Secangkir Wedang

“Kita udah tinggal lima ratus meter lagi ke pos lima!!”

Jay mengulurkan tangan ke belakang punggungnya. Lama tersambut. Pengiring di belakangnya dengan sengal nafas menggumamkan sesuatu.

“Gue lelah, Jay,”

Jay mengabaikan keluhan teman sependakiannya. Sama seperti pendakian ke Rinjani beberapa waktu lalu.

“Ayolah! Sedikit lagi, pasti nggak akan kerasa,”

Mereka menapak dalam senyap. Sesenyap alam rindang melingkupi jalur yang mereka lalui.

Kembali Jay memecah kebekuan yang kian mendingin.

“Pake jaket gue nih…”

Rayna diam sembari memeluk erat kedua lututnya. Meski api unggun telah menyala beberapa meter di area pos. Jay bangkit gegas membuatkan minuman wedang hangat. Tiada pula gadis manis itu geming. Jay duduk di sebelahnya menyodorkan secangkir minuman hangat. Kilap-kilap kelebatan api sekilas pintas menerangi wajah Rayna. Kekhawatiran merayapi kalbu. Ada apa denganmu.

“Sakit Ray?”

Rayna menggeleng. “Aku hanya lelah,”

Jawaban Rayna masih serupa tadi. Tidak. Ini bukan Rayna. Setahun lalu mengenal Rayna adalah sosok pendaki mumpuni, tegar, hingga beberapa puncak telah bersamanya mereka kibarkan keberhasilan pencapaian.

“Kalau lo sakit. Kita turun besok. Gue siap anterin lo berobat,”

Rayna tetap menggeleng. “Kita terus naik, Jay.”

“Gue hanya ngerasa nggak nyaman kalau di antara kita meneruskan pendakian dengan keadaan seperti ini, lo terus mengeluh tapi masih ingin kita terus naik…”

“Jay! Bisa diam nggak?!” Hardikan Rayna menggelegar. Wajah kedua teman mereka menoleh. Ara pelan menghampiri. Tetapi sedikitpun dia juga tidak ingin terburu-buru mengajukan tanya, melihat mimik tidak nyaman dari kedua temannya. Jay beringsut menjauh. Ara mendekat di samping Rayna. Menepuk-nepuk pundak temannya. Membisikan tutur menghibur.

“Baiklah…istirahat dulu sob. Kalau lo capek kita bisa teruskan pendakian besok subuh,” Ara berjingkat mengambil ranselnya yang menggeletak agak jauh. Awan bergulir melarutkan kelamnya langit.

“Mungkin dia memang capek aja, Jay,” bisik Ara setelah Rayna terlelap dalam rundungan  tenda.

“Nggak biasa dia begitu, Ra. Dua kali pendakian terakhir dia selalu mengeluh lelah, capek, dan segala turunannya. Kalau dia capek kenapa masih mau ikut?”

“Gue rasa dia lagi galau, sob,” Imran ikut nimbrung. “Mungkin lagi ribut sama cowoknya?”

“Sejauh yang gue tau Dika ngijinin aja Ray mendaki,” Sanggah Ara.

“Mungkin Ray nggak mau bilang ke kita kalau diam-diam dia mengidap penyakit dalam,”

“Huss…ngawur aja lo Im!”

“Wedangnya nggak diminum tuh… buat gue aja kali ya?” Imran gegas menghampiri cangkir minuman hangat yang sedari tadi tak disentuh.

Beragam duga bagai dengingan nyamuk berkecamuk. Jay tak ingin meneruskan. Lebih memilih melelap bersama angin malam meski matanya tiada kunjung mau memejam. Berharap esok sapa hangat mentari pagi mengubah dinginnya jiwa namun kenyataannya tak seindah harap semalam.

Sebagaimana ritual setiap usai pendakian satu ketinggian gunung, berempat di penghujung pekan mereka berkumpul di Tora Café. Kedai ngopi bernuansa serba kayu di tepian deraian air terjun hulu sungai. Tiga puluh menit bergulir semenjak kedatangan mereka bertiga diwarnai jabat erat dan peluk hangat persahabatan, hingga air yang tadi memenuhi cangkir mereka tinggallah sepertiganya. Begitpun piring yang dipenuhi cemilan menyisakan remah.

Mereka saling berpandang. Dan seolah saling pula bertukar pikiran dan mereka tahu persis jawaban yang mesti mengemuka di atas meja kayu bundar. “Gue tau, gue mesti wa dia,” sahut Ara.

“Nggak Ra, biar gue aja,” Jay mengeluarkan handphone dari saku jeansnya.

“Guys, nggak usah mendingan…” Cegah Imran.

“Mungkin dia udah berganti haluan. Dunia kan luas, guys. Angin bisa meniupkan arah kapal kemana aja sekehendaknya,”

“Maksud lo apa Im? Nggak usah sok puitis gitu deh…” Sergah Ara.

“Kalian kan nggak sekantor sama Ray. Jadi cuma gue yang tau, cuma gue yang jadi saksi. Seminggu kepulangan kita dan balik ke kantor, gue liat Ray sekarang dianter-jemput Jag XE R-Sport. Entah siapa laki-laki pengemudinya, yang pasti sih bukan Dika,”

“Mungkin itu hadiah dari Dika buat Ray, terus yang bawa sopirnya,”

“Ngawur kamu Ra! Mana ada nyonya sama sopirnya cipika-cipiki mesra sebelum turun,”

Ara baru saja ingin melepas gelak. Sesaat menahan ketika melihat air muka Jay. Tangan Ara menepuk-nepuk pundak lelaki di sebelahnya. Diikuti oleh Imran.

Angin khas pegunungan masih setia menghilir. Membelai-belai manja dedaunan yang berdesak-desak menggantung pada juntai batang-batang kayu pepohonan.

Hari ini, masih serupa di setahun kemarin. Secangkir wedang hangat dengan kepulan asap tipisnya perlahan terangkat, diletakkan di atas batu datar dekat api unggun. Mata itu masih sejak tadi pula menatap secangkir minuman hangat di hadapannya setelah setengah gelas miliknya dalam genggamnya ia reguk. Kedua teman sependakiannya hanya bisa menatap iba pada pemuda berambut ikal beralis tebal yang kini hanya mematung menatap cangkir wedang masih berisi penuh di hadapannya.

Ray sudah lelah Jay, … berada dalam kabin Jag tentunya lebih nyaman ketimbang secangkir wedang.

Nova Rachma

Cerpenku-Cerpenmu

01 Mei 2017

From the Café

DSC00206
Ilustrasi dari Raihan’s Blog

Hujan sore itu mengurung langkahku dalam ruang kerja, hingga tak mungkin bagiku untuk bergegas pulang atau memilih tempat tujuan lain untuk bepergian usai jam kerja. Menyelempangkan blazer biru pekat pada sandaran jok berkulit hitam. Beranjak dari kursi mendekati dinding kaca ruang kerjaku di ketinggian gedung. Kulayangkan pandangan menembus benda bening tersebut walau pemandangan di luar masih buram akibat hujaman air hujan. Hampa. Hanya ilusi yang dapat membawaku melayang kepada sebuah kenangan.

~~~~~~~

Entah sudah berapa lama kita menghabiskan detik-detik hingga menghasilkan nilai menit dan hitungan jam untuk duduk di dalam café. Bahkan bulir-bulir orange juice yang kupesan pun sudah tak lagi bersisa dalam gelasnya. Begitu pula cangkir cokelat panas di hadapanmu tinggallah menyisakan warna kelat. Namun kita seperti orang yang paling memiliki sang waktu dan mempunyai stok bahan perbincangan yang tiada berbatas. Tak ada sesuatu yang sangat penting dalam obrolan senja kita, hanya cerita nostalgia antara dua orang teristimewa yang lama tak bersua.

“Pulang yuk! udah jam delapan,”

Kulihat dirimu bergegas dan menggumamkan sesuatu. Samar kudengar kau bertanya kapan aku akan kembali ke kotamu. Aku tak terlalu menghiraukan dan melenggang menuju ambang pintu café. Meski hujaman air di luar sana masih terus mengguyur.

“Hujan, Sean!” Dari dalam tasmu kau mengeluarkan sebuah payung lipat. Lagi-lagi aku tanpa hirau dan terus menyusur halaman café menuju jalan raya. Kau mengejar dan memayungiku, lalu merengkuh pundakku hangat. “Jangan hujan-hujanan donk! Nanti kalau sakit kamu nggak bisa pulang!” katamu menasehati.

“Hujan kan air, orang kalo mandi aja nggak terus jadi sakit kok,” kilahku bandel.

“Eh, jangan sok kuat deh! Nanti kalo kamu kenapa-napa, aku…”

“Kenapa? Huh! Sok-sok nasehatin, pantesnya kamu jadi kakakku aja deh!”

“Hmm… ga pa pa. Jadi selain kakak juga boleh!”

Aku langsung menoleh. Menatap bola matamu yang hitam kecoletan ketika itu sedikit terhalang oleh rambut ikalmu yang terbasahi tetesan air hujan. Sebagaimana percikan rasa dari tempat yang paling jauh di dalam sana selama ini terhalang oleh keadaan, dan suara percikan rasa itu pun senantiasa teredam oleh kekuatan logika kita masing-masing. “Jadi seseorang yang lebih berarti bagimu,” lanjutmu.

Aku terus berusaha mencari tatapan jenaka yang biasa terpancar dari binar bola matamu. ‘Kau pasti bercanda, kan?’ tegas hatiku meyakinkan. Namun sama sekali candaanmu tak kutemukan dalam balasan tatapan matamu terhadapku. Malam itu.

****** (sensor)

“…..ve you, Sean…” hanya itu yang terdengar dari bisikannya selebihnya aku hanya mendengar suara gemuruh hujan dan deru kendaraan bermotor di jalan raya.

Siapapun boleh mencercaku, mencaci-maki sosok ringkih dengan gerai rambut sebahu dan berwajah manis ini. Malam itu dalam pembicaraan di telepon, aku tahu niat baiknya hanya ingin memastikan malam itu aku sudah sampai di rumah tanteku dalam keadaan tiada kurang sedikitpun. Namun tekadku sepanjang perjalanan tadi sudah kian membulat. Pula tak kalah keberanian yang mampu kuhimpun untuk mengungkapkan.

“Den, sebaiknya kita nggak usah ketemuan lagi,”

“Loh, apa maksudmu Sean?”

“Kita lupakan jumpa senja tadi. Aku merasa begitu nista seolah kian mengkhianati Erin. Kita bersua hanya berdua, tanpa kehadirannya lagi,”

“Sean….” Nafasmu terdengar memburu.

“Aku ngerti betapa Erin sangat berarti buatmu. Kamu mengenalnya sebelum aku menemukan kalian. Aku juga peduli pada Erin. Aku juga merasa kehilangan dia.”

“Erin lebih memandang berarti kehadiranmu, Den. Sejak dulu kalian lebih banyak menghabiskan waktu bersama di sela-sela jam kuliah, kalian klop dalam segala hal, selera makan, film, musik, dan kalian partner debat yang hebat dalam setiap forum seminar di kampus karena sesama penggila buku pengetahuan dan informasi berita aktual. Dan kamu ingat Den dulu aku sempat menghilang dari tengah kalian selama kalian tengah berkutat menyusun skripsi dan berlomba mendapatkan nilai terbaik hanya karena aku ingin lihat sahabatku Erin bahagia. Bahagia karena memperoleh impiannya. Bahagia karena menemukan tidak sekadar sosok sahabat, partner diskusi, tetapi seseorang yang sekaligus mengerti dirinya. Karena aku tahu, kebahagiaan Erin hanya akan sementara.”

“Kamu irasional Sean. Aku dan Erin bersahabat. Sama seperti halnya denganmu. Bukankah setahun setelah kelulusan Erin juga pada akhirnya menikah dengan pria yang mencintainya. Lalu apa yang salah kalau aku mengajakmu jalan? Sekadar nongkrong menghabiskan senja seperti dulu? Bukan aku tidak ingat pada Erin. Di sela ibadah pun aku selalu menyisipkan doa untuknya agar ia tenang disana. Di lain pihak kamu tahu selama ini aku tidak pernah mempersoalkan entah kamu sedang jalan dengan siapa, sedang dekat dengan siapa. Sore ini hanya beberapa jam saja kita meluangkan waktu untuk sekadar berkisah setelah bertahun kita terpisah, kamu bilang nista?? Aku begitu peduli padamu selama ini, menyayangimu tanpa berharap balas sejak awal mengenalmu, lalu ternyata begitukah pandanganmu tentangku?”

“Bukan…bukan begitu maksudku, Den… aku… hallo… Den.. Denish….”

~~~~~~~

“Masih mau lembur, mbak?” Pertanyaan dari seorang Office Boy di belakang punggung tiba-tiba menyadarkan diriku bahwa sebenarnya pijakan kakiku kini berada di dalam ruangan lantai lima gedung kantor, bukan di pekarangan café.

“Ya. Biar nanti kuncinya saya yang kembalikan ke pos,” jawabku mantap dan membiarkan si OB pamit pulang. Kembali tatapanku menembus dinding kaca. Mencoba mencari kembali bayang-bayangmu di masa lalu untuk menghibur kepenatanku di sini.

By: Mutz
July 8, 2010 | 08:40 AM

Hujan, entah dia merinai, merintik, atau menghujam, turunnya ke permukaan bumi membasuh setiap permukaan tanpa penghalang kadang menyusupkan pula inspirasi ke dalam jiwa dan pikiran hingga tercipta karya dari apa yang dirasa. Tetapi percayalah, sederas bagaimanapun derainya janganlah lena terbawa hanyut oleh dendang kata tersirat, karena kisah ini dirangkai di musim panas.

:mrgreen:

Pemadam Hati yang Terbakar

Pemadam Hati “Aku pengen berhenti, Ren”

Sembari masih mengulum ice cream dan menahan dinginnya dalam mulut Kiren sahabatku menoleh sejenak saja. Pandangan kami masih lurus menatap tepi laut nun jauh yang seolah tak berbatas dengan apapun. Menjadi tradisi setiap Jum’at sepulang ngantor kami meluangkan sejenak senja duduk-duduk di tepi dermaga sekadar menghantar mentari sore hingga ke ufuk.

“Berhenti? Dari apa?” Kiren membersihkan kedua telapak dan pipinya dengan tissue. Ia menyodorkan sebungkusnya padaku.

“Dari dunia maya.” Jawabku. Selembar tissue kuambil.

“Untung ice cream-ku udah habis. Aku bisa tersedak gara-gara celotehmu,”

“Aku lelah Ren. Jenuh”

“Wait…wait a minute, dear sahabatku, apa sih sebenarnya yang kamu bicarakan? Tadi kukira kamu ingin berhenti dari job. Makanya aku udah siap-siap menutup telinga karena pasti bagai suara petir andai kamu ingin mengatakan itu. Secara aku kenal kamu dari dulu, ambisius.”

