Susah Move on

Terilikikitik dari tulisan di blog tetangga bertema susah move on, pengertian susah move on itu kebanyakan diartikan orang adalah tentang seseorang yang udah putus sama kekasihnya tapi belum bisa membuka hatinya untuk kehadiran orang yang baru lagi. Jiwa susah move on sebenarnya bermakna luas. Misal, dulu saya dikenal sebagai pribadi childish, teman-teman saya di masa itu bahkan sudah memberi stempel dan bahkan sepertinya itu adalah stempel abadi dalam pikiran mereka bahwa seumur-umur saya tetap sebagai ‘si childish’. Padahal, tulisnya, seiring dengan berjalannya masa, bertambahnya pengalaman hidup, bisa memberikan pembelajaran bagi jiwa dan perilaku. Mungkin dulu dicap childish, tapi apakah para pemberi stempel itu terus berada bersama berdampingan dan bersisian sepanjang hidupnya bersama saya? Sehingga ketika dalam suatu perjumpaan mereka mencoba menyulut-nyulut emosi ‘si childish’, semisal dengan cara mengajak debat kusir suatu topik yang urgensinya aja bahkan nggak ada. Ternyata umpan itu dimentahkan, yang dulu dicap childish kini sudah jadi pribadi dewasa, dan cukup menepis umpan emosional itu dengan senyum aja *pake senyumnya shaun the ship pula*. Maaf bro, saya muslim dan saya sedang shaum. Sembari ditinggalnya begitu saja si penyulut emosi. hehe….

Kesimpulannya, begitulah pribadi yang susah move on. Mengira bahwa karakter individu tidak bisa berubah. Dan parahnya, dia mengira orang dari masa lalu dikira masih serupa dengan yang lalu, membuat kalkulasi perkiraannya sendirilah yang tidak move on.

Daya

Boleh saja sesama mungkin menuding tentang rasa kekurangbersyukuran. Tetapi makna sebenarnya bukanlah itu. Melainkan lebih menyoal tentang keadilan. Oh, tidak, terlalu berat jika diskusi kita tentang keadilan. Bagimana kalau tentang “sama rasa”? Meski tidak harus sama rata.

Berbeda bentuk, daya, dan fungsinya, setidaknya semua ukuran tersebut bekerja untuk memberikan kontribusi energi kehidupan pada suatu benda sehingga dapat bergerak lancar. Kalau harus mengisi ulang dayanya, mengapa tidak semua diisi? Tarulah seumpama pengisian ulangnya satu berbanding setengah, ketimbang semisal sepuluh berbanding nol. Apa pikir yang kecil-kecil tidak sama sekali memberi kontribusi energi, memberi kehidupan, yang perlu juga untuk hidup?

sumber ilustrasi:Β http://www.jualhp.net/2015/06/mengenal-jenis-dan-perbedaan-ukuran.html

‘Kita’

Sekitar dua tahun lalu, masih saya ingat betul ketika dengan gamblang kalimat itu terucap. Di hadapan kami, semua yang menggerakan roda tanpa terkecuali. Seseorang yang kiranya dipercaya, didaulat untuk memiliki kewenangan penuh tentunya kata-katanya sangatlah dijadikan anutan, dan kami tanpa terkecuali tidak satupun menganggap ucapannya itu adalah sedang bersenda gurau.

“Kalau ini (project) berhasil, Insha Allah akan ada peningkatan income bagi kita.”

Menjadi terpelajar adalah identik dan berbanding lurus dengan penggunaan bahasa. Kata ‘kita’ pada saat itu maka pengenaannya adalah seluruh orang yang terlibat dalam perbincangan, lebih lagi perbincangan tersebut merupakan forum di mana seluruh kru hadir tanpa terkecuali diundang dalam satu ruangan. Kalau yang dimaksud tidak melibatkan seluruh orang dalam perbincangan, hanya untuk segelintir orang saja maka tidak perlulah menggunakan kata ‘kita’ lebih lagi dikumandangkannya kepada semua yang hadir. Saran saya, buat saja semacam forum ‘petak umpet’ sehingga kata ‘kita’ tidak menjadi salah sasaran dan penempatannya.

