Anugerah Merah Putih

merah putihBersyukur kita segenap bangsa Indonesia dianugerahi oleh Allah SWT kemerdekaan Republik Indonesia tepat di bulan Agustus. Bulan di mana di negeri khatulistiwa ini tengah beriklim cerah dan angin berhembus kencang mengibarkan gagah bendera kebanggaan negeri kita.

Bayangkan, andai saja kemerdekaan negeri kita ini bertepatannya dengan musim hujan. Sukarlah untuk mengibar gagah di langit biru cerah.

Like you

Cerita lawas sih. Dulu di suatu kawasan wisata di mana turis yang menyambangi tidak hanya lokal tetapi juga manca, Pernah ada peristiwa kocak. Dikarenakan para pedagang setempat kala itu belumlah seperti sekarang ini, belum fasih berbahasa Inggris, hanya modal tahu sekilas dari dengar-dengar di keseharian.

Setibalah seorang turis bule tengah melintas di tepian trotoar menuju destinasi wisata itu. Para pedagang produk kerajinan lokal bersemangat menyambut setiap turis yang lalu lalang. Salah satunya seorang pedagang kerajinan boneka monyet dari kulit serupa asli. Dengan penuh semangat si pedagang boneka monyet itu pun mendekati si bule. Menawarkan dagangannya.

β€œlike you… like you…?”

Si Bule kelihatan bingung. β€œWHAT?!!” sanggahnya. Begitu didekatkannya boneka monyet itu kearahnya.

Si pedagang makin bersemangat. Dengan singlish-nya, β€œYeah… like you? Like you Mister?” Kalau diartikan maka artinya: seperti kamu, seperti kamu, pak!

Yaialaaah gimana tuh bule kaga ngambek kalau dirinya disama-samai sama monkey πŸ˜€

Si Bule melengos sebal.

Si pedagang terus mengejar sambil terus berteriak, β€œHey Mister…. Like you? Like youuuuuuu?”

Episode endingnya silakan tebak sendiri, pemirsa πŸ˜†

Kisah tersebut semata karena salah penyampaian.

Sedikit bergeser topik: saya lebih suka kalau ditawari produk. Kalau cocok saya beli, nggak minat ya saya katakan tidak. Nah kalau di luar itu yang ditawarkan sebenarnya sudah di luar kapasitas saya. Mau terang-terang saya bilang tidak, nanti pasti ada jiwa yang tersinggung dan terbakar. Dan itu akan berkelanjutan menjadi dendam kesum(b)at. Harapan saya, mbok dapat dimengerti dari gestur dan sikap saya β€˜ti anggalna oge udah bisa terbaca sebagai ungkapan kata β€˜tidak’. Loh makelarnya kok ya seperti hilang ingatan gitu dari tahun jebot sampai musim milenial, micin, X, alpha, dan sebagainya, mekso menawarkannya berulang-ulang. Barangkali saya pun perlu melakukan seperti ending of episode si bule dan pedagang boneka monyet.

Monas Numpang Lewat

Warga bertumpah ruah memadati tepian jalan Siliwangi untuk menyaksikan rangkaian perayaan HUT ke-650 Kota Cirebon, Minggu 1 September 2019. Meski terik membakar ubun-ubun tapi rasanya tak rela melewatkan begitu saja parade Costume Carnival di depan gedung Balaikota Cirebon yaitu peragaan busana etnik yang ditampilkan per kelompok dari kalangan pelajar, warga umum, sampai dari berbagai instansi. Disaksikan langsung oleh Walikota dan jajarannya, serta turut hadir pula Wakil Gubernur Jawa Barat.

Kebetulannya saya sukanya mencari objek-objek yang unik buat di-capture. Masa iya sih lagi perayaan HUT Cirebon tiba-tiba ada intermezo begini….

.

.

.

.

.

.

.

mau pindah ke Kalimantan tapi lewat Cirebon dulu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Be Social

Thank you, sweety!

Good luck ya, sist

Hati-hati di jalan, say!

Hey cantik!

Ungkapan-ungkapan semacam itu tentunya akrab di telinga kita dan tidak lagi bersifat eksklusif. Sering dari teman akrab, sodara, dan bahkan lebih seringnya dari pedagang. πŸ’°πŸ’΅

Tidak ada yang istimewa, dan memang tidak perlu juga dianggap istimewa. Hanya ungkapan sekadar pemanis cita rasa sebagai wujud keakraban dan kesetiakawanan keseharian. Secara pribadi saya juga yang menganggap itu hal biasa. Toh, kalaupun yang mengungkapkannya benar-benar care, so just enjoy your life. Adapun saya nggak ngeh dengan ungkapan manisnya ya anggaplah sepoi angin lalu. Nggak perlu balas nge-gas. Seolah yang berhak mengungkapkan sayang itu semata hanya mutlak si dia seorang. Hmm…where do you live?

Fortuner?

Ba’dah maghrib begini tengah nongkrong di angkring roti bakar di totoar ruas Jalan Raya Sunan Gunungjati yang sedang macet-macetnya. Namanya negeri kita negeri yang banyak musim. Kalau menjelang Idul Fitri udah pasti musimnya mudik. Jadi hari ini, dan bahkan sejak kemarin ruas jalan tujuan Indramayu-Jakarta ini tengah dipadati rentetan bus antar kota. Bus-bus kosong. Di sisi badan bus terpampang spanduk dengan teks “mudik bareng nasional”, sepertinya bus-bus itu dikerahkan ke ibu kota guna mengangkut para calon pemudik.

Lagi nunggu pesanan saya dibuatin, tiba-tiba ada mamang becak lewat terus langsung menatap saya sambil berteriak …”mobilnya jangan parkir disini, bikin sempit jalan!” Saya sama tukang roti saling melongo, emang itu Fortuner siapaaaa… kita pada ngga tau. Saya memang satu-satunya pembeli saat ini. Dan sejak tadi mobil dimaksud sudah lama parkir di sisi trotoar dekat gerobak roti bakar. Laaah, saya ngga bawa mobil πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Jadi terpikir, barangkali aja ucapan si mamang tadi adalah do’a buat saya yang udah lama mendamba pingin ganti yang sudah usang. Iya diamini aja kali yah? Walau selama ini ngga terbersit sampai yang segede Fortuner, haha….

Bocah Tanggung

Dalam ruang kelas. Saling bercakap di antara kita terkadang tentang fluktuasi suatu nilai dan fenomena, tentang perbandingan nilai harga suatu produk dari sisi kualitas dan kuantitas, tak jarang pula kita menertawakan lakon panggung politik lewat media yang kita lihat. Sejenak meninggalkan kelas untuk penerapan profit ekonomi terencana.

Lalu bocah tanggung datang bergabung. Membaur tanpa canggung. Celotehnya kesana-sini nggak nyambung. Ditanya tentang laut jawabannya gunung. Lontar cemo’oh berulang menelaah pada setiap gerak dan gestur kita, leluconnya sama sekali nihil nilai jual. Dia terhibur – dengan sinismenya sendiri.

Kita hanya saling berpandang. Melipat senyum dalam kulum. Gegas kembali kita dalam perkuliahan tentang kehidupan.