Lebaran Covidah

Assalamualaikum Wr Wb …
Bapak ibu,
Om tante,
Anak anak,
Saudara saudaraku yang tersayang …

Di hari lebaran, sebelum berkunjung ke rumah seseorang hubungi dulu orangnya, tanya baik-baik dia nerima tamu apa nggak.
Kalau nggak terima tamu jangan tersinggung. Hargai, mungkin mereka merasa lebih aman tidak terima tamu, atau mungkin ada bayi, anak kecil, lansia atau riwayat penyakit yang mungkin kita ngak tau. Karena lebaran tahun ini memang berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya, kita lagi dalam masa pandemi jadi tolong hargain setiap keputusan yang diambil, jangan sok menghakimi.

Kalau ternyata orangnya berkenan menerima tamu, berkunjunglah dengan tetap mematuhi standar kesehatan. Kenakan masker, cuci tangan dulu di tempat yang sudah disediakan.
Kalau pas datang disemprot desinfektan atau disodori hand sanitizer jangan marah, hormati. Gak usah salam-salaman, jangan auto nyolek-nyolek bayi dan anak kecil. Jangan juga maksain anak kecil harus salim baru dapet THR, kalo mau ngasih ya ngasih aja.

Pandemi ini nyata dan masih ada. Berhati-hati lebih baik daripada menyesal kemudian.

Banyak-banyak toleransi akan sikap setiap orang, mungkin ada beberapa yang ketat sekali sampe semprot sana sini, ya hormati aja gak usah digibahin.

Baru aja kelar puasa bro, sis, masak mau bikin dosa lagi 😁

Semoga ibadah Ramadhan kita semua diterima Allah SWT, dan kita bisa jadi pribadi yang lebih manusiawi.

Intinya saling menghargai perlu, beda pendapat biasa, saling menjaga juga perlu karena kita gak pernah tau virus itu ada dimana dan kapan aja bisa terjangkit.
Semoga kita semua dilindungi Allah SWT dari Covid-19.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin … β™₯️

Empty Room

Don’t let room filled by emptiness.

Dulu ayah saya selalu mengajarkan pada kami anggota keluarganya agar membiasakan menggunakan ruang-ruang di dalam rumah agar digunakan sebagaimana fungsinya. Adapun kalau ada ruang kamar yang tidak dipakai tidur, sebaiknya digunakan sebagai tempat beraktivitas, entah sebagai ruang kerja, ruang belajar, dan ayah sayapun selalu mengingatkan agar berbagai ruang yang layak tersebut digunakan juga untuk aktivitas ibadah misalnya untuk shalat atau mengaji. Jadilah kami di rumah terbiasa melakukan shalatpun tidak terpaku di satu ruang tertentu saja, sering kami mengkondisikan ruang tengah, ruang tamu, lebih lagi kamar yang tidak dipakai sehari-hari maka digunakan untuk tempat ibadah. Tujuannya supaya tidak ada ruangan nganggur, apalagi dalam jangka waktu lama. Tanpa perlu dijabarkan kami pun paham. Bilamana suatu petak ruang tiada dijamah sedikitpun oleh kita, aura ‘dingin’ membahana mengisinya. Terlalu jauh kalau saya menyebutnya angker.

Tambahan: meski terlihat sepele, atau mungkin dianggap kurang penting, perlunya pencahayaan yang memadai. Seumpama untuk lorong, jalur berbelok, tangga, ruang cuci, yang kadang mungkin kita anggap apalah-apalah, cukup penerangan alakadarnya, justru aspek keselamatan perlu menjadi hal utama. Semisal karena sekadar ruang cuci, penerangan tidak ada, padahal mungkin ada genangan air bercampur detergent tapi tidak terlihat saat kita melintasinya.

Utamakan selamat. Karena keselamatan diawali dari kepedulian kita tentang hal-hal kecil itu tadi, bukan dari apa yang terjadi setelah pengabaian kita terhadapnya.

Steak buat si Koboi

Sekadar catatan.

