Cara Informasi Mengalir

Dulu pernah ketika masih duduk di bangku SMA, seorang guru Bahasa Indonesia memberikan sebuah simulasi. Caranya, dia memberikan informasi lewat tulisan pada secarik kertas, seorang siswa yang duduk di bangku paling depan ujung diminta membacanya dalam hati. Lalu siswa tadi diminta meneruskan informasi tadi kepada teman di bangku sebelahnya dengan cara membisikan. Dan teman yang menerima informasi tadi diwajibkan meneruskan membisikkan infomasi tersebut secara berantai kepada teman-teman seisi kelas.

Informasi yang tertulis pada kertas, yang pertama kali dibaca oleh siswa pertama isinya seperti ini:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, lengkuas, bawang merah, tidak pakai bawang putih, cabai merah, dan gula merah sedikit saja.”

Begitu informasi sudah sampai di siswa barisan tengah maka informasi semakin berubah. Semakin jauh sampai kepada siswa di bangku belakang informasi semakin jauh akurasinya dari informasi awal. Isinya menjadi:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, labu siam, lada, bawang putih, melinjo, asam merah, dan gula sedikit.”

Itu bisa-bisanya ada penambahan labu siam, bawang putih, melinjo, asam merah dari manaaa? 😆 sedangkan bawang merah, daun salam, lengkuas, cabai merah dihilangkan, begitu pula gula merah menjadi gula saja, kan bisa jadi rancu nanti dikira gula pasir :mrgreen:

Begitulah kita. 🙂

Baru-baru kemarin kita menerima informasi dari Kemenkominfo tentang registrasi ulang pengguna kartu prabayar yang harus dikirim via sms ke nomor 4444. Awal saya mendapat sebaran sms tersebut dari Kemenkominfo bahwa registrasi dilakukan per tanggal 31 Oktober 2017 dengan mengetikkan ULANG#NO NIK#NO KK# dikirim ke nomor 4444. Dari hasil googling, dapat lagi informasi bahwa registrasi kartu prabayar dilakukan mulai tanggal 31 Oktober 2017 sampai dengan 28 Februari 2018. Lebih lanjut lagi, saya menerima sebaran informasi via whatsapp tanggal 28 Oktober 2017 kemarin bahwa waktu registrasi prabayar tinggal dua hari lagi sampai 31 Oktober 2017. Lalu informasi kian berkembang selain NO NIK dan NO KK pakai juga nama ibu kandung. Pagi ini saya terima informasi lagi dari teman-teman di whatsapp bahwa informasi Registasi Ulang dari 4444 itu HOAX yang mengatasnamakan Keminfo.

Hahaha…. here we are, we live in a homeland where the information flows by randomly  💡

 

 

Advertisements

Tetap Menghijau

Sesiang ini ada sesuatu di teras samping rumah yang mengusik pandangan mata. Entah ini tanaman apa dan dari mana, bukan sengaja ditanam.

Kalau diperhatikan, dia tumbuh di celah paving block yang tanahnya saja mungkin kurang subur, bahkan kering dan terpapar panas matahari begitu menyengat. Meski bagian terawal dedaunannya ada yang layu, tapi lihatlah bagian atasnya, terus bertumbuh dan menghijau. Luar biasa ya semangat tanaman ini.

Sama halnya hidupku. Bukannya nggak jarang di masa-masa sebelumnya pernah dikecewakan, bahkan mungkin dimusuhi, dibenci, dijauhi. Namun kuinsyafi, ada banyak penyampaian kekecewaan yang dilontarkan padaku juga asal muasalnya berasal dari perilakuku yang mengecewakan orang lain. Sehingga yang kulakukan bukan membiarkan seluruh daun hijau semangatku melayu semua, yang layu biarlah berlalu, terus mengoreksi dan memperbaiki diri, tetap merangkul dan menjalin silaturahim. Bolehlah tengok di akun media sosial si wajah buku pun diramaikan oleh kicauan teman-teman, bolehlah tak percaya sembilan puluh persen dari mereka yang hingga kini setia meramaikan postinganku sudah pernah atau malah sering kecewa denganku begitupun sebaliknya. Tetapi kita sadar, adapun kita saling menegur bukan karena benci, fitnah, dan untuk mengobar permusuhan melain karena kita saling peduli dan ingin membaikkan karib sesama kita, insyaf diri bahwa kita manusia makhluk sosial hidup di dunia bermasyarakat bukan minion hidup di pulau bidadari :mrgreen:

