Derap

#cerita mini

Isya tak ingin menoleh sedikitpun. Justru ia lambai-lambaikan botol air minumnya, memindah-mindahkannya ke tangan kanan dan kiri. Dari suara telapak sepatu dan cara langkah itu menderap ia tahu Irfan sedang pula melenggang di belakangnya.

“Suara derap sepatumu khas banget,”

Isya akhirnya membalikkan badan setiba di ruang pantry. Irfan mengembangkan senyum.

Derap

“Kayak tentara ya?”

“Bukan, kayak satgas,”

Irfan tergelak. Isya tahu Irfan bukan pribadi yang mudah tersinggung. Kecuali satu hal di masa sebelum ini yang pernah terjadi, ketika badai amarah mengoyak keakraban mereka.

“Sepertiga air dingin, setengahnya air panas? Hmmm…kamu suka minuman panas ya?”

“Nggak jadi panas banget kok, tapi jadinya anget, apalagi setelah beberapa menit kuletakkan di ruang kerjaku, panasnya kalah sama dinginnya udara ac,”

Isya ber-oo pendek. Gilirannya menuang air dari dispenser.

“Nanti aku pasang peredam suara deh di sepatuku,”

“Haah?”

Irfan terbahak sembari ngeloyor begitu saja meninggalkan Isya di pantry. Masih berkata-kata Isya membalas candaan Irfan. Bahkan setelah derap sepatu Irfan nyaris tak lagi terdengar.

Satu menit sesaat Irfan merebahkan dirinya pada jok kursi kerjanya. Kedua lengannya menangkupi wajahnya. Sedikit sesal diam-diam menyusup ke dalam rongga hati.

Irfan~ Isya tadi masih membalas kata-kata gurauanku, mengapa begitu saja gegas langkahku menderap pergi? Lama sebelum ini tiada dirinya bahkan sekadar bersua sapa, manapula menyulam lagi segala kisah sederhana di sela jam ishoma. Damn! What a stupid I was! Sekerasnya mengepal tangan dan menumbuknya pada meja. Kembali menderap ke pantry? Mudah saja itu kulakukan dalam hitungan lima detik ini juga. Namun, Bukan Isya jika suka mengulang peluang yang terlewatkan.

Isya~ Masihkan perih terpendam dalam? Aku mengerti. Kata maaf yang kami berdua tautkan dalam ucap dan tatap belum tentu menjadi ramuan mujarab menyembuhkan serta-merta luka. Seperti paku yang kau tancapkan pada permukaan kayu, meski telah kau mencabutnya, bekas paku itu akan tetap tertinggal. Namun kuyakin, rongga bernama rasa itu dipenuhi oleh beragam aksara bermakna yang dari setiap kesan pengalaman diterima tak akan tetap sama. Seperti kini, rindu yang tanpa permisi menyergap kalbu setiap kali jumpa dirimu. Rindu akan masa lalu ketika berdua kita mencabarkan cerita-cerita sedehana.

 

Advertisements

Jum’at Diary

#cerita mini

Derai senyum mengembang di wajah bersegi. Mata kecokelatan membinar menyongsong sinaran bola kemuning surya di jelang senja. Pijakan kedua batang kaki kokohnya menjajak tegap di depan ambang pintu kaca. Sesekali ia membalas sapaan rekan-rekan yang melewatinya hendak pulang.

“Udah Jum’at lagi,”

Sosok tegap tadi menoleh pada arah suara yang dikenalnya.

“Kemana kita?”

Si pemilik suara memamerkan sederet gigi kelinci di balik rekahan senyum di wajahnya. Belakangan penilaian dirinya mulai mereka-reka tentang apa yang diingini pemuda yang dalam kurun dua tahun ini dikenalnya dalam tim kerja. Ada begitu banyak sang waktu telah menggiring mereka kesana kemari dengan tuntutan profesionalitas dibebankan di atas pundak mereka namun hanya sedikit saja sang putaran jam merelakan keluangannya agar individu yang bergerak di dalamnya saling mengenal secara pribadi.

“Sepertinya ada yang mulai mengajakku berkencan,”

Lelaki itu menengadahkan wajah. Tawanya menggelegar.

“Ge-er, kamu! Aku cuma pingin jalan, nyari makanan, dan ingin ada teman,”

“Sebelum ada aku di sini, terus kamu jalan sama siapa?”

“Sendiri aja,”

“Di kantor ini kulihat hampir seluruh penjuru bagian mengenalmu?”

“Sebatas rekan kerja. Kebanyakan mereka juga udah berkeluarga. Setiap jam pulang kantor, ada yang menanti segera kedatangan mereka,”

“Diplomatis sekali…”

“Jadi, kamu mau temani aku? Kamu juga kan nggak ada yang menanti cepat pulang di kos-kos an?”

“Iihh sembarangan… ada, tauk!”

“Oh ya? Siapa? Nggak mungkin ibu kos kan?”

“Bantal sama guling, termasuk cucian baju,”

“Hahaha….bisa aja kamu. Ya udah pulang dulu sana, mandi, ganti baju!”

“Yeiiiyy…emang tadi aku udah bilang mau diajak kamu?” Tanyanya meledek.

“Emang sejak kapan kamu berhenti makan malam? Udah sana pulang! Aku tunggu di depan portal kantor,”

“Baiklah. Tapi kita berangkat ba’dah Maghrib aja ya? Soalnya aku mau luluran dulu hihi…”

“Duh, ribet sih jadi cewek?”

“Emang kamu nggak suka kalau lihat aku cantik dan wangi?”

Lagi-lagi celoteh gadis belia di hadapnya mengumpan kepalnya untuk menjitak kepalanya, gemas. Namun tak pernah itu sampai ia lakukan. Menyentuh kulit tangannya saja ia hindari. Bayu menjaga sikap memperlakukan teman wanita berjilbab.

*****

Aku jatuh cinta pada Jum’at sore. Entah mengapa, seolah hari di jelang akhir pekan yang bernama Jum’at itu begitu syahdu untuk dinikmati secara khusyu lebih pula kala sang surya memamerkan senyum ramah pada hamparan langit hingga gelaran semula putih itu pun menampakkan rona tersipu jingga kemerahan. Dan aku agak membenci Sabtu. Karena aku harus bersabar menanti kembali datangnya Senin -bukan berarti pula I love Monday- Sabtu adalah makna ketika aku harus bersabar membiarkanmu sejenak pulang kampung, atau merelakanmu meluang waktu bersamanya, dia yang kau sebut cinta.

Tak ingin aku menyebutnya dalam konotasi bernuansa negatif seperti kebanyakan penilaian kacangan orang pada umumnya. Di mataku, everybody needs somebody. Bayu lelaki mapan, kapanpun seandainya dia mau bisa saja busur panah hatinya ia layangkan pada lajang yang bertebaran di kota tinggalnya ini. Dia lelaki baik sebaik  rupa fisik dan perilakunya. Meski sebagai pendengar yang baik pula dia agak bukan orang yang mudah bertutur tentang pribadinya, kecuali dirasanya berada dalam zona nyaman bersama seseorang yang bersedia meluang waktu bersamanya.

“Sedari tadi kita ngobrol kamu kok nggak memuji aku?”

Bayu menoleh sebentar saja. Fokus pandangannya menuntutnya menatap ke depan.

“Iya deh, kamu cantik, malam ini. Belum tentu besok, kemarin pun nggak,”

Bayu berkelit-kelit badan manakala tangan Diary mencubit manja pinggangnya.

“Hey…aku lagi nyetir nih,”

“Kita mau kemana Bay?”

“Warung tenda ikan bakar yuk,”

“Boleh, tapi bukannya kamu nggak suka makanan laut?”

“Untuk beberapa jenisnya, iya aku nggak suka. Misalnya…..ubur-ubur….,”

Bayu meski tak nenoleh ia tahu Diary memajukan bibirnya mencibir.

“Kamu suka nggak sop keong sawah? Aku traktir deh,”

“Huaaaa…dengarnya aja aku mual! Emang ada?”

“Aku nggak tau kalau kota ini, tapi dari googling, belakangan orang mulai mencari alternatif jenis makanan pengganti daging sapi yang harganya selalu bergengsi. Lebih pula, menurut Prof dr Hardinsyah, MS, Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, yang aku baca di salah satu media berita online, keong sawah memiliki kandungan gizi cukup baik meski belum bisa setara daging sapi. Keong sawah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein,”

“Kamu udah pernah nyoba?”

“Belum sih. Tapi nggak nolak kalau makannya bareng kamu, Bay,”

“Ry, suir aku pingin jitak kepalamu, deh,”

Diary tertawa geli.

“Kalau di daerahku udah mulai dibudidayakan dan gerai-gerai café nya udah mulai menjamur menyajikan menu sop keong sawah. Harganya masih sangat terjangkau, cuma sepuluh ribu rupiah aja per porsi udah termasuk nasi putih dan segelas teh hangat. Makanya Bay, sekali waktu cutilah, main ke kampung halamanku, nanti aku traktir makanan itu deh. Tapi nggak termasuk tiket pesawatnya ya, hihi…”

Mata Bayu kali ini benar-benar mentap gemas pada gadis yang puas tertawa cekikikan di jok sebelahnya.

“Kita udah nyampe, Bay. Kamu mau parkir di mana? Sepertinya di sekitar pagar alun-alun dilarang parkir,”

“Agak jauh, di depan supermarket sana, nggak apa-apa kan Ry kita jalan kaki agak jauh?”

“Kamu inget ga Bay? Kita pernah pulang abis nonton di XXI, naik angkot sampai kebablasan sampai ke situs pemakaman wali? Dari situ kita kan jalan kaki satu kilometer sampai ke rumah masing-masing,”

“Haha… waktu itu kita keasyikan ngebahas film,”

“Not exactly,”

“Hmm?”