Aku terkekeh.

“Aku ingin berhenti dari dunia maya, karena selama ini seolah aku berprofesi sebagai pemadam kebakaran,”

Kiren mengerutkan alis.

“Setiap kali aku online entah itu di facebook, twitter, bbm, wa, path, dll, selalu ada dia, dia, dan dia yang entah itu siapapun datang menyapaku untuk kemudian membagi masalahnya padaku. Tak sekadar berbagi tidak jarang aku dimintai saran, sudut pandang, hingga solusi dengan dosis terendah sampai tertinggi.”

“Artinya mereka percaya sama kamu, Dee,”

“Idealnya seperti yang tampak di permukaan,”

“Kalau begitu kamu buka jasa curhat online aja, Dee. Mana tau bisa jadi sampingan yang menguntungkan?”

“Untungnya dimana?” Cibirku. Kiren tertawa.

“Terus, aku masih nggak ngerti yang kamu sebut tadi pemadam kebakaran?”

“Iya. Ibarat petugas pemadam kebakaran. Tiap orang pasti memiliki masalah. Pada umumnya setiap orang pula beranggapan masalahnyalah yang paling utama dari apapun dan siapapun. Masalah asmara, masalah rumah tangga, masalah uang dan banyak lagi. Aku selalu dimintai jawaban solusi atas persoalan mereka. Kadang tanpa kenal waktu. Seusainya kutunaikan segala kesediaanku memadamkan suluh masalah, mereka tinggal pergi dan berpesta pora bersama sanak, kerabat, dan orang-orang dekat di hati. Cukuplah mengimbalkan pemanis bibir dan sangka aku kan percaya pada omongan kosong. Aku tidak meminta imbalan materi dan bahkan tidak tertarik pada bayaran andaikan mereka anggap seperti itu. Tetapi aku lelah. Sedikitpun aku tidak pernah menjadi bagian manakala bunga-bunga taman hati mereka merekah, namun aku yang dipanggil dan mengapa pula biarkan hati terpanggil manakala si jago merah mencoba mengoyak ketenteraman hati mereka?”

“Hmm… artinya, mereka memperlakukanmu seperti recycle bin untuk setiap permasalahan pribadi? Tapi mereka lekas melupakanmu ketika masalahnya sudah sirna?”

“Yep. Recycle bin.”

“Tapi…bukankah setiap kita pun pasti ada aja berbagi masalah pribadi terhadap orang yang kita percaya? Kau pun mempercayai seseorang kan untuk menumpahkan uneg-uneg?”

“Aku jarang berbagi masalah Ren. Karena yang aku temukan biasanya bukan penyimak-penyimak yang rela meluangkan waktu sebagaimana aku setia meluangkan waktu untuk mereka. Jangankan aku berbagi tentang suatu masalah, bercerita tentang keluargaku pun orang-orang seperti itu tidak sedikitpun menyimak kecuali cukup dengan…..’oooohhh begitu’-nya.”

“Kamu memang Rossa ya? Tegar. Baiklah. Sekarang aku mengerti. Saranku, ambilah keputusan tepat di kala tidak sedang ada bara pula membakar perasaanmu, Dee. Masih ada aku kan Dee?”

Pancaran bola senja kian menemaramkan pijaran cahayanya. Berganti dengan lampu-lampu menara yang mulai menampakkan gagahnya menyambut cakrawala malam. Kiren dan aku beranjak meninggalkan dermaga. Kembali ke parkiran dan tenggelam di balik kemudi masing-masing.

Inspirasi Langit

“Apa yang kau lakukan saat aku berhenti sejenak dari menyapamu via bbm/sms?”

“Banyak. Beberapa pekerjaan harus kuselesaikan,”

“Aku mengirimimu bbm/sms kan di malam hari? Kau mengerjakan apa?”

“Menulis, bikin cerita-cerita pendek,”

“Manaaaa? Mauuu donk aku baca karya-karyamu?”

“Buka aja xxx.com itu tulisanku,”

“Berarti…. aku mengganggumu? Menyita waktu dan perhatianmu hanya untuk meladeni isi pesan-pesan tidak penting dariku?”

“Sama sekali nggak kok. Aku senang mengobrol denganmu. Kau selalu berbagi tentang banyak hal yang selama ini aku belum tau,”

“Kau curang!”

“Curang?”

“Ya. Selama ini selalu saja aku yang berbagi kisah. Kau nyaris tak pernah. Aku jadi suka kebablasan, bercerita tentang semua yang kualami, baik suka mapun duka, dan lupa kalau kau pun manusia biasa yang mungkin mengantongi banyak persoalan,”

” :)“

“Nah, kau selalu begitu kan? Pamer senyum dan menyembunyikan probabilitas galaumu sendiri?”

“Aku tidak galau. Suir. *ngacungin dua jari..tiga jari..empat jari* “

“Hahaha….lagi-lagi kau pintar menghibur orang. Tapi… kau jangan begitu, karena siapapun akan mengira kau adalah empty recycle bin yang selalu siap menampung setiap masalah orang. Hehe…just IMO,”

“Oww…ternyata begitu? Tak apalah, kan aku jadi banyak dapat pahalanya? Siapa tau malah nanti aku naik pangkat jadi malaikat? “

“Hmmmm…..??? Mimpiiiiii….hihihi…..”

“Coba sejenak lihat keluar kamarmu. Tengadahlah ke langit ke arah barat. Hampir setiap malam kulihat begitu. Di sana ada dua cahaya bersinar seolah tampak dekat. Meski sebenarnya keduanya berjauhan. Keduanya teramat jauh bahkan. Yang satu cahaya bersinar lebih terang. Dia tak berkerlip. Karena itu adalah planet. Tampak disebelahnya ada kerlip, cahayanya tak seterang planet tetapi konstan. Letaknya lontar teramat jauh dari jangkauan planet bahkan dari bumi. Itulah bintang. Meski keduanya benda langit yang berbeda dan berjauhan, tetapi dari pandangan kita, mereka dekat.”

“Aku mengerti sekarang 🙂 “

#cerpenagnez

Cerber: Memiliki Hati yang Kedua (II)

Memiliki Hati yang Kedua – Part II

beautiful1Alya: Untuk seseorang yang telah menggenapi hidupku dengan perhatian dan sayangnya. Betapa bersyukurnya aku menemukan dirimu. Merajut hari demi hari dengan gelegak rindu dan gelora hasrat tersurat. Menjalani tiap detik dengan penuh semangat ‘tuk menanti setiap momen perkasihan itu tiba menyapa. Andaikan aku adalah sang waktu, pasti akan segera kuputar cepat sehingga rindu itu akan segera tergenapi dengan sebuah perjumpaan selanjutnya.

Bagus: Kisahku takkan habis di malam keseribu satu. Dan bila engkau masih ragu padaku, hampirilah jendelaku. Di sana, kau bisa nikmati waktu yang berhenti mengalir. Di sana, kau bisa nikmati waktu melambat bagai bulir embun sehingga kau bisa menghitung tetes gerimis rindu yang jatuh. Sehinga kau akan tahu, sebanyak itulah ku di sini memikirkanmu. kucing-berdasi

 

 

 

 

At Fri 08:00 am |Hai.. sdg sibuk apa?| |Eh, mbak cantik. Biasa nih lg upload data-data yang selesai diconvert. knp?|

|Ga ada apa2. Cm minggu dpn jgn nyariin aku yaa|

|Loh, mbak al mw kmn?|

|Mw cuti seminggu. Merayakan honeymoon jilid kedua sm suamiku doonk! Hehe..|

|Ciyus?? Cieee selamat ya! moga sakinah 4ever. Btw, berarti mbak al mw berangkat ke KL?|

|Makasii. Ga, bukan aku yg nyusul ke sana, tp suamiku yg datang. Rencana kami mw ke bdg, sekalian liat perkembangan pembangunan rumah cinta kami di bdg yg udah hampir jd. Eh, mas yu, nanti kalo dah jadi mampir2 ya. ajak ce-mu sekalian kenalin ok? hehe..|

|ck ck ck mantaaap tenan! Iya InsyaAllah nanti ta’ mampirin. waduh… ce-ku siapa? Lah belum ada mbak’e hahaha bisa aja|

———-

 

“Kenapa sih mereka berdua tuh nggak berterus terang aja? Biar jangan membohongi publik begitu?” celetuk Nania membuka sesi rumpi di pantry sementara kesemua rekannya tengah membuka kemasan sarapan paginya masing-masing.

“Masalahnya Nan, mau berterus terang atau nggak, apa mungkin jalin cinta tanpa restu dapat bersatu? Suami mana yang akan merestui hubungan perkasihan istrinya dengan pria lain. Dan aku yakin di pihak keluarganya Bagus juga pasti hal itu tidak akan pernah terjadi!” Jawab Luna.

“Terus kira-kira Mbak Alya kemana ya selama cuti?” Sita, si sekretaris menyela.

“Alya cuti untuk honeymoon sama suaminya ke Bandung,” Tiba-tiba Wahyu tergugah angkat bicara.

“Jadi dia bilang begitu? Yakin lo?” Sita tertawa meledek.

“Memangnya ada apa Mbak Sita?”

“Dear all, aku punya info maha penting. Dan ini sifatnya top secret ya. Bagus juga di kantor Cepu mengambil cuti selama seminggu. Waktunya bertepatan dengan jadwal cutinya Mbak Alya terhitung mulai Senin kemarin,”

“So what gitu loh? Bisa aja kebetulan bareng?” Timpal Reno.

“Sebentar, Ren. Aku kan belum selesai menginformasikan info maha pentingnya. Tadi pagi…” Sita berhenti sejenak. Menarik nafas dalam. Gayanya sudah seperti seorang pimpinan hendak mengambil kebijakan luar biasa. Membuat semua mata memandang geram padanya.

“Hey! Ta, ngomong tuh yang seratus persen donk!” Protes Luna.

“Begini…. Kalian tau kan Mas Hutomo?” Suara Sita merendah dan nyaris berbisik. “Ya setidaknya dari fb-nya Mbak Alya mungkin ada yang pernah tau. Tadi pagi Mas Hutomo datang ke kantor, ke ruanganku. Jauh-jauh dari Kuala Lumpur hingga tiba di sini dia semula berniat memberikan surprise buat istrinya. Sumpah! Awalnya aku sendiri dibuat kelabakan ingin memberikan jawaban kemana Mbak Alya. Aku terpaksa berbohong bilang kalau Mbak Alya sedang dinas sebagai utusan dari kantor ke Surabaya. Kalau aku bilang Mbak Alya sedang cuti, up’s! Terlebih lagi sebelumnya dia beralasan untuk honeymoon sama suaminya kenapa justru Mas Hutomo datang kesini Selasa ini? Kemana Mbak Al? Setidaknya dia udah cabut dari sejak Sabtu pagi kan?”

Semua terserempak membisu. Dingin dirasa menerpa tengkuk.

“Terus kemana Mbak Alya?” Luna membentangkan layar ponsel BB-nya. Serentak tanpa komando dilakukan pula oleh Sita, Nania, dan Irin. ‘Kebahagiaan mumpuni adalah menyoal rasa dan hasrat yang tidak dapat diungkapkan sebatas lewat lirik dan larik. Adalah tentang prestise yang bisa kau gapai ketika seseorang dengan penuh kasih dan tulus mengapresiasi apa adanya dirimu. Bahagiaku bersamamu.’ Senin jam 20:25 nih,” Semua kini saling berpandangan. Wahyu geleng-geleng kepala. Matanya memejam. Gegas dirinya bangkit meninggalkan pantry.

“Mas Wahyu mau kemana?”

“Perutku ngedadak mual, Lun!”

———-

Semilir angin pantai senja menerpa. Posisi tubuh berisi bertelanjang dada menjadi penyangganya.

“Tak ada sunset indah di sini, tapi kukira aku merasakan kenyamanan yang berbeda dibanding di Kuta atau Sanur,”

“Yakin begitu, sayang?” Tangan kekarnya sebilah menyangga di atas pasir. Badan kokoh dan berbidang tak berhelai kain itu dibiarkan menjadi sandaran bagi pemilik punggung didepannya, melunglai manja padanya sembari si pemilik jari lentik memulaskan polesan-polesan pada kanvas terbentang.

“Apa kau tak merasakannya? Ketenangan dan kehangatan. Di sini jauh dari keramaian, Bli. Sedari tadi selain menikmati pemandangan sunset aku menikmati pula alunan musik slow motion,” Tentunya alunan musik yang dimaksud Alya berasal dari Holliday Inn di balik punggung mereka.

“Ya. Segara memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi pemilik jiwa seni yang terpendam,” gurau Bagus.

“Besok aku ingin mengajakmu ke Batik Galuh sekaligus ke Desa Celuk di sana juga terdapat kerajinan emas dan perak. Hari ketiga, kita ke Kintamani ya, sayang. Ada pemandangan perbukitan dengan udara segarnya,”

“Apapun itu. All with you, honey,”

———-

Seminggu kemudian…. Setiap kali melewati cubicle Wahyu, haduh! Apalagi yang terjadi ini? Setelah semua mata kini benar-benar syarat dengan tatapan sinis dan sangat menyayat hati. Wahyu tak lagi terlihat sarapan di pantry dan shalat pun entah di mana. Sapaannya via message pun seringnya tak berbalas, bahkan seringnya malah dinonaktifkan. Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan maafkan diri ini…. Wahyu menyandangkan ransel di pundaknya. Waktu sudah menunjuk pukul lima. Alya pun baru saja menuntaskan tugas tambahan hari ini. Tanpa disengaja berdua mereka menuruni anak tangga gedung menuju parkiran kendaraan. Wahyu menyimak alur kisah tertutur penuh gugah gelora. Dalam pandangannya layaknya seorang ABG sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Jadi, rumah cinta Mbak Al sudah hampir utuh donk ya? Kapan pastinya Mbak Al berhijrah ke sana?”

“Alhamdulillah Mas Yu, semua itu karena cinta suamiku, tentunya. Insya Allah setelah lebaran. Do’akan kami ya?”

“Tentu,” Jawab Wahyu datar dengan mata menanar. Pedih terlintas mendadak dalam benak. Tak ada daya lagi dirasa untuk berkata. Hanya doa dalam batin yang masih mampu melantun… “Ya Rabb, tunjukkan bila aku yang salah. Berikan padaku petunjuk-Mu agar kumampu melihat kebenaran yang nyata, agar aku mampu meyakini salah satunya dan menghindarkan diri dari dusta dan ghibah.”

Diam.

“Jadi, cuti seminggu ber-honeymoon dengan suami yang mana?” Alya terperangah oleh pertanyaan Wahyu. Ia menoleh cepat. Didapatinya mata elang lelaki di sebelahnya begitu dingin menatapnya. Kuduk Alya merinding. Sosok yang tengah menjejeri langkahnya tiba-tiba terasa sangat asing kini.

