Persepsi vs Terbuka

Sependapat banget dengan statement ini

Kecanggihan teknologi gadget belum tentu berbanding lurus dengan tingkat intelegensi penggunanya.

Nggak perlulah aku jelasin lagi gimana di jaman now ini segala informasi berlalu lalang dengan mudahnya melintasi media dalam genggaman kita yang entah itu benar atau hoax tetap saja menimbulkan beragam persepsi bahkan lebih jauhnya lagi menggiring kepada pengambilan keputusan dan tindakan secara sepihak – tanpa ada upaya tabbayun lebih dulu.

Sudahlah, secara pribadi aku nggak urus hal semacam itu, ada info miring begini begitu melintas batas di hadapan mata dibawa santai aja. Hingga untuk ranah yang paling personal sekalipun. Seumpama ada yang menyerupakan catatanku macam Jonru 😀 atau gaya bicaraku mengikuti Ahok *halaah moso iya gitu?* bolehlah mereka mengenaliku seperti itu tetapi jauh di lubuk hati terdalam *ciaaahh* tidak ada niatanku untuk menebar kebencian, fitnah, apalagi sampai menuhankan diri dengan menilai-nilai orang, melainkan semata karena aku peduli. Hanya ingin supaya apa yang semula telah ajeg dalam relnya, maka janganlah sampai dia keluar jalur. *ya nggak tau juga sih, kalau emang dari sononya udah biasa melenceng dari jalurnya, aku ra urus hehe…*

Adapun menegur, biasanya aku juga nggak serta-merta hantem kromo. Ajak dulu bicara empat mata, masih belum mau dengar. ‘Senggol-senggol’ dengan candaan – meski candaanku emang garing, yang disenggol masih juga membelink, ya terpaksalah ta’semprot dengan komen pedas. Alhamdulillah, hasilnya yang ditegur bukannya insyaf tapi akunya yang langsung di-delcon 😦

Ya udah, mau gimana lagi, kalaupun terlalu jauh aku bukan sesiapa, nggak punya wewenang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apalagi masalah persepsi dan isi hati. Mungkin, kadang ada aja postingan aku begini begitu, atau ada aja rumpian aku dengan teman-teman sedang membahas apa, eh, kok tiba-tiba ada yang merasa ‘tersenggol’, merasa tersengat, lalu dengan mudahnya main hakim sendiri. Seolah apa yang seketika dilihat, didengar dariku itu menurut persepsinya adalah penebaran kebencian, cemo’ohan padanya, bully, dsb. Tanpa bertanya lebih dulu. Padahal bukannya tidak mungkin untuk bertanya langsung padaku. Kalau aku ada di dekatnya bisa langsung tanya, kalau kita berbeda ruang dan waktu bisa hubungi aku via aplikasi komunikasi (itu juga kalau nggak keburu men-delcon aku), kalau khawatir terdengar orang banyak aku nggak keberatan membuka pintu rumah atau menyediakan waktu andai memang ingin mengklarifikasi. Jadi, tidak sibuk menebak-nebak sendiri, membuat praduga sendiri lalu diam-diam menimbulkan kebencian dalam hati. Laah…kalau sudah seperti itu kan susah ya? Masa aku mesti main tebak-tebakan isi hati orang kalau tiba-tiba langkahnya menjauhi aku, bicaranya dibungkam, kalaupun kutanya ala-ala Peterpan (jaman dulu) “ada apa denganmu?” Terus dijawab dengan lagunya Ratu, “aku baik-baik sajaaa…” Ya terus kapan mau ketemu jawaban dan solusinya? Apa mesti berkirim pertanyaan dulu ke program Mamah & Aa beraksi? Selamanya aku nggak akan pernah tau yang mana dariku yang salah dan perlu koreksi, dan selamanya juga kamu terus menumbuhsuburkan kesalahpahaman dalam hati.