“You love when you drawn in a conversation,”

“Hmm…okay, say that you’re right. I feel comfort when I found somebody talkative and also listening,”

“Have you found that one?”

Bayu masih sibuk dengan aktivitas mengunci pintu mobilnya.

“Yaa…”

Diary memandang wajah bersegi bersisian dengannya kini di trotoar. Mata kecokelatan itu balik menatapnya jenaka.

“Kamu, Diary-ku,”

“Yakin? Kenapa aku? Gimana kalau aku adalah sebuah diary milik orang lain? Nanti kamu kecewa,”

“Kemanapun seseorang itu membawamu, aku merasa nggak akan kehilangan kamu, karena aku yakin setiap Jum’at petang kamu akan teringat padaku, lalu menghubungi aku, dan kamu mengajakku bicara tentang film, karya penulis kenamaan favorit kamu, padu padanan dua atau tiga warna yang lalu kamu beri nama sesuka hatimu, makanan kesukaanmu termasuk keong sawah,”

Diary tak kuasa pula menahan gelak. Sok tahu memang kedengarannya. Namun nyaris tiada meleset. Bayu memang mengenal Dikta, kekasihnya yang kini tengah studi program magister di negeri Kangguru. Dulu Dikta sempat satu kerjaan dengan mereka. Nasib beruntungnya, Dikta memperoleh beasiswa S2 ke luar negeri. Dikta memang lelaki romantis tetapi ambisi akan dunia bisnis dan pencapaian karir di masa depan lebih mendominasi isi kepalanya. Dikta bahkan belum apa-apa sudah memutuskan supaya Diary meninggalkan pekerjaannya selaku editor dan desainer website Harian kota.

*****

“Jangan menguras air mata terlalu banyak. Karena nanti bahagia menjadi ragu mengetuk pintu hatimu, Diary,”

Bisik Bayu lembut di telinga Diary. Dibiarkannya gadis berparas cokelat manis itu menghamburkan sedu sedannya. Tiada sedikitpun kedua tangannya merangkul punggung Diary, meski secara naluriah betapa ingin ia rengkuh tubuh ringkih merebah pada pundaknya kini, menangis sejadinya. Pujaan sekaligus tambatan janji sucinya melenggang ringan begitu saja bersama wanita lain. Meski Diary awalnya beranggapan itu hanyalah isapan jempol belaka, tetapi teman-teman Diary yang kebetulan teman seperjuangan Dikta di bangku kuliah menyodorkan fakta foto. Pun sempat suatu dini hari Diary menelpon Dikta, dan yang menjawab telpon genggamnya suara seorang wanita muda. Spontan pula wanita muda itu berkata, adalah nyonya Dikta. Mereka telah resmi menikah bahkan sebelum Dikta berangkat ke Australia.

“Aku ingin pergi dari sini sejauh mungkin, Bay,”

Ungkap Diary suatu Jum’at sore usai jam kerja. Tiga bulan dirasa cukup mengobati luka hati dalam keberdiaman. Kini gadis berparas manis hendak mengepakkan sayap melanglang meski belum lagi terencana hendak kemana.

Bayu sebatas mengangguk. Disembunyikan dalam rasa memerih mendengar keinginan Diary.

“Setidaknya kabari aku dimanapun kamu mendarat. Atau aku akan tetap terjaga hingga pagi tiba,”

“Kamu nungguin aku sebegitunya, Bay?”

“Bukan, tapi emang aku sembari nonton tayangan premier league di tivi,”

“Baaayyy!

“Aku di samping kamu tapi kamu sudah merindukan aku, Ry? Aduuh…ampuuunn…”

Berkelit dalam sempit Bayu menghindari cubitan gemas Diary.

*****

Tahun ketiga namun semua kenangan tentang Diary masih hangat dalam ingatan. Jum’at sore di tahun kemarin Diary melenggang kembali ke kampung halamannya. Semenjak itu pula tiada sepatah kata sebait kalimat pun menyapa di layar ponsel Bayu. Pun di hari ketiga Bayu mencoba menghubunginya, sayang, nomor Diary sudah tidak aktif. Menjawab tanda tanyanya, nekad Bayu menyusul terbang ke kampung halaman Diary setelah memperoleh alamat rumah orang tua Diary dari rekannya di divisi HR. Tanda tanya yang lebih membentuk teka-teki misteri. Tiga hari Bayu meluang waktu untuk pencarian, selama itu pula hanya alamat kediaman yang ia temukan ternyata milik orang lain. Tiada satupun warga di pemukiman di sana mengenal nama Diary, termasuk foto yang diperlihatkannya dari layar ponsel pintarnya, pun nama orang tua Diary yang disebutkan Bayu. Hingga Bayu memutuskan kembali ke kotanya dengan nihil hasil.

Jum’at sore. Langkah Bayu menderap langsung menuju area parkir. Hasratnya pupus sudah memandang bola surya bercengkrama dengan langit yang berangsur merona jingga. Meski Diary entah di mana berada, masih Bayu menyisir setiap tepi trotoar yang dahulu pernah mereka lintasi berdua. Menoreh harap Diary dahulu ‘kan kembali, atau adakah Diary dengan lembar baru berkenan bersinggah menemani Jum’at sore kehidupannya?

Gorengan

#cerita mini

tempe

Masih derai merinai dari langit siang ini. Sebagai mana bulir itu mengurai membasahi pipi bulat telur pemilik wajah di balik tirai. Perempuan muda berambut tergerai sesenggukan. Tiada yang pasti memahami gerangan gundah gulana melanda hatinya. Pun karena ia tengah sebatang diri.

“Kenapa menangis?”

Si rambut gerai terkesiap. Hendak pula tirai pelingkup bingkai ia bentangkan agar tiada pula seseorang kan melihat lebih lagi dari jarak terdekat. Namun terlambat. Lelaki bertubuh segi empat dibalut jaket kulit berwarna cokelat tiada juga gegas beranjak.

“Kenapa menangis?” ulangnya. Seperti kali ini ingin benar sekali mengetahui sebab-musababnya.

Si rambut gerai hanya menggeleng. Gagal ia menghentikan sesenggukannya. Gegas ia beranjak meninggalkan bingkai kayu di hadapnya, pun termasuk membiarkan lelaki berambut pendek bermodel bulu landak itu termangu di depan jendela kamar yang menghadap ke ruas jalan setapak. Kedua belah telapak tangannya dibenam ke dalam kedua saku jaket. Bibir tipis kemerahan membentuk garis senyum di bawah tulang hidung berbentuk angka tujuh menukik terbalik, gurat pelipisnya terlihat tegas. Alisnya berbentuk lengkung menaungi sorot mata ramah berwarna kecokelatan menyiratkan rasa iba teramat dalam.

Mungkin lebih baik aku berjalan-jalan keluar rumah. Setidaknya cuaca di luar tinggallah rerintikkan hujan. Siapa tahu udara dingin bisa menghibur lara di kalbu. Meski entah akan kemana. Begitu bersit si rambut gerai. Langkah kecilnya mulai menyusur lorong menuju ruang tamu dan segera ia membuka ambang pintu. Tiada seseorang pun di luar. Bahkan pemuda tadi. Ah, siapalah dia. Nggak penting.

Lepas dari mulut gang. Aspal jalan raya masih menghitam basah akibat guyuran hujan sejak pagi. lalu lalang kendaraan beroda jarang melintas. Adapun melintas dengan kecepatan sangat tinggi di jalur penghubung antar kota ini. Si rambut gerai menyisir tepian jalan aspal. Satu kilometer di depan sana ada hypermart. Mungkin dengan berjalan-jalan sekadar melihat-lihat fashion atau produk-produk terbaru bisa mengusir gulana dari antah berantah membadai di benaknya sejak pagi. Lebih, food court di dalamnya selalu mengepul-ngepulkan asap dari bakaran ayam yang citarasanya limpahan bumbu rempah yang melimpah sangat khas dan nikmat. Sukar ditemui di resto cepat saji atau pujasera manapun.

“Kamu mau kemana?”

Jenis suara itu masih terekam di kepala si rambut gerai. Dia menguntitku??

“Kenapa sendiri saja? Kamu masih sedih?”

Tanyanya lebih jauh. Dan lebih percaya diri untuk bertanya seperti itu pada orang tidak dikenal.

Si gerai menyeka pipinya. Meski bukan karena basah dari air mata tetapi akibat rerintikan air dari langit yang masih menggelayutkan mega kelabu.

“Aku mau ke hypermart,” akhirnya si rambut gerai bersuara.

“Terus, kenapa kamu kelihatan sedih? Baiklah. Kuharap ini bisa mengobati kesedihanmu….”

Cekatan tangan kanannya merogoh saku belakang celana jeans untuk mengambil benda persegi kecil berbahan kulit. Dari kelopaknya cekatan pula tangannya memilah-milah lembaran merah dan biru yang tersusun rapi. Mungkin ada dua atau tiga lembar berwarna merah dan satu lembar berwarna biru cepat ia gulung-gulung dalam kepalannya lalu disodorkan tanpa basa-basi pada si rambut gerai.

“Terimalah….”

“Apa? Nggak. Makasih. Aku nggak mau itu!” Tukas si rambut gerai mulai ketus. Berani-beraninya sosok pemuda yang tidak dikenal ini tadi dia bertanya di depan jendela kamarnya, lalu menguntitnya, dan kini memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu padanya secara cuma-cuma. Apa yang di kepala lelaki mungkin sama. Beranggapan jika mereka mengepal sejumlah banyak nilai tukar barang lantas dengan mudah beranggapan setiap perempuan adalah jalang pun bisa dibeli serampang tanpa pandang.

