Mangan sing puoooll

Mangan, mangan opo sing puaaaliiing puooll nampol? Jawabnya, mangan karo konco!

Menyenangkan memang kalau rame-rame jalan n makan bareng teman-teman, seolah segala penat bisa mendadak sirna seketika. Ajaib nggak tuh? Sama, aku juga sependapat. Satu dekade lalu aku juga sering mangan bareng konco. Kami satu tim dalam pekerjaan, sering seperjalanan dinas bersamanya, otomatis sering pula mangan bareng. Kadang ada kalanya temanku ini menilai-nilai pilihan menu yang kupilih. Karena pada dasarnya aku cuek, sing penting mangan, *makanan ini gue yang makan, napa lo yang protes?* namun mungkin karena kelewat sering juga mendengarkan komplainnya, semisal soal jenis yang terlalu umum sampai pada soal berapa yang mampu kubayar, sehingga pada waktunya sari makanan gagal mencapai perut disebabkan asam lambung naik karena emosi, aku mesti hentakkan sendok dan garpu di atas piring. Lalu dengan perasaan menyesalnya akhirnya dia membayar semua tagihan makanan termasuk pesananku. I said, no, thank’s. Maaf, bukannya aku tidak menghargai uangmu yang memang berlipat ganda dari punyaku, tapi aku ingin merasa nyaman saat makan bareng teman.

Kalau mangan bareng berangkat dari ketulusanmu, yiuuu….namun kalau untuk menerima ‘cawan kopi pahit’, sejak lama aku udah terbiasa mangan dewek di berbagai food court sampai angkringan.

Obras Dadakan

Hari ini meski tak ada yang mengatakan secara gamblang tetapi gerak laku kita seolah jujur mengungkap, ini adalah satu hari yang istimewa.

Empat puluh lima menit. Andai saja bukan panggilan ibadah yang menggema, tidak satupun dari kita rela beranjak meninggalkan obras (obrolan santai) dadakan di siang jelang sore di markas makmin ala-ala seadanya. Aku, Nensi, Jupe, Wisman, Handsy, dan Paud the singer. Keseharian biasa nyaris langka format obras seperti ini. Tanpa terasa kita malah asyik ngobrol, sekadar saling berbagi cerita pengalaman walau sesederhana apapun. Sharing tought and laugh. Put aside anything that maybe burdened your mind. Buang jauh aja segala prasangka. Karena kalau masih saja nilai-nilai negatif yang kamu benamkan dalam alam bawah sadarmu, semisal begitu ketemu si ini minus ketemu si itu minus, emang nggak pegel tuh mata? Nggak capek tuh hati? Kapan juga kamu akan berbaur dengan dunia? Moreover, you’ll never find real energy of happiness in this world. Obras tadi ini bukan formasi yang biasa apalagi rutin, cuma nggak sengaja ngumpul, anehnya kita kompak sedemikian betahnya. Wanna join us? Free of charge kok 🙂

Komet & Satelit

Ada yang tau nggak bedanya komet sama satelit? Komet berekor, nah kalau satelit ya ngekor melulu 😆 just intermezo.

Semenjak mengenal, senang berteman denganmu. Banyak kisah terurai dan canda terbagi. Sayangnya, beberapa butir kerikil yang kita lewati di hampir setahunmu mungkin saja tidak terlalu berasa di kaki melainkan berbekas di hati. Selalu ada niatan untuk meluang waktu bersama denganmu, tetapi sepertinya kamu hanya memberiku sepetak ruang dengan durasi yang berbatas. Mungkin, karena dugamu kusering meninggalkanmu sehingga kamupun merasa perlu menyamakan perilaku. Andai dalam sepetak ruang dan waktu yang sudi kamu bentang dan luang, kiranya akan kuungkap bahwa bukan inginku begitu, semata hanya karena di sana ada dia yang tak ingin pesta kecil rutinnya di setiap pagi kuhadiri.

Kau sering pergi tinggalkan aku

Ku juga suka meninggalkanmu

Lama-lama kau dan aku menjauh…

mending jadi diri sendiri aja deh 😀

Ilustration: nasi goreng tong tji tea house
Ilustration: nasi goreng tong tji tea house, free to be myself 🙂

Puasa 1436H

Sambil menunggu keputusan waktu beribadah di bulan suci Ramadhan….

puasaSebentar lagi Ramadhan, saya ingin mengirim buah-buahan untuk antum sekalian,
1. Markisa : Mari Kita Sabar
2. Stroberi : Selalu Introspeksi,Belajar Rendah Hati
3. Salak : Selalu Baik Dalam Bertindak
4. Jeruk : Janganlah Berbuat Buruk
5. Pisang : Pantang Iri, Sombong dan Angkuh
6. Anggur : Ayo Gemar Bersyukur
7. Melon : Menolong Orang Lain
8. Tomat : Tobat Sebelum Kiamat
9. Talas : Tak Ada Kata Malas
10. Mentimun : Menuntut Ilmu, Tidak Banyak Melamun

Wah! Lifestyle

DSC02914
status temen gw (di bold). cuco eemm? 🙂

Nggak jarang saya melihat sikap hidup orang-orang yang kian hedonis. Bahkan, istilahnya sampai bela-belain nombok dulu, tekor juga nggak apa-apa, asalkan bisa tampil ‘wah’ di mata orang lain yang berarti semata-mata tujuan hidupnya hanya untuk memenuhi konsumsi penilaian pandangan orang lain.

Kalau saya, sepakat banget sama prinsip teman saya si Gugun 😀

happy friday! and have a nice weekend 🙂

Pergeseran Pola

Mungkin sebagian dari kita terpikir kenapa keadaan sekarang tak semudah dahulu. Iya memang kita tidak mungkin berhindar dari pergeseran segala sesuatu yg terjadi di dlm perputaran waktu termasuk… pergeseran pola bepikir, bersikap, dan bertindak. Sehingga saya sarankan…better you dance with time rather than against anything in it, as long as nobody to have harmed. ~with love, Kirana~

Terbersit dari seilas rumpian siang tadi. Sudah menjadi rahasia umum seumpama untuk memasuki dunia kerja dan terutama menduduki posisi bergengsi haruslah memiliki “orang dalem” di dalamnya.

Tentu saja saya (katakanlah) memiliki kapabilitas untuk memperoleh posisi tsb jadi terhambat donk, karena nggak ada kenalan “orang dalem” sedangkan si A dengan mudahnya, otomatis karena bapaknya pejabat di sana. Dengan begitu tetap saja namanya ada pihak lain yang tersakiti, dirugikan, kecewa karena bukan dirinya yang terpilih untuk lulus memasuki posisi itu. Begitu protes teman saya. (Fidz). Maka teman saya yang di belahan dunia lain -ceritanya kami sedang teleconference bertiga via ponsel, halah :mrgreen: – maka seorang dari kami mengeluarkan jurus kalimat seperti di atas.

Ya memang udah jamannya begitu. Mungkin kalau jamannya bisa kita putar balik seperti dahulu, di mana sumber daya manusia tersedia minim berbanding terbalik dengan lapangan pekerjaan yang terbuka luas, sehingga tak heran kalau jaman ortu kita begitu mudahnya memasuki dunia kerja, dengan kelulusan murni, bukan hasil nepotisme. (saya)

Lalu apa kita akan bergulat melawan situasi yang sudah kadung memang seperti itu? Atau kita akan berkompromi/berkoalisi dengan keadaan? (Fidz)

Setidaknya, itu adalah makna disaat ini manusia semakin hidup ber-sosial. Bukankah jaman sekarang dikenal dengan jamannya Manusia Sosmed? Manusia Jejaring Sosial? Kalau untuk memasuki posisi lebih baik di lapangan kerja impian, milikilah koneksi atau “orang dalem” disana. Jadi kalau belum punya koneksi untuk memasuki dunia kerja yaah… berarti belum jadi Manusia Berjejaring, artinya belum menjadi makhluk bersosial hahahaha…… peace all. (Kirana)

Berbagilah

Buat seorang teman, rekan, sahabat, tebarkanlah senyum, lapangkan hatimu, bagikan kasih sayang walau sesederhana apapun itu. Tak ada sedikitpun niatku untuk meminta-minta apalagi sampai membebani siapapun itu orang-orang terdekat dan terkasih dengan keinginan yang kunginkan. Hanya terkadang memang aku jahil, iseng, sedikit senggol-senggol canda. 😀 Nggak usah diseriusi, toh aku kan nggak pernah benar-benar meminta wujud materi apapun, kalaupun ada yang aku pinta adalah sebatas doa dan ilmu pengetahuan.

Seperti pagi yang menepati janji, untuk menyapa dan membuka hari, seperti bening-nya embun yang memberi kesejukan. Berbagilah kemanapun kamu pergi, jangan biarkan seorangpun yang datang kepadamu pergi tanpa perasaan yang lebih baik dan jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur. Dan berbagi adalah salah satu cara untuk bersyukur atas nikmatNya.

Jujur

Sering dijadiin plesetan jadi jujur kacang ijo.

Seberapa mampukah saya jujur? Nah loh? Pertanyaan yang membingungkan ya? Ya sudahlah mari kita seruput saja dulu sikacang ijo.

Untuk yang terbiasa tak jujur, membuat seolah tak jujur itu sendiri sudah sebagaimana jujur. Lepas, tanpa ada beban.

Ada kalanya barangkali kemarin saking sudah terlanjur jengkelnya saya pada yang terbiasa tak jujur, sehingga kali ini memaksanya untuk mengungkap ada apa di balik ketidakjujurannya selama ini. Bukan saya memberlakukan peraturan tak boleh ini tak boleh itu seolah saya ini polisi, bukan pula hendak mengintervensi apapun urusan terdalam disana, tetapi hanya karena gerah karena ketidakjujuran semakin menampakkan kejujurannya.

Awalnya saya pikir jujur untuk yang mengungkap hanya berkemampuan mengudara dalam sedikit hari dalam hitungan tiga puluhnya. Eeee…. kemana selisih hari yang demikian banyak? Saya kenal pasti kepribadiannya yang tak bisa berlepas barang sejenak dari dunia script, lalu semudah itukah mengklaim diri berlepas dari script activity sekian lamanya? Itu pasti tak jujur. Kian kemari hipotesa dan uji data yang telah saya terapkan di lapangan kian mendekati fakta. Ada “dunia script” lain diselain yang biasa. Dan itu untuk mengisi sisa selisih hari yang begitu banyak dalam hitungan tiga puluhnya, mungkin dua puluh tujuh hari kurang atau lebihnya. Untuk apa? Bukan untuk menambah penghasilan, kan? Semata hanya untuk menambah apa yang selama ini tak didapat, menambah hati lain kedalam ruang yang bahkan tempatnya pun tidak ada. Terpaksa saya paksa… untuk ungkap ketidakjujuran tersebut. Sakit, ternyata bagi yang terbiasa tak jujur maka jujur itu sakit, menyakitkan. Masih lebih lumayan cukup di saya yang tahu, bukan di dia.

Permainan Persepsi

perception-1

Begitu mudahnya bagi pikiran orang kita terpersepsikan oleh segala sesuatu tampilan di media. Aku kira sejauh sebuah informasi belumlah disajikan lengkap dengan unsur 5W+1H maka tidaklah layak untuk tidak dipersepsikan, apalagi langsung disimpulkan sebagai sebuah konsep informasi. Ada baiknya gali dulu saja informasinya jika itu masih mentah dengan bertanya dengan pola tersebut.

Siang ini iseeeeeng banget nyetatus. Sekadar menyebut salah satu nama American Resto.

Sama sekali aku tidak menyebutkan, menuliskan, menggambarkan tentang menu makanan, atau ada embel-embel “otw’ atau “with si pulan”, dsb. Pokoknya tidak sama sekali. Hanya menulis satu nama resto aja. semenit kemudian berbagai komentar dan pertanyaan yang spesifik – as if as it is-  memberondong bak peluru. Spontan aku tergelak. Sampai haruskah ada counter senada pula di pihak lain? Wallahu’alam. Bagiku, apa pula peduliku siapapun mau makan apa, di mana, dengan siapa. Ya silakan. Suka-suka selera masing-masing  toh? Sementara sembari menikmati hidangan di rumah aku masih terpingkal dengan serbuan komen teman-teman.

Ya inilah Indonesiah hehehe….