yang Maha Mendengar, ingin sekujur diri sekaligus jiwa yang sudah bersimbah jelaga dosa dan khilaf ini bersimpuh di hadapan-Nya. Bertobat. Memantapkan diri kelak tentang kepada siapa yang pantas untuk ia bagi hatinya.

~end~

Ditulis oleh: Mutz

03 Desember 2012

Buku Nikahmu

Sepasang merpatiSemua yang hadir di ruangan ini terdiam membisu. Menunggu detik-detik menegangkan. Wajah lelaki itupun tampak tegang dan pucat, tetapi bukan karena sakit, melainkan karena suasana ini yang sama sekali baru seumur hidupnya dan diniatkan hanya sekali sepanjang hayatnya, Insya Allah.

“Bismillahirrahmanirrahiim….”Akhirnya pak penghulu memecah keheningan. Ritual langkah awal prosesi pernikahan dimulai. Beliau sambil menjabat erat tangan sang mempelai pria. Syukur Alhamdulillah, Fadli lancar mengucap ijab kabul, disambut riuh rendah ucapan hamdalah dan kata “sah!’ oleh seluruh keluarga dan para tamu yang hadir menyaksikan sekaligus menjadi saksi akad nikah mantan kekasihku.

Usai penyematan cincin, mempelai pria menyingkap kain kerudung yang sejak tadi menyelubungkan kepala dan wajah sang mempelai wanitanya. Mengecup mesra kening Keisha yang kini telah sah menjadi istrinya. Kemudian mereka menandatangani berkas yang disodorkan oleh pak penghulu. Keisha yang sejak tadi tertunduk khidmat, kini mulai mengangkat wajahnya, menatap satu-persatu dan menebar senyum kepada para tamu, termasuk kepadaku, special… senyum yang sangat teristimewa, karena senyumnya untukku itu terlihat aneh, entah senyum sinis, atau senyum ekspresi ‘kemenangan’, beberapa detik sebelum Fadli mengulurkan berkas-berkas dan buku nikah untuk giliran Keisha menandatangani. Setelah itu Keisha melipat dan mengelus buku tersebut, masih dengan senyum. Benda itu pasti teramat istimewa, setidaknya itulah yang ada dalam benaknya, pikirku.

Antrean tamu mengular menuju ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang tengah merayakan puncak kebahagiaan hidupnya. Selangkah demi selangkah. Tak berkesudahannya mereka berdua menebar senyum dan ekspresi bahagianya serta mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang bergantian berjabat tangan memberinya ucapan selamat. Hingga tiba giliranku mendekat kepada pasangan Fadli-Keisha.

Fadli, lelaki itu tak kukenal sebagaimana dia pun tak mengenaliku sebelumnya, hanya membalas uluran jabat tanganku seraya senyum dan berucap “terima kasih”. Pada Keisha, ia menahan, mengatup kedua bilah telapak tangannya di depan dada sehingga akupun melakukan hal senada. Kumanfaatkan momen ini untuk sekali pula seumur hidupku setelah semua kisah kita tinggalkan berlalu di belakang sang waktu. Masih di hadapannya kuberkata, “Selamat ya Keisha. Semoga bahagia selamanya. Kalau buku nikahnya perlu di-scan, kantorku terima jasa scan-an dan dokumentasi arsip.” Ucapku sambil berlalu dengan senyum jahilku menyisa dalam tatapan keheranannya.

Koplak!

By: Ahmed Jahil inspirated from Alih Media Daily Jobs
January, 22 2012