“Nggak apa-apa, terima aja. Aku nggak akan minta imbalan apapun kok,”

Ulangnya seolah mengerti keambiguan berputar di benak si rambut gerai. Tetap berkeras menolak. Kedua bilah lengannya dia sembunyikan di belakang punggungnya. Kepala bulat telurnya menggeleng. Matanya menyipit pada lelaki sebaya di hadapnya. Lancang sekali! Apa yang akan membersit di kepalanya andai saat ini A’ Rayan, suamiku tiba-tiba muncul di dekat sini. Dia pasti akan segera menghujani wajah tampan pemuda ini dengan tatapan tajam dan gerahamnya yang turut menggeretak. Sayang, dia sedang dinas keluar kota semejak dua hari silam. Rutuk si rambut gerai membatin.

“Jadi, kamu beneran nggak mau uang ini?”

“TID… DAK!” Desis si rambut gerai dengan tatapan mulai menajam. Biarpun ia yakin persis di dalam lipatan dompet di saku celana panjangnya tinggallah selembar lima puluh ribu dan selembar lima ribu, tetapi menerima begitu saja beberapa lembar bernilai tinggi dari seseorang tidak dikenal, tanpa asal-muasal, sebab-musabab, sama saja dengan penistaan terhadap harga diri. Siapa pula gerangan akan menduga andai lelaki di hadapannya ini meski terlihat simpatik justru tengah menghipnotis dirinya dan hendak menjerumuskannya ke dalam jurang kenistaan?

“Ya baiklah. Kalau begitu… Alhamdulillah….” Ujarnya kalem. Beberapa lembar kertas bernilai tinggi tadi dimasukkannya kembali ke dalam lipatan dompet kulitnya. Tangannya tak urung mengelus bidang dadanya. Masih berujar ucapan syukur dari bibir tipisnya yang menyimpul senyum.

“Kamu mau ke dalam sana?”

Masih dengan intonasi ramah ia sembari menunjuk pintu kaca hypermart. Beberapa orang terlihat masuk dan keluar sembari menenteng beberapa bungkusan kantong belanja. Saat pintu kaca membentang otomatis, terhambur aorma dari kepulan asap bakaran ayam dari dalam. Udara dingin di luar makin meramaikan suara perut yang sejak tadi menyenandungkan irama lapar. Si rambut gerai melenggang ke dalam hypermart. Pada salah satu meja kosong dengan empat buah kursi, ia menarik satu darinya. Jemari lentik berhias lingkar logam mulia tipis cekatan meraih lembar daftar menu di atas meja, matanya meneliti satu-persatu daftar makanan dan minuman yang sangat menggoda. Jauh di lubuknya menyenandungkan angan, harapan paling bodoh yang tiba-tiba mengalahkan logikanya, berharap si pemuda tadi masih menguntitnya lalu menghampiri dan duduk di hadapannya, menanyakan pesanan tipe ayam bakar dan minuman yang diinginkannya, dan terakhir, setidaknya melunasi billnya di kasir. Bodooooooooohhhh… andai diterimanya saja beberapa lembar berwarna merah dan biru tadi, tak akan habis seketika untuk satu porsi nasi pulen, dengan ayam bakar beraroma khas, serta sambal selera tiada tara dan irisan lalapan, dan satu gelas jus buah segar. Toh, dia bilang, tidak meminta imbalan apapun. Lalu adakah argumen paling masuk akal untuk menolak rejeki yang tiba-tiba turun beriringan dengan derai hujan dari langit?? Mata kecil si rambut gerai diam-diam melirik ke arah pintu kaca. Berusaha sekuat mungkin agar kepalanya tidak ikut menoleh, khawatir si pemuda tadi masih bediri di luar akan menyadari kalau dirinya kini mencari-cari. Duuh…. kemana dia?

Desahan pelan mengembus dari hidung mungil. Si gerai berdiri. Langkahnya hendak meninggalkan meja. Batal memesan. Mungkin lebih nyaman kalau beralih saja dulu melihat ada produk baru apa di hypermart.

“Kamu mau kemana?”

Sontak si rambut gerai tergugah. Matanya membelalak. Semata karena kini lengan kirinya ada yang menggenggam. Namun perlahan dilepas.

“Mau makan, tapi nggak jadi , lihat-lihat aja dulu lah ke hypermart,”

“Kamu lapar? Mau aku bayarin?”

Si rambut gerai terlongong. Seolah kini jiwanya tergiring semilir.

Si pemuda menelunjuk ke arah luar pintu kaca. Mata si rambut gerai mengikuti.

“Di sana… yuk!” Ajaknya tanpa rasa canggung sedikitpun. Sekali lagi tangan kanannya menggenggam lengan kiri si rambut gerai hingga mau tidak mau langkahnya mengekori langkah panjang si pemuda. Berdua mereka menghabiskan langkah pada lantai paving block hingga batas pagar halaman hyhpermart. Si gerai rambut celingukan bingung. Apa yang tadi ditunjuk oleh si pemuda ini?

“Bang… gorengan campur ya, sepuluh ribu, pake cabe rawit sama petis,” pintanya pada penjaja gorengan dengan gerobak yang tengah mangkal di sudut pagar halaman hypermart.

Tiada sedikitpun kecanggungan tergambar di wajah tegasnya. Si pemuda mengajaknya duduk di atas dinding semen pembatas selokan di depan pagar halaman hypermart. Tangan kanannya sibuk menyuap satu demi satu gorengan dan tangan kirinya memegang bungkusan gorengan yang dikuaknya lebar setelah berulang kali mengajak si rambut gerai duduk dan menyantapnya bersama. Ooohh…. gorengan…. thok.

#cerpenagnez
Thank’s to B*, cerita bunga tidurnya so inspiring :mrgreen:

 

Secangkir Wedang

#cerpen

“Kita udah tinggal lima ratus meter lagi ke pos lima!!”

Jay mengulurkan tangan ke belakang punggungnya. Lama tersambut. Pengiring di belakangnya dengan sengal nafas menggumamkan sesuatu.

“Gue lelah, Jay,”

Jay mengabaikan keluhan teman sependakiannya. Sama seperti pendakian ke Rinjani beberapa waktu lalu.

“Ayolah! Sedikit lagi, pasti nggak akan kerasa,”

Mereka menapak dalam senyap. Sesenyap alam rindang melingkupi jalur yang mereka lalui.

Kembali Jay memecah kebekuan yang kian mendingin.

“Pake jaket gue nih…”

Rayna diam sembari memeluk erat kedua lututnya. Meski api unggun telah menyala beberapa meter di area pos. Jay bangkit gegas membuatkan minuman wedang hangat. Tiada pula gadis manis itu geming. Jay duduk di sebelahnya menyodorkan secangkir minuman hangat. Kilap-kilap kelebatan api sekilas pintas menerangi wajah Rayna. Kekhawatiran merayapi kalbu. Ada apa denganmu.

“Sakit Ray?”

Rayna menggeleng. “Aku hanya lelah,”

Jawaban Rayna masih serupa tadi. Tidak. Ini bukan Rayna. Setahun lalu mengenal Rayna adalah sosok pendaki mumpuni, tegar, hingga beberapa puncak telah bersamanya mereka kibarkan keberhasilan pencapaian.

“Kalau lo sakit. Kita turun besok. Gue siap anterin lo berobat,”

Rayna tetap menggeleng. “Kita terus naik, Jay.”

“Gue hanya ngerasa nggak nyaman kalau di antara kita meneruskan pendakian dengan keadaan seperti ini, lo terus mengeluh tapi masih ingin kita terus naik…”

“Jay! Bisa diam nggak?!” Hardikan Rayna menggelegar. Wajah kedua teman mereka menoleh. Ara pelan menghampiri. Tetapi sedikitpun dia juga tidak ingin terburu-buru mengajukan tanya, melihat mimik tidak nyaman dari kedua temannya. Jay beringsut menjauh. Ara mendekat di samping Rayna. Menepuk-nepuk pundak temannya. Membisikan tutur menghibur.

“Baiklah…istirahat dulu sob. Kalau lo capek kita bisa teruskan pendakian besok subuh,” Ara berjingkat mengambil ranselnya yang menggeletak agak jauh. Awan bergulir melarutkan kelamnya langit.

“Mungkin dia memang capek aja, Jay,” bisik Ara setelah Rayna terlelap dalam rundungan  tenda.

“Nggak biasa dia begitu, Ra. Dua kali pendakian terakhir dia selalu mengeluh lelah, capek, dan segala turunannya. Kalau dia capek kenapa masih mau ikut?”

“Gue rasa dia lagi galau, sob,” Imran ikut nimbrung. “Mungkin lagi ribut sama cowoknya?”

“Sejauh yang gue tau Dika ngijinin aja Ray mendaki,” Sanggah Ara.

“Mungkin Ray nggak mau bilang ke kita kalau diam-diam dia mengidap penyakit dalam,”

“Huss…ngawur aja lo Im!”

“Wedangnya nggak diminum tuh… buat gue aja kali ya?” Imran gegas menghampiri cangkir minuman hangat yang sedari tadi tak disentuh.

Beragam duga bagai dengingan nyamuk berkecamuk. Jay tak ingin meneruskan. Lebih memilih melelap bersama angin malam meski matanya tiada kunjung mau memejam. Berharap esok sapa hangat mentari pagi mengubah dinginnya jiwa namun kenyataannya tak seindah harap semalam.