“Apa maksud pertanyaan Mas Yu? Ya dengan suamiku lah!” Tukas Alya mulai gusar.

“Ya… tentu saja. Seandainya seperti yang pernah Mbak Al ceritakan pasti Mas Hutomo nggak bakalan nyasar jauh-jauh dari negeri Jiran sampai menyusul ke sini.” Rentetan ucapan Wahyu membekukan langkah Alya beberapa detik. Deg! Benarkah yang kudengar? Jadi itukah penyebabnya sudah dua minggu Mas Hutomo tak menelponnya setiap pagi, siang, petang, dan malam sebagaimana biasa?

“Aku nggak sampai sejauh itu dengan Bagus!”

“Oh, jadi memang benar, dengan Bagus?” Wahyu geleng-geleng kepala. Suaranya nyaris mendesis.

“Kami melakukannya tidak sampai melibatkan perasaan terdalam masing-masing,”

“Dan aku bukan saksi atas apapun yang Mbak Al lakukan!”

Alya tak melanjutkan perdebatan sengit ini. Ia bergedik menghampiri kendaraan setianya yang terparkir di dalam basement. Melajukannya segera. Tanpa pamit. Usiamu terpaut tiga tahun lebih dewasa, Mas. Namun kuyakin dirimu masih mentah soal pernak-pernik rumah tangga. Kau belum paham. Mungkin juga seperti Mas Hutomo, kurang peka terhadap impian, keinginan, harapan sang istri, yang bukan hanya melulu pelengkap hidup bagi sang suami. Ingin didengar, ingin disimak, ingin diperhatikan, ingin merasa dibutuhkan, dan terjitunya ingin diapresiasi terhadap hal sekecil apapun yang ia ciptakan dan persembahkan untuk sang suami. Karenanya, salahkah bila aku menemukan pohon rindang untuk bersandar yang sanggup menjadi peneduh bagi jiwa kerontang nan gersang?

———-

Pagi ini sesuatu lebih menyentak perasaan. BBM, SMS, intranet messenger tak satupun berbalas. Bagaimana kabar Bagus hari ini? Apa gerangan dengannya? Mengapa ketika pada akhirnya telepon Alya hanya direspon dengan jawaban-jawaban sepatah-dua patah kata belaka: “Ya / tidak” ; “Baik” ; “Hmm…” ; “Begitu” Dan, haruskah ia merasa senang atau sedih ketika menerima kabar Bagus akan singgah kemari minggu depan? Siapapun boleh menuduh Alya dan Bagus tengah melakoni sandiwara. Bagus tiba kembali di kantor induk. Jumpa mereka kini terpasung kebisuan. Ada jarak direntang. Ada lisan tertahan. Ada tatap saling berhindar untuk beradu.

“Aku hanya singgah dua pekan saja di sini. Itupun untuk mentraining PE junior yang akan melengkapi tenaga engineer di sini,“ Demikian kelu suara itu terdengar. Lelaki tinggi gagah berkulit agak kecokelatan yang begitu ia rindukan itu mengenakan kemeja biru langit bermotif garis abstrak dan jeans biru pekat. Alya pastinya ingat betul itu kado ultah darinya bulan Januari lalu. Bagus terus bicara. Punggungnya bahkan belum lagi berbalik arah. Matanya fokus membaca satu-persatu judul-judul buku di rak di ruang meeting. Alya duduk di salah satu kursi. Usai rapat dengan pimpinan sejam lalu. Mereka berdua sengaja meninggalkan diri usai rapat tadi.

“Oh ya, sekaligus aku minta kesediaanmu untuk membimbingnya juga.”

“Jadi begini caramu mengakhiri?” Tanya Alya lirih.

“Mengakhiri apa?” Kini Bagus membalikkan badan. Mimiknya tak terlihat terlalu berekspresi. Datar.

“Apa maksudmu dengan ini semua? BBM, SMS, IP message, bahkan telponku tak kau jawab. Ada apa denganmu Bli? Caramu tak pernah seperti ini?”

“Apapun yang berkaitan dengan pekerjaan, kau masih bisa menanyakan padaku selagi aku masih di sini. Aku pun mulai hari ini akan mengajar Gilang, si anak baru,” Tolong jangan dekat atau datang kepadaku lagi. Berhentilah pula menghubungiku, karena aku sendiri akan semakin tersiksa, kekasihku. Bagus membatin. Detik ini pula tak kuasa lagi menahan butiran bening yang berdesakan ingin meluruh dari balik kelopak mata. Namun sekuat tenaga pula Alya menahannya. Perlahan tanpa permisi ia mendahului meninggalkan Bagus menyendiri di ruang rapat. Menjalani hari-hari berikutnya yang sangat menyayat batin. Alya dan Bagus benar-benar memainkan peran mereka. Sempurna!

Dan dunia serasa berakhir seketika ketika Alya menemukan ini di email-nya setelah Bagus meninggalkan kantor induk: Kepada dirimu, belahan jiwa dan kekasih sejati Sebagaimana dulu pernah kau ungkapkan, nikmati kebahagiaan ini, belum tentu tahun depan akan merasakan hal yang sama. Kuingat betul kata-kata itu. Hingga akhirnya hari ini aku telah mengambil keputusan. Sebuah keputusan gila. Kau pun pasti berpikir aku sudah gila. Kau tidak salah, kekasihku. Hingga detik ini, aku masih berpikir, benarkah yang kulakukan ini? Tepatkah ini? Dan apakah yang akan terjadi setelah ini?

Kekasihku, Pernah kita genggam dunia berdua. Pernah kita miliki sesuatu yang lebih kuat dari cinta, sesuatu yang lebih hangat daripada asmara. Dan betapa beruntungnya aku karena waktu dan takdir mempersuakan kita. Merasakah hangatnya perhatianmu, memeluk manjamu, mendengar teduhnya ucapan bijakmu, dan tawamu yang melipur setiap kali jiwa ini sepi. Belahan jiwaku tersayang, Hari-hari itu mungkin tidak akan pernah datang lagi. Mungkin aku akan meratapi keputusanku ini. Tetapi kuyakin itu sangat-sangat jauh ketimbang sesalku telah membuatmu melukai dan mengkhianati pendamping hayatmu, merobek janji sakral kalian berdua. Bahagiamulah inginku. Meski aku…. harus mundur dari hidupmu.

Mengundurkan diri dari institusi yang telah mempertemukan sekaligus menautkan hati kita. Tolong jangan tanyakan kemana ku kan pergi, kerena aku sendiri belum memiliki jawabnya. Mungkin aku akan mencari nafkah di tempat lain. Atau mungkin aku akan mencoba peluang wirausaha. Do’akan langkahku yaa. Terima kasih, telah memberiku sepetak ruang di relung hatimu. Kini harus kulepas tanganmu dari genggamanku Belahan jiwamu yang sudah saatnya kau lupakan,

Bagus Oka Bramantyo

———-

Enam bulan terlewati di tahun 2013. Ramadhan menyapa. Kupasrahkan semua pada Yang Kuasa dengan penuh rasa sesak dan sesal di dada dan derai air mata yang tiada lagi berguna. Bagus pergi. Wahyu geming. Mas Hutomo memilih kian merentang waktu, jarak dan komunikasi setelah mengetahui apa yang terjadi. Hatinya hancur meluluh lantah. Rumah cinta di bandung batal kami huni sebelum separuh hati yang tersakiti terobati. Terkadang masih kumenyambangi Corner Café di senja di tengah desing asing lalu lalang kendaraan bermotor. Berharap seminimalnya kutemukan bayangmu di sana, Bli. Menemuiku dalam jumpa rindu. Tapi kutemui hanya hampa dalam kalbu.

———-

Suara itu… rindu kudengar. Suara yang selalu mengingatkan. Kini kembali menyapa usai kumandang adzan Ashar. Masih seperti dulu.

 

~Tamat~ Identified by: cerpenagnez

Tiga Rahasia (Cerpen)

Anton Chekhov

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah telanjur disematkan, mungkin akan berbalik.

Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.
Seorang perempuan berkaus hitam memoles ulang concealer untuk menyamarkan kantong matanya. Lalu, dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.

Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.
Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibu kota.
***
“Apa kau masih sering ke kelab malam?” si rambut ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.
“Sudah lama berhenti,” si kaus hitam menjawab cepat tanpa ragu.
“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu sering mabuk dan pulang pagi.”

Si kaus hitam tersenyum, lalu memalingkan wajah ke perempuan yang mengenakan rok merah. “Eh, Bu Dokter Cantik, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”
Si rok merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”
Si rambut ikal bersuara dengan serius, “Wah… wah… kalian berdua sama sibuknya, dong, sekarang. Aku rasa, kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”

“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi, kenapa mesti ngotot?”
“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Ha…ha…ha…,” kali ini giliran si rambut ikal yang tertawa lepas.

“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain,” si kaus hitam mengarahkan perhatian ke si rambut ikal.
“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”

Jawaban si rambut ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “Wow…!”
Si kaus hitam terdengar merajuk, “Kenapa baru cerita, sih?”

“Aku tiap hari berkicau di Twitter-ku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa, sih, tidak aktif di media sosial?”

“Tak ada waktu,” jawab si rok merah cepat.
Si kaus hitam menyambung, “Anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”
Lalu, si rambut ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritas ibu kota. Biarpun mereka  hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.

“Mungkin kapan-kapan, hari Sabtu atau Minggu siang, setelah siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan kepada teman-teman baruku.”
Si rok merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua dengan suami.”
Si kaus hitam tak mau kalah, “Akhir pekan, ya, acara keluarga, dong.”
Si rambut ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”

Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu, saat mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.
“Kau ingat tidak, anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, ‘kan? Apa kalian dulu satu kampus?”

Si rok merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip. Kampus kami juga beda, kok.”

“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”
“Aku  kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, ‘kan?” si rok merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.
“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”

“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau nggak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, ‘kan?”
“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”
“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”
Si kaus hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”

“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”
Si rambut ikal menjawab dengan percaya diri, “Itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”
“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”
“Berlibur tidak mesti ke luar rumah, ‘kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Tiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”
Si kaus hitam memandang temannya dengan kagum.
“Benar-benar supermom,” katanya.

Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi, suara mereka masih terdengar penuh semangat.
Beberapa kali si rambut  ikal tampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Si rok merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”

Si rambut ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”
Si kaus hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya, penuh semangat.
Si rok merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit. Kedua temannya tampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”

Si kaus hitam menggodanya, “Kau yakin tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”
“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila kepadanya.”
Si rok merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”
Sekali waktu tampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang tampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.

“Tidak mungkin itu anaknya,” si kaus hitam berbicara dengan suara rendah.
“Mungkin keponakannya,” kata si rok merah, mengedipkan matanya.
Si rambut ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”

Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.
Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah ke luar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.

***
Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah mengempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi:  “Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi, kenapa mesti ngotot?”

Profesinya sebagai dokter sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.
Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.

Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.
Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Air matanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”
***

Arumi menghela napas panjang. Tidak sekali, tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.
Memiliki 3 anak, berada di puncak karier sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan, sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibu kota, namanya mulai dilirik.
Tapi, siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat, tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut, segala puji yang sudah telanjur disematkan untuknya, mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada sang ibu dan beberapa pengasuh anak.

Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu yang gencar diembuskannya melalui media sosial ini. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja-puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah.
***
Rinjani menutup mata sambil menenggak tegukan terakhir dalam botol alkohol di genggamannya. Tinggal ia sendiri yang duduk di bar. Rinjani memang pernah berhasil menjauhi botol-botol alkohol yang membius itu. Tapi, itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarier, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali mabuk-mabukan.
Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal, hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.
Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah ia mencoba untuk menjadi penulis lepas. Sekadar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarier di bidang jurnalistik. Tapi, hasilnya sering kali hanya bercangkir-cangkir ampas kopi, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.

Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.

Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, ia didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.
***
Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibu kota, larut dalam keterpurukan masing-masing.  Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasia masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak dihadapan mata.

***
Jihan Davincka

Fiksi Femina

Sampai Nanti

one of my favorite story 🙂

Airport

Siapa yang tahu nasib seseorang, juga nasib pasangan. Tidak seorang pun yang tahu menurutku. Tidak juga kau, dan kita, Kekasihku. Meski sampai saat ini dan nanti, aku berkeinginan kaulah milikku seorang. Tapi ketika jarak mulai membentang, dan pertemuan ragawi mulai jarang, sementara nasib terus saja mempunyai rencananya sendiri – yang sering kali berpunggungan dengan keinginan dan asa kita berdua – apa yang mampu kita lakukan, Sayang. Atas alasan itulah, aku mengikhlaskanmu terbang ke negeri orang, untuk kemudian membiarkan nasib melakukan perannya, tanpa kau perlu risau, dan aku was-was tentang segala hal yang bakal terjadi di antara kita berdua.

Toh, tidak akan ada yang pernah bisa menghadang datangnya kuasa Tuhan, Sayang. Tidak juga besarnya rasa sayangku, dan rasa sayangmu kepadaku. Karena kau pasti juga sangat tahu, yang terbaik buat kita, belum tentu terbaik buat nasib. Demikian sebaliknya, yang buruk buat kita, belum tentu buruk buat nasib.

“Iya, aku tahu. Yang menjadi pemenang pasti nasib. Kau selalu mengulang-ulang itu,” katamu lirih di telingaku, ketika kita berdua rebahan, setelah hampir setengah hari berbenah membereskan barang untuk keperluan hidupmu di negeri rantau.

Tapi, kau melanjutkan kepadaku, “Mengapa harus gentar menanggungkan kesendirian dan keterpisahan ragawi ketika kita masing-masing yakin diciptakan untuk saling mendampingi.”

“Apa pun bayarannya,” balasku.

“Ya, apa pun bayarannya,” jawabmu tangkas.

Bahkan kesepian akan kau lipat, juga kehampaan yang tak terperikan karena terpisah dari orang yang paling disayang?

Memang, meski terdengar naïf, tapi apa yang dikatakan kekasihku tentang rasa sayangnya kepadaku, bukanlah ikhwal yang kacangan. Dari dulu, semenjak berkenalan di bangku semester pertama di tempat kuliah kami, dia selalu mempunyai kecenderungan bersungguh-sungguh atas apa yang diyakini dan dikerjakan. Termasuk ketika kali pertama, dulu, kami saling meyakini jika masing-masing cinta kami akan saling bertaut, untuk kemudian saling mengisi, mewarnai, dan memaknai. Bahkan ketika kedewasaan kami sama-sama mengembang dan berkembang, kau makin yakin kita makin tak terpisahkan.