Merdeka Ruang dan Waktu

Awalnya sempat terpikir, memindahkan yang biasa. Tetapi resikonya agak merepotkan. Butuh ektra energi dan keluangan waktu. Lantas, terinspirasi dari arti makna kemerdekaan RI yang ke-72. Dalam perihal yang agak-agak meranah pada urusan baper, sehingga perlulah sekiranya aku memaknai makna merdeka itu adalah memberikan ruang dan waktu. Ruang dan waktu bagi individu agar bisa mengenali dirinya sendiri, mengenali apa dan bagaimana maunya, dan tentang pewujudan keinginannya sendiri seperti apa. Agar tidak perlu ada yang merasa terikat dan diikat. Agar tidak perlu ada penimpaan rusuh-resah atas dasar keinginan yang lain. *Jadi keinget lagunya kang Yana huhuy 🙂 *

Susah Move on

Terilikikitik dari tulisan di blog tetangga bertema susah move on, pengertian susah move on itu kebanyakan diartikan orang adalah tentang seseorang yang udah putus sama kekasihnya tapi belum bisa membuka hatinya untuk kehadiran orang yang baru lagi. Jiwa susah move on sebenarnya bermakna luas. Misal, dulu saya dikenal sebagai pribadi childish, teman-teman saya di masa itu bahkan sudah memberi stempel dan bahkan sepertinya itu adalah stempel abadi dalam pikiran mereka bahwa seumur-umur saya tetap sebagai ‘si childish’. Padahal, tulisnya, seiring dengan berjalannya masa, bertambahnya pengalaman hidup, bisa memberikan pembelajaran bagi jiwa dan perilaku. Mungkin dulu dicap childish, tapi apakah para pemberi stempel itu terus berada bersama berdampingan dan bersisian sepanjang hidupnya bersama saya? Sehingga ketika dalam suatu perjumpaan mereka mencoba menyulut-nyulut emosi ‘si childish’, semisal dengan cara mengajak debat kusir suatu topik yang urgensinya aja bahkan nggak ada. Ternyata umpan itu dimentahkan, yang dulu dicap childish kini sudah jadi pribadi dewasa, dan cukup menepis umpan emosional itu dengan senyum aja *pake senyumnya shaun the ship pula*. Maaf bro, saya muslim dan saya sedang shaum. Sembari ditinggalnya begitu saja si penyulut emosi. hehe….

Kesimpulannya, begitulah pribadi yang susah move on. Mengira bahwa karakter individu tidak bisa berubah. Dan parahnya, dia mengira orang dari masa lalu dikira masih serupa dengan yang lalu, membuat kalkulasi perkiraannya sendirilah yang tidak move on.

Daya

Boleh saja sesama mungkin menuding tentang rasa kekurangbersyukuran. Tetapi makna sebenarnya bukanlah itu. Melainkan lebih menyoal tentang keadilan. Oh, tidak, terlalu berat jika diskusi kita tentang keadilan. Bagimana kalau tentang “sama rasa”? Meski tidak harus sama rata.

Berbeda bentuk, daya, dan fungsinya, setidaknya semua ukuran tersebut bekerja untuk memberikan kontribusi energi kehidupan pada suatu benda sehingga dapat bergerak lancar. Kalau harus mengisi ulang dayanya, mengapa tidak semua diisi? Tarulah seumpama pengisian ulangnya satu berbanding setengah, ketimbang semisal sepuluh berbanding nol. Apa pikir yang kecil-kecil tidak sama sekali memberi kontribusi energi, memberi kehidupan, yang perlu juga untuk hidup?

sumber ilustrasi: http://www.jualhp.net/2015/06/mengenal-jenis-dan-perbedaan-ukuran.html

‘Kita’

Sekitar dua tahun lalu, masih saya ingat betul ketika dengan gamblang kalimat itu terucap. Di hadapan kami, semua yang menggerakan roda tanpa terkecuali. Seseorang yang kiranya dipercaya, didaulat untuk memiliki kewenangan penuh tentunya kata-katanya sangatlah dijadikan anutan, dan kami tanpa terkecuali tidak satupun menganggap ucapannya itu adalah sedang bersenda gurau.

“Kalau ini (project) berhasil, Insha Allah akan ada peningkatan income bagi kita.”

Menjadi terpelajar adalah identik dan berbanding lurus dengan penggunaan bahasa. Kata ‘kita’ pada saat itu maka pengenaannya adalah seluruh orang yang terlibat dalam perbincangan, lebih lagi perbincangan tersebut merupakan forum di mana seluruh kru hadir tanpa terkecuali diundang dalam satu ruangan. Kalau yang dimaksud tidak melibatkan seluruh orang dalam perbincangan, hanya untuk segelintir orang saja maka tidak perlulah menggunakan kata ‘kita’ lebih lagi dikumandangkannya kepada semua yang hadir. Saran saya, buat saja semacam forum ‘petak umpet’ sehingga kata ‘kita’ tidak menjadi salah sasaran dan penempatannya.