‘Kita’….. saya pikir….ya kita semua, termasuk para penggerak roda yang mungkin karena posisi penggerak roda ada di bawah atau di belakang, nggak kelihatan, sehingga ketika ada kata ‘kita’ nggak mengena ke kita.

ilustrations

Rewel Soal Makanan

Belakangan ini kalau mau diturutin semakin marak aja beragam gerai makanan cepat saji, sampai-sampai kalau ditelaah dengan rajin, ada banyak juga gerai makanan yang sebenarnya jenis makanannya bisa dengan mudah kita buat sendiri di keseharian. Hanya saja kadang malah sering yang kita cari bukan lagi apa makanannya melainkan brand yang melekat padanya sehingga seolah-olah dengan makan disana otomatis menaikkan harkat dan martabat kita. Padahal yang bikin aturan begitu siapa ya?

Kalau buatku pribadi, buat apa pergi ke gerai makan kalau misalnya menunya mie instan pake korned, mie instan pake keju, mie instan pake sosis, dll. Hanya karena dijualnya di gerai makanan yang gaol bangs gewtoo lwuooh… πŸ˜€ lantas ya wajar aja untuk menikmatinya kita rela merogoh kocek puluhan ribu rupiah plus pe- pe- en. Laah… padahal jenis makanan sesederhana begitu bikin aja sendiri di rumah. Pernah, aku icip-icip roti bakar ala-ala anak gaul gitu, ternyata dari segi komposisi dan rasa jauh banget dibanding yang biasa dijual di gerobak pinggir jalan. Yang ngebedain apanya? Sama aja. Pake susu kental manis, pake taburan keju, pake taburan cokelat. Apesnya, tekstur rotinya kempes pes….pes…peeess… hadeeehhh nendang ngga kerasa bikin dompet ompong iya πŸ˜† Kadang misalnya makanan jenis roti ukurannya nggak lebih besar daripada kotak sabun mandi atau minuman jus buah hanya seukuran cangkir kopi tapi untuk menikmatinya mesti rela menukarnya dengan selembar uang berwarna biru bergambar Pahlawan I Gusti Ngurah Rai atau lembar merah bergambar Ir. Soekarno-Hatta. Makanya pemirsa, milih makanan jangan mau ketipu cuma gara-gara pake nama, pake tempatnya karena keren, buat diaplot di medsos, paling-paling ramai dapat jempolnya cuma sehari doank dan jempol khalayak itu nggak juga menjadi sesuatu yang berarti buat kita :mrgreen: Hal lain yang kupertimbangkan saat memilih karakteristik makanan. Ada makanan yang warnanya sampai heboh banget. Waduh, aku jadi suka su’udzon, jangan-jangan pakai pewarna kain? Mending yang iya-iya aja lah. Atau lebih baik lagi kalau bisa membuatnya sendiri di rumah. Kemarin lagi coba-coba bikin omelet beefsmoke buat menu sarapan meski bentuknya masih acak-adut tapi rasanya lumayan lah. Bahan-bahannya meski agak mahal tapi bisa untuk beberapa kali bikin. Hari gini loh beibs… be a creative!

Sinaran

Siapa yang tidak bangga bilamana bisa berada dekat, bersisian, berjabat tangan, atau berada bersama tokoh ternama, terlepas dari siapa dan apapun. Berada bersama yang bersinar membuat diri inipun otomatis ikut terkena pancarannya. Meski demikian, yang bersinar tetaplah matahari, menjadi bulan sekiranya tak perlulah menjadi pongah lalu beranggapan lainnya maya bahkan tidak ada. Begitupun kita, menjadi hebat, menjadi terbaik karena setiap diri istimewa bukan hasil mendompleng sinaran dari yang bersinar lainnya. Melainkan bagaimana kita berbagi sinar kebajikan dari dalam untuk semua. Hidup selalu bersyukur terlebih kepada orang-orang di sekitar yang tanpa diminta udah begitu banyak memberikan kontribusi pada saya, yang…. mana mungkin saya mengharap dari yang lain dan mungkin saja jauh jangkauannya. Thumbs up buat DC’ers solid n kece-kece badai, commit to be you (not become an alien) whatever and whoever you were with getting along. Dan all visitors yang setia melototin tulisan nggak berharga ini πŸ˜€

Apa Kabarmu, Status?