Advertisements

True

If a star falls right in front of my eyes, I would not say a falsehood to the moon or say something unlike the reality of the next day to the sunshine, because I stand on what I am. ~ mcoffeey

Cara Informasi Mengalir

Dulu pernah ketika masih duduk di bangku SMA, seorang guru Bahasa Indonesia memberikan sebuah simulasi. Caranya, dia memberikan informasi lewat tulisan pada secarik kertas, seorang siswa yang duduk di bangku paling depan ujung diminta membacanya dalam hati. Lalu siswa tadi diminta meneruskan informasi tadi kepada teman di bangku sebelahnya dengan cara membisikan. Dan teman yang menerima informasi tadi diwajibkan meneruskan membisikkan infomasi tersebut secara berantai kepada teman-teman seisi kelas.

Informasi yang tertulis pada kertas, yang pertama kali dibaca oleh siswa pertama isinya seperti ini:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, lengkuas, bawang merah, tidak pakai bawang putih, cabai merah, dan gula merah sedikit saja.”

Begitu informasi sudah sampai di siswa barisan tengah maka informasi semakin berubah. Semakin jauh sampai kepada siswa di bangku belakang informasi semakin jauh akurasinya dari informasi awal. Isinya menjadi:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, labu siam, lada, bawang putih, melinjo, asam merah, dan gula sedikit.”

Itu bisa-bisanya ada penambahan labu siam, bawang putih, melinjo, asam merah dari manaaa? 😆 sedangkan bawang merah, daun salam, lengkuas, cabai merah dihilangkan, begitu pula gula merah menjadi gula saja, kan bisa jadi rancu nanti dikira gula pasir :mrgreen:

Begitulah kita. 🙂

Baru-baru kemarin kita menerima informasi dari Kemenkominfo tentang registrasi ulang pengguna kartu prabayar yang harus dikirim via sms ke nomor 4444. Awal saya mendapat sebaran sms tersebut dari Kemenkominfo bahwa registrasi dilakukan per tanggal 31 Oktober 2017 dengan mengetikkan ULANG#NO NIK#NO KK# dikirim ke nomor 4444. Dari hasil googling, dapat lagi informasi bahwa registrasi kartu prabayar dilakukan mulai tanggal 31 Oktober 2017 sampai dengan 28 Februari 2018. Lebih lanjut lagi, saya menerima sebaran informasi via whatsapp tanggal 28 Oktober 2017 kemarin bahwa waktu registrasi prabayar tinggal dua hari lagi sampai 31 Oktober 2017. Lalu informasi kian berkembang selain NO NIK dan NO KK pakai juga nama ibu kandung. Pagi ini saya terima informasi lagi dari teman-teman di whatsapp bahwa informasi Registasi Ulang dari 4444 itu HOAX yang mengatasnamakan Keminfo.

Hahaha…. here we are, we live in a homeland where the information flows by randomly  💡

 

 

Tetap Menghijau

Sesiang ini ada sesuatu di teras samping rumah yang mengusik pandangan mata. Entah ini tanaman apa dan dari mana, bukan sengaja ditanam.

Kalau diperhatikan, dia tumbuh di celah paving block yang tanahnya saja mungkin kurang subur, bahkan kering dan terpapar panas matahari begitu menyengat. Meski bagian terawal dedaunannya ada yang layu, tapi lihatlah bagian atasnya, terus bertumbuh dan menghijau. Luar biasa ya semangat tanaman ini.

Sama halnya hidupku. Bukannya nggak jarang di masa-masa sebelumnya pernah dikecewakan, bahkan mungkin dimusuhi, dibenci, dijauhi. Namun kuinsyafi, ada banyak penyampaian kekecewaan yang dilontarkan padaku juga asal muasalnya berasal dari perilakuku yang mengecewakan orang lain. Sehingga yang kulakukan bukan membiarkan seluruh daun hijau semangatku melayu semua, yang layu biarlah berlalu, terus mengoreksi dan memperbaiki diri, tetap merangkul dan menjalin silaturahim. Bolehlah tengok di akun media sosial si wajah buku pun diramaikan oleh kicauan teman-teman, bolehlah tak percaya sembilan puluh persen dari mereka yang hingga kini setia meramaikan postinganku sudah pernah atau malah sering kecewa denganku begitupun sebaliknya. Tetapi kita sadar, adapun kita saling menegur bukan karena benci, fitnah, dan untuk mengobar permusuhan melain karena kita saling peduli dan ingin membaikkan karib sesama kita, insyaf diri bahwa kita manusia makhluk sosial hidup di dunia bermasyarakat bukan minion hidup di pulau bidadari :mrgreen:

