Fortuner?

Ba’dah maghrib begini tengah nongkrong di angkring roti bakar di totoar ruas Jalan Raya Sunan Gunungjati yang sedang macet-macetnya. Namanya negeri kita negeri yang banyak musim. Kalau menjelang Idul Fitri udah pasti musimnya mudik. Jadi hari ini, dan bahkan sejak kemarin ruas jalan tujuan Indramayu-Jakarta ini tengah dipadati rentetan bus antar kota. Bus-bus kosong. Di sisi badan bus terpampang spanduk dengan teks “mudik bareng nasional”, sepertinya bus-bus itu dikerahkan ke ibu kota guna mengangkut para calon pemudik.

Lagi nunggu pesanan saya dibuatin, tiba-tiba ada mamang becak lewat terus langsung menatap saya sambil berteriak …”mobilnya jangan parkir disini, bikin sempit jalan!” Saya sama tukang roti saling melongo, emang itu Fortuner siapaaaa… kita pada ngga tau. Saya memang satu-satunya pembeli saat ini. Dan sejak tadi mobil dimaksud sudah lama parkir di sisi trotoar dekat gerobak roti bakar. Laaah, saya ngga bawa mobil ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Jadi terpikir, barangkali aja ucapan si mamang tadi adalah do’a buat saya yang udah lama mendamba pingin ganti yang sudah usang. Iya diamini aja kali yah? Walau selama ini ngga terbersit sampai yang segede Fortuner, haha….

Bocah Tanggung

Dalam ruang kelas. Saling bercakap di antara kita terkadang tentang fluktuasi suatu nilai dan fenomena, tentang perbandingan nilai harga suatu produk dari sisi kualitas dan kuantitas, tak jarang pula kita menertawakan lakon panggung politik lewat media yang kita lihat. Sejenak meninggalkan kelas untuk penerapan profit ekonomi terencana.

Lalu bocah tanggung datang bergabung. Membaur tanpa canggung. Celotehnya kesana-sini nggak nyambung. Ditanya tentang laut jawabannya gunung. Lontar cemo’oh berulang menelaah pada setiap gerak dan gestur kita, leluconnya sama sekali nihil nilai jual. Dia terhibur – dengan sinismenya sendiri.

Kita hanya saling berpandang. Melipat senyum dalam kulum. Gegas kembali kita dalam perkuliahan tentang kehidupan.

Flat Tire

Paling risih kalau lihat satu aja ban mobil rada kempes. Makin terlewatkan pengecekannya makin gembos aja itu ban, manding-mandingnya buru-buru dibawa dan diperiksa minimal ke service tambah angin, supaya dicek tekanan anginnya dan ditambah. Selagi masih bisa diservice.

Karena secara logika, nggak mungkin kita memastikan laju kendaraan bisa lancar, lebih lagi tinggi kecepatannya, sedangkan untuk stabil saja tidak mungkin kalau kondisi satu dari keempat ban ada yang kempes.

“Nggak apa kempes satu, kan masih bisa mengandalkan tiga lainnya,” kira-kira ada nggak ya yang punya pemikiran seperti itu? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Ya itu tadi, langkah pertama coba dicek kondisi ban yang kempes tadi, ditambah tekanan angin, diservice lah pokoke, kalau nggak bisa juga mungkin bannya memang udah gundul, ya artinya satu ban rusak itu kudu di#ganti. Daripada membuat laju kendaraan roda empat jadi tidak stabil dan berpotensi membahayakan secara keseluruhan baik bagi pengemudi maupun penumpang.

#jernihpikiran

Salam Kelingking Ungu

Di masa sekarang kita menjadi bangsa yang sangat peka terhadap setiap moment. Apapun itu maka dalam sekejap saja serentak hampir semua dari kita inginnya ikut terlibat dalam moment tersebut, tak lupa mempublikasikannya sebagai bukti keikutsertaan.

bukan ikut-ikutan salam kelingking ungu, tapi memang tadi memar abis kejepit laci meja ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

 

 

Istimewa

Begitu istimewanya hujan. Selalu menjadi trending topik bilamana kehadirannya tiba.

Terbukti, setiap kali derainya turun dari langit setelah diawali woro-woro suara gemuruh, maka yang ramai membahasnya tak cuma mereka yang kebetulan terterpa di jalanan bahkan menjadi buah kata di belahan dunia maya. Coba dicek posting di berbagai media, pasti ada saja yang serta merta memunculkan posting icon bentuk awan bercucuran titik-titik air. ย ๐ŸŒง ย Sebaliknya bilamana cuaca sudah kembali cerah lalu ada nggak yang posting icon matahari gitu? Biar ๐ŸŒž nggak merasa diperlakukan dibeda’in. ๐Ÿ˜„

Biar nggak masuk

Suatu sore….

Emak: tong! ujan deres! petir lagi! buruan masuk! gue mah paling serem dah ama ujan tambah petir kenceng banget

Otong: iyaaa maaakk….

(Bergegas sembari basah kuyup si bocah berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu)

Emak: ngapa lu kunci pintu? pan masih sore tong?

Otong: biar ujan ama petirnya nggak ikutan masuk, mak

Tiket

Pilu kalbu mengharu biru

Saat terakhir aku bersamamu.

dan kamu pun pergi berlalu.

Aku berdiri di sini memikul jutaan rindu.

Sangat ingin kembali bertemu dan jumpa lagi denganmu.

Namun kini kuurung keinginan itu.

Karena kamu pernah menitip pesan untukku,ย โ€œdatanglah kelak di hari pernikahankuโ€ฆ,โ€

Pintaku kini padamu, lupakan aku.

Bukan karena kutak ridho dengan pernikahanmu.

Tapi, lebih kepada penat dan galau memikirkanโ€ฆ.

Biaya tiket perjalanan dan penginapan untuk sekadar hadir di pelaminanmu.

face-3

.

.

.

.

.

.

๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜…๐Ÿ˜†

#ada-adaajasikanza