‘Kita’….. saya pikir….ya kita semua, termasuk para penggerak roda yang mungkin karena posisi penggerak roda ada di bawah atau di belakang, nggak kelihatan, sehingga ketika ada kata ‘kita’ nggak mengena ke kita.

ilustrations

Rewel Soal Makanan

Belakangan ini kalau mau diturutin semakin marak aja beragam gerai makanan cepat saji, sampai-sampai kalau ditelaah dengan rajin, ada banyak juga gerai makanan yang sebenarnya jenis makanannya bisa dengan mudah kita buat sendiri di keseharian. Hanya saja kadang malah sering yang kita cari bukan lagi apa makanannya melainkan brand yang melekat padanya sehingga seolah-olah dengan makan disana otomatis menaikkan harkat dan martabat kita. Padahal yang bikin aturan begitu siapa ya?

Kalau buatku pribadi, buat apa pergi ke gerai makan kalau misalnya menunya mie instan pake korned, mie instan pake keju, mie instan pake sosis, dll. Hanya karena dijualnya di gerai makanan yang gaol bangs gewtoo lwuooh… 😀 lantas ya wajar aja untuk menikmatinya kita rela merogoh kocek puluhan ribu rupiah plus pe- pe- en. Laah… padahal jenis makanan sesederhana begitu bikin aja sendiri di rumah. Pernah, aku icip-icip roti bakar ala-ala anak gaul gitu, ternyata dari segi komposisi dan rasa jauh banget dibanding yang biasa dijual di gerobak pinggir jalan. Yang ngebedain apanya? Sama aja. Pake susu kental manis, pake taburan keju, pake taburan cokelat. Apesnya, tekstur rotinya kempes pes….pes…peeess… hadeeehhh nendang ngga kerasa bikin dompet ompong iya 😆 Kadang misalnya makanan jenis roti ukurannya nggak lebih besar daripada kotak sabun mandi atau minuman jus buah hanya seukuran cangkir kopi tapi untuk menikmatinya mesti rela menukarnya dengan selembar uang berwarna biru bergambar Pahlawan I Gusti Ngurah Rai atau lembar merah bergambar Ir. Soekarno-Hatta. Makanya pemirsa, milih makanan jangan mau ketipu cuma gara-gara pake nama, pake tempatnya karena keren, buat diaplot di medsos, paling-paling ramai dapat jempolnya cuma sehari doank dan jempol khalayak itu nggak juga menjadi sesuatu yang berarti buat kita :mrgreen: Hal lain yang kupertimbangkan saat memilih karakteristik makanan. Ada makanan yang warnanya sampai heboh banget. Waduh, aku jadi suka su’udzon, jangan-jangan pakai pewarna kain? Mending yang iya-iya aja lah. Atau lebih baik lagi kalau bisa membuatnya sendiri di rumah. Kemarin lagi coba-coba bikin omelet beefsmoke buat menu sarapan meski bentuknya masih acak-adut tapi rasanya lumayan lah. Bahan-bahannya meski agak mahal tapi bisa untuk beberapa kali bikin. Hari gini loh beibs… be a creative!

Sinaran

Siapa yang tidak bangga bilamana bisa berada dekat, bersisian, berjabat tangan, atau berada bersama tokoh ternama, terlepas dari siapa dan apapun. Berada bersama yang bersinar membuat diri inipun otomatis ikut terkena pancarannya. Meski demikian, yang bersinar tetaplah matahari, menjadi bulan sekiranya tak perlulah menjadi pongah lalu beranggapan lainnya maya bahkan tidak ada. Begitupun kita, menjadi hebat, menjadi terbaik karena setiap diri istimewa bukan hasil mendompleng sinaran dari yang bersinar lainnya. Melainkan bagaimana kita berbagi sinar kebajikan dari dalam untuk semua. Hidup selalu bersyukur terlebih kepada orang-orang di sekitar yang tanpa diminta udah begitu banyak memberikan kontribusi pada saya, yang…. mana mungkin saya mengharap dari yang lain dan mungkin saja jauh jangkauannya. Thumbs up buat DC’ers solid n kece-kece badai, commit to be you (not become an alien) whatever and whoever you were with getting along. Dan all visitors yang setia melototin tulisan nggak berharga ini 😀

Apa Kabarmu, Status?