Merdeka Ruang dan Waktu

Awalnya sempat terpikir, memindahkan yang biasa. Tetapi resikonya agak merepotkan. Butuh ektra energi dan keluangan waktu. Lantas, terinspirasi dari arti makna kemerdekaan RI yang ke-72. Dalam perihal yang agak-agak meranah pada urusan baper, sehingga perlulah sekiranya aku memaknai makna merdeka itu adalah memberikan ruang dan waktu. Ruang dan waktu bagi individu agar bisa mengenali dirinya sendiri, mengenali apa dan bagaimana maunya, dan tentang pewujudan keinginannya sendiri seperti apa. Agar tidak perlu ada yang merasa terikat dan diikat. Agar tidak perlu ada penimpaan rusuh-resah atas dasar keinginan yang lain. *Jadi keinget lagunya kang Yana huhuy 🙂 *

Susah Move on

Terilikikitik dari tulisan di blog tetangga bertema susah move on, pengertian susah move on itu kebanyakan diartikan orang adalah tentang seseorang yang udah putus sama kekasihnya tapi belum bisa membuka hatinya untuk kehadiran orang yang baru lagi. Jiwa susah move on sebenarnya bermakna luas. Misal, dulu saya dikenal sebagai pribadi childish, teman-teman saya di masa itu bahkan sudah memberi stempel dan bahkan sepertinya itu adalah stempel abadi dalam pikiran mereka bahwa seumur-umur saya tetap sebagai ‘si childish’. Padahal, tulisnya, seiring dengan berjalannya masa, bertambahnya pengalaman hidup, bisa memberikan pembelajaran bagi jiwa dan perilaku. Mungkin dulu dicap childish, tapi apakah para pemberi stempel itu terus berada bersama berdampingan dan bersisian sepanjang hidupnya bersama saya? Sehingga ketika dalam suatu perjumpaan mereka mencoba menyulut-nyulut emosi ‘si childish’, semisal dengan cara mengajak debat kusir suatu topik yang urgensinya aja bahkan nggak ada. Ternyata umpan itu dimentahkan, yang dulu dicap childish kini sudah jadi pribadi dewasa, dan cukup menepis umpan emosional itu dengan senyum aja *pake senyumnya shaun the ship pula*. Maaf bro, saya muslim dan saya sedang shaum. Sembari ditinggalnya begitu saja si penyulut emosi. hehe….

Kesimpulannya, begitulah pribadi yang susah move on. Mengira bahwa karakter individu tidak bisa berubah. Dan parahnya, dia mengira orang dari masa lalu dikira masih serupa dengan yang lalu, membuat kalkulasi perkiraannya sendirilah yang tidak move on.

Daya

Boleh saja sesama mungkin menuding tentang rasa kekurangbersyukuran. Tetapi makna sebenarnya bukanlah itu. Melainkan lebih menyoal tentang keadilan. Oh, tidak, terlalu berat jika diskusi kita tentang keadilan. Bagimana kalau tentang “sama rasa”? Meski tidak harus sama rata.

Berbeda bentuk, daya, dan fungsinya, setidaknya semua ukuran tersebut bekerja untuk memberikan kontribusi energi kehidupan pada suatu benda sehingga dapat bergerak lancar. Kalau harus mengisi ulang dayanya, mengapa tidak semua diisi? Tarulah seumpama pengisian ulangnya satu berbanding setengah, ketimbang semisal sepuluh berbanding nol. Apa pikir yang kecil-kecil tidak sama sekali memberi kontribusi energi, memberi kehidupan, yang perlu juga untuk hidup?

sumber ilustrasi: http://www.jualhp.net/2015/06/mengenal-jenis-dan-perbedaan-ukuran.html

‘Kita’

Sekitar dua tahun lalu, masih saya ingat betul ketika dengan gamblang kalimat itu terucap. Di hadapan kami, semua yang menggerakan roda tanpa terkecuali. Seseorang yang kiranya dipercaya, didaulat untuk memiliki kewenangan penuh tentunya kata-katanya sangatlah dijadikan anutan, dan kami tanpa terkecuali tidak satupun menganggap ucapannya itu adalah sedang bersenda gurau.