Sebagaimana ritual setiap usai pendakian satu ketinggian gunung, berempat di penghujung pekan mereka berkumpul di Tora Café. Kedai ngopi bernuansa serba kayu di tepian deraian air terjun hulu sungai. Tiga puluh menit bergulir semenjak kedatangan mereka bertiga diwarnai jabat erat dan peluk hangat persahabatan, hingga air yang tadi memenuhi cangkir mereka tinggallah sepertiganya. Begitpun piring yang dipenuhi cemilan menyisakan remah.

Mereka saling berpandang. Dan seolah saling pula bertukar pikiran dan mereka tahu persis jawaban yang mesti mengemuka di atas meja kayu bundar. “Gue tau, gue mesti wa dia,” sahut Ara.

“Nggak Ra, biar gue aja,” Jay mengeluarkan handphone dari saku jeansnya.

“Guys, nggak usah mendingan…” Cegah Imran.

“Mungkin dia udah berganti haluan. Dunia kan luas, guys. Angin bisa meniupkan arah kapal kemana aja sekehendaknya,”

“Maksud lo apa Im? Nggak usah sok puitis gitu deh…” Sergah Ara.

“Kalian kan nggak sekantor sama Ray. Jadi cuma gue yang tau, cuma gue yang jadi saksi. Seminggu kepulangan kita dan balik ke kantor, gue liat Ray sekarang dianter-jemput Jag XE R-Sport. Entah siapa laki-laki pengemudinya, yang pasti sih bukan Dika,”

“Mungkin itu hadiah dari Dika buat Ray, terus yang bawa sopirnya,”

“Ngawur kamu Ra! Mana ada nyonya sama sopirnya cipika-cipiki mesra sebelum turun,”

Ara baru saja ingin melepas gelak. Sesaat menahan ketika melihat air muka Jay. Tangan Ara menepuk-nepuk pundak lelaki di sebelahnya. Diikuti oleh Imran.

Angin khas pegunungan masih setia menghilir. Membelai-belai manja dedaunan yang berdesak-desak menggantung pada juntai batang-batang kayu pepohonan.

Hari ini, masih serupa di setahun kemarin. Secangkir wedang hangat dengan kepulan asap tipisnya perlahan terangkat, diletakkan di atas batu datar dekat api unggun. Mata itu masih sejak tadi pula menatap secangkir minuman hangat di hadapannya setelah setengah gelas miliknya dalam genggamnya ia reguk. Kedua teman sependakiannya hanya bisa menatap iba pada pemuda berambut ikal beralis tebal yang kini hanya mematung menatap cangkir wedang masih berisi penuh di hadapannya.

Ray sudah lelah Jay, … berada dalam kabin Jag tentunya lebih nyaman ketimbang secangkir wedang.

 

 

01 Mei 2017

From the Café

DSC00206
Ilustrasi dari Raihan’s Blog

#cerpen

Hujan sore itu mengurung langkahku dalam ruang kerja, hingga tak mungkin bagiku untuk bergegas pulang atau memilih tempat tujuan lain untuk bepergian usai jam kerja. Menyelempangkan blazer biru pekat pada sandaran jok berkulit hitam. Beranjak dari kursi mendekati dinding kaca ruang kerjaku di ketinggian gedung. Kulayangkan pandangan menembus benda bening tersebut walau pemandangan di luar masih buram akibat hujaman air hujan. Hampa. Hanya ilusi yang dapat membawaku melayang kepada sebuah kenangan.

~~~~~~~

Entah sudah berapa lama kita menghabiskan detik-detik hingga menghasilkan nilai menit dan hitungan jam untuk duduk di dalam café. Bahkan bulir-bulir orange juice yang kupesan pun sudah tak lagi bersisa dalam gelasnya. Begitu pula cangkir cokelat panas di hadapanmu tinggallah menyisakan warna kelat. Namun kita seperti orang yang paling memiliki sang waktu dan mempunyai stok bahan perbincangan yang tiada berbatas. Tak ada sesuatu yang sangat penting dalam obrolan senja kita, hanya cerita nostalgia antara dua orang teristimewa yang lama tak bersua.

“Pulang yuk! udah jam delapan,”

Kulihat dirimu bergegas dan menggumamkan sesuatu. Samar kudengar kau bertanya kapan aku akan kembali ke kotamu. Aku tak terlalu menghiraukan dan melenggang menuju ambang pintu café. Meski hujaman air di luar sana masih terus mengguyur.

“Hujan, Sean!” Dari dalam tasmu kau mengeluarkan sebuah payung lipat. Lagi-lagi aku tanpa hirau dan terus menyusur halaman café menuju jalan raya. Kau mengejar dan memayungiku, lalu merengkuh pundakku hangat. “Jangan hujan-hujanan donk! Nanti kalau sakit kamu nggak bisa pulang!” katamu menasehati.

“Hujan kan air, orang kalo mandi aja nggak terus jadi sakit kok,” kilahku bandel.

“Eh, jangan sok kuat deh! Nanti kalo kamu kenapa-napa, aku…”

“Kenapa? Huh! Sok-sok nasehatin, pantesnya kamu jadi kakakku aja deh!”

“Hmm… ga pa pa. Jadi selain kakak juga boleh!”

Aku langsung menoleh. Menatap bola matamu yang hitam kecoletan ketika itu sedikit terhalang oleh rambut ikalmu yang terbasahi tetesan air hujan. Sebagaimana percikan rasa dari tempat yang paling jauh di dalam sana selama ini terhalang oleh keadaan, dan suara percikan rasa itu pun senantiasa teredam oleh kekuatan logika kita masing-masing. “Jadi seseorang yang lebih berarti bagimu,” lanjutmu.

Aku terus berusaha mencari tatapan jenaka yang biasa terpancar dari binar bola matamu. ‘Kau pasti bercanda, kan?’ tegas hatiku meyakinkan. Namun sama sekali candaanmu tak kutemukan dalam balasan tatapan matamu terhadapku. Malam itu.

****** (sensor)

“…..ve you, Sean…” hanya itu yang terdengar dari bisikannya selebihnya aku hanya mendengar suara gemuruh hujan dan deru kendaraan bermotor di jalan raya.

Siapapun boleh mencercaku, mencaci-maki sosok ringkih dengan gerai rambut sebahu dan berwajah manis ini. Malam itu dalam pembicaraan di telepon, aku tahu niat baiknya hanya ingin memastikan malam itu aku sudah sampai di rumah tanteku dalam keadaan tiada kurang sedikitpun. Namun tekadku sepanjang perjalanan tadi sudah kian membulat. Pula tak kalah keberanian yang mampu kuhimpun untuk mengungkapkan.

“Den, sebaiknya kita nggak usah ketemuan lagi,”

“Loh, apa maksudmu Sean?”

“Kita lupakan jumpa senja tadi. Aku merasa begitu nista seolah kian mengkhianati Erin. Kita bersua hanya berdua, tanpa kehadirannya lagi,”

“Sean….” Nafasmu terdengar memburu.

“Aku ngerti betapa Erin sangat berarti buatmu. Kamu mengenalnya sebelum aku menemukan kalian. Aku juga peduli pada Erin. Aku juga merasa kehilangan dia.”

“Erin lebih memandang berarti kehadiranmu, Den. Sejak dulu kalian lebih banyak menghabiskan waktu bersama di sela-sela jam kuliah, kalian klop dalam segala hal, selera makan, film, musik, dan kalian partner debat yang hebat dalam setiap forum seminar di kampus karena sesama penggila buku pengetahuan dan informasi berita aktual. Dan kamu ingat Den dulu aku sempat menghilang dari tengah kalian selama kalian tengah berkutat menyusun skripsi dan berlomba mendapatkan nilai terbaik hanya karena aku ingin lihat sahabatku Erin bahagia. Bahagia karena memperoleh impiannya. Bahagia karena menemukan tidak sekadar sosok sahabat, partner diskusi, tetapi seseorang yang sekaligus mengerti dirinya. Karena aku tahu, kebahagiaan Erin hanya akan sementara.”

“Kamu irasional Sean. Aku dan Erin bersahabat. Sama seperti halnya denganmu. Bukankah setahun setelah kelulusan Erin juga pada akhirnya menikah dengan pria yang mencintainya. Lalu apa yang salah kalau aku mengajakmu jalan? Sekadar nongkrong menghabiskan senja seperti dulu? Bukan aku tidak ingat pada Erin. Di sela ibadah pun aku selalu menyisipkan doa untuknya agar ia tenang disana. Di lain pihak kamu tahu selama ini aku tidak pernah mempersoalkan entah kamu sedang jalan dengan siapa, sedang dekat dengan siapa. Sore ini hanya beberapa jam saja kita meluangkan waktu untuk sekadar berkisah setelah bertahun kita terpisah, kamu bilang nista?? Aku begitu peduli padamu selama ini, menyayangimu tanpa berharap balas sejak awal mengenalmu, lalu ternyata begitukah pandanganmu tentangku?”

“Bukan…bukan begitu maksudku, Den… aku… hallo… Den.. Denish….”

~~~~~~~

“Masih mau lembur, mbak?” Pertanyaan dari seorang Office Boy di belakang punggung tiba-tiba menyadarkan diriku bahwa sebenarnya pijakan kakiku kini berada di dalam ruangan lantai lima gedung kantor, bukan di pekarangan café.

“Ya. Biar nanti kuncinya saya yang kembalikan ke pos,” jawabku mantap dan membiarkan si OB pamit pulang. Kembali tatapanku menembus dinding kaca. Mencoba mencari kembali bayang-bayangmu di masa lalu untuk menghibur kepenatanku di sini.