Saking yakinnya dirimu atas kebersamaan dan kelanggengan hubungan kita, bahkan pada momen ketika kita masih merebahkan kepenatan, kau berujar, “Kau akan menjadi ayah yang baik, dan kuat buat istrimu. Aku yakin itu. Dan aku berjanji akan menjadi ibu yang memayungi anak-anak kita. Bukankah dari dulu kau selalu berjanji agar aku meyakinimu, bahwa kau akan menjadi satu-satunya ayah dari anak-anakku. Anak-anak kita,” katanya mengingatkan kepadaku.

Aku membisu. Berbicara tak, bergerak pun tidak. Hanya angin dari jendela kamarmu yang membawa kelu.

“Mengapa kau hanya diam?” tanyamu.

“Aku tidak terlatih menjalin kasih dalam rentang ruang dan waktu yang berbeda,” kataku. “Aku, sebagaimana kamu, juga tidak mempunyai pengalaman itu. Kita mempunyai pengalaman yang sama.”

“Jadi, apa yang kau takutkan,” katanya dengan nada yang sangat cepat kepadaku.

“Aku mencoba berpikir realistis,” kataku.

“Kau ingin menyudahi hubungan yang luar biasa ini, hanya gara-gara kita dipisahkan ruang dan waktu? Dan kau pikir itu adalah jalan yang paling realistis untuk mengakhiri hubungan kita? Jangan kau mementahkan apa yang kau yakini sendiri atas semua yang pernah kau katakan kepadaku selama ini, Sayang,” katanya.

Aku diam saja.

“Mengapa kau diam,” katanya seperti mengejar jawaban padaku. “Atau jangan-jangan…” katanya melanjutkan.

Ah, tidak seperti yang kau pikirkan, Kekasihku. Aku, sebagaimana kau ketahui selama ini, hanya menginginkan kebaikan dan kebahagiaan. Hanya untukmu seorang. Maksudku, jika tanpa diriku kau di sana nanti menjumpai kebahagiaan dan ketenangan, dengan siapapun yang kau anggap paling bisa melindungimu, aku akan turut berbahagia di sini. Daripada bersetia, tapi saling menanggungkan kelaraan.

Seketika, dalam hitungan detik, kekasihku bangun dari rebahnya, berdiri, dan mengarahkan pandang tajam matanya ke arahku yang masih rebahan.

“Kau pikir aku adalah perempuan murahan, yang dengan gampang menukar kerinduan dengan kehadiran seseorang di luar kekasih sejatinya?”

“Aku tidak mengatakan itu,” kataku.

“Tapi, arah pembicaraanmu kesana, Sayangku,” katanya lagi.

“Tapi dua tahun, dan kalau itu berjalan lebih lama, dalam artian dua tahun lebih, itu bukan waktu yang sebentar.”

“Kau meragukan kekasihmu ini tidak mampu menjaga perasaan cintanya, sehingga memutuskan berpisah dengan pujaan hatinya hanya dalam waktu dua tahun lebih?”

“Aku tidak mengatakan itu, aku hanya mencoba berbicara realistis.”

“Justru kau yang tidak realistis, Sayangku.”

“Sangat menjadi tidak realistis di sini, atau di sana nanti, kalau masing-masing di antara kita ternyata saling menyiksa diri, tapi pada saat bersamaan ada seseorang yang membuat kita menjadi lebih hidup,” kataku.

“Aku hanya hidup untukmu. Aku yakini itu. Aku harap kau juga berpikiran serupa denganku,” katanya.

Aku segera terbangun, berdiri, dan menyongsong matanya, sehingga berada tepat di depan mataku.

“Aku mulai mencemaskan keterpisahan kita, atas semua pikiranmu yang baru saja kau sampaikan padaku, Sayang,”

“Aku tidak tahu Sayangku. Aku tidak pernah berpikir akan berpisah denganmu dalam waktu yang tidak sebentar ini. Meski aku bisa menyusulmu terbang ke sana, dan turut menjadi bagian dari saksi perjalanan hidupmu merampungkan studi S-2-mu. Mungkin aku hanya merasa cemas saja.”

Seketika dia merangkulku. Inilah saat yang aku takutkan dari sebuah perpisahan, kerinduan yang tak terbantahkan. Bahkan sebelum berpisah sekalipun, aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana bila berpisah sungguhan besok?

Tiba-tiba bayangan bandara menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, karena aku sangat tahu sekali di tempat seperti bandaralah, seseorang akan melepas seseorang yang sangat dicintainya, dan menyambut kedatangan orang-orang yang sangat istimewa.

Di bandara, biasanya air mata dan tawa hanya berjarak setipis benang. Dan aku meragukan diriku sendiri mampu menanggungkan perasaan kecamuk itu, kala menyaksikanmu melangkah pergi menyongsong masa depan, dengan cara meninggalkanku. Aku hanya ingin realistis. Kau cantik dan menyenangkan. Tidak sebagaimana banyak perempuan cantik lainnya, yang biasanya pintar tapi sangat tidak menyenangkan.

Hal itulah yang membuat kemungkinan laki-laki mudah jatuh hati padamu, menjadi sangat terbuka sekali. Atas alasan itulah, aku menantang diriku sendiri, untuk membiarkan nasib mengambil perannya atas hubungan kita berdua, tanpa harus menggaungkan janji apalagi sumpah rombengan. Karena aku mencintaimu, maka sebagaimana banyak dikatakan para pujangga, aku akan membiarkanmu bebas pergi kemana pun nasib membawa: Set you free.

Tapi, ketika hal itu kutawarkan kepadamu, malah kemurkaan yang aku dapatkan. Lalu apakah aku harus belajar memahami kata kesetiaan, yang cenderung lebih mudah dikatakan tapi sangat sulit diejawantahkan itu? Meski kau juga sangat tahu, betapapun besarnya cintaku padamu, demikian sebaliknya, tidak ada yang tahu tentang masa depan.

Setelah sekian lama kau peluk diriku, pelan di telingaku kau bisikkan, “Aku masih makmum sama kamu, Sayang.” Aku sangat tahu arti kata itu. Maka pelan-pelan kami akan membasuh muka dan hati untuk berwudhu. Seperti biasa, kami masih belajar untuk mendalami peran kami masing-masing. Aku belajar menjadi imam, dan dia menjadi makmum. Meski dalam banyak perkara kehidupan lainnya, terkadang dia malah menjadi imam buatku.

Pada momen belajar menjadi imam dan belajar menjadi makmum ini, biasanya akan meredakan semua perseteruan yang terjadi di antara kita. Tapi aku merasa, pada perakara menjelang keterpisahan ini, sepertinya hal itu tetap tidak akan menjadi sesuatu yang mudah juga.

Ah, apa pun itu, di bandara, pada hari yang sangat menentukan itu, aku belajar melepaskannya. Pergi. Demikian juga dengan dirinya, juga harus belajar memaknai arti perpisahan. Dan yang pasti, sebagaimana perempuan kebanyakan, dia akan lebih dari mampu menanggungkan kesendirian. Sampai nanti, Sayang.

By: Mario Ginanjar

“Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan”

25 Cerpen Kahitna | Hal 27-32

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Juli 2011

Sumber ilustrasi dari sini

Cerber: Memiliki Hati yang Kedua (I)

2 hearts by mutz

Hujan masih merintik di balik kaca. Sisi dalamnya sampai mengembun dihembus udara oleh mesin pendingin dari dalam mobil. Alya masih menyandarkan sekujur tubuh lelahnya pada jok kursi. Enggan rasa untuk bergegas bangkit, malah ia menggeliat manja. Sebuah kecupan hangat kemudian mendarat di keningnya.

“Selamat pagi, sayang! Met beraktivitas ya!”

“Kau akan berangkat jam berapa, Bli?”

“Ya seperti biasalah. Jam tujuh kita kan sudah di kantor?”

“Maksudku, jam berapa kau akan berangkat ke Cepu?” Sengaja Alya melempar pertanyaan dengan cara sedikit jahil. Bagus memiringkan badannya. Tangan kekarnya mengelus mesra pipi Alya.

“Nanti malam, dik. Naik Sembrani setengah sembilan. Kenapa? Aku masih di sini, kau sudah merindukanku?” Bagus balas menggoda. Alya menggeliat lagi.

“Gendong…” rengeknya kian manja pada kekasih hatinya itu. Bagus tersenyum. Gegas ia keluar dari mobil dan membukakan pintu bagian sebelahnya. Namun sembari tertawa kecil ternyata Alya langsung melompat turun.

“Makasii… udah, ga usah. Khawatir nanti ada yang lihat,”

“Baiklah. Aku akan setia menunggu akan hari itu,”

“Hari itu apa?”

“Sudahlah. Ini pukul empat tiga puluh. Masuk sana! Cepat mandi. Sampai nanti di kantor ya,”

“Kau mau aku bawakan sarapan?”

“Tentu! Apapun yang kau masak aku selalu suka!” Bagus tersenyum lagi sambil bergegas masuk ke dalam cabin mobilnya lalu melajukannya kencang.

Sudah dalam hitungan tahunan Alya dan Bagus bekerja bersama dalam satu lingkup jasa pengelolaan data migas. Bagus, Petroleum Engineer di usia kepala tiga rupa-rupanya telah menyematkan panah asmara dari belahan jiwa terdalamnya tepat pada relung ruang hati Alya, si Operator Analis Data IT. Adegan drama bertema cinta lokasi bersemi beralur lugu dalam keseharian. Hal yang tentunya tak ayal mengundang gossip di kantor. Tak heran jika Luna dkk kini merangkapkan pekerjaan rutin mereka selain sebagai operator sekaligus sebagai tim investigasi yang giat berburu info ter-update ‘ada-apa’-nya antara Alya dan Bagus, biar terlihat macam tayangan gossip selebriti yang marak di televisi.

“Apa salahnya? Aku hanya membalas kebaikannya. Dia sudah banyak membimbing aku selama aku bekerja di sini,” Kilah Alya suatu hari ketika Luna ‘keukeuh’ ingin mengkonfirmasi kejelasan hubungan dua insan yang terlibat skandal jalin cinta tanpa restu tersebut.

“Udah deh, Mbak Al. Kita semua maklum kok. Cinta bisa bisa bersemi di mana saja bagai rumput liar di musim penghujan. Yaa… itung-itung sekadar hiburan selagi jauh dari suami. Asal patuhi rambu-rambu lalu lintasnya ajaaa…”

“Lun, kamu ngomong apa yo..? Aku sama Mas Bagus berteman baik. Sama seperti juga halnya dia bersikap baik pada kalian semua,”

“Iyaa siih Mbak, cuma…. beda kan baiknya Mas Bagus sama kita dengan baiknya Mas Bagus sama Mbak Alya, istimewaaa…!” Timpal Reno.

“Setelah kita berhasil mengupas tuntas apa aja yang selama ini tersurat dalam BB Mbak Al, kali ini….”

“Emang isi BB nya pa’aan aja?”

“Aaah elo sih Ren, makanya lo pake BB juga donk! Hahaha… ya itulah… kata-kata mesra dari statusnya Mbak Al. Begini nih: Bagian tersulit dalam hidupku bukanlah kenyataan yang tidak memungkinkan menyatukan cinta kita dalam ikatan, melainkan momen mengantarmu untuk berpisah”

“Itu kan kata-kata buat suamiku. Maklumlah pasangan LDR,” bantah Alya.

“Oow ya? Terus kalau begitu yang ini apa donk?” Luna memutar kursi berodanya dan menayangkan sebuah gambar berformat jpeg di PC-nya. Sontak semua berkerumun di depan PC Luna.

“Hah? Gila! Serius tuh?!” Reno melotot. Nania, Risti, Yoda, dan Wahyu semua mengangakan mulut memandang sebuah foto terpampang di PC Luna. Seorang lelaki sedang berpangkuan dengan seorang wanita, dalam temaram cahaya, berlatar belakang kursi dan meja balok-balok kayu dan bambu. Helai-helai daun dan ranting tanaman tampak sedikit menghalangi pengambilan gambar obyek dari kamera digital.

“Ehmm… waktu aku ambil foto ini, lokasinya ada di sebuah coffee shop. Lebih tepatnya di Corner Coffee Shop. Tapi pliss yaa kalian jangan langsung men-judge, bisa jadi foto ini cuma …cuma lho yaa… cuma mirip Mbak Alya dan Mas Bagus,”

Semula Alya cuek dan lebih memilih menikmati alunan musik dari mp3 player-nya melalui headset, namun mau tak mau terpancing umpan Luna. Ia pun beranjak dan bergerak mendekati meja Luna. Sama seperti lainnya, Alya terperangah.

Apa??? Nggak Mungkin!!!

Bagaimana Luna bisa tahu kalau ia dan Bagus sering meluangkan waktu di Corner Coffee Shop sepulang jam kerja?

Reno dan kawan-kawan kini terdiam. Menunggu respon apakah yang sekiranya bakal terpantulkan dari Alya. Geming, Alya kembali ke kursinya, melanjutkan pekerjaan. Bisik-bisik terasa makin berisik di telinganya kini. Tak kuasa menahan luapan emosi, Alya meninggalkan ruangan. Semua saling bertatap bingung.

“Lun, lu kok bisa dapet tuh foto? Emang beneran ya? ck…ck..ck sumpeh mana sangka gw sama kelakuan Alya begitu? Secara dia kan selama ini mendapat gelar istri sholeha,”

“Heh! Mbak Rin, istri sholeha dari Hongkong? Udah basi kali gelar itu buat dia. Nih buktinya… fakta cyiin…faktaaa berbicara! Siapa dulu donk paparazzi-nya tim Rempong Investigasi?”

“Hah! Masak sih begitu?” Bagus masih berdiri menyandar pada bilah tiang. Ia sedikit membungkukkan badan untuk mendengar suara Alya. Desing dan gemuruh di Stasiun Kereta Api Kejaksan malam itu membuat samar suara orang terdengar.

“Sayang, kenapa tadi pagi kamu nggak bilang ke aku? Haduuh! Kenapa juga seharian ini aku terlalu sibuk mengurusi analisa data perawatan sumur sampai aku tak sempat menyambangi ruangan kalian seharian ini?”

“Nggak tau lah Bli. Sepertinya semakin hari jadi semakin ramai aja. Entahlah, mungkin suatu hari nanti juga aku akan resign. Aku dah nggak kerasan dengan suasana nggak enak seperti itu,”

Bagus tak bersuara. Ia hanya menarik pelan kepala Alya yang hanya setinggi bidang dadanya, merengkuhkan kedalam hangatnya.

———-

Usai membasuh muka di wastafel toilet pria, Wahyu bergegas menuruni anak tangga menuju lantai dasar menikung di koridor dan turun ke kantin. Begitu ia tiba di ambang pintu Wahyu berpapasan dengan Alya. Dia baru saja menuntaskan aktivitas makan siang di kantin. Wahyu hendak menyapanya dengan seulas senyum ke arah Alya,

“Eh, Mbak Alya….” Wahyu mencoba senyum. Namun sosok wanita muda, bermimik serius sekali di dekatnya ini nyaris tanpa ekspresi.

