Someday

Selepas mengerjakan seabreg rurinitas rumah sepulang kerja dan baru tuntas di jelang pukul sepuluh malam. Lagi buka-buka lagi akun facebook sembari muterin tembang lawas. Eh, lah kok ya pas banget saat sebuah nama yang udah sekian lama nggak pernah nongol di beranda kabar berita, malam ini baru aja meng-update sebuah posting, berbarengan dengan lantunan manisnya Debbie Gibson & Chris Cuevas, Someday, dari music player-ku.

Lagu manis itu dulu bukan sekadar kenangan di antara kami, lebihnya semacam sebuah ikrar janji, entah nantinya kita masing-masing berada di mana, suatu hari nanti kita akan bersama lagi. Sembari melantun lagu tersebut berdua di jalan setapak di bukit Cibodas (kala itu sedang dalam event piknik sekaligus perpisahan sekolah), jauh di dalam batin yang tak terhitung kedalamannya, serasa teriris. Usiaku dan dia masih lima belas ketika itu. Belum memiliki otoritas atas diri untuk menentukan jalan hidup. Mengingini untuk melanjutkan masa depan bersejajaran karena telah dia begitu percaya menitipkan segala kisah, dan pula aku mengibaratkannya kotak pandora, hanyalah sebatas angan dan secuil harapan untuk suatu hari nanti.

Sesuatu yang kali ini ingin kulayangkan pada langit tentang keingintahuanku, mengapa individu berbeda dan peristiwa serupa berkurun dua tahunan, selalu bersinggah sepanjang hidupku?

Advertisements

Walk

Semasa tinggal di Bandung dulu, pernah aku jalan kaki entah jauhnya itu berapa kilometer, dari Jl. Sukamaju sampai Jl. Lengkong Besar. Perkaranya, rasanya kepala lagi mumet. Di kampus urusan registrasi SKS belum kelar karena dosen jurusan belum bisa ditemui, padahal besoknya perkuliahan semester udah mulai. Dosen pembimbing skripsi lebih parah lagi, tiap hari ditungguin di kampus, eh, munculnya cuma sekejap mata, abis itu ilang lagi. Di rumah lagi ribut sama sodara. Sama sahabat juga lagi ada masalah. Hadeeehh…berasa satu gentong itu masalah.

Sabtu sore itu, langit lagi cerah. Kepikiran aja pingin jalan kaki. Akhirnya kuayun langkah. Benar-benar berjalan kaki. Sampai depan kampus, iseng banget aja, mampir di gerobak nasgornya Mas Kiki, pesan dan makan disana. Abis itu pulang, tapi naik angkot 😹

Sampai rumah, mandi, ganti pakaian bersih, jalan kaki lagi, kali itu tujuanku Masjid Cipaganti 😇

Sore ini, sepulang kerja kuulang cara itu, hanya aja udahnya maghriban di rumah aja.

Suatu impian sudah hampir di tangan, harus terlepas…

1 = 2

When it shows 1 it perhaps 2. When it is 2 it might be seen by 3.

I have no worried about it. For me, we live in society, dare to be open-minded, and open to people’s thoughts. I don’t have to hide dark behind the night. Kalau ada yang ingin diutarakan ya jangan dibuat di selatan, diutarakan saja 😉, nggak usah pakai TTS, mending kalau tebak-tebakan kata nya udah sekalian diisi jadi langsung bisa dimengerti. Kalau masih berputar-putar dengan aksara bermakna, kan jadinya saya cuma jawab apa adanya.

Terperangkap Opini Publik

Semasa lulusan sekolah dulu merebak opini, yang saya pikir juga adalah sebuah opini yang juga sudah melekat bahkan pada generasi sebelum saya, yaitu kalau lulusan kuliah jurusan ekonomi atau akuntansi bakalan mudah diterima bekerja di perusahaan manapun, termasuk buka usaha sendiri. Pula beropini kalau dari jurusan eksak akan mudah saja beradaptasi dengan mata kuliah akuntansi. Maka yang terjadi di masa kelulusan SMA dari kelas saya yang berjumlah dua puluh lima orang, mau ngerti mau nggak – dua dalam tiga tahun di bangku SMA fokusnya di bidang eksak berbondonglah begitu lulus sekolah lantas ‘nyeberang’ mengambil jurusan tersebut. Hasilnya, wallahu a’lam… tapi yang sempat saya tahu beberapa dari teman saya kala baru saja melewati satu semester pertama mengaku jeblok begitu ketemu dengan mata kuliah akuntansi lalu memutuskan pindah jurusan. Iya buat yang bisa lancar mengikuti nggak masalah, lancar jaya abadi. Untung saya nggak ikut rombongan yang terjun ke ekonomi-akuntansi. Laah dari masa SMP aja saya keteter melulu di kedua mapel itu, malah sering jadi bulan-bulanan guru mapelnya, saking kesalnya saya sering ‘ngerjain’ mulai dari menaruh aroma tak sedap sampai taro petasan di kolong meja gurunya 😆 Dulu di bangku SMP saya dapat mata pelajaran Ekonomi dan Jurnal Tata Buku (kira-kira sub bidangnya ilmu akuntansi). Jadi begitu lulus SMP dan masuk SMA saya berjanji pada diri untuk nggak mau ketemu lagi sama si eko dan si akun.

Sering kita terperangkap dalam opini publik. Beranggapan bahwa pendapat tersebut sangat benar dan dapat diterima secara universal. Sementara isi kepala, kemampuan, kecakapan, bakat, minat, visi setiap individu adalah unik.

Tahun 2008 pernah saya diberangkatkan untuk Master Class Program di bidang Geomechanical Application Technology. Untuk peserta umum dikenakan biaya delapan juta rupiah. Buat saya yang Alhamdulillah dapat free ticket boleh gratissss 🙂 plus fasilitas dan akomodasi yang saya dapat nggak beda dengan yang berbayar. Sudah ditanggung full oleh instansi. Konon informasinya kalau beroleh sertifikasi resmi program tersebut mudah lolos. Lolos kemana ya nggak tau, wkwkwk… Sayangnya, buat saya, ilmu dari program tiga hari di Hyatt Bandung yang Instrukturnya aja International Geomechanics Specialist, nggak ada apa-apanya :mrgreen: Mau disangkutin kemanaaa di bidang pekerjaan saya yang di tahun tersebut berkutat mengelola media massa online. Jauh sangat panggang dari api 😆

Give in

Pernah nonton atau baca kisahnya Dilan & Milea? Di sini aku nggak bermaksud me-review film atau novelnya, yang beberapa waktu lalu naik daun.

Kalau diinget lagi jalan ceritanya, kenapa juga waktu Milea secara sepihak memproklamirkan kata ‘putus’ tanpa ada perundingan meja bunda eh, meja bundar kali yah? Ditambah lagi dalam situasi di saat yang sama Milea tengah ditemani sama saudara sepupunya, Yugo. Dengan mudahnya kesimpulan sepihak pun segera melintas di kepala Dilan yang tengah pula berada dalam suasana panas, menduga Yugo adalah pacar baru Milea. Sebagai cowok, sebagai pacarnya, usai kata putus dari Milea, Dilan lebih memilih sikap pasif, membiarkan Milea dengan keputusannya sendiri, nggak berusaha mengejar, nelpon kek, minta waktu buat bicara empat mata, gitu, biar ada klarifikasi masalah.

Set her free! 

Begitu kira-kira gambaran karakter yang ditunjukkan Dilan, dengan argumen terjujur dari lubuk hatinya, bahwa dengan bersikap sedemikian itu adalah bentuk penghargaan setinggi-tingginya terhadap keputusan hati kekasihnya. Emang sebenernya si Dilan itu nggak cinta-cinta banget apa sama Milea? Kok diputusin secara sepihak gitu diem aja? Padahal kala itu kesempatan masih terentang luas, masih tinggal di satu kota meski Dilan udah harus pindah sekolah, belum pula ada janur kuning melengkung di depan jalan menuju rumah Milea. Di edisi ketiga novelnya sih, pengakuan Dilan, berada dalam kondisi seperti itu nggak berbeda juga sama kaum hawa, yang pasti dirasa sedih, kehilangan, pake dalem banget lagi, pengen bisa kembali ke masa-masa indah yang sebelumnya udah terjalin manis dan lugu, cuma bedanya Dilan lebih menyimpan dalam-dalam gemuruh kesedihannya, ekspresi wajahnya tetap tenang, di kemudian hari pun ketika dipertemukan kembali dengan Milea -udah berstatus menikah dengan lelaki lain.

Jadi, set her free itu nggak berat? Berat banget malah, lebih berat ketimbang menanggung rindu.

4 days

Seumur-umur kerja, baru kali ini dapat tugas standby di jelang Idul Fitri, di hari-hari cuti bersama. Segala faktor memang sangat mendukung penugasan buatku, posisi rumah paling dekat ke kantor, ada data produksi yang harus update setiap hari termasuk di hari libur, dan aku nggak kemana-mana, nggak punya agenda mudik lebaran. Jadilah empat hari aku bertugas stand by @office sesuai jam kerja berlaku selama bulan Ramadhan: 7-15.

H1 – Horor di siang bolong

Nggak ada mikir apapun selain apa yang mesti kukerjakan di hari pertama Senin pagi, ngupdate data produksi mulai dari data hari Sabtu sebelumnya sampai data hari Minggu. Selesai update jam sembilan pagi. Jiiaaahhh…server mati. Aplikasi buat entry data otomatis nggak bisa diakses. Who’s to call? Di hari begini benar-benar sebatang kara aku di kantor. Adapun kemarin lihat list jadwal stand by mestinya ada beberapa rekan yang stand by juga tapi ternyata cuma jadwal ‘buat laporan aja’. 😦 Orang IT nggak ada, si boss juga nggak ada. Lah terus piye iki data? Pintu ruang si boss lampunya nyala, begitu aku tengok yaah… kosong. Muter otak, aku cek ruang sebelahnya tempat pc server. Nekad aku masuk, nggak pake nyalain lampunya dulu karena kupikir toh masih ada cahaya matahari masuk lewat jendela, meski ruangan itu terlihat remang. Meja pc server berada di paling dalam di sudut ruangan. Kucoba otak-atik pc server, pc itu masih tetap dalam kondisi aktif. Hanya sebatas klak-klik buka windows explorer, nyari link-link entah apapun, buka command prompt, nihil! Nggak ngerti harus diapain dan gimana caranya mengaktifkan servernya. Aku keluar lagi dan kembali ke ruang kerjaku. Kucoba jalan lain, lewat database access, artinya harus aku buat dulu datanya dalam bentuk template manual. Hiyaaaa… berasa sedang nyoba berpindah-pindah dari kemudi matic ke kemudi manual. Selesai dalam waktu tiga jam. Nyatanya tetap saja aku menemukan jalan buntu saat mencoba meng-uploadnya lewat database access. Ada nomor urut harus diisi dulu tapi susunan nomor per sumurnya tidak berurut. Haduuuhh pusing pala jodha! Jam sudah menunjuk hampir pukul dua belas siang, adzan dhuhur pun berkumandang dari masjid berjarak sekitar lima ratus meter dari kantor. Penasaran dengan server, aku kembali menyambangi ruang server. Kali ini pake nyalain dulu saklar lampu dekat pintu. Tanpa pikir macam-macam kucoba lagi utak-atik. Lagi serius-seriusnya kepoin pc server, tiba-tiba…

BRAAKK!!!

Sontak aku menoleh kaget ke arah sumber suara. Sebuah odner terjatuh dari tumpukkannya di kursi di sebelah meja server. Still with calm, aku beranjak dan mengembalikan odner yang mendadak jatuh sendiri tadi ke tumpukkannya, lalu mematikan saklar lampu dan kutinggalkan ruang server setelah pintunya kututup kembali. Hmm… aneh kalo diinget. Tumpukan odner tadi tidak terlalu tinggi, hanya ada dua tumpukkan di atas kursi yang tinggi kursinya hanya setinggi lutut dewasa. Kalaupun terjatuh suaranya mungkin nggak akan sekeras itu, lah ini sih dari suara hentakkannya seolah odner itu dibanting. Hiiyy…. tapi ya sudahlah, kembali aku fokus merapihkan file yang kukerjakan tadi. Abis itu matikan pc lalu pulang. Masih ada tiga hari berikutnya berpetualang stand by.

H2 – si boss dan langkah mute-nya

Pintu ruang kerja kubentang lebar pakai apar besar sebagai pengganjal agar pintu tidak menutup secara otomatis. Padahal bisanya kalau weekend aku kesini santai aja sendirian di ruang kerja dengan pintu tertutup. *masih keinget tentang odner kemarin*.

Sekitar jam delapan tiga puluh, akhirnya si boss nongol juga, langsung aja aku infokan keluhan tentang data yang belum bisa diupload karena server-nya mati. Sebentar aja si boss nanganin masalah server, malah dia pake ikut nunguin juga sampai kerjaanku kelar (nunggu di pos jaga di basement).  Cuma, tadi kenapa pas si boss masuk nggak ada sama sekali kedengeran suara langkahnya ya? Padahal kalau di hari-hari kerja biasanya langkah kaki si boss tuh paling berisik. *nepokjidat* kenapa tadi aku nggak merhatiin kakinya ya? kali aja nggak napak ke lantai makanya nggak kedengeran apa-apa pas dia datang dan pergi tadi. Jam sepuluh, kelar udah kerjaanku. Turun ke basement, pulang. Nggak lupa pamit dulu ke si boss yang lagi ngobrol sama shift jaga di pos. Tuh kan…. lupa lagi aku, nggak liat kakinya wkwkwk…

H3 – Dikunjungi Supervisor.

Si Mbak Pengawas sidak sekitar jam delapan. Biasa aku nggak pernah ngobrol sama beliau jadi mau nggak mau ngobrol juga deh sejenak. 😊

H4 – nothing happen

All done, lancar jaya abadi, udah ah, jam delapan lima belas dah kelar, pulang. Cuaca masih suam-suam kuku, sepertinya enak nih buat lanjut jalan-jalan. Besok lebaran.

Prinsip Makan

Buat gue soal makan itu prinsip banget, “makan bukan sekadar aktivitas untuk mengenyangkan tetapi harus termasuk menyenangkan.”

Bisakah lo menikmati sajian makanan lengkap dengan berbagai menunya yang menggoda -gratis pula- tapi moody-lo terganggu disebabkan lo sambil kudu mendengar celotehan buruk, kasar, dan kampungan. Mata lo mesti pula lihat pemandangan menyayat perasaan karena di saat jamuan makan bersama atau beramai lalu orang yang kamu sayang bikin sensasi pamer kemesraan dengan si dungu, misalnya?

Gue sih, mending milih nyari tempat makan lain. Bukan gue nggak suka kebersamaan, makanan maknyus plus gratis, tapi ya itu tadi prinsip gue. Kalau nggak menyenangkan, lebih lagi menyakitkan, mending gue cabut nyari food court lain, meski berbayar.

Fix Position

“Nah, si juru hapus dateng….”

Seseorang yang secara mendadak mendapat julukan baru tersebut nggak ngeh sama sekali dan dengan lempengnya tetap melenggang menuju tempat persemediannya, eh maksudnya meja kerjanya. Tiba-tiba saja saya kepikiran jahil tentang itu berkait dengan pengerjaan data produksi yang inputnya harus diawali dengan ritual penghapusan dulu di database penyimpanannya.

Jadi keinget semasa di bangku sekolah dulu. Selalu ada saja salah satu teman di kelas yang kena tugas jadi juru hapus papan tulis setiap kali papan tulis sudah penuh dengan catatan atau oret-oretan materi guru. Entah kenapa selalu dia dan dia lagi yang mendapat tugas mulia itu hehe…. Mungkin karena posisi duduknya paling depan dan paling dekat dengan meja guru. Karena memang papan tulisnya mau dipake lagi buat menuliskan materi selanjutnya atau memang ada siswa-siswa lain yang akan diberi tugas mengerjakan soal di papan tulis. Sampai kami suka ngeledek, wah dia dapet nilai tambahannya dari ngapus 😆

Kalau saya semasa di bangku SMA, kejadian rutin dan aneh, setiap kali di akhir jam pelajaran Sejarah. Udah emang jam pelajaran tersebut di penghujung waktu alias di jam terakhir, dan sudah menjadi tata tertib kelas ada sesi doa penutup setiap kali usai jam pelajaran terakhir. Mungkin karena saya duduk di barisan depan, meski nggak dekat juga dengan posisi meja guru, tapi si bu guru Sejarah ini selalu aja menyerahkan teks bacaan doa sesi penutup pada saya. Padahal yang duduk di barisan depan kan bukan saya aja, masih ada lainnya lagi. Ya namanya siswa dikasi tugas sama guru, nurut aja, hanya berbeda dengan cara yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya lainnya, namun teman-teman sekelas saya sudah pada maklum dan sangat paham kenapa saya agak berbeda, yaitu tanpa menduluinya dengan ‘salam’ ala mereka sembari dengan isyarat tangan menunjuk dari arah kepala sampai dada, tetapi langsung membaca teks yang tertera pada kertas doa. Kalau bacaan yang tertera pada kertas doanya sih isinya doa yang sifatnya general. Selang beberapa waktu jam pelajaran Sejarah berikutnya, saat bubaran kelas mungkin si bu guru heran dan penasaran kali ya? Beliau nanya kenapa saya tidak pakai ‘salam’ seperti yang lainnya kalau disuruh baca teks doa. Lantas saya lugas menjawab, maaf bu, saya kan muslim. Dari sejak saat itu di akhir pelajaran Sejarah syukurlah, teman lain yang mendapat giliran hehe…