“Kalau ini (project) berhasil, Insha Allah akan ada peningkatan income bagi kita.”

Menjadi terpelajar adalah identik dan berbanding lurus dengan penggunaan bahasa. Kata ‘kita’ pada saat itu maka pengenaannya adalah seluruh orang yang terlibat dalam perbincangan, lebih lagi perbincangan tersebut merupakan forum di mana seluruh kru hadir tanpa terkecuali diundang dalam satu ruangan. Kalau yang dimaksud tidak melibatkan seluruh orang dalam perbincangan, hanya untuk segelintir orang saja maka tidak perlulah menggunakan kata ‘kita’ lebih lagi dikumandangkannya kepada semua yang hadir. Saran saya, buat saja semacam forum ‘petak umpet’ sehingga kata ‘kita’ tidak menjadi salah sasaran dan penempatannya.

‘Kita’….. saya pikir….ya kita semua, termasuk para penggerak roda yang mungkin karena posisi penggerak roda ada di bawah atau di belakang, nggak kelihatan, sehingga ketika ada kata ‘kita’ nggak mengena ke kita.

ilustrations

Rewel Soal Makanan

Belakangan ini kalau mau diturutin semakin marak aja beragam gerai makanan cepat saji, sampai-sampai kalau ditelaah dengan rajin, ada banyak juga gerai makanan yang sebenarnya jenis makanannya bisa dengan mudah kita buat sendiri di keseharian. Hanya saja kadang malah sering yang kita cari bukan lagi apa makanannya melainkan brand yang melekat padanya sehingga seolah-olah dengan makan disana otomatis menaikkan harkat dan martabat kita. Padahal yang bikin aturan begitu siapa ya?

Kalau buatku pribadi, buat apa pergi ke gerai makan kalau misalnya menunya mie instan pake korned, mie instan pake keju, mie instan pake sosis, dll. Hanya karena dijualnya di gerai makanan yang gaol bangs gewtoo lwuooh… 😀 lantas ya wajar aja untuk menikmatinya kita rela merogoh kocek puluhan ribu rupiah plus pe- pe- en. Laah… padahal jenis makanan sesederhana begitu bikin aja sendiri di rumah. Pernah, aku icip-icip roti bakar ala-ala anak gaul gitu, ternyata dari segi komposisi dan rasa jauh banget dibanding yang biasa dijual di gerobak pinggir jalan. Yang ngebedain apanya? Sama aja. Pake susu kental manis, pake taburan keju, pake taburan cokelat. Apesnya, tekstur rotinya kempes pes….pes…peeess… hadeeehhh nendang ngga kerasa bikin dompet ompong iya 😆 Kadang misalnya makanan jenis roti ukurannya nggak lebih besar daripada kotak sabun mandi atau minuman jus buah hanya seukuran cangkir kopi tapi untuk menikmatinya mesti rela menukarnya dengan selembar uang berwarna biru bergambar Pahlawan I Gusti Ngurah Rai atau lembar merah bergambar Ir. Soekarno-Hatta. Makanya pemirsa, milih makanan jangan mau ketipu cuma gara-gara pake nama, pake tempatnya karena keren, buat diaplot di medsos, paling-paling ramai dapat jempolnya cuma sehari doank dan jempol khalayak itu nggak juga menjadi sesuatu yang berarti buat kita :mrgreen: Hal lain yang kupertimbangkan saat memilih karakteristik makanan. Ada makanan yang warnanya sampai heboh banget. Waduh, aku jadi suka su’udzon, jangan-jangan pakai pewarna kain? Mending yang iya-iya aja lah. Atau lebih baik lagi kalau bisa membuatnya sendiri di rumah. Kemarin lagi coba-coba bikin omelet beefsmoke buat menu sarapan meski bentuknya masih acak-adut tapi rasanya lumayan lah. Bahan-bahannya meski agak mahal tapi bisa untuk beberapa kali bikin. Hari gini loh beibs… be a creative!