Hmmff garing! Alya memang balas menatap Wahyu tapi tak membalas senyumnya. Tatapan Wahyu membeku. Sosok di hadapannya ini memang benar. Benar-benar tanpa ekspresi! Padahal ada yang ingin sekali ia sampaikan pada sosok ringkih berbalut jilbab itu. Seorang wanita yang dalam pandangannya seajuh ini selalu tekun dengan tugas-tugas kesehariannya. Hampir tak pernah terdengar suara, apalagi canda tawanya seperti Tim Rempong Investigasi. Alya begitu serius dan sangat pendiam. Hanya buka suara bilamana Rempong-ers mengajaknya ngobrol. Sorot matanya terlihat teduh di balik lensa kacamatanya. Namun wajahnya selalu begitu, tanpa ekspresi. Memang kelebihannya Alya terlihat sisi wanita sholehanya. Sama sekali Wahyu tak habis pikir apa iya ada ‘sesuatu’ antara Alya dan Bagus? Kalau iya, apa yang membuat Bagus sampai tergila-gila pada Alya yang notabene istri orang? Apa karena status Long Distance Relationship Alya dengan suaminya? Kenapa Bagus tidak memilih Risti aja yang jelas-jelas si gadis lajang, pintar lagi periang? Ah, jaman memang semakin gila!

Seminggu tanpa Bagus. Rempong-ers mungkin masih bergerilya memata-matai kelanjutan kisah dua sejoli tanpa status tersebut di ruang mereka yang kini terentang jarak dan waktu. Setiap kali Bagus ditugaskan turun ke field bisa memakan waktu berbulan lamanya untuk bisa kembali lagi ke basecamp-nya di perusahaan Pengelolaan Data Migas di Cirebon.

“Lun, kalo TTM tuh nama sumur apa ya?” Suara Reno memecah keheningan.

“TTM? Teman tapi mesra, maksud lo?” Jawab Luna sambil tertawa.

“Jeehh serius, gue nanya sumur TTM,”

“Tegal Taman, Ren. Pada ngasal aja siih kalian! Haha….” Pungkas Irin.

“Yeee…kan kira’in gitu Teman Tapi Mesrah… gitu loh Mbak Rin,” Luna tak mau kalah argumen sambil matanya mengedip-ngedip memberi sinyal jahil.

“Hey, pagi-pagi dah pada ngegosip aja,” tambah Risti.

“Iya Ris, habis…. Mestinya kan kamu yang jadi topik utama infotainment kita, itu baru wajar, lah ini…. Ibu muda kesepian hehe…”

“Kalo single sama single, infotainment-nya gak rame donk, Lun,”

“Luna! Reno!” Kali ini suara Alya menyentak.

Waktu telah bergulir satu jam dari pukul tujuh. Wahyu meninggalkan ruangan, menuju mushola, sebagaimana kebiasaannya untuk menunaikan ibadah shalat dhuha. Tak diduga Alya mengikuti aktivitas ritualnya. Sama seperti dalam dua hari berturut-turut. Kali ini Wahyu enggan menyapanya. Kapok dicuekin dengan tatapan lempengnya.

“Assalammualaikum, Mas Wahyu,”

Suara lembut itu menyapanya kala Wahyu baru saja selesai dan melipat sajadah. Ia menoleh ke belakang. “Wa’alaikum salam, Mbak….” Wahyu menatapnya bingung. Tumben!

“Dah sarapan mbak?” Tanya Wahyu ketika mereka meninggalkan mushola. “Aku mo ke pantry dulu nih,” Pertanyaan Wahyu tak dijawab. Namun ternyata Alya menyusul masuk ke pantry.

Di pantry Wahyu menyeduh kopi instan dan Alya membuat teh hangat. Keheningan masih melanda. Hingga tiba-tiba keduanya serentak hendak membuka percakapan Alya tersipu, Wahyu pun tersenyum.

“Ya udah, Mbak Alya duluan,”

“Mas Wahyu tadi mo ngomong apa?” Alya tampak masih malu. Kali ini Wahyu menatap mata teduh itu. Tak lagi seperti sebelumnya. Alya lebih terlihat akrab.

“Aku mo nawarin sarapan,” Wahyu mengeluarkan bungkusan sebungkus nasi kuning, Ternyata Alya juga membawa yang sama.

“Hehe… dari tadi ternyata memang niatnya bareng ya?”

“Biasanya nggak pernah keliatan sarapan di kantor, mas?

“Iya, aku baru aja pindah kos-an, barengan sama Dino. Agak jauh dari kantor, makanya ga sempet deh sarapan dulu di kos,”

Kembali hening.

“Mas Wahyu, boleh nggak aku cerita?”

“Oh, boleh banget. Cerita apa?”

“Tapi tolong jangan cerita lagi ke teman-teman lain, apalagi sampai terdengar Tim Rempong,”

“Mbak Al bebas cerita apa aja sama aku, dijamin halal dan aman. Janji,”

“Mas Wahyu tau kan gosip yang lagi hangat saat ini? Buatku sebenernya udah nggak betah dengan semua itu,”

Wahyu tetap menyimak. Alya melanjutkan.

“Aku sih, terus terang aja yah… selama ini aku ngerasa nyaman ngobrol sama Mas Bagus, nyambung lah. Terus dia juga nggak pernah ceritakan lagi ke siapapun. Begitu juga sebaliknya. Apapun yang kami obrolin berdua nggak pernah mengarah ke gosip,”

“Mbak Al, menurutku, kedekatan kalian itu sendiri yang mengundang gosip,”

“Ya aku tau. Tapi suer deh! Yang kami lakukan cuma sebatas curhat-curhatan. Nggak sampai lebih dalam. Bisa jadi itu pandangan teman-teman aja, suka ngartiin beda-beda. Padahal kalian semua tau kalau aku dah punya suami dan anak. Sementara dari sisi dia juga, dia kan beda keyakinan. Jadi mana mungkin kami punya hubungan khusus sebagaimana gosip teman-teman. Adapun kalau kita keliatan berdekatan bukan berarti mesra beneran kok, Bagus emang suka gitu becandanya. Ngaku-ngakuin di depan orang aku sebagai istrinya lah, sekalian aja suka aku bumbuin biar pada rame. Sekarang atau nanti kalian tetap memandang kami sebagai dua sejoli tanpa status yaa… terserah! Aku berani pastikan hatiku ya cuma buat keluarga!” Tandas Alya dengan nada meninggi.

“Oooh begitu.”

Alya segera melipat kertas pembungkus nasi kuning yang tak ia habiskan. Lalu membuangnya ke tempat sampah. Tangannya meraih mug miliknya. Berlalu dari pantry tanpa sepatah kata.

Sehari, dua hari hingga tiga hari berikutnya kebisuan yang tanpa diskenariokan melanda mereka berdua. Masih untung tak ada yang menyadari karena memang biasanya pun Alya tak pernah terlihat akrab dengan Wahyu.

Hingga sore….

“Mbak Al, lembur ya hari ini?”

“Iya Mbak Rin, sampe jam tujuh,”

“Terus…sama siapa? Oh, ada Mas Wahyu. Lembur juga Mas?”

“Aku sih nggak Mbak Rin, cuma lagi maintain software aja. Paling sampai jam enam,”

“O.K. titip Mbak Al ya Mas… hehehe…” Irin berlalu pulang. Teman-teman lain pun sudah bubar sejak jam kerja berakhir setengah jam lalu. Hujan mulai turun dan makin deras. Suara petir pun mulai memekakkan telinga. Agaknya sia-sia belaka Alya dan Wahyu terperangkap oleh derasnya hujan sore itu, nyatanya tak membuat seorang pun dari mereka memulai percakapan. Wahyu melirik jam tangannya.

“Mbak Al, sibuk nggak? Ada yang ingin aku sampaikan,”

Alya menoleh.

“Tentang foto itu. Semua nggak bener, Mbak Al. Aku paksa minta copy foto itu dari Luna. Setelah kuteliti ternyata itu foto palsu. Hasil editing Photoshop. Bukan foto asli Mbak Al dan Mas Bagus. Itu foto orang lain,”

“Percuma aja, mas. Mau itu asli atau palsu. Semua pasti udah semakin terkontaminasi pikirannya. Dugaan mereka ke aku pasti semakin negatif. Udah deh, lagian aku nggak lama lagi di sini. Mau berhenti kerja dari sini. Aku mau pindah ke Bandung,”

“Oh, begitu? Hmm…emang kapan rencananya Mbak Al mau pindah?”

“Sekitar enam bulan lagi,”

Deg. Terdiam. Wahyu merasakan dingin menjalar sekujur tubuhnya. Aliran darahnya dirasa membeku sesaat. Jantungnya seolah terhenti beberapa detik.

“Mas liat sendiri kan? Kok ya tega Luna bikin foto palsu begitu, cuma buat update bahan gossip murahan. Tak bisa kupungkiri mas, kadang aku ngerasa ada kalanya membutuhkan seseorang untuk diajak berbagi cerita. Dan entah kenapa pilihan hatiku jatuh pada Mas Bagus untuk membaginya,”

“Mbak Al, kalau boleh aku saranin, kedekatan mbak dengan Mas Bagus… ya walaupun sebatas curhat-curhatan, menurutku kurang etis juga lho. Mbak Al dah berumah tangga, apapun yang terjadi dalam rumah tangga mbak nggak sepantasnya mbak ceritakan lagi pada orang lain. Apalagi kalau mbak ceritakan kepada laki-laki lain yang bukan muhrim. Karena, dari curhat-curhatan bisa jadi timbul rasa iba, dari rasa iba jadi rasa simpatik, dari simpatik lalu tumbuh rasa cinta. Wah, kalau sampai begitu kan ujung-ujungnya jadi mudharat. Sekali lagi maaf lho ya Mbak Al, aku nggak bermaksud menggurui. Ya, semuanya kembali ke Mbak Al. Memang, terkadang kita membutuhkan seseorang untuk berbagi isi kotak Pandora yang terletak jauh di dalam. Tapi sebagai orang dewasa, apalagi sudah memiliki pasangan, hendaknya lebih bijak untuk menempatkan segala isi hati kita,”

Hening lagi. Suara adzan berkumandang dari Masjid yang berjarak lima puluh meter dari gedung kantor mereka.

“Dah Maghrib. Shalat yuk Mbak Al,”

Tanpa sepatah kata Alya mengikuti Wahyu, mengambil wudhu di tempat yang berbeda lalu menuju mushola. Mereka berdua shalat berjama’ah.

———-

Ding!

Tak ada yang tahu kalau kini Alya dan Wahyu sering chat via intranet messaging dari PC mereka.

|aku jd kepingin ganti aja nopeku atau ganti pin BBM-ku|

|mending buang aja hapenya, Mbak |

|yeee! Enak aja. Mahal2 dibeliin suamiku |

|Nah, tuh kan? Dibeliinnya aj sm suami, masak dipake buat yang lain? O

|Iya, makasi ya, mas yu|

|gmn kbr nya mas bagus?|

|napa mas yu? cemburu ya? hehe…kemarin malam aku bbm dia. bilang k dia, spy kita agak merenggang, mematuhi batasan2 sebatas rekan kerja aja, komunikasi hanya di jam kerja aja, atw aku akan memperlakukan dia seolah gak pernah saling kenal|

|hueeee…. muanteb tenan mbak ayu ini. saluuuuuuttt 3x. pokoke aku padamu mbak! *pingin jingkrak2*|

|iya, itu jg kan spt saran dari mas yu yg waktu kita abs shalat maghrib itu loh. Thx ya mas, aku skrng merasa mendingan. Ayo cepetan sana jingkrak2nya! hahaha|

|ya…ya…ya… tp kita ttp bgini aja di dpn mereka. Kita semua bs rentan gosip lho mbak, palagi buat mbak Al. kan kasian mbak klo dibilang dgn sebutan yg jelek2. pokoknya aku pgn liat mbak Al bahagia bersama suami n anak mbak|

|Mas Hyu, tenkyu yaah…4 everything|

Ding!

Malam semakin melarut dan pekat. Hujan tak turun malam ini. Sayang, mega belum jua bertebar bintang. Usai menemani Riyadh belajar menulis dan menggambar hingga tidurnya, Alya kembali ke kamarnya, menarik selimut di atas kasurnya yang empuk setelah ia menyetel alarm pada ponsel. Insya Allah, sepertiga malam nanti ia akan lebih membagi isi kotak pandoranya pada Yang Maha Mendengar, ingin sekujur diri sekaligus jiwa yang sudah bersimbah jelaga dosa dan khilaf ini bersimpuh di hadapan-Nya. Bertobat. Memantapkan diri kelak tentang kepada siapa yang pantas untuk ia bagi hatinya.

~end~

Ditulis oleh: Mutz

03 Desember 2012

Mantan Terindah – Part II (Cerpen)

Bookshelf-Inspired-Dreams-by-Dripta-Design-Studio

Langit malam tak sendiri dalam gelap pekat namun berteman taburan kemilau bintang dan senyum purnama disertai semilir angin berbisik. Andai malam bergemintang ini memancar bahagia atau justru sepoi angin membiaskan fakta sehingga menimbulkan tanda tanya di benak jiwa.

Halaman parkir The Next Café & Resto sudah terisi separuhnya oleh kendaraan mobil, sebagian lainnya menepi di sisi trotar. sementara jejeran motor terpakir berjajaran di tempat terpisah di sebelah dalam. Di pintu masuk café & resto tampak lalu lalang beberapa lelaki berseragam. Aroma masakan beraneka bumbu rempah menusuk hidung setibanya Rafi memasuki pelataran. Dapur café & restonya terletak di lantai dasar. Sementara lounge room-nya di lantai atas. Reuni akbar alumni SMP 111 Jakarta digelar. Ada sekitar empat puluh orang hadir. Suasana bungah, kangen , deg-deg-an, bahagia berbaur di antara hingar-bingar musik.

Bisa jadi kedatangan Rafi bersambut hangat di antara sekian banyak teman-teman lamanya. Bisa jadi juga bahkan tak ada satupun mengenalinya, Rafi sangat jarang nimbrung di chat group media sosial alumni. Namun tetap saja degup jantung berdegup saat kakinya tinggal selangkah lagi mencapai anak tangga teratas lounge room.

Memandang santai seisi ruangan, Rafi melangkah menuju salah satu meja yang masih kosong. Beberapa lelaki seusianya tampak mengobrol di satu meja, dua orang lagi menyudut untuk sejenak menikmati hisapan tembakau berbakar.

“Rafi!” Duluan Nanda menyapanya.

“Apa kabar lo? Tumben sekarang lo dateng?”

Teman-teman lainnya yang satu meja senyum sumringah menatap Rafi yang masih bingung. Antara mengenali atau tidak.

“Alhamdulillah baik, Nan.” Rafi mendekat dan mengambil posisi sofa yang masih kosong.

“Lo Rafi ya?” Serbu Maia.

“Yep! Lo Maia kan? Lo kan dulu sekelas sama Gue di kelas 3D, makin bohay aja,”

“Tul..Betul….masih ingat lo rupanya, Raf. Ya donk secara gue sekarang instruktur aerobik,”

“Lagian lo kemana sih Raf nggak pernah ikutan acara reuni rutin kita, seru loh… kita tiap malming ngumpul di Café ini. Ini kan punya Sandy. Terus tiap bulan kita ngadain arisan.” Sambung Nanda lagi.

“Sibuk gue,”

“Ah sok sibuk apaan sih lo Raf? Darius aja yang dah jadi polisi bisa-bisa datang tiap bulan,” protes Nanda. “Tuh si bu Yustina aja yang udah jadi anggota dewan rajin kok dateng tiap reuni bulanan,”

“Sibuk Nan, liat coba profilnya di facebook, dia dah jadi boooss…” seloroh Maia.

“Ah lo kebanyakan alesan. Seto dari Surabaya sering kok ngumpul di arisan kita. Lo usahaian donk Raf kita ngadain arisan nih bukan buat nyari duitnya tapi supaya tetap menjalin siltarurahim dan kekeluargaan alumni SMP 111 khususnya angkatan kita.” Argumen Yustina diamini oleh teman-teman lainnya.

“Wait… lo berasa ganteng sendiri yee di meja ini, gue ikutan ah…”

Gunadi yang logat betawinya kental datang menghampiri meja mereka.

“Gun, emang lo dah kenal sama nih makhluk yang baru turun dari planet ke sebelas?” canda Maia.

Gunadi menoleh.

“Eh, gue kirain yang sedari tadi duduk di mari Seto, nyatanya elo…Rafi ye?”

Sontak kedua lelaki itu berangkulan akrab.

Nanda langsung berkomentar

“Eh, inget bini masing-masing di rumah ya,” gurauan Nanda disambut derai tawa teman-teman.

“Yeeii emang eike cowok sekong?” Gunadi malah menjadi dengan gaya sok-sok bences.

Selang beberapa detik kemudian terdengar suara microfon diketuk-ketuk. Fadel berdiri di antara meja yang bertebaran kemudian memberi salam membuka acara. Volume musik sudah dipelankan.

“Selamat malam teman-teman alumni tercinta, Puji syukur kehadirat Allah SWT kita semua dapat berkumpul kembali dan mempererat jabat tangan silaturahim kita agar InshaAllah pertemanan dan persahabatan kita semakin terjalin erat. Baiklah, teman-temanku malam ini selain kita menikmati hidangan, kita disini boleh siapa aja mengisi acara dengan nyanyi boleh solo atau bareng-bareng, tapi dengan lagu-lagu jamannya kita dulu yah… 90’s rhythm. Lebih bagus kalau ada yang mau share cerita-cerita apa di balik lagu kenangan tersebut. Diiringi oleh teman-teman band yang udah stand by disini. Suara nggak masalah mau bagus mau nggak bagus pokoknya harus nyanyi dan sebelumnya harus ada sekilas cerita ada apa kenangan di balik lagu yang bakal dinyanyikan. Baiklah… Saya persilakan yang tampil lebih dulu sebagai pemilik café, Sandy!”

Memegang sebilah gitar dari salah satu kursi Sandy memainkan lagu To Be With You-nya Mr. Big. Teman-teman lainnya ikut mendendangkannya riang.

Masih bersandar santai di sandaran sofa diam-diam Rafi meneliti satu-persatu undangan temu-kangen alumni yang hadir. Adakah dia sudah duduk manis di antara sekian banyak orang di ruangan ini? Mungkin karena suasana ruang meremang dan memang yang hadir kali ini dari keluarga alumni SMP 111 sangat banyak. Sebagian mereka ada yang membawa pasangan. Semua yang tampak adalah wajah-wajah sumringah, kadang disela-sela menikmati hidangan satu dan lainnya berdiri, saling berpelukan atau berjabat tangan, dan dilanjutkan ngobrol bareng di satu meja. Yang ‘bertugas’ menyanyi tanpa stage dengan santai memegang mic, bersenandung, dan berkeliling di antara meja-meja sambil sesekali berjabat erat dengan mereka yang duduk, sudah layaknya artis saja 🙂

Gunadi datang menghampiri dari meja Nanda dan teman-teman. Menarik tangan Rafi dengan paksa.

“Frens….. gue punya cerita nih di balik sebuah lagu. Dulu jaman kita sekul kadang gue suka dengar di toilet cowok suka ada yang nyanyi-nyanyi nggak jelas, sempat gue merinding dengarnya….”

“Terus ngapain lo narik tangan gue?” Protes Rafi.

“Tar dulu bro.”

“Biasa juga lo Gun yang jadi penampakan di toilet,” celetuk Nanda.

“Bukaaann… gue yakin banget itu bukan suara penampakan. Karena kalau didengar-dengar sih lafal Inggrisnya tuh bagus, naik turun ritme musikalnya juga oke, cuma yang gue heran napa tuh orang pingin-pinginnya bikin rekaman di toilet?”

Gemuruh tawa makin terdengar.

“lagu yang dia nyanyiin tuh lagu romantis. Wajar sih yang waktu itu lagi first time poling in lope,”

Gunadi langsung mengoper mic ke tangan Rafi.

“Emang Rafi dulu poling in lope sama siapa? Kok nggak pernah masuk head line news mading kita?” Sela Maia.

“Gue tau orangnya sapa… ” Balas Gunadi.

“Nih lagu apaan Gun?” Rafi terlihat kikuk.

“Musiiik….” Gunadi memberi aba-aba pada band di muka lounge room. Rupanya sedari tadi Gunadi sudah mengatur strategi buat ngerjain Rafi. Lamat-lamat suara piano mengalun. Rafi mencoba mengingat-ingat irama intro lagu yang mulai melantun. Bukannya langsung nyanyi Rafi malah menepuk dahi.

“Gue lupa-lupa inget lagu ini!”

“Nyanyi donk Raf…,” teman-teman memberinya dukungan.

…. Maybe my love will come back someday
Only heaven knows
May our hearts will find their way
Only heaven knows
And all I can do wish hope and pray
Cause heaven knows

Akhirnya suara Rafi mampu juga melantunkan tembang lawas Rick Price yang berjudul Heaven Knows, meski di bagian reff nya saja lafalnya lancar. Hehe…

Berikutnya Nanda yang didaulat menyanyi. Tingkahnya ada-ada saja disuruh nembang melodi era 90-an malah spontan mengajak Maia, band dan seluruh teman seisi lounge room berjoget goyang dumang.

Rafi menepi hendak ke kamar kecil yang terletak di sudur lounge room dekat exit door. Ketika suara memanggilnya hingga tiga kali. Rafi tidak merasa dirinya yang dituju. Tetapi panggilan itu akhirnya menggugahnya. Asal suara itu tak jauh. Hanya lima langkah dari tempatnya tengah melangkah.

“Billy… “ serunya keempat kali.

Rafi terperangah. Bungahnya membuncah dan senyumnya sumringah melihat siapa yang dihadapannya. Barangkali ini yang dulu sering disebut oleh guru Bahasa Indonesianya tentang pepatah ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’. Kali ini senyumnya mengembang. Tetapi yang dirasa di lubuk hati bercampur aduk. Bukan hanya merasa aneh karena ada yang memanggilnya dengan nama Billy. Kedua, karena wanita itu, yang sedari tadi memanggilnya adalah Fiyan. Ya. Fiyan yang tampil ditengah pesta reuni dengan pesonanya yang tetap menawan seperti kala jumpa kembali di rumahnya dikawasan Pasar Minggu beberapa tahun silam. Disebelah kursinya duduk seorang lelaki sebayanya pula. Tubuhnya yang tinggi dan atletis terbalut dalam batik modern berwarna merah marun. Ia tersenyum sopan dan mengangguk.

“Bil, inget aku ga?” ulangnya lagi.

“Billy?” Rafi mendekat. “Apa kabar Fiyan? Dan ini pasti Mas Radian ya? Saya Rafi,” Bergantian Rafi menjabat tangan Radian dan Fiyan.

“Duduk Mas Rafi. Gabung sama kita,”

Mau tidak mau Rafi urung niatnya semula dan justru harus menarik kursi lalu duduk. Sekadar mengobrol berbasa-basi dengan Radian yang memang terkesan ramah pada semua teman-teman istrinya. Fiyan tetap menyapanya dengan sebutan ‘Billy’.

“Jadi kamu ngisi acara juga di sini Bil?”

“Fiyan, becanda aja deh. Sejak kapan aku pakai nama panggung ‘Billy’?”

Menyadari situasi agak nggak beres. Radian melempar candaan. “Barangkali wajahmu kembarannya Chef Billy Kalangi, chef dari Manado yang ganteng itu,”

“Atau mungkin Chef Billy Parisi?” Sambar Rafi menambahkan. Mereka berdua tertawa.

“Billy, sekarang kamu dimana? Masih Jakarta atau…?”

Rafi akhirnya terdiam. Bingung. Nggak ngerti dengan apa maksud Fiyan sedari tadi memanggilnya Billy. Seingatnya tidak pernah ada kesepakatan dirinya dan Fiyan menyusun scenario perjumpaan ini agar kemudian mereka seolah menjelma menjadi saling mengenali sebagai sosok lain.

Keheranan Rafi belum lagi tuntas. Seseorang menggamitnya dari samping. Afni datang menyapa mereka bertiga. Tak lupa Afni pun berangkulan dengan Fiyan, bercipika-cipiki layaknya sahabat lama.

“Rafi, lo kapan datang? Kok lo nggak ngabarin gue?”

“Tadi pagi, Ni. Gimana kabar lo sama anak-anak Ni?”

“Alhamdulillah sehat-sehat semua.”

“Billy, Afni, kalian udah pada makan? Kami baru aja datang dan baru mau pesan, kita bareng aja,”

“Billy???” Afni celingukan menatap Fiyan dan Rafi bergantian. Rafi hanya pasang mimik bingung dan meresponnya dengan mengangkat bahu.

“Fiyan itu ngefans sama Billy Kalangi,” seloroh Radian membuyar kebingungan.

“Oooohh…ah Fiyan kamu ada-ada aja siih…eh tapi sebentar ya, Fiy, Rad. Gue pinjam dulu si Rafi nih buat bantu masalah teknis di backstage. Bentar yaa…” Buru-buru Afni menarik lengan Rafi menjauh dari meja Fiyan dan Radian.

Memisahkan diri dari keramaian, Afni mengajak Rafi mengambil posisi di coffee shop sebelah.

“Loh kenapa kita kesini, Ni?”

“Ada yang mau gue bicarakan serius sama lo, Raf,”

Sekali ini wajah Afni terlihat sangat serius.

“Ada apaan sih? Sampai kita jadi kelompok separator begini?”

“Raf, gue mau cerita sama lo. Tapi gue minta lo tenang ya. Lo jangan kaget,”

“Haduuuuhh apaan sih? Lo mau ngomong apaan?”

“Raf. Lo tau kenapa tadi dipanggil Billy?”

“Aneh. Nggak ngerti gue. Fiyan ada salah minum obat apaan ya?”

“Dia amnesia, Raf,”

“WHAT?!” Rafi sontak membelalak. “Oh no! You must be joking, Afni,”

“Gue serius Rafi. Dua tahun lalu Fiyan mengalami accident di perjalanan menuju Cikampek. Mobil yang dikemudikan Radian tergelincir karena ban pecah. Karena kecepatan tinggi mobil mereka membentur beton di sisi jalan. Rombongan keluarga yang dibawa ada yang luka dan pingsan. Fiyan kebentur kepalanya. Radian sendiri juga luka parah. Kita semua nggak ada yang tahu tentang itu. Baru taunya sewaktu ada reuni sekaligus arisan di rumah Izza di Bogor, tiba-tiba gue keinget sama Fiyan. Lalu gue ajak mereka mampir ke kediaman Fiyan, ada yang ikut ada yang terus bubar. Akhirnya gue kesana sama Izza, Devi, Nanda, Gunadi, dan Fadel. Begitu kami tiba disana, terasa aneh sambutan Fiyan. Tadinya kita kira karena Fiyan memang selama ini juga jarang banget nimbrung di chat group, nyatanya Fiyan melihat kita seperti orang baru dalam pandangannya. Berasa obrolan waktu itu jadi nggak nyambung, teman-teman pada mampir sebentar aja. Tinggal gue sama Izza disana yang penasaran dengan perubahan sikap Fiyan. Menjelang sore baru kita ketemu Radian pas dia baru pulang kerja. Dia cerita tentang peristiwa tragis yang menimpa mereka di H plus tiga lebaran 2013,”

“Kenapa dari kalian nggak pernah ada yang ceritain ke gue?”

“Raf. Gue mohon lo jangan salah paham dulu. Please…”

“Gue harus balik ke Next Café!”

“Raf… Percuma aja Raf! Lo nggak bisa memaksakan ingatannya,”

Rafi tak hirau dengan larangan Afni. Dia berlari menuju The Next Café & Resto yang berjarak seratus meter.

Dia terus berlari mengejar ke lantai atas. Disana masih ramai. Mata Rafi nyalang mencari-cari, meja yang tadi kosong. Gunadi melambai lalu menghampiri dan mengajak Rafi duduk di kursi yang sudah ditinggalkan Fiyan dan Radian.

“Kenape lo bro? Ngos-ngosan gitu?”

“Fiyan mana?”

“Udah pulang. Tadi abis dia nembang satu lagu. Lagunya siapa yak yang close your eyes, gitu. Suaranya cantik kayak orangnya,”

Afni menyusul dari belakang.

“Fiyan dah pulang, Ni,” Rafi lesu.

“Lo pada aneh sih guys, tadi dia disini lo tinggalin. Sekarang orangnya dah pulang lo pada nyariin,”

“Yah… sori Gun. Gue pamit duluan pulang juga deh,”

“Lah buru-buru amat, Raf? Masih ada doorprize utama bentaran lagi,”

“Buat lo aja deh, Yo ah gue cabut, Gun! Salam buat semua teman alumni,”

“Reuni bulan depan lo ikutan ya Raf, Janji!”

“Raf, lo naik apa? Gue nebeng…,” Kejar Afni.

—-

“Tadi lo bilang kecelakaan itu H plus tiga lebaran 2013?”