Sepanjang jeram arus mudik, ada saja sharing pengalaman yang saya dapat dari teman seperjalanan. Sebuah kisah dari penuturan kehidupan.

Kalau saya tebak, itupun dalam benak saja, usianya bisa jadi terpaut tiga atau empat tahun lebih muda dari usia saya. Sayangnya, menurut tuturannya, dia baru saja berpisah dengan tambatan hati sang istri tercinta. Padahal, sebelumnya saya sudah terlanjur memberikan imaji pada taksiran saya pastilah dia tengah memiliki anak yang lagi lucu-lucunya. Entah apa persisnya dari makna ‘berpisah’ yang dia lontar begitu saja. Kisah pahitnya terurai lepas karena saya memang sejak awal memasang mimik empati pada gerangan kedukalaraannya.

Hanya karena status. Ungkapnya ketus. Seolah ingin memaki pada sesuatu yang bahkan hingga saat ini wujudnya saja tidak pasti. Selama mengarungi samudera pernikahannya, teman muda saya ini awalnya mereguk kebahagiaan sakinah, mawaddah, warahmah. Alur dan ritme yang mereka jajaki pun terasa wajar. Sayang semua arti ketiga kata itu kian meluntur demikian dini. Penyebabnya, keterbukaan penyampaian isi hati masing-masing diri justru terhalang tirai sarana teknologi komunikasi yang kian canggih. “….mungkin karena pekerjaan sehari-hari saya yang lebih menuntut aktivitas fisik di lapangan, saya nggak punya waktu untuk memahami apa-apa keinginan istri saya…” keluhnya. Lalu ketika saya tanya, berapa jam dia menghabiskan waktu untuk pekerjaannya, adakah dia memiliki waktu bersama keluarga sepulang kerja, adakah dia memiliki akhir pekan yang dia bisa isi bersama keluarganya, ternyata jawabannya adalah ‘ya’. Dia juga mengatakan jam kerjanya masih dalam batas kewajaran. Lalu, apa yang membuatnya tidak bisa memahami keinginan pasangannya? Jawabnya adalah ‘status medsos’. Loh kok begitu?

Bersuara serak dan wajah bernuansa muram, dia lanjut mengurai, “selama ini istri saya sebagaimana makhluk sosial kekinian, setiap hari bikin status ini status itu, at sana at sini, dsb. Ya itu tadi, sementara karena saya bukan orang yang punya banyak waktu untuk membaca status. Toh, saya selalu bilang padanya, apapun itu mari bicara. Kalau ada kesilapan saya tolong beritahu, pengen beli ini beli itu ya mari kita rembukan dulu. Ya apapun itulah ya bilang aja, kan enak toh kalau kita saling terbuka, ada apa-apa ya diomongin berdua. Sampaikan langsung. Sesibuk apapun saya selalu cepat tanggap pada siapapun bila dia menghubungi saya langsung. Mau telpon, sms, bbm, chat, asalkan langsung pada saya, nggak pernah saya cuekin. Kalau lewat status belaka mana saya tau itu ditujukan buat siapa, justru kadang membuat banyak orang tersatiri. Tapi ya dia nggak pernah gamblang. Saya juga bukan yang paham bahasa-bahasa kiasan di status. Sampai suatu hari tragedi menyedihkan itu terjadi. Ketika saya pulang kerja jelang akhir pekan, tiba-tiba saya lihat barang-barang saya ditaruh di depan pintu rumah. Pintu sudah tersegel. Saya langsung telpon istri saya, tanya ada apa ini dan dia ada dimana sekarang. Dia cuma jawab. ‘Kamu itu dasar ya nggak pernah baca status saya, kamu memang bener-bener nggak pengertian sama istri, nggak cinta, imbesil!’. Dengan kebingungan saya kemudian lihat di layar smartphone saya, astaghfirullah, sejak empat jam lalu dia sudah bikin status ‘@pengadilan agama-gugat cerai'”.