By: Mutz
July 8, 2010 | 08:40 AM

Hujan, entah dia merinai, merintik, atau menghujam, turunnya ke permukaan bumi membasuh setiap permukaan tanpa penghalang kadang menyusupkan pula inspirasi ke dalam jiwa dan pikiran hingga tercipta karya dari apa yang dirasa. Tetapi percayalah, sederas bagaimanapun derainya janganlah lena terbawa hanyut oleh dendang kata tersirat, karena kisah ini dirangkai di musim panas.

:mrgreen:

Pemadam Hati yang Terbakar

#cerita mini

Pemadam Hati“Aku pengen berhenti, Ren”

Sembari masih mengulum ice cream dan menahan dinginnya dalam mulut Kiren sahabatku menoleh sejenak saja. Pandangan kami masih lurus menatap tepi laut nun jauh yang seolah tak berbatas dengan apapun. Menjadi tradisi setiap Jum’at sepulang ngantor kami meluangkan sejenak senja duduk-duduk di tepi dermaga sekadar menghantar mentari sore hingga ke ufuk.

“Berhenti? Dari apa?” Kiren membersihkan kedua telapak dan pipinya dengan tissue. Ia menyodorkan sebungkusnya padaku.

“Dari dunia maya.” Jawabku. Selembar tissue kuambil.

“Untung ice cream-ku udah habis. Aku bisa tersedak gara-gara celotehmu,”

“Aku lelah Ren. Jenuh”

“Wait…wait a minute, dear sahabatku, apa sih sebenarnya yang kamu bicarakan? Tadi kukira kamu ingin berhenti dari job. Makanya aku udah siap-siap menutup telinga karena pasti bagai suara petir andai kamu ingin mengatakan itu. Secara aku kenal kamu dari dulu, ambisius.”

Aku terkekeh.

“Aku ingin berhenti dari dunia maya, karena selama ini seolah aku berprofesi sebagai pemadam kebakaran,”

Kiren mengerutkan alis.

“Setiap kali aku online entah itu di facebook, twitter, bbm, wa, path, dll, selalu ada dia, dia, dan dia yang entah itu siapapun datang menyapaku untuk kemudian membagi masalahnya padaku. Tak sekadar berbagi tidak jarang aku dimintai saran, sudut pandang, hingga solusi dengan dosis terendah sampai tertinggi.”

“Artinya mereka percaya sama kamu, Dee,”

“Idealnya seperti yang tampak di permukaan,”

“Kalau begitu kamu buka jasa curhat online aja, Dee. Mana tau bisa jadi sampingan yang menguntungkan?”

“Untungnya dimana?” Cibirku. Kiren tertawa.

“Terus, aku masih nggak ngerti yang kamu sebut tadi pemadam kebakaran?”

“Iya. Ibarat petugas pemadam kebakaran. Tiap orang pasti memiliki masalah. Pada umumnya setiap orang pula beranggapan masalahnyalah yang paling utama dari apapun dan siapapun. Masalah asmara, masalah rumah tangga, masalah uang dan banyak lagi. Aku selalu dimintai jawaban solusi atas persoalan mereka. Kadang tanpa kenal waktu. Seusainya kutunaikan segala kesediaanku memadamkan suluh masalah, mereka tinggal pergi dan berpesta pora bersama sanak, kerabat, dan orang-orang dekat di hati. Cukuplah mengimbalkan pemanis bibir dan sangka aku kan percaya pada omongan kosong. Aku tidak meminta imbalan materi dan bahkan tidak tertarik pada bayaran andaikan mereka anggap seperti itu. Tetapi aku lelah. Sedikitpun aku tidak pernah menjadi bagian manakala bunga-bunga taman hati mereka merekah, namun aku yang dipanggil dan mengapa pula biarkan hati terpanggil manakala si jago merah mencoba mengoyak ketenteraman hati mereka?”

“Hmm… artinya, mereka memperlakukanmu seperti recycle bin untuk setiap permasalahan pribadi? Tapi mereka lekas melupakanmu ketika masalahnya sudah sirna?”

“Yep. Recycle bin.”

“Tapi…bukankah setiap kita pun pasti ada aja berbagi masalah pribadi terhadap orang yang kita percaya? Kau pun mempercayai seseorang kan untuk menumpahkan uneg-uneg?”

“Aku jarang berbagi masalah Ren. Karena yang aku temukan biasanya bukan penyimak-penyimak yang rela meluangkan waktu sebagaimana aku setia meluangkan waktu untuk mereka. Jangankan aku berbagi tentang suatu masalah, bercerita tentang keluargaku pun orang-orang seperti itu tidak sedikitpun menyimak kecuali cukup dengan…..’oooohhh begitu’-nya.”

“Kamu memang Rossa ya? Tegar. Baiklah. Sekarang aku mengerti. Saranku, ambilah keputusan tepat di kala tidak sedang ada bara pula membakar perasaanmu, Dee. Masih ada aku kan Dee?”

Pancaran bola senja kian menemaramkan pijaran cahayanya. Berganti dengan lampu-lampu menara yang mulai menampakkan gagahnya menyambut cakrawala malam. Kiren dan aku beranjak meninggalkan dermaga. Kembali ke parkiran dan tenggelam di balik kemudi masing-masing.

Inspirasi Langit

#cerita mini

“Apa yang kau lakukan saat aku berhenti sejenak dari menyapamu via bbm/sms?”

“Banyak. Beberapa pekerjaan harus kuselesaikan,”

“Aku mengirimimu bbm/sms kan di malam hari? Kau mengerjakan apa?”

“Menulis, bikin cerita-cerita pendek,”

“Manaaaa? Mauuu donk aku baca karya-karyamu?”

“Buka aja xxx.com itu tulisanku,”

“Berarti…. aku mengganggumu? Menyita waktu dan perhatianmu hanya untuk meladeni isi pesan-pesan tidak penting dariku?”

“Sama sekali nggak kok. Aku senang mengobrol denganmu. Kau selalu berbagi tentang banyak hal yang selama ini aku belum tau,”

“Kau curang!”

“Curang?”

“Ya. Selama ini selalu saja aku yang berbagi kisah. Kau nyaris tak pernah. Aku jadi suka kebablasan, bercerita tentang semua yang kualami, baik suka mapun duka, dan lupa kalau kau pun manusia biasa yang mungkin mengantongi banyak persoalan,”

” :)“

“Nah, kau selalu begitu kan? Pamer senyum dan menyembunyikan probabilitas galaumu sendiri?”

“Aku tidak galau. Suir. *ngacungin dua jari..tiga jari..empat jari* “

“Hahaha….lagi-lagi kau pintar menghibur orang. Tapi… kau jangan begitu, karena siapapun akan mengira kau adalah empty recycle bin yang selalu siap menampung setiap masalah orang. Hehe…just IMO,”

“Oww…ternyata begitu? Tak apalah, kan aku jadi banyak dapat pahalanya? Siapa tau malah nanti aku naik pangkat jadi malaikat? “

“Hmmmm…..??? Mimpiiiiii….hihihi…..”

“Coba sejenak lihat keluar kamarmu. Tengadahlah ke langit ke arah barat. Hampir setiap malam kulihat begitu. Di sana ada dua cahaya bersinar seolah tampak dekat. Meski sebenarnya keduanya berjauhan. Keduanya teramat jauh bahkan. Yang satu cahaya bersinar lebih terang. Dia tak berkerlip. Karena itu adalah planet. Tampak disebelahnya ada kerlip, cahayanya tak seterang planet tetapi konstan. Letaknya lontar teramat jauh dari jangkauan planet bahkan dari bumi. Itulah bintang. Meski keduanya benda langit yang berbeda dan berjauhan, tetapi dari pandangan kita, mereka dekat.”

“Aku mengerti sekarang 🙂 “

#cerpenagnez

Cerber: Memiliki Hati yang Kedua (II)

Memiliki Hati yang Kedua – Part II

beautiful1
Enter a caption

Alya: Untuk seseorang yang telah menggenapi hidupku dengan perhatian dan sayangnya. Betapa bersyukurnya aku menemukan dirimu. Merajut hari demi hari dengan gelegak rindu dan gelora hasrat tersurat. Menjalani tiap detik dengan penuh semangat ‘tuk menanti setiap momen perkasihan itu tiba menyapa. Andaikan aku adalah sang waktu, pasti akan segera kuputar cepat sehingga rindu itu akan segera tergenapi dengan sebuah perjumpaan selanjutnya.

Bagus: Kisahku takkan habis di malam keseribu satu. Dan bila engkau masih ragu padaku, hampirilah jendelaku. Di sana, kau bisa nikmati waktu yang berhenti mengalir. Di sana, kau bisa nikmati waktu melambat bagai bulir embun sehingga kau bisa menghitung tetes gerimis rindu yang jatuh. Sehinga kau akan tahu, sebanyak itulah ku di sini memikirkanmu. kucing-berdasi

At Fri 08:00 am |Hai.. sdg sibuk apa?| |Eh, mbak cantik. Biasa nih lg upload data-data yang selesai diconvert. knp?|

|Ga ada apa2. Cm minggu dpn jgn nyariin aku yaa|

|Loh, mbak al mw kmn?|

|Mw cuti seminggu. Merayakan honeymoon jilid kedua sm suamiku doonk! Hehe..|

|Ciyus?? Cieee selamat ya! moga sakinah 4ever. Btw, berarti mbak al mw berangkat ke KL?|

|Makasii. Ga, bukan aku yg nyusul ke sana, tp suamiku yg datang. Rencana kami mw ke bdg, sekalian liat perkembangan pembangunan rumah cinta kami di bdg yg udah hampir jd. Eh, mas yu, nanti kalo dah jadi mampir2 ya. ajak ce-mu sekalian kenalin ok? hehe..|

|ck ck ck mantaaap tenan! Iya InsyaAllah nanti ta’ mampirin. waduh… ce-ku siapa? Lah belum ada mbak’e hahaha bisa aja|

———-

“Kenapa sih mereka berdua tuh nggak berterus terang aja? Biar jangan membohongi publik begitu?” celetuk Nania membuka sesi rumpi di pantry sementara kesemua rekannya tengah membuka kemasan sarapan paginya masing-masing.