“Iya. Fiyan cuma ingat waktu itu katanya dia perjalanan ke Malang sama keluarga tetangganya. Rencana Fiyan dan keluarganya mau mampir ke rumah seorang teman, tapi dia hanya ingat sebatas itu,”

“Ke rumah gue. Abis lebaran paginya dia bbm tanya alamat rumah gue. Katanya mau ke rumah. Baru hampir jam delapan malamnya dia bbm gue lagi mereka udah sampai perbatasan Tasik. Dia minta petunjuk jalan ke rumah gue. Ya gue seada-adanya ngasih rute jalan ke dia. Sayangnya lima belas menit berikutnya dia bbm gue lagi katanya batal mampir karena udah malem, nggak ngerti jalannya, dan mereka memilih istirahat sejenak di masjid raya dan melanjutkan perjalanan balik. Semula gue mau bantu jemput dia ke masjid raya, tapi kondisi di rumah gue sedang ada keluarga kakak-kakak gue lagi pada ngumpul semuanya.”

“Owh, jadi tujuannya kala itu ke rumah lo Raf?”

“Dia interest untuk bahas cheestick cantik aneka rasa yang kebetulan ibu gue punya resepnya. Terus tadi itu Billy siapa?”

“Ingatan Fiyan tentang masa lalu hanya setengah-setengah. Billy. Cowok itu dulu tetangga Fiyan. Semasa kita SMP. Billy anak SMA Kejuruan di Kebayoran Baru,”

“Lo kok tau tentang Billy juga?”

“Fiyan sahabat gue Raf. Sama kayak lo sahabatan sama gue. Apa dan siapa semasa kita sekolah dulu dia selalu cerita sama gue. Billy jamannya sekolah dulu suka sama Fiyan. Dia sering kirim-kirim salam dan lagu-lagu romantis lewat radio. Acara kirim-kiriman pun berbalas dari Fiyan dengan cara yang sama.”

“Oh… jadi itu kenapa dulu Fiyan sering minta gue nerjemahin lagu-lagu pop barat,”

“Nggak sebatas itu Raf. Karena itu juga Fiyan kan lanjutin sekolahnya ke SMA Kejuruan satu sekolahan sama Billy. Jadilah mereka merenda kisah kasih di sekolah. Kakak dan adik kelas. Berangkat sekolah pun Billy bonceng Fiyan pake motornya Billy,”

“Tapi mereka nggak berlanjut?”

“Setidaknya sampai Fiyan masuk tingkat pertama kuliah. Setelah itu Billy udah lebih dulu lulus SMA menghilang. Keluarganya pindah entah kemana. Fiyan masih setia menanti kirim-kiriman salam lewat radio tapi sia-sia. Sampai akhirnya dia ketemu Radian.”

Rafi tercenung. Dari sekian banyak hitungan tahun mendekati dua dekade, hanya dua tahunnya saja ia miliki kebersamaan indah itu. Rafi mengenal Fiyan di tahun ketiga bangku sekolah. Karena saat itu sekolah mengadakan sistem registrasi acak usai kenaikan kelas. Siswa-siswi dipencar. Yang semula dari kelas A saat di kelas tiga dipindah ke kelas B, C, D, E, F, dan seterusnya begitu juga sebaliknya. Membuat seluruh siswa terbaurkan. Masa-masa itulah ibarat mawar merekah dipenghujung senja. Keterpisahan usai kelulusan masih dapat dijalin lewat bait-bait kalimat rindu tertuang dalam lembar-lembar kertas wangi beramplop dan perangko, setidaknya dalam setahun saja setelah kelulusan. Hanya pun soal rasa tak terdefinisi. Selebihnya adalah soal waktu merentangkan jarak agar keduanya menjalani takdir yang berbeda.

“Lo stay di Jakarta sampai kapan?”

“Minggu gue pulang,”

“Buru-buru amat? Bukannya lo masih pingin ngeyakinin kondisi Fiyan? Gue bisa anter lo besok pagi ke Bogor. At least sebelum lo pulang,”

Rafi menyetujui. Meski keyakinannya tidak lagi berkobar seperti pertemuan empat tahun silam. Empat tahun lalu seandainya dua tahun kemudiannya ada sedikit saja upaya Rafi untuk lebih bisa menghargai niat baik Fiyan bersama keluarganya bertamu ke rumah keluarga Rafi.

Pagi yang sejuk. Lalulintas menuju Bogor belum terlalu padat sehingga memudahkan Rafi dan Afni mencapai rumah Fiyan lebih cepat. Penerimaan Tuan Rumah Radian sangat familier. Radian bahkan merangkul akrab pundak Rafi saat kedatangannya. Sayang beribu sayang, Fiyan sekali lagi, masih seperti semalam, hanya mengenali Rafi sebagai Billy. Ia bungah, senang, pancaran mata itu syarat kerinduan tetapi Fiyan cukup tahu bagaimana bersikap bijak dan manis sebagai seorang yang telah menjadi istri bagi pria yang kini telah mendampinginya.

“Maafkan saya kalau kehadiran saya justru mengingatkan Fiyan tentang Billy,” ungkap Rafi pada Radian saat Fiyan ke dalam membuatkan air dan menyiapkan sajian kue-kue kering dalam stoples.

“Santai aja Mas Rafi. Saya sangat mengerti keadaan istri saya. Kita yang tidak perlu menuntut banyak demi kepulihannya. Buat apa saya harus cemburu pada kisah cinta masa remaja mereka? Iya kan? Yang terpenting Fiyan adalah istri yang baik, sholehah dan sangat menyayangi keluarga, bagi saya itu lebih dari cukup bahagia,” Radian tersenyum lebar.

“Fiyan sungguh beruntung punya pendamping sesetia Mas Radian,”

“Dan beruntung Fiyan juga tetap memiliki sahabat sebaik kalian, yang tidak pernah meninggalkan dia meski dalam kondisi apapun,”

Sejam kemudian Rafi dan Afni pamit pulang.

“Sudahlah Ni, untuk apa kita mengejar sesuatu yang sudah tertinggal jauh di belakang? Kondisi memory Fiyan saat ini ibarat berderet buku berjejer di raknya. Ada sekian banyak nama tertulis di masing-masing bilahnya. Ada bilah dengan font besar dan tebal dan itulah yang paling muncul ke atas ingatannya, sementara mungkin nama gue, lo, dan teman-teman alumni ada di antaranya tetapi bilahnya terlalu tipis dan teksnya samar terbaca. Andai pun ada sisa kenangan manis biarlah tetap dia disana.”

“Ya kita doakan aja semoga Fiyan bisa pulih ingatannya, meski akan memakan waktu lama,” Afni menyeka bulir bening yang menitik di matanya dengan helai tissue dari dalam tasnya.

Rafi menggumam. “Fiyan teman yang baik, pintar, dan menyenangkan ,”

**********

Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau di sana aku di sini
Meski hatiku memilihmu

Andai ku bisa
Ingin aku memelukmu lagi
Di hati ini
Hanya engkau mantan terindah
Yang selalu kurindukan

*ilustrasi dari Bookself-Inspired-Dreams

Mantan Terindah – Part I (Cerpen)

Here is my second short story in this year, enjoy it…. 🙂

LoveMantan Terindah

Desember 2011

Sabtu di awal minggu. Awan mengabu-abu di langit. Cuaca mendung Jakarta membuat sulit dibedakan itu siang atau sore. Kecuali penunjuk waktu saja secara akurat menginformasikan masih pukul dua siang. Setelah satu jam lebih perjalanan bergonta-ganti kendaraan umum dari Kebayoran Lama menuju Pasar Minggu, curahan hujan dari langit kini tinggal menyisakan rintik-rintik gerimis pada dahan pohon dan dedaunannya, dan pada genteng rumah bercat kuning gading di hadapan Rafi.

Ia menatap plat nomor yang terpajang di dinding dekat sikring. Dirogohnya saku jaketnya, mencocokan alamat pada sederet teks yang tertera pada layar ponselnya. Jl. Anggrek I Blok B nomor 10, RT 001/RW 002. Iya bener ini alamatnya. Pintu kayu ruang tamu tampak sedikit terkuak. Tak seorang pun kelihatan, kecuali hanya terdengar suara gelak tawa anak-anak dari dalam.

“Assallammualakum!”

Rafi mendekati pintu ruang tamu. Tak ada jawaban. Ia mengulangi sekali lagi salamnya. Namun si pemilik rumah belum juga menampakkan batang hidungnya. Suara canda tawa anak-anak masih terdengar. Entah kenapa kini dirasa jantungnya jadi berdegup kian kencang. Dagdigdug…degdegan. Rafi menarik nafas. There would be nothing! Tandasnya membatin. Tak ada sama sekali tombol bel di sekitar pintu kayu berukir tersebut. “Assallammualakum!” Sekali lagi ia mengucap salam sambil mengetuk pintu. Hadoooh! Kalo seperti ini dah mirip orang mau minta sumbangan?!

“Assallammualakum!” ulang Rafi.

“Wa’alaikum salam! Abaaang! Coba liat ke depan, ada tamu!” Kali ini terdengar seruang suara seorang perempuan dari dalam rumah. Seorang bocah kira-kira berumur tiga tahun berlari-lari kecil lalu membentangkan pintu ruang tamu. “Om, cali capa?” tanya si bocah lelaki berambut ikal bermuka bulat berpipi tembem tinggi selututnya Rafi. “Mamahnya ada, dek?” Rafi senyum sambil membungkukan badan.

Belum sempat si bocah menjawab, sesosok perempuan langsing berjilbab pink bermotif sulam pita dan berbusana muslim setelan berbahan katun poplin dengan detail renda bunga-bunga kecil, muncul dari dalam. “Siapa ya?”

Irama jantung Rafi makin tak karuan. Kakinya kian gemetar makin berasa tak menapak di lantai. Perlahan keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya. Untung tadi sedikit tersiram gerimis saat menuju ke rumah ini, jadi paling mukanya dikira kebasahan air hujan.

“Hai…” Sapa Rafi sok yakin bahwa yang berada di ambang pintu berdiri di hadapannya adalah Fiyan, teman sekelas semasa SMP di Jakarta. Fiyan yang dulu belum berjilbab.

Perempuan muda di depannya terperangah sesaat. Lamat-lamat ia mengamati sosok lelaki tinggi gagah berbalut jaket parasut biru, berstelan kemeja dan jeans, dengan Timberland sprint boots berdiri di hadapannya, dengan sorot mata dan kini memamerkan senyum jenaka khasnya.

“Rafi?? Kapan kesininya? Kok nggak ngabarin aku dulu?” Seyum Fiyan mengembang.

“Hahaha… aku kira kamu dah lupa sama aku, Fiyan. Gimana kabarmu, sekeluarga baik-baik kan?” Rafi mengulur tangan.

Fiyan menyambut jabat tangan Rafi sembari mengiyakan dengan anggukan. Binar bola matanya masih menatap tak percaya, masih mencoba Fiyan meyakinkan diri. Ya, Rafi, teman sekelasnya dulu semasa SMP di kawasan Cilandak, Jakarta. Cowok tengil n malas  belajar, seringnya masuk kelas pagi-pagi jauh sebelum bel sekolah supaya dapet contekan pe-er pelajaran hitung-hitungan seperti matematika, fisika, dan akunting dasar. Gemar olahraga namun seringnya kalah dalam Student Basket Competition, yang ikutan ekstra kurikuler PMR cuma untuk menggoda kakak-kakak kelas putri. Tak ada kelebihan untuk bisa dibanggakan dari Rafi layaknya cowok-cowok berprestasi di jaman sekolah, Rafi yang notabene papanya seorang Atase Militer KBRI di Jerman, cuma unggul dalam pelajaran bahasa asing, sering menjadi mentor pelajaran bidang tersebut bagi teman-temannya. Namun bagi diri Fiyan, Rafi adalah sesuatu. Rafi dulu sering main ke rumahnya -semasa Fiyan dan ortunya masih tinggal di Bintaro- untuk belajar bareng, mengerjakan pe-er bareng, untuk saling bertukar pengetahuan pelajaran. Rafi mengajarkannya Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman, sebaliknya Fiyan mengajarinya pelajaran Matematika dan Fisika. Aah, semasanya remaja era 90-an, cinta monyet pun bersemi di antara mereka, sering jalan bareng sepulang sekolah, nonton bareng di bioskop 21, ngebakso di kawasan Blok-M, berdua ke toko kaset mencari-cari album lagu tokoh idola mereka berdua. Rafi selalu setia menjaganya setiap pulang sekolah karena anak-anak SMP sebelah sering punya kegiatan ekstra non kurikuler jadi tukang palak. Rafi yang suka menulis karya-karya fiksi dan Fiyan selalu menjadi pembaca pertama setiap Rafi mengeluarkan karya fiksi terbarunya.

“Bundaaa… bau angyuuss!!” Teriak seorang bocah dari bagian dalam rumah.

Fiyan kaget. Tersadar untuk dirinya kembali menajajak bumi. Gegas ia melepas tangannya dari genggaman Rafi dan berlari menuju dapur. “Duduk dulu Raf! Komporku belum dimatikan!” Rafi menahan tawa sambil mengambil posisi duduk di kursi rotan di teras rumah Fiyan.

“Di dalem aja Raf, di luar dingin…” Sepuluh menit kemudian Fiyan kembali lagi ke teras sambil membawakan nampan berisi dua cangkir teh hangat dan piring berisi beberapa potong roti bakar masih panas, dan satu toples cheestick.

“Radian ada, Fiyan?”

“Ga ada. Dia pulang seminggu sekali, biasanya baru tar malem dia pulang,”

“Oww… yaudah, aku duduk di teras aja, nggak enak nanti bisa jadi fitnah,”

Fiyan tersenyum, ternyata Rafi belum berubah. Jaim. Alias menjaga iman. Dulu juga Rafi tak pernah mau masuk ke rumah Fiyan kalau ortunya sedang tidak ada. Paling hanya sampai teras depan saja.

Fiyan meletakkan nampan di atas meja kecil di antara kedua kursi teras.

“Diminum dulu Raf, sambil cobain nih roti bakar sama cheestick buatanku,”

“Buatanmu sendiri? Sip! Tenkyu banget Fiyan,”

“Raf, kok kamu nggak kasi tau aku dulu sebelumnya?”
Fiyan benar-benar nggak nyangka kalau Rafi beneran datang ke rumahnya kini setelah sekitar sebulan lalu mereka tanpa sengaja bertemu kembali lewat facebook, kemudian mereka saling bertukar nomor hape dan alamat.

“Sengaja! Pingin bikin kejutan aja buat kamu, Fiyan,”

“Terus, berangkat dari Tasik kapan Raf?”

“Jumat sore. Aku nginep di kakakku di Kebayoran,”

“Bisa sampe kesini? Nggak nyasar tadi di jalan?”

“Nggak, aku jalan pake feeling..”

“Ooo kirain pake kereta api…”

“Ha…ha…ha…bisa, bisa, bisa.. bisa gila!”

“Kamu tetep cantik, Fiyan!” Goda Rafi cuek.Tangannya tak henti mengambil lagi dan lagi roti bakar dan cheestick dari toples kaca.