Hari ini lumayan seru aksi yang digagas oleh teman saya. Mengembalikan ucapan underestimate yang dilontarkan seseorang bullier. Teman saya itu bilang, “biarin dia ketelek sama omongannya sendiri,”

Buat saya, apa yang saya peroleh, semisal ada ekstra di luar yang rutin, udah pastinya saya seneng banget. Bersyukur. Nggak ada niatan untuk membanding-bandingkan dengan yang lain, lebih lagi secara nalar saja sudah jelas tidak sebanding. Jadi berasa aneh aja tiba-tiba ada yang mempersoalkan pakai irama sinis tentang nominal seratus. Apalah arti nominal tersebut kalau nominal perolehannya jauh beberapa tingkat dari seratusnya saya. Saya pribadi, sama sekali ngga ngusilin, ngga minta sepeserpun, intinya ngga ada menyinggung apapun dari lebihnya itu karena kewajaran dari segi gradasi.

Kalaupun kemudian sesiang ini teman saya bikin sensasi, seolah-olah saya merayakan nominal seratus, sebenarnya semata atas dasar solidaritas pada saya. Barusan saja saya kena guyur ‘kopi pahit’ si bu-llier: “seratusmu itu paling cuma habis buat sekali makan di mol.”

Ngga ngerti maksud dari pedasnya kata-kata bully tersebut. Kalau perolehannya saja jauh di atas saya, lalu apa masalahnya? Sombong? Merasa perolehannya melesat tinggi sedangkan seratusnya saya ibarat receh di mata dia? Inginnya sontak saya meledak. Tetapi, tetap saya masih berpijak pada sikap bijak. Andai seketika saya menghentak sudah pasti si bu-llier ini bakal minta dukungan sana-sini, minta pembelaan. Jaman now yaa… udah dianya yang berkelakuan minus malah nyari-nyari pengacara.

Bersyukur, selain karena dapat ekstra sekaligus saya dianugerahi teman yang solid dan kaya ide. Serta-merta dia ajak saya dan seorang teman lagi makan siang, beneran di mol. Selebihnya hanya sensasi yang teman saya buat seolah nyata. Padahal itu hanya umpan balik buat si bullier tadi. Kena deh lo! Bombardir kalimat sinispun sontak dilancarkan bullier kepada kedua teman saya ini. Membuat sepanjang waktu makan siang kami lebih banyak untuk terbahak ketimbang untuk menghabiskan makanan pesanan kami. Lucunya juga, kenapa saya yang disetting sebagai pemeran utama ‘pemilik hajatan’ ngga ditanya apapun. Ngga ada semacam klarifikasi apapun. Mungkin si bullier udah kadung kebakaran jenggot saking emosinya pada sensasi tipuan pandangan mata buatan teman saya. Setiba dan kembali jumpa pun tidak ada sepatah tanya dilontar kepada saya, kecuali gesture over acting-nya yang menunjukkan betapa kondisi hatinya dia jadi gegana πŸ˜€

Relax, we just show you what you told. Kami hanya mengembalikan cemo’ohanmu tadi siang sebagai konsumsi buatmu sendiri. Gimana rasanya? Pedas? Panas? Gerah? Mencari dukungan pihak ketiga?

Kesimpulan:

  • Hidup selalu bersyukur dengan apa dan berapa yang kita peroleh
  • Bahagia tidak bisa dinilai dari kuantitas. Buktinya perolehan lebih besarpun masih merasa resah gelisah lalu mempersoalkan pada yang receh, kan aneh…
  • Teknologi semakin berpacu ke depan, mengajak pengguna semakin pintar. Lalu kenapa masih begitu mengimani yang namanya ‘hoax’? 🀭 πŸ˜‚
  • Seumpama ragu tentang sesuatu hal, lupakah kita pada metode bertanya pada pemeran utama dalam cerita? Daripada dar! der! dor! main tembak ala koboi tapi slayernya menutupi mata bukan dikalungkan di leher.

Idul Fitri 1439H

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Selepas bulan Ramadhan semoga

Allah berkenan memudahkan kita

meraih predikat takwa.

Taqobbalallahu Minna Wa

Minkum

(Semoga Allah menerima amal

ibadah kita semua)
Mcoffeey

mengucapkan :
*_Selamat Hari Raya Idul Fitri_*

*_1439H_*
minal aidin wal faizin

Mohon Maaf lahir & batin
Wassalam

πŸ™πŸΌ
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Persepsi vs Terbuka

Sependapat banget dengan statement ini

Kecanggihan teknologi gadget belum tentu berbanding lurus dengan tingkat intelegensi penggunanya.

Nggak perlulah aku jelasin lagi gimana di jaman now ini segala informasi berlalu lalang dengan mudahnya melintasi media dalam genggaman kita yang entah itu benar atau hoax tetap saja menimbulkan beragam persepsi bahkan lebih jauhnya lagi menggiring kepada pengambilan keputusan dan tindakan secara sepihak – tanpa ada upaya tabbayun lebih dulu.

Sudahlah, secara pribadi aku nggak urus hal semacam itu, ada info miring begini begitu melintas batas di hadapan mata dibawa santai aja. Hingga untuk ranah yang paling personal sekalipun. Seumpama ada yang menyerupakan catatanku macam Jonru πŸ˜€ atau gaya bicaraku mengikuti Ahok *halaah moso iya gitu?* bolehlah mereka mengenaliku seperti itu tetapi jauh di lubuk hati terdalam *ciaaahh* tidak ada niatanku untuk menebar kebencian, fitnah, apalagi sampai menuhankan diri dengan menilai-nilai orang, melainkan semata karena aku peduli. Hanya ingin supaya apa yang semula telah ajeg dalam relnya, maka janganlah sampai dia keluar jalur. *ya nggak tau juga sih, kalau emang dari sononya udah biasa melenceng dari jalurnya, aku ra urus hehe…*

Adapun menegur, biasanya aku juga nggak serta-merta hantem kromo. Ajak dulu bicara empat mata, masih belum mau dengar. ‘Senggol-senggol’ dengan candaan – meski candaanku emang garing, yang disenggol masih juga membelink, ya terpaksalah ta’semprot dengan komen pedas. Alhamdulillah, hasilnya yang ditegur bukannya insyaf tapi akunya yang langsung di-delcon 😦

Ya udah, mau gimana lagi, kalaupun terlalu jauh aku bukan sesiapa, nggak punya wewenang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apalagi masalah persepsi dan isi hati. Mungkin, kadang ada aja postingan aku begini begitu, atau ada aja rumpian aku dengan teman-teman sedang membahas apa, eh, kok tiba-tiba ada yang merasa ‘tersenggol’, merasa tersengat, lalu dengan mudahnya main hakim sendiri. Seolah apa yang seketika dilihat, didengar dariku itu menurut persepsinya adalah penebaran kebencian, cemo’ohan padanya, bully, dsb. Tanpa bertanya lebih dulu. Padahal bukannya tidak mungkin untuk bertanya langsung padaku. Kalau aku ada di dekatnya bisa langsung tanya, kalau kita berbeda ruang dan waktu bisa hubungi aku via aplikasi komunikasi (itu juga kalau nggak keburu men-delcon aku), kalau khawatir terdengar orang banyak aku nggak keberatan membuka pintu rumah atau menyediakan waktu andai memang ingin mengklarifikasi. Jadi, tidak sibuk menebak-nebak sendiri, membuat praduga sendiri lalu diam-diam menimbulkan kebencian dalam hati. Laah…kalau sudah seperti itu kan susah ya? Masa aku mesti main tebak-tebakan isi hati orang kalau tiba-tiba langkahnya menjauhi aku, bicaranya dibungkam, kalaupun kutanya ala-ala Peterpan (jaman dulu) “ada apa denganmu?” Terus dijawab dengan lagunya Ratu, “aku baik-baik sajaaa…” Ya terus kapan mau ketemu jawaban dan solusinya? Apa mesti berkirim pertanyaan dulu ke program Mamah & Aa beraksi? Selamanya aku nggak akan pernah tau yang mana dariku yang salah dan perlu koreksi, dan selamanya juga kamu terus menumbuhsuburkan kesalahpahaman dalam hati.

Cara Informasi Mengalir

Dulu pernah ketika masih duduk di bangku SMA, seorang guru Bahasa Indonesia memberikan sebuah simulasi. Caranya, dia memberikan informasi lewat tulisan pada secarik kertas, seorang siswa yang duduk di bangku paling depan ujung diminta membacanya dalam hati. Lalu siswa tadi diminta meneruskan informasi tadi kepada teman di bangku sebelahnya dengan cara membisikan. Dan teman yang menerima informasi tadi diwajibkan meneruskan membisikkan infomasi tersebut secara berantai kepada teman-teman seisi kelas.

Informasi yang tertulis pada kertas, yang pertama kali dibaca oleh siswa pertama isinya seperti ini:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, lengkuas, bawang merah, tidak pakai bawang putih, cabai merah, dan gula merah sedikit saja.”

Begitu informasi sudah sampai di siswa barisan tengah maka informasi semakin berubah. Semakin jauh sampai kepada siswa di bangku belakang informasi semakin jauh akurasinya dari informasi awal. Isinya menjadi:

“Ibu memasak sayur asem. Dia membumbuinya dengan asem, garam, daun salam, labu siam, lada, bawang putih, melinjo, asam merah, dan gula sedikit.”

Itu bisa-bisanya ada penambahan labu siam, bawang putih, melinjo, asam merah dari manaaa? πŸ˜† sedangkan bawang merah, daun salam, lengkuas, cabai merah dihilangkan, begitu pula gula merah menjadi gula saja, kan bisa jadi rancu nanti dikira gula pasir :mrgreen:

Begitulah kita. πŸ™‚

Baru-baru kemarin kita menerima informasi dari Kemenkominfo tentang registrasi ulang pengguna kartu prabayar yang harus dikirim via sms ke nomor 4444. Awal saya mendapat sebaran sms tersebut dari Kemenkominfo bahwa registrasi dilakukan per tanggal 31 Oktober 2017 dengan mengetikkan ULANG#NO NIK#NO KK# dikirim ke nomor 4444. Dari hasil googling, dapat lagi informasi bahwa registrasi kartu prabayar dilakukan mulai tanggal 31 Oktober 2017 sampai dengan 28 Februari 2018. Lebih lanjut lagi, saya menerima sebaran informasi via whatsapp tanggal 28 Oktober 2017 kemarin bahwa waktu registrasi prabayar tinggal dua hari lagi sampai 31 Oktober 2017. Lalu informasi kian berkembang selain NO NIK dan NO KK pakai juga nama ibu kandung. Pagi ini saya terima informasi lagi dari teman-teman di whatsapp bahwa informasi Registasi Ulang dari 4444 itu HOAX yang mengatasnamakan Keminfo.

Hahaha…. here we are, we live in a homeland where the information flows by randomly  πŸ’‘

 

 

Tetap Menghijau

Sesiang ini ada sesuatu di teras samping rumah yang mengusik pandangan mata. Entah ini tanaman apa dan dari mana, bukan sengaja ditanam.

Kalau diperhatikan, dia tumbuh di celah paving block yang tanahnya saja mungkin kurang subur, bahkan kering dan terpapar panas matahari begitu menyengat. Meski bagian terawal dedaunannya ada yang layu, tapi lihatlah bagian atasnya, terus bertumbuh dan menghijau. Luar biasa ya semangat tanaman ini.

Sama halnya hidupku. Bukannya nggak jarang di masa-masa sebelumnya pernah dikecewakan, bahkan mungkin dimusuhi, dibenci, dijauhi. Namun kuinsyafi, ada banyak penyampaian kekecewaan yang dilontarkan padaku juga asal muasalnya berasal dari perilakuku yang mengecewakan orang lain. Sehingga yang kulakukan bukan membiarkan seluruh daun hijau semangatku melayu semua, yang layu biarlah berlalu, terus mengoreksi dan memperbaiki diri, tetap merangkul dan menjalin silaturahim. Bolehlah tengok di akun media sosial si wajah buku pun diramaikan oleh kicauan teman-teman, bolehlah tak percaya sembilan puluh persen dari mereka yang hingga kini setia meramaikan postinganku sudah pernah atau malah sering kecewa denganku begitupun sebaliknya. Tetapi kita sadar, adapun kita saling menegur bukan karena benci, fitnah, dan untuk mengobar permusuhan melain karena kita saling peduli dan ingin membaikkan karib sesama kita, insyaf diri bahwa kita manusia makhluk sosial hidup di dunia bermasyarakat bukan minion hidup di pulau bidadari :mrgreen:

Merdeka Ruang dan Waktu

Awalnya sempat terpikir, memindahkan yang biasa. Tetapi resikonya agak merepotkan. Butuh ektra energi dan keluangan waktu. Lantas, terinspirasi dari arti makna kemerdekaan RI yang ke-72. Dalam perihal yang agak-agak meranah pada urusan baper, sehingga perlulah sekiranya aku memaknai makna merdeka itu adalah memberikan ruang dan waktu. Ruang dan waktu bagi individu agar bisa mengenali dirinya sendiri, mengenali apa dan bagaimana maunya, dan tentang pewujudan keinginannya sendiri seperti apa. Agar tidak perlu ada yang merasa terikat dan diikat. Agar tidak perlu ada penimpaan rusuh-resah atas dasar keinginan yang lain. *Jadi keinget lagunya kang Yana huhuy πŸ™‚ *