“Masalahnya Nan, mau berterus terang atau nggak, apa mungkin jalin cinta tanpa restu dapat bersatu? Suami mana yang akan merestui hubungan perkasihan istrinya dengan pria lain. Dan aku yakin di pihak keluarganya Bagus juga pasti hal itu tidak akan pernah terjadi!” Jawab Luna.

“Terus kira-kira Mbak Alya kemana ya selama cuti?” Sita, si sekretaris menyela.

“Alya cuti untuk honeymoon sama suaminya ke Bandung,” Tiba-tiba Wahyu tergugah angkat bicara.

“Jadi dia bilang begitu? Yakin lo?” Sita tertawa meledek.

“Memangnya ada apa Mbak Sita?”

“Dear all, aku punya info maha penting. Dan ini sifatnya top secret ya. Bagus juga di kantor Cepu mengambil cuti selama seminggu. Waktunya bertepatan dengan jadwal cutinya Mbak Alya terhitung mulai Senin kemarin,”

“So what gitu loh? Bisa aja kebetulan bareng?” Timpal Reno.

“Sebentar, Ren. Aku kan belum selesai menginformasikan info maha pentingnya. Tadi pagi…” Sita berhenti sejenak. Menarik nafas dalam. Gayanya sudah seperti seorang pimpinan hendak mengambil kebijakan luar biasa. Membuat semua mata memandang geram padanya.

“Hey! Ta, ngomong tuh yang seratus persen donk!” Protes Luna.

“Begini…. Kalian tau kan Mas Hutomo?” Suara Sita merendah dan nyaris berbisik. “Ya setidaknya dari fb-nya Mbak Alya mungkin ada yang pernah tau. Tadi pagi Mas Hutomo datang ke kantor, ke ruanganku. Jauh-jauh dari Kuala Lumpur hingga tiba di sini dia semula berniat memberikan surprise buat istrinya. Sumpah! Awalnya aku sendiri dibuat kelabakan ingin memberikan jawaban kemana Mbak Alya. Aku terpaksa berbohong bilang kalau Mbak Alya sedang dinas sebagai utusan dari kantor ke Surabaya. Kalau aku bilang Mbak Alya sedang cuti, up’s! Terlebih lagi sebelumnya dia beralasan untuk honeymoon sama suaminya kenapa justru Mas Hutomo datang kesini Selasa ini? Kemana Mbak Al? Setidaknya dia udah cabut dari sejak Sabtu pagi kan?”

Semua terserempak membisu. Dingin dirasa menerpa tengkuk.

“Terus kemana Mbak Alya?” Luna membentangkan layar ponsel BB-nya. Serentak tanpa komando dilakukan pula oleh Sita, Nania, dan Irin. ‘Kebahagiaan mumpuni adalah menyoal rasa dan hasrat yang tidak dapat diungkapkan sebatas lewat lirik dan larik. Adalah tentang prestise yang bisa kau gapai ketika seseorang dengan penuh kasih dan tulus mengapresiasi apa adanya dirimu. Bahagiaku bersamamu.’ Senin jam 20:25 nih,” Semua kini saling berpandangan. Wahyu geleng-geleng kepala. Matanya memejam. Gegas dirinya bangkit meninggalkan pantry.

“Mas Wahyu mau kemana?”

“Perutku ngedadak mual, Lun!”

———-

Semilir angin pantai senja menerpa. Posisi tubuh berisi bertelanjang dada menjadi penyangganya.

“Tak ada sunset indah di sini, tapi kukira aku merasakan kenyamanan yang berbeda dibanding di Kuta atau Sanur,”

“Yakin begitu, sayang?” Tangan kekarnya sebilah menyangga di atas pasir. Badan kokoh dan berbidang tak berhelai kain itu dibiarkan menjadi sandaran bagi pemilik punggung didepannya, melunglai manja padanya sembari si pemilik jari lentik memulaskan polesan-polesan pada kanvas terbentang.

“Apa kau tak merasakannya? Ketenangan dan kehangatan. Di sini jauh dari keramaian, Bli. Sedari tadi selain menikmati pemandangan sunset aku menikmati pula alunan musik slow motion,” Tentunya alunan musik yang dimaksud Alya berasal dari Holliday Inn di balik punggung mereka.

“Ya. Segara memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi pemilik jiwa seni yang terpendam,” gurau Bagus.

“Besok aku ingin mengajakmu ke Batik Galuh sekaligus ke Desa Celuk di sana juga terdapat kerajinan emas dan perak. Hari ketiga, kita ke Kintamani ya, sayang. Ada pemandangan perbukitan dengan udara segarnya,”

“Apapun itu. All with you, honey,”

———-

Seminggu kemudian…. Setiap kali melewati cubicle Wahyu, haduh! Apalagi yang terjadi ini? Setelah semua mata kini benar-benar syarat dengan tatapan sinis dan sangat menyayat hati. Wahyu tak lagi terlihat sarapan di pantry dan shalat pun entah di mana. Sapaannya via message pun seringnya tak berbalas, bahkan seringnya malah dinonaktifkan. Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan maafkan diri ini…. Wahyu menyandangkan ransel di pundaknya. Waktu sudah menunjuk pukul lima. Alya pun baru saja menuntaskan tugas tambahan hari ini. Tanpa disengaja berdua mereka menuruni anak tangga gedung menuju parkiran kendaraan. Wahyu menyimak alur kisah tertutur penuh gugah gelora. Dalam pandangannya layaknya seorang ABG sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Jadi, rumah cinta Mbak Al sudah hampir utuh donk ya? Kapan pastinya Mbak Al berhijrah ke sana?”

“Alhamdulillah Mas Yu, semua itu karena cinta suamiku, tentunya. Insya Allah setelah lebaran. Do’akan kami ya?”

“Tentu,” Jawab Wahyu datar dengan mata menanar. Pedih terlintas mendadak dalam benak. Tak ada daya lagi dirasa untuk berkata. Hanya doa dalam batin yang masih mampu melantun… “Ya Rabb, tunjukkan bila aku yang salah. Berikan padaku petunjuk-Mu agar kumampu melihat kebenaran yang nyata, agar aku mampu meyakini salah satunya dan menghindarkan diri dari dusta dan ghibah.”

Diam.

“Jadi, cuti seminggu ber-honeymoon dengan suami yang mana?” Alya terperangah oleh pertanyaan Wahyu. Ia menoleh cepat. Didapatinya mata elang lelaki di sebelahnya begitu dingin menatapnya. Kuduk Alya merinding. Sosok yang tengah menjejeri langkahnya tiba-tiba terasa sangat asing kini.

“Apa maksud pertanyaan Mas Yu? Ya dengan suamiku lah!” Tukas Alya mulai gusar.

“Ya… tentu saja. Seandainya seperti yang pernah Mbak Al ceritakan pasti Mas Hutomo nggak bakalan nyasar jauh-jauh dari negeri Jiran sampai menyusul ke sini.” Rentetan ucapan Wahyu membekukan langkah Alya beberapa detik. Deg! Benarkah yang kudengar? Jadi itukah penyebabnya sudah dua minggu Mas Hutomo tak menelponnya setiap pagi, siang, petang, dan malam sebagaimana biasa?

“Aku nggak sampai sejauh itu dengan Bagus!”

“Oh, jadi memang benar, dengan Bagus?” Wahyu geleng-geleng kepala. Suaranya nyaris mendesis.

“Kami melakukannya tidak sampai melibatkan perasaan terdalam masing-masing,”

“Dan aku bukan saksi atas apapun yang Mbak Al lakukan!”

Alya tak melanjutkan perdebatan sengit ini. Ia bergedik menghampiri kendaraan setianya yang terparkir di dalam basement. Melajukannya segera. Tanpa pamit. Usiamu terpaut tiga tahun lebih dewasa, Mas. Namun kuyakin dirimu masih mentah soal pernak-pernik rumah tangga. Kau belum paham. Mungkin juga seperti Mas Hutomo, kurang peka terhadap impian, keinginan, harapan sang istri, yang bukan hanya melulu pelengkap hidup bagi sang suami. Ingin didengar, ingin disimak, ingin diperhatikan, ingin merasa dibutuhkan, dan terjitunya ingin diapresiasi terhadap hal sekecil apapun yang ia ciptakan dan persembahkan untuk sang suami. Karenanya, salahkah bila aku menemukan pohon rindang untuk bersandar yang sanggup menjadi peneduh bagi jiwa kerontang nan gersang?

———-

Pagi ini sesuatu lebih menyentak perasaan. BBM, SMS, intranet messenger tak satupun berbalas. Bagaimana kabar Bagus hari ini? Apa gerangan dengannya? Mengapa ketika pada akhirnya telepon Alya hanya direspon dengan jawaban-jawaban sepatah-dua patah kata belaka: “Ya / tidak” ; “Baik” ; “Hmm…” ; “Begitu” Dan, haruskah ia merasa senang atau sedih ketika menerima kabar Bagus akan singgah kemari minggu depan? Siapapun boleh menuduh Alya dan Bagus tengah melakoni sandiwara. Bagus tiba kembali di kantor induk. Jumpa mereka kini terpasung kebisuan. Ada jarak direntang. Ada lisan tertahan. Ada tatap saling berhindar untuk beradu.