Sepanjang jeram arus mudik, ada saja sharing pengalaman yang saya dapat dari teman seperjalanan. Sebuah kisah dari penuturan kehidupan.

Kalau saya tebak, itupun dalam benak saja, usianya bisa jadi terpaut tiga atau empat tahun lebih muda dari usia saya. Sayangnya, menurut tuturannya, dia baru saja berpisah dengan tambatan hati sang istri tercinta. Padahal, sebelumnya saya sudah terlanjur memberikan imaji pada taksiran saya pastilah dia tengah memiliki anak yang lagi lucu-lucunya. Entah apa persisnya dari makna ‘berpisah’ yang dia lontar begitu saja. Kisah pahitnya terurai lepas karena saya memang sejak awal memasang mimik empati pada gerangan kedukalaraannya.

Hanya karena status. Ungkapnya ketus. Seolah ingin memaki pada sesuatu yang bahkan hingga saat ini wujudnya saja tidak pasti. Selama mengarungi samudera pernikahannya, teman muda saya ini awalnya mereguk kebahagiaan sakinah, mawaddah, warahmah. Alur dan ritme yang mereka jajaki pun terasa wajar. Sayang semua arti ketiga kata itu kian meluntur demikian dini. Penyebabnya, keterbukaan penyampaian isi hati masing-masing diri justru terhalang tirai sarana teknologi komunikasi yang kian canggih. “….mungkin karena pekerjaan sehari-hari saya yang lebih menuntut aktivitas fisik di lapangan, saya nggak punya waktu untuk memahami apa-apa keinginan istri saya…” keluhnya. Lalu ketika saya tanya, berapa jam dia menghabiskan waktu untuk pekerjaannya, adakah dia memiliki waktu bersama keluarga sepulang kerja, adakah dia memiliki akhir pekan yang dia bisa isi bersama keluarganya, ternyata jawabannya adalah ‘ya’. Dia juga mengatakan jam kerjanya masih dalam batas kewajaran. Lalu, apa yang membuatnya tidak bisa memahami keinginan pasangannya? Jawabnya adalah ‘status medsos’. Loh kok begitu?

Bersuara serak dan wajah bernuansa muram, dia lanjut mengurai, “selama ini istri saya sebagaimana makhluk sosial kekinian, setiap hari bikin status ini status itu, at sana at sini, dsb. Ya itu tadi, sementara karena saya bukan orang yang punya banyak waktu untuk membaca status. Toh, saya selalu bilang padanya, apapun itu mari bicara. Kalau ada kesilapan saya tolong beritahu, pengen beli ini beli itu ya mari kita rembukan dulu. Ya apapun itulah ya bilang aja, kan enak toh kalau kita saling terbuka, ada apa-apa ya diomongin berdua. Sampaikan langsung. Sesibuk apapun saya selalu cepat tanggap pada siapapun bila dia menghubungi saya langsung. Mau telpon, sms, bbm, chat, asalkan langsung pada saya, nggak pernah saya cuekin. Kalau lewat status belaka mana saya tau itu ditujukan buat siapa, justru kadang membuat banyak orang tersatiri. Tapi ya dia nggak pernah gamblang. Saya juga bukan yang paham bahasa-bahasa kiasan di status. Sampai suatu hari tragedi menyedihkan itu terjadi. Ketika saya pulang kerja jelang akhir pekan, tiba-tiba saya lihat barang-barang saya ditaruh di depan pintu rumah. Pintu sudah tersegel. Saya langsung telpon istri saya, tanya ada apa ini dan dia ada dimana sekarang. Dia cuma jawab. ‘Kamu itu dasar ya nggak pernah baca status saya, kamu memang bener-bener nggak pengertian sama istri, nggak cinta, imbesil!’. Dengan kebingungan saya kemudian lihat di layar smartphone saya, astaghfirullah, sejak empat jam lalu dia sudah bikin status ‘@pengadilan agama-gugat cerai'”.

Setiba di rumah, adzan maghrib berkumandang sekaligus menandai berakhirnya bulan ramadhan tahun ini. Mengingat seulas kisah teman seperjalanan tadi. Terbersit sekadar ingin melongok belahan dunia maya, rupanya sudah ramai semua teman, rekan, kerabat, menghaturkan Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin…….pada status ataupun timeline-nya masing-masing. 🙂

Masa kekinian, si status adalah paling sejatinya teman atau pasangan hidup 🙂

#solotraveler
#maksudnyaotwkesolo :mrgreen: