Prinsip Makan

Buat gue soal makan itu prinsip banget, “makan bukan sekadar aktivitas untuk mengenyangkan tetapi harus termasuk menyenangkan.”

Bisakah lo menikmati sajian makanan lengkap dengan berbagai menunya yang menggoda -gratis pula- tapi moody-lo terganggu disebabkan lo sambil kudu mendengar celotehan buruk, kasar, dan kampungan. Mata lo mesti pula lihat pemandangan menyayat perasaan karena di saat jamuan makan bersama atau beramai lalu orang yang kamu sayang bikin sensasi pamer kemesraan dengan si dungu, misalnya?

Gue sih, mending milih nyari tempat makan lain. Bukan gue nggak suka kebersamaan, makanan maknyus plus gratis, tapi ya itu tadi prinsip gue. Kalau nggak menyenangkan, lebih lagi menyakitkan, mending gue cabut nyari food court lain, meski berbayar.

Advertisements

Just to have Somebody

Menetapi dunia yang makin kekinian kadang dirasa perlu kita menarik nafas panjang – jangan lupa dihembuskan kembali – sudah emang semakin beragam saja persoalan, lebih lagi dari sudut pandang yang kadang menggiring pemikiran banyak orang agar ikut-ikutan berpikir miring. Mungkin ini pula yang belakangan sering disebut-sebut dikaitkan dengan ‘kebanyakan makan ‘mitcin’.

Kemarin sore, saya temu kangen dengan seorang teman lama dari luar kota. Sembari kita nongkrong di warung tenda yang harga makanannya agak miring, banyak kisah terbagi. Bisa dibilang teman saya ini rada curhat. Semula saya kira dia mau curhat abis putus sama pacar ter-update-nya, eh..bukan. Ceritanya agak sedih. Jadi, setiap kali seumur hidupnya dia punya seorang teman yang mana kemudian berlanjut dekat sebagai sahabat, saling akrab, saling tolong, saling berbagi kisah, kemana-mana bareng, eh, malah seringnya juga ada aja muncul makhluk-makhluk bertanduk yang berjubah putih mengatasnamakan kebaikan lantas mempengaruhi jalan pikiran sahabatnya itu. Sampai hal tersadisnya pernah atau bahkan sering seseorang yang dekat dan jadi sahabatnya dia itu dibisiki bahwa teman saya ini patut dijauhi karena dicap transgender atau istilah keren sekarang L.G.B.T. Padahal, kata teman saya ini: “ada nggak sih orang yang pernah hadir dan pernah dekat sama gue selama itu pula pernah membuktikan kenistaan itu ada di dalam diri gue? Kalau sahabat gue itu otaknya waras, dia pasti bakal geleng kepala. Karena toh selama ini gue nggak pernah melakukan hal-hal berbau L.G.B.T. Gue selama ini cuma pengen seperti kebanyakan normalnya orang, kemana-mana punya teman yang nemenin walaupun sekadar buat nge-mall, hang out sore, sekadar buat saling berbagi cerita, buat mengarungi hobi-hobi kalau emang kebetulan hobi kitanya sama. Tapi, yang gue herannya, selalu aja kedekatan gue dengan seorang sahabat jadi cemo’ohan. Seolah itu aib buat mereka. Sedangkan tiap-tiap mereka sendiri masing-masing punya sohib yang anytime setia nemenin kemana aja mereka jalan. Lah, gue, baru bentaran doank punya sohib udah dikompor-komporin orang supaya sohib gue itu  ngejauhin gue, gue ditengarai dengan sindiran-sindiran intinya gue dianggap bahaya. Buktinya apa? Apa pernah seseorang yang deket sama gue terus pernah gue perlakuin ngga senonoh? Jangankan gue punya sikap ngurangajarin sohib, pegang tangan sohib aja gue ngga pernah, kecuali dianya yang pengen gandeng atau rangkul gue. Kalau dianya yang pegang tangan atau rangkul gue ya gue biarin. Terus, masalahnya dimana? Yah, nasib gue mesti tabah untuk sendiri dan sendiri lagi.”

Don’ t you wish as everybody, to have somebody in a marriage? Tanya saya gamblang. Dia bilang, dia belum mau ribet dengan pernikahan. Dalam saat ini dia cuma pengen to have somebody as a friend. Simple kan? Tapi, kenapa juga ya orang lain ngeliatnya ribet?

 

Fix Position

“Nah, si juru hapus dateng….”

Seseorang yang secara mendadak mendapat julukan baru tersebut nggak ngeh sama sekali dan dengan lempengnya tetap melenggang menuju tempat persemediannya, eh maksudnya meja kerjanya. Tiba-tiba saja saya kepikiran jahil tentang itu berkait dengan pengerjaan data produksi yang inputnya harus diawali dengan ritual penghapusan dulu di database penyimpanannya.

Jadi keinget semasa di bangku sekolah dulu. Selalu ada saja salah satu teman di kelas yang kena tugas jadi juru hapus papan tulis setiap kali papan tulis sudah penuh dengan catatan atau oret-oretan materi guru. Entah kenapa selalu dia dan dia lagi yang mendapat tugas mulia itu hehe…. Mungkin karena posisi duduknya paling depan dan paling dekat dengan meja guru. Karena memang papan tulisnya mau dipake lagi buat menuliskan materi selanjutnya atau memang ada siswa-siswa lain yang akan diberi tugas mengerjakan soal di papan tulis. Sampai kami suka ngeledek, wah dia dapet nilai tambahannya dari ngapus 😆

Kalau saya semasa di bangku SMA, kejadian rutin dan aneh, setiap kali di akhir jam pelajaran Sejarah. Udah emang jam pelajaran tersebut di penghujung waktu alias di jam terakhir, dan sudah menjadi tata tertib kelas ada sesi doa penutup setiap kali usai jam pelajaran terakhir. Mungkin karena saya duduk di barisan depan, meski nggak dekat juga dengan posisi meja guru, tapi si bu guru Sejarah ini selalu aja menyerahkan teks bacaan doa sesi penutup pada saya. Padahal yang duduk di barisan depan kan bukan saya aja, masih ada lainnya lagi. Ya namanya siswa dikasi tugas sama guru, nurut aja, hanya berbeda dengan cara yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya lainnya, namun teman-teman sekelas saya sudah pada maklum dan sangat paham kenapa saya agak berbeda, yaitu tanpa menduluinya dengan ‘salam’ ala mereka sembari dengan isyarat tangan menunjuk dari arah kepala sampai dada, tetapi langsung membaca teks yang tertera pada kertas doa. Kalau bacaan yang tertera pada kertas doanya sih isinya doa yang sifatnya general. Selang beberapa waktu jam pelajaran Sejarah berikutnya, saat bubaran kelas mungkin si bu guru heran dan penasaran kali ya? Beliau nanya kenapa saya tidak pakai ‘salam’ seperti yang lainnya kalau disuruh baca teks doa. Lantas saya lugas menjawab, maaf bu, saya kan muslim. Dari sejak saat itu di akhir pelajaran Sejarah syukurlah, teman lain yang mendapat giliran hehe…

Oat

Sepertinya ada yang salah :mrgreen:

 

Sebagaimana tradisi di opis, setiap ada yang bepergian ke luar kota pulangnya bawa oleh-oleh, ya emang hukumnya bukan wajib juga. Kalau berkenan, kalau nggak ya nggak apa-apa. Sekali ini rekan terdekat ceritanya baru aja pulang dari bepergian. Sebungkus bingkisan pun digeletak begitu saja di meja tengah di ruangan kami setiba dia di kantor. Tanpa basa-basi, dan kami pun yang telah lama mengenalnya sangat maklum dengan karakternya yang kadang-kadang ‘nggak mudeng’. Meski setibanya dia di meja kerjanya udah kami senggol-senggol tentang oleh-oleh dia nggak menyahut, asyik sendiri dengan ponsel dan browsing internert di pc-nya.

Satu jam kemudian teman-teman dari ruangan lain datang menyerbu dengan pertanyaan yang serupa, nggak jauh dari tentang oleh-oleh. Karena sedari tadi ada bingkisan tergeletak di meja tengah, *secara meja tengah ini dipakai buat umum oleh kami. Apalagi kalau ada yang bawa makanan atau cemilan udah pasti ditaronya di meja tengah*. Ya kami serbulah bingkisan yang berisi keripik bawang dan sebungkus oat yang sepertinya dibeli dari supermarket. Seorang dari kami malah sempat protes…. “ini sih bukan oleh-oleh Bandung,” meski begitu tak peduli, kami tetap menyerbunya.

Rada herannya, karena yang terdekat posisinya adalah aku. Dia nanya,

“itu apa?”

“oat.” jawabku santai sembari mulai membuka dan mengunyah.

Dia cuma melongo agak lama kemudian geleng-geleng kepala.

Lalu sejenak aku mampir di pantry, eh… ada sebungkus keripik pisang tradisional. Pikir punya pikir sepertinya ada yang salah nih… Sementara teman-teman lain sudah menggaruk beberapa bungkus oat dengan santainya, tapi kenapa aku merasa berdosa sendiri yah? 😀 Habis, dari tadi ditanya olehku dan oleh teman-teman lain dianya nggak mudeng, not responding, alias nggak ngejawab sepatah kata pun. Hanya yang aku perhatiin tadi saat teman-teman belum menyerbu bingkisan di atas meja tengah, dia beberapa kali menggumam nama salah seorang teman kami. Oup’s! Apa jangan-jangan oat dan keripik bawang ini dikhususkan hanya buat seseorang aja ya?

#Setiap abis dari bepergian jauh selalu ada yang “dikangenin”. Mungkinkah oat dan keripik bawang itu hanya untuk seorang? OMG….. 😆

Ponegoro

Sembari bersantai malam biasa aku ngerunguin radio. Terkesiap begitu mendengar sekilas iklan sebuah toko bahan bangunan, usai si pewara menyebutkan beraneka produknya,  ia pun menyebut beberapa cabangnya di kota ini, di antaranya disebut cabangnya: di Jl. Ponegoro. Yang tadinya aku nggak ngeh dengan iklan jadi penasaran. Bener gitu ya tadi disebut Jl. Ponegoro???

Memang ini bukan baru satu-satunya kelucuan akibat kebutaan tentang nama pahlawan tanah air kita. Nggak jarang dulu pun saya sering dengar kelucuan serupa ini…

T: Rumahnya di mana?

J: di…. ponegoro

atau….

T: Kuliahnya di mana?

J: di… patiukur

#72 Tahun Indonesia Merdeka

#yuk baca lagi tentang Pangeran Diponegoro

#Dipati Ukur bukan di Patiukur

Mangan sing puoooll

Mangan, mangan opo sing puaaaliiing puooll nampol? Jawabnya, mangan karo konco!

Menyenangkan memang kalau rame-rame jalan n makan bareng teman-teman, seolah segala penat bisa mendadak sirna seketika. Ajaib nggak tuh? Sama, aku juga sependapat. Satu dekade lalu aku juga sering mangan bareng konco. Kami satu tim dalam pekerjaan, sering seperjalanan dinas bersamanya, otomatis sering pula mangan bareng. Kadang ada kalanya temanku ini menilai-nilai pilihan menu yang kupilih. Karena pada dasarnya aku cuek, sing penting mangan, *makanan ini gue yang makan, napa lo yang protes?* namun mungkin karena kelewat sering juga mendengarkan komplainnya, semisal soal jenis yang terlalu umum sampai pada soal berapa yang mampu kubayar, sehingga pada waktunya sari makanan gagal mencapai perut disebabkan asam lambung naik karena emosi, aku mesti hentakkan sendok dan garpu di atas piring. Lalu dengan perasaan menyesalnya akhirnya dia membayar semua tagihan makanan termasuk pesananku. I said, no, thank’s. Maaf, bukannya aku tidak menghargai uangmu yang memang berlipat ganda dari punyaku, tapi aku ingin merasa nyaman saat makan bareng teman.

Kalau mangan bareng berangkat dari ketulusanmu, yiuuu….namun kalau untuk menerima ‘cawan kopi pahit’, sejak lama aku udah terbiasa mangan dewek di berbagai food court sampai angkringan.

Obras Dadakan

Hari ini meski tak ada yang mengatakan secara gamblang tetapi gerak laku kita seolah jujur mengungkap, ini adalah satu hari yang istimewa.

Empat puluh lima menit. Andai saja bukan panggilan ibadah yang menggema, tidak satupun dari kita rela beranjak meninggalkan obras (obrolan santai) dadakan di siang jelang sore di markas makmin ala-ala seadanya. Aku, Nensi, Jupe, Wisman, Handsy, dan Paud the singer. Keseharian biasa nyaris langka format obras seperti ini. Tanpa terasa kita malah asyik ngobrol, sekadar saling berbagi cerita pengalaman walau sesederhana apapun. Sharing tought and laugh. Put aside anything that maybe burdened your mind. Buang jauh aja segala prasangka. Karena kalau masih saja nilai-nilai negatif yang kamu benamkan dalam alam bawah sadarmu, semisal begitu ketemu si ini minus ketemu si itu minus, emang nggak pegel tuh mata? Nggak capek tuh hati? Kapan juga kamu akan berbaur dengan dunia? Moreover, you’ll never find real energy of happiness in this world. Obras tadi ini bukan formasi yang biasa apalagi rutin, cuma nggak sengaja ngumpul, anehnya kita kompak sedemikian betahnya. Wanna join us? Free of charge kok 🙂