“Aku hanya singgah dua pekan saja di sini. Itupun untuk mentraining PE junior yang akan melengkapi tenaga engineer di sini,“ Demikian kelu suara itu terdengar. Lelaki tinggi gagah berkulit agak kecokelatan yang begitu ia rindukan itu mengenakan kemeja biru langit bermotif garis abstrak dan jeans biru pekat. Alya pastinya ingat betul itu kado ultah darinya bulan Januari lalu. Bagus terus bicara. Punggungnya bahkan belum lagi berbalik arah. Matanya fokus membaca satu-persatu judul-judul buku di rak di ruang meeting. Alya duduk di salah satu kursi. Usai rapat dengan pimpinan sejam lalu. Mereka berdua sengaja meninggalkan diri usai rapat tadi.

“Oh ya, sekaligus aku minta kesediaanmu untuk membimbingnya juga.”

“Jadi begini caramu mengakhiri?” Tanya Alya lirih.

“Mengakhiri apa?” Kini Bagus membalikkan badan. Mimiknya tak terlihat terlalu berekspresi. Datar.

“Apa maksudmu dengan ini semua? BBM, SMS, IP message, bahkan telponku tak kau jawab. Ada apa denganmu Bli? Caramu tak pernah seperti ini?”

“Apapun yang berkaitan dengan pekerjaan, kau masih bisa menanyakan padaku selagi aku masih di sini. Aku pun mulai hari ini akan mengajar Gilang, si anak baru,” Tolong jangan dekat atau datang kepadaku lagi. Berhentilah pula menghubungiku, karena aku sendiri akan semakin tersiksa, kekasihku. Bagus membatin. Detik ini pula tak kuasa lagi menahan butiran bening yang berdesakan ingin meluruh dari balik kelopak mata. Namun sekuat tenaga pula Alya menahannya. Perlahan tanpa permisi ia mendahului meninggalkan Bagus menyendiri di ruang rapat. Menjalani hari-hari berikutnya yang sangat menyayat batin. Alya dan Bagus benar-benar memainkan peran mereka. Sempurna!

Dan dunia serasa berakhir seketika ketika Alya menemukan ini di email-nya setelah Bagus meninggalkan kantor induk: Kepada dirimu, belahan jiwa dan kekasih sejati Sebagaimana dulu pernah kau ungkapkan, nikmati kebahagiaan ini, belum tentu tahun depan akan merasakan hal yang sama. Kuingat betul kata-kata itu. Hingga akhirnya hari ini aku telah mengambil keputusan. Sebuah keputusan gila. Kau pun pasti berpikir aku sudah gila. Kau tidak salah, kekasihku. Hingga detik ini, aku masih berpikir, benarkah yang kulakukan ini? Tepatkah ini? Dan apakah yang akan terjadi setelah ini?

Kekasihku, Pernah kita genggam dunia berdua. Pernah kita miliki sesuatu yang lebih kuat dari cinta, sesuatu yang lebih hangat daripada asmara. Dan betapa beruntungnya aku karena waktu dan takdir mempersuakan kita. Merasakah hangatnya perhatianmu, memeluk manjamu, mendengar teduhnya ucapan bijakmu, dan tawamu yang melipur setiap kali jiwa ini sepi. Belahan jiwaku tersayang, Hari-hari itu mungkin tidak akan pernah datang lagi. Mungkin aku akan meratapi keputusanku ini. Tetapi kuyakin itu sangat-sangat jauh ketimbang sesalku telah membuatmu melukai dan mengkhianati pendamping hayatmu, merobek janji sakral kalian berdua. Bahagiamulah inginku. Meski aku…. harus mundur dari hidupmu.

Mengundurkan diri dari institusi yang telah mempertemukan sekaligus menautkan hati kita. Tolong jangan tanyakan kemana ku kan pergi, kerena aku sendiri belum memiliki jawabnya. Mungkin aku akan mencari nafkah di tempat lain. Atau mungkin aku akan mencoba peluang wirausaha. Do’akan langkahku yaa. Terima kasih, telah memberiku sepetak ruang di relung hatimu. Kini harus kulepas tanganmu dari genggamanku Belahan jiwamu yang sudah saatnya kau lupakan,

Bagus Oka Bramantyo

———-

Enam bulan terlewati di tahun 2013. Ramadhan menyapa. Kupasrahkan semua pada Yang Kuasa dengan penuh rasa sesak dan sesal di dada dan derai air mata yang tiada lagi berguna. Bagus pergi. Wahyu geming. Mas Hutomo memilih kian merentang waktu, jarak dan komunikasi setelah mengetahui apa yang terjadi. Hatinya hancur meluluh lantah. Rumah cinta di bandung batal kami huni sebelum separuh hati yang tersakiti terobati. Terkadang masih kumenyambangi Corner Café di senja di tengah desing asing lalu lalang kendaraan bermotor. Berharap seminimalnya kutemukan bayangmu di sana, Bli. Menemuiku dalam jumpa rindu. Tapi kutemui hanya hampa dalam kalbu.

———-

Suara itu… rindu kudengar. Suara yang selalu mengingatkan. Kini kembali menyapa usai kumandang adzan Ashar. Masih seperti dulu.

~Tamat~ Identified by: cerpenagnez

Tiga Rahasia (Cerpen)

Anton Chekhov

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah telanjur disematkan, mungkin akan berbalik.

Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.
Seorang perempuan berkaus hitam memoles ulang concealer untuk menyamarkan kantong matanya. Lalu, dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.

Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.
Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibu kota.
***
“Apa kau masih sering ke kelab malam?” si rambut ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.
“Sudah lama berhenti,” si kaus hitam menjawab cepat tanpa ragu.
“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu sering mabuk dan pulang pagi.”

Si kaus hitam tersenyum, lalu memalingkan wajah ke perempuan yang mengenakan rok merah. “Eh, Bu Dokter Cantik, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”
Si rok merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”
Si rambut ikal bersuara dengan serius, “Wah… wah… kalian berdua sama sibuknya, dong, sekarang. Aku rasa, kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”

“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi, kenapa mesti ngotot?”
“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Ha…ha…ha…,” kali ini giliran si rambut ikal yang tertawa lepas.

“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain,” si kaus hitam mengarahkan perhatian ke si rambut ikal.
“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”

Jawaban si rambut ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “Wow…!”
Si kaus hitam terdengar merajuk, “Kenapa baru cerita, sih?”

“Aku tiap hari berkicau di Twitter-ku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa, sih, tidak aktif di media sosial?”

“Tak ada waktu,” jawab si rok merah cepat.
Si kaus hitam menyambung, “Anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”
Lalu, si rambut ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritas ibu kota. Biarpun mereka  hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.

“Mungkin kapan-kapan, hari Sabtu atau Minggu siang, setelah siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan kepada teman-teman baruku.”
Si rok merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua dengan suami.”
Si kaus hitam tak mau kalah, “Akhir pekan, ya, acara keluarga, dong.”
Si rambut ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”

Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu, saat mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.
“Kau ingat tidak, anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, ‘kan? Apa kalian dulu satu kampus?”

Si rok merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip. Kampus kami juga beda, kok.”

“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”
“Aku  kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, ‘kan?” si rok merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.
“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”

“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau nggak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, ‘kan?”
“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”
“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”
Si kaus hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”

“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”
Si rambut ikal menjawab dengan percaya diri, “Itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”
“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”
“Berlibur tidak mesti ke luar rumah, ‘kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Tiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”
Si kaus hitam memandang temannya dengan kagum.
“Benar-benar supermom,” katanya.

Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi, suara mereka masih terdengar penuh semangat.
Beberapa kali si rambut  ikal tampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Si rok merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”

Si rambut ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”
Si kaus hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya, penuh semangat.
Si rok merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit. Kedua temannya tampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”

Si kaus hitam menggodanya, “Kau yakin tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”
“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila kepadanya.”
Si rok merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”
Sekali waktu tampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang tampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.

“Tidak mungkin itu anaknya,” si kaus hitam berbicara dengan suara rendah.
“Mungkin keponakannya,” kata si rok merah, mengedipkan matanya.
Si rambut ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”

Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.
Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah ke luar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.

***
Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah mengempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi:  “Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi, kenapa mesti ngotot?”

Profesinya sebagai dokter sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.
Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.

Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.
Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Air matanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”
***

Arumi menghela napas panjang. Tidak sekali, tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.
Memiliki 3 anak, berada di puncak karier sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan, sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibu kota, namanya mulai dilirik.
Tapi, siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat, tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut, segala puji yang sudah telanjur disematkan untuknya, mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada sang ibu dan beberapa pengasuh anak.

Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu yang gencar diembuskannya melalui media sosial ini. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja-puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah.
***
Rinjani menutup mata sambil menenggak tegukan terakhir dalam botol alkohol di genggamannya. Tinggal ia sendiri yang duduk di bar. Rinjani memang pernah berhasil menjauhi botol-botol alkohol yang membius itu. Tapi, itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarier, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali mabuk-mabukan.
Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal, hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.
Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah ia mencoba untuk menjadi penulis lepas. Sekadar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarier di bidang jurnalistik. Tapi, hasilnya sering kali hanya bercangkir-cangkir ampas kopi, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.

Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.

Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, ia didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.
***
Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibu kota, larut dalam keterpurukan masing-masing.  Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasia masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak dihadapan mata.