“Hey! I’m married, jangan sampe terjadi kisah celebek lho!”

“I know, but I don’t care! Resiko ditanggung berdua!” Rafi tertawa renyah.

“Gila lo! Masi sama aja kayak dulu. So, when will your turn Raf?”

“Wh… What? What turn?”

“Ya, nikahanmu? Siapa namanya…. mmm.. kalau aku nggak salah lihat di profil facebook-mu, namanya Naila Rahmata ya?”

Rafi tersedak dan terbatuk-batuk. Ia kemudian malah terbahak.

“Heeey! Aku tanya tuh dijawab bukan disuruh ketawa,”

“Hmm… yaa… she’s a fff…”

“Fiance? Your fiance, isn’t she?”

“a friend hahaha….”

“Rafiiii….. kapan sih kamu mau seriusnya? Gih, diminum dulu tehnya, dari tadi ketawa melulu sampe keselek tuh,”

“Nyaman banget rumahmu, Fiyan. Berarti kalian benar-benar happy family ya? Syukur deh, Alhamdulillah…”

“Ya, beginilah kami, Raf. Radian kerja di kapal, di perairan Selat Sunda. Kami dah menikah selama 4 tahun. Yang tadi nyambut adalah Fahri, putra kami. Setamat SMEA aku nerusin D3, terus awalnya aku dapet kerja di Biro Parawisata lima tahun terus dapet kerja di Dishub sampai akhirnya aku ketemu Radian. Setelah setahun kami menikah, punya anak. Omanya Radian mewariskan rumah ini untuk kami tempati. Terus, ngomong-ngomong kamu sendiri gimana ini ceritanya? Abis SMP dari Jakarta terus ke Tasik. Kukira setamat SMA kamu ikut papamu ke Jerman?”

“Nggak kok, Fiyan. Aku SMA di Tasik, tinggal sama Om-ku, mama nyusul ke Jerman. Aku males ikutan nyusul mereka. Aku emang anak males, nilai pelajaranku selalu pas-pasan, malu mo nerusin sekolah di negeri orang. Setamat kuliah dari Bandung aku dapet kerjaan di Tasik,”

“Jadi, orangnya itu Naila? Asli Bandung atau orang Tasik? Atau temen sekerja?”

“Yeee ngaco! Bukan!” Tukas Rafi cepat.

“Loh, terus kalian ketemu di mana? via YM? Kenalan di fb? Atau dijodohin ortu?”

Rafi menggeleng, mulutnya masih sibuk mengunyah roti bakar. “Nemu di koran lokal!”

Fiyan senyum-senyum geli. Tapi memang begitulah Rafi, yang paling ia suka karena kesamaan karakter dengannya, spontan, nggak pake basa-basi, bicara ceplas-ceplos, apa adanya. Tak jemu ia menatap Rafi dari sisi. Potongan rambut ikalnya tetap terpangkas rapi. Bedanya sekarang postur badannya lebih tinggi dan gemuk berisi.

“Laper ya Raf?”

“Nggaaaak… salahnya roti bakar buatanmu ini terlalu enak!”

“Mau aku buatin lagi roti bakarnya? Eh, dah makan belom? Makan dulu yuk, aku masak,”

“Aduuh! Jangan Fiyan. Tar aku jadi pingin ikutan masak ke dapur,”

“Hahaha… dasar! Tapi…serius Raf? Jadi kamu nyari di iklan biro jodoh?”

“Hahahaha! Nggaklah! Biarin gw a-be-ge jadul tapi gak gitu-gitu amat kaliii… maksudku, di samping kerjaan formalku jadi oeprator IT, aku punya kerjaan sampingan sebagai editor freelance di sebuah situs berita online. Nah, dia itu editor junior yang baru-baru ini mesti aku training,”

“Ooowalaaa Raf…hahahaha….tapi kerjaanmu asik banget tuh! Terus kapan dijadiinnya?”

“Haaahh… kita cuma iseng aja kok,”

“Iseng gimana? Raf, please deh jangan main-mainin perasaan cewe gitu donk! Bisa kualat tau,”

“Kita sama-sama masih jomblo, terus buat mengamankan situasi kita sama-sama sepakat masang marital status engagement di facebook biar orang-orang di sekitar masing-masing kami pada berenti nyerocos sok tau tapi sebenernya gak tau perasaan kita, gitu,”

“Berarti Vidi Aldiano donk kalian?”

“Hah? Kok Vidi Aldiano?”

“Status Palsu!”

“Hahaha… bisa aja kamu Fiyan! Status palsu juga cuma di mpes mbuk doank, di luar sih kita jalan masing-masing,”

“Ampuun Raf…ck…ck…ck…kelakuanmu, Rahmaa…n,”

“Ha? Rahma?”

“Nama kalian berdua udah cocok tuh… ,“ Fiyan mulai cekikikan.

“Rahmata….. Rafi Rahmansyah…whuaaaaatt? Ooohh tidaaaakk! Ah, haseeem hahahaha….”

“Keberatan nih dipanggil Rahman?” Fiyan makin meledek.

“Keberatan. Rafi is enough,”

“Kirain pingin dipanggil ‘sayang’,”

Sekali ini Rafi menatap geram pada lawan bicaranya, meski sumpah mati seketika badannya berasa diilikkitik, geli mendengar celoteh Fiyan. Aah… canda ini serupa masa remaja dahulu. Masa itu benar-benar ngangenin.

 

“Anak kamu lucu ya Fiyan, bulet temben,”

“Fahri dah umur tiga tahun. Tuh dia kalo dah main sama anak-anak tetangga anteng banget. Heee… kirain anakmu udah berapa, taunya malah status palsu…”

Rafi terkekeh.

“Eh, Raf, sejak kita ketemu di fb kok aku kangen banget ya?”

“Haa? Aduh please Fiyan, jangan… kamu kan dah merid,” Rafi nyengir.

“Ampuuun ge-er deh lo! Aku tuh kangen sama cerpen-cerpen karyamu,”

“Oooo….hahahaha… aku emang dah lama gak nulis cerpen, Fiyan. Paling sekarang aku lebih seringnya bikin artikel tentang dunia komputer,”

“Napa siih Raf? Padahal aku suka banget tuh cerpen yang kayak dulu kamu tulis, tentang kakak ketemu gede jadian di Pantai Carita,”

“Hadooooohh Fiyan….Fiyan! Beneran ya kamu masih inget itu semua? Hehehe…itu kan inspirasi dari acara perpisahan sekolah kita,”

“Dan aku sumber inspirasi untuk tokoh utamanya kan?”

“Jadi malu deh gue! Okelah, aku mau buat lagi tulisan baru. Ini tentang kisah suksesnya wirausaha cheestick cantik! Setuju?”

“Tar dulu, yang cantik yang bikinnya ato cheesticknya nih?”

“Ya’elaaa… dimana-mana cheestick tuh pada meringkel begini nih… yang buatnya donk!”

Fiyan senyum-senyum lagi menatap Rafi.

Rafi terhenti mengunyah cemilan. Semburat merah terlihat di wajahnya kini. Aah.. ada-ada aja ya cerita kita jaman sekolah dulu? Lelaki gagah itupun mengulum senyum pula.

——————————

Senja merayap perlahan. Malam pun turun tanpa bintang menggantung di langit. Hanya angin sedikit berhembus menyusup malu-malu melalui celah-celah jendela. Rafi merebah setelah menggelar kasur busa di depan televisi di ruang tengah rumah keluarga Mas Haris, kakaknya. Malam ini Mas Haris dan Mbak Intan sedang pergi menghadiri undangan di Bogor. Kebetulannya ada Rafi jadi sekalian bisa jaga rumah.  Jumpa sore tadi begitu mengesankan, setidaknya untuk sekadar sebuah kisah nostalgia, hanya itu. Rafi sendiri sudah berkomitmen, tak lebih dari sekadar mengulum manisnya permen buah reuni dengan seorang teman. Sekadar untuk mengobati luka karena bilah belati dari sebuah kenyataan pahit baru saja menoreh dinding hatinya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi yang sejak tadi tergeletak di atas meja kaca. Rafi sedikit agak malas untuk mengalihkan diri dari tayangan Ayu Ting Ting yang sedang nembang di televisi. Baru begitu Ayu Ting Ting selesai nyanyi dan turun panggung, Rafi mengambil ponselnya. Sebuah sms masuk.

“haii… malming kmn nih?”

Rafi langsung mengubah posisinya. Duduk bersandar. Senyum-senyum sendiri.

“mw tauuu aj. abiz nemenin nyanyi ce imut yg lg nyohor”

“capa ciii? *p-nasaran mode on nih*”

“ad dueeh, tar jg km tw. btw, Radian dah plg? ko mlh sms-in aq? kgn yaa? :D

“ge-er abizz! yee… udh tuh. dia lg mandi. aq lg nyiapin mkn mlm buat my darl n jagoanku”

“truz? crtnya smbl masak jd keinget k aq ya? hehe… bole donk ge-er? halah!”

“hihi… Raaff… aq ga tw knp jd begini ya rasanya? jd ke bw2 k sayurnya nih, asem, asin, an..curr xixi…miss u co much, *uhuk!*”

“waduh!2x jgn smp aq p’nyebabnya yaa yan. aq cm berkujung k rumahmu. ga ad pa2x. kita baek2x aj kan? keep on like we’re in the past. okeh?”

“thx ya Raf. u always there as my guardian angel *aws jgn smp terbang lho! tar klo atap rmh jebol jd alih profesi jd tk genteng*”

“ha..ha…ha…..btw, yan bsk aq blk. senin kerja lg,”

“titi dj yaa..Raf. good luck! slm wat naila :)

“yo makacii. auahelap! hehe..”

:D klo k jkt lg kbri2 k aq, jgn ky petasan gt,”

“hahaha biarin!”

————————————————————————–

Senin pagi. Kembali ke aktivitas kerja seperti biasa. Setelah dua minggu kemudian Rafi baru menyempatkan diri lagi melongok situs jejaring sosial si biru putih sebelum ‘jam tayang’nya diblokir admin kantor dari mulai pukul 07:30 hingga 16:00. Hmm…. ada perkembangan baru dalam facebook Fiyan. Kini Radian sering membanjiri istrinya perhatian. Puisi-puisi cinta, lirik lagu-lagu romantis, atau sekadar menanyakan ‘sayang, sedang apa hr ini?’ hampir setiap hari dikirimkan Radian via facebook Blackberry ke Dinding fb istrinya. Setiap update-an status Fiyan pun selalu mendapat tanda jempol dan komen pertama kali dari Radian. Kata-katanya pun selalu romantis ajib puooolll! Hehe… jadi lebih mirip dua sejoli sedang pacaran aja :D

Iseng Rafi mencari-cari lagu-lagu best 90’s, memposting link musik dari situs Youtube, tanpa kata-kata pembuka apapun pada statusnya, tanpa tag pada siapapun. Yaiii! Besok atau lusa, ternyata Fiyan memposting link musik yang sama. To Be With You-nya Mr. Big, You’re All I Need-White Lion, I Will Always Love You-Whitney Huston, I’ll Be Your Everything-Tommy Page, sampai Rentang Asmara Kla Project. Hanya bedanya pasti langsung mendapat jempol dan komen dari suami tercinta.

Radian Aryasatya

“Sayank, napa ciih? Lagi demen lagu2 nostalgia ya?”

Fiyan Alveyoniya

“Abs lagu2 doeloe tuh kesannya tuh dalem banget, darl”

Radian Aryasatya

Sorri banget ya yank, next week tmnku gi cuti jd aku mesti double shift. Tar Insya Allah 2 minggu k dpnnya br libur. Kita wiken yuk!”

Fiyan Alveyoniya

Gpp darling. Gmn klo The Michael Resorts yg t4 wedding kita dulu itu?

Radian Aryasatya

Wah, ide yang bagus tuh! Chayankku memang jempol aah :) jd ga sabar pgn cepat pulang

Fiyan Alveyoniya

:D :D :D asal hati2 selalu di t4 kerja, my darl

Radian Aryasatya

Makasi my sweet love. Salam buat my baby boy, bilang papa kangen banget ama dia

####################

Dari depan layar monitor

HUEEEEKKK!!!

Rafi langsung menekan tanda silang di pojok kanan browser internetnya. Lah…??? Kok nggak sign out dulu Raf? Hehehehe….perih mata ya?

Haaah, what’s it all about! Back to work!

Teman yg paling baik ialah seseorang yang kita boleh duduk bersama di dalam buaian dan berbuai bersama tanpa berkata apa-apa pun dan kemudian berjalan pulang dgn perasaan bahwa itulah perbualan yang paling hebat yg pernah kita rasai.

(Kata Kata Romantis http://www.ocimweb.com/2011/11/kata-kata-romantis.html#ixzz1mWzVzH1d)

Rafi gelisah. Apa yang telah terjadi? Badai galau apa yang tengah melanda hatinya kini? Mengapa kenangan lama yang telah terlupakan kembali menyapa di depan mata. Rafi membuka notebook-nya.

R-Fi’s Documents:

Aku suka matanya, dan kini aku kembali melihat mata itu. Seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang melankolis, namun jenaka. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Tetapi tak hanya itu yang membuatku betah berada di dekatnya. Sudah berapa banyak gadis yang datang dan pergi dalam kehidupanku dari masa SMA, kuliah, kursus, dan di lingkungan kantor. Munculnya Fiyan kembali tanpa sengaja melalui situs jejaring sosial, nyata membangkitkan kembali semua kisah manis semasa berseragam putih dan biru. Meski dahulu hanya sebatas cinta monyet, namun hari-hari bersamanya nyaris tak pernah ada kerikil-kerikil tajam yang menusuk kaki hingga mengganggu perjalanan kisah kasih. Bersamanya, tak pernah kehabisan kata-kata perbincangan. Fiyan orang yang apa adanya sehingga membuat siapapun berteman dengannya betah dan mudah bersikap terbuka padanya, tanpa perlu ja’im mode-on. Fiyan tak pernah menampakkan kehebatannya, diam-diam saja ia mengukir prestasi di hampir semua bidang mata pelajaran di balik sikap kesederhanaannya. Fiyan teman yang menyenangkan juga untuk diajak jalan. Fiyan bukan tipe cewek yang pinginnya ditraktir melulu tetapi ia pun sering membalas traktiran makan atau nonton atau bayarin ongkos. Ia benar-benar gadis baik. Tak ada pula yang salah ketika kita berpisah tanpa saling berpamitan atau tanpa salah satunya memutuskan untuk mulai berhenti saling menulis dan berkirim surat via pos ketika kita sudah terpisah oleh jarak, ruang, waktu dan takdir, karena sebagaimana rasa yang dahulu kita miliki juga hanya sebatas pancaran sinyal dari hati ke hati yang tak pernah terdefinisi.

Ilustrasi

~ to be continued~