***
Jihan Davincka

Fiksi Femina

Sampai Nanti

#cerpen

one of my favorite story 🙂

Airport

Siapa yang tahu nasib seseorang, juga nasib pasangan. Tidak seorang pun yang tahu menurutku. Tidak juga kau, dan kita, Kekasihku. Meski sampai saat ini dan nanti, aku berkeinginan kaulah milikku seorang. Tapi ketika jarak mulai membentang, dan pertemuan ragawi mulai jarang, sementara nasib terus saja mempunyai rencananya sendiri – yang sering kali berpunggungan dengan keinginan dan asa kita berdua – apa yang mampu kita lakukan, Sayang. Atas alasan itulah, aku mengikhlaskanmu terbang ke negeri orang, untuk kemudian membiarkan nasib melakukan perannya, tanpa kau perlu risau, dan aku was-was tentang segala hal yang bakal terjadi di antara kita berdua.

Toh, tidak akan ada yang pernah bisa menghadang datangnya kuasa Tuhan, Sayang. Tidak juga besarnya rasa sayangku, dan rasa sayangmu kepadaku. Karena kau pasti juga sangat tahu, yang terbaik buat kita, belum tentu terbaik buat nasib. Demikian sebaliknya, yang buruk buat kita, belum tentu buruk buat nasib.

“Iya, aku tahu. Yang menjadi pemenang pasti nasib. Kau selalu mengulang-ulang itu,” katamu lirih di telingaku, ketika kita berdua rebahan, setelah hampir setengah hari berbenah membereskan barang untuk keperluan hidupmu di negeri rantau.

Tapi, kau melanjutkan kepadaku, “Mengapa harus gentar menanggungkan kesendirian dan keterpisahan ragawi ketika kita masing-masing yakin diciptakan untuk saling mendampingi.”

“Apa pun bayarannya,” balasku.

“Ya, apa pun bayarannya,” jawabmu tangkas.

Bahkan kesepian akan kau lipat, juga kehampaan yang tak terperikan karena terpisah dari orang yang paling disayang?

Memang, meski terdengar naïf, tapi apa yang dikatakan kekasihku tentang rasa sayangnya kepadaku, bukanlah ikhwal yang kacangan. Dari dulu, semenjak berkenalan di bangku semester pertama di tempat kuliah kami, dia selalu mempunyai kecenderungan bersungguh-sungguh atas apa yang diyakini dan dikerjakan. Termasuk ketika kali pertama, dulu, kami saling meyakini jika masing-masing cinta kami akan saling bertaut, untuk kemudian saling mengisi, mewarnai, dan memaknai. Bahkan ketika kedewasaan kami sama-sama mengembang dan berkembang, kau makin yakin kita makin tak terpisahkan.

Saking yakinnya dirimu atas kebersamaan dan kelanggengan hubungan kita, bahkan pada momen ketika kita masih merebahkan kepenatan, kau berujar, “Kau akan menjadi ayah yang baik, dan kuat buat istrimu. Aku yakin itu. Dan aku berjanji akan menjadi ibu yang memayungi anak-anak kita. Bukankah dari dulu kau selalu berjanji agar aku meyakinimu, bahwa kau akan menjadi satu-satunya ayah dari anak-anakku. Anak-anak kita,” katanya mengingatkan kepadaku.

Aku membisu. Berbicara tak, bergerak pun tidak. Hanya angin dari jendela kamarmu yang membawa kelu.

“Mengapa kau hanya diam?” tanyamu.

“Aku tidak terlatih menjalin kasih dalam rentang ruang dan waktu yang berbeda,” kataku. “Aku, sebagaimana kamu, juga tidak mempunyai pengalaman itu. Kita mempunyai pengalaman yang sama.”

“Jadi, apa yang kau takutkan,” katanya dengan nada yang sangat cepat kepadaku.

“Aku mencoba berpikir realistis,” kataku.

“Kau ingin menyudahi hubungan yang luar biasa ini, hanya gara-gara kita dipisahkan ruang dan waktu? Dan kau pikir itu adalah jalan yang paling realistis untuk mengakhiri hubungan kita? Jangan kau mementahkan apa yang kau yakini sendiri atas semua yang pernah kau katakan kepadaku selama ini, Sayang,” katanya.

Aku diam saja.

“Mengapa kau diam,” katanya seperti mengejar jawaban padaku. “Atau jangan-jangan…” katanya melanjutkan.

Ah, tidak seperti yang kau pikirkan, Kekasihku. Aku, sebagaimana kau ketahui selama ini, hanya menginginkan kebaikan dan kebahagiaan. Hanya untukmu seorang. Maksudku, jika tanpa diriku kau di sana nanti menjumpai kebahagiaan dan ketenangan, dengan siapapun yang kau anggap paling bisa melindungimu, aku akan turut berbahagia di sini. Daripada bersetia, tapi saling menanggungkan kelaraan.

Seketika, dalam hitungan detik, kekasihku bangun dari rebahnya, berdiri, dan mengarahkan pandang tajam matanya ke arahku yang masih rebahan.

“Kau pikir aku adalah perempuan murahan, yang dengan gampang menukar kerinduan dengan kehadiran seseorang di luar kekasih sejatinya?”

“Aku tidak mengatakan itu,” kataku.

“Tapi, arah pembicaraanmu kesana, Sayangku,” katanya lagi.

“Tapi dua tahun, dan kalau itu berjalan lebih lama, dalam artian dua tahun lebih, itu bukan waktu yang sebentar.”

“Kau meragukan kekasihmu ini tidak mampu menjaga perasaan cintanya, sehingga memutuskan berpisah dengan pujaan hatinya hanya dalam waktu dua tahun lebih?”

“Aku tidak mengatakan itu, aku hanya mencoba berbicara realistis.”

“Justru kau yang tidak realistis, Sayangku.”

“Sangat menjadi tidak realistis di sini, atau di sana nanti, kalau masing-masing di antara kita ternyata saling menyiksa diri, tapi pada saat bersamaan ada seseorang yang membuat kita menjadi lebih hidup,” kataku.

“Aku hanya hidup untukmu. Aku yakini itu. Aku harap kau juga berpikiran serupa denganku,” katanya.

Aku segera terbangun, berdiri, dan menyongsong matanya, sehingga berada tepat di depan mataku.

“Aku mulai mencemaskan keterpisahan kita, atas semua pikiranmu yang baru saja kau sampaikan padaku, Sayang,”

“Aku tidak tahu Sayangku. Aku tidak pernah berpikir akan berpisah denganmu dalam waktu yang tidak sebentar ini. Meski aku bisa menyusulmu terbang ke sana, dan turut menjadi bagian dari saksi perjalanan hidupmu merampungkan studi S-2-mu. Mungkin aku hanya merasa cemas saja.”

Seketika dia merangkulku. Inilah saat yang aku takutkan dari sebuah perpisahan, kerinduan yang tak terbantahkan. Bahkan sebelum berpisah sekalipun, aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana bila berpisah sungguhan besok?

Tiba-tiba bayangan bandara menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, karena aku sangat tahu sekali di tempat seperti bandaralah, seseorang akan melepas seseorang yang sangat dicintainya, dan menyambut kedatangan orang-orang yang sangat istimewa.

Di bandara, biasanya air mata dan tawa hanya berjarak setipis benang. Dan aku meragukan diriku sendiri mampu menanggungkan perasaan kecamuk itu, kala menyaksikanmu melangkah pergi menyongsong masa depan, dengan cara meninggalkanku. Aku hanya ingin realistis. Kau cantik dan menyenangkan. Tidak sebagaimana banyak perempuan cantik lainnya, yang biasanya pintar tapi sangat tidak menyenangkan.

Hal itulah yang membuat kemungkinan laki-laki mudah jatuh hati padamu, menjadi sangat terbuka sekali. Atas alasan itulah, aku menantang diriku sendiri, untuk membiarkan nasib mengambil perannya atas hubungan kita berdua, tanpa harus menggaungkan janji apalagi sumpah rombengan. Karena aku mencintaimu, maka sebagaimana banyak dikatakan para pujangga, aku akan membiarkanmu bebas pergi kemana pun nasib membawa: Set you free.

Tapi, ketika hal itu kutawarkan kepadamu, malah kemurkaan yang aku dapatkan. Lalu apakah aku harus belajar memahami kata kesetiaan, yang cenderung lebih mudah dikatakan tapi sangat sulit diejawantahkan itu? Meski kau juga sangat tahu, betapapun besarnya cintaku padamu, demikian sebaliknya, tidak ada yang tahu tentang masa depan.

Setelah sekian lama kau peluk diriku, pelan di telingaku kau bisikkan, “Aku masih makmum sama kamu, Sayang.” Aku sangat tahu arti kata itu. Maka pelan-pelan kami akan membasuh muka dan hati untuk berwudhu. Seperti biasa, kami masih belajar untuk mendalami peran kami masing-masing. Aku belajar menjadi imam, dan dia menjadi makmum. Meski dalam banyak perkara kehidupan lainnya, terkadang dia malah menjadi imam buatku.

Pada momen belajar menjadi imam dan belajar menjadi makmum ini, biasanya akan meredakan semua perseteruan yang terjadi di antara kita. Tapi aku merasa, pada perakara menjelang keterpisahan ini, sepertinya hal itu tetap tidak akan menjadi sesuatu yang mudah juga.

Ah, apa pun itu, di bandara, pada hari yang sangat menentukan itu, aku belajar melepaskannya. Pergi. Demikian juga dengan dirinya, juga harus belajar memaknai arti perpisahan. Dan yang pasti, sebagaimana perempuan kebanyakan, dia akan lebih dari mampu menanggungkan kesendirian. Sampai nanti, Sayang.

By: Mario Ginanjar

“Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan”

25 Cerpen Kahitna | Hal 27-32

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Juli 2011

Sumber ilustrasi dari sini