Setiba di rumah, adzan maghrib berkumandang sekaligus menandai berakhirnya bulan ramadhan tahun ini. Mengingat seulas kisah teman seperjalanan tadi. Terbersit sekadar ingin melongok belahan dunia maya, rupanya sudah ramai semua teman, rekan, kerabat, menghaturkan Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin…….pada status ataupun timeline-nya masing-masing. πŸ™‚

Masa kekinian, si status adalah paling sejatinya teman atau pasangan hidup πŸ™‚

#solotraveler
#maksudnyaotwkesolo :mrgreen:

write ‘n share sincerely

Semakin beragamnya media sosial, pada umumnya semakin besar pula hasrat ingin menampilkan tentang diri, opini, segala sesuatu yang bersifat memandangkan semua yang intern. Semata agar pandangan publik hanya tertuju pada ‘the who I’m.’ Dan hal tersebut menjadi semakin lumrah, terlebih jika berhasil mengumpulkan respon, apapun bentuknya.

Mungkin bagi kebanyakan dan pada umumnya tersebut apabila sepi dari tanggapan maka pastilah tidak menarik, tidak populer, tidak dimengerti, dsb.

Syukurlah, sejak dulu saya selalu mengusung tema write ‘n share sincerely. Apapun idea itu berangkat dari pemikiran saya, entah mungkin opini, review, bahkan sekadar senda gurau sekalipun, tidak pernah masalah. Mau ditanggapi silakan πŸ™‚ nggak juga nggak apa-apa.Β gue mah gitu orangnyaΒ  he…he… Adapun jika ada yang bermanfaat dari yang saya bagikan, disukai, dimaknai, dan kalaupun kemudian ada yang me-repost, ya Alhamdulillah.

#ikhlas

 

PE not PA

I used to have friends from a variety of professions. We are in the same division. Most are PE, most other are operators, administrator, and technician. Each of us has different responsibility. In terms of salary obviously different. In that feels like family sometimes we spend our weekend together, held an event outside, even if just a lunch or dinner at a food court. You only need to pay what kind of food which you choose. None of us should be burdened. We each other regard a balance relationship. We share stories, jokes and laugh. But none should be hurt. Appreciating in our togetherness our chief took the initiative for us in keeping the office cash. With tariff amount is very light and the same nominal per each individual. The goal is if at any time one of us suddenly get ill, the collected money can be used for good. It was nice being apart within all those intelligent people πŸ™‚

Siaga Bencana

“Saat ini bencana alam di seluruh dunia, seharusnya membuat Kita menyadari kehambaan diri yg selalu membutuhkan Sang Pencipta kehidupan.” Ust Zen al-Hadi

Sudah lebih dari hitungan minggu cuaca dirundung mendung dan hujan belum berkesudahan, hari ini gempa yang berasal dari wilayah Kebumen, Jawa Tengah efek getarnya menjalar hingga ke beberapa wilayah lain, termasuk Jawa Barat.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gempa dengan kekuatan 6,5 Skala Richter (SR) terjadi pukul 12.14, Sabtu (25/1/2014), dengan kedalaman 48 kilometer dan 104 kilometer barat daya Kebumen, Jawa Tengah. Demikian seperti dilansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Sabtu siang.

Gempa ini juga dirasakan di sejumlah kota di Pulau Jawa, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Banjarnegara, dan Majalengka. (Tribunnews.com)

Terus beristighfar, waspada, dan siaga. Tetapi gelegak emosi pun tak kalah meluap manakala suatu sikap yang diindentifikasikan really out of mine.

“I was walking through the palm street when the earthquake’s happen. I saw some of my neighbors quickly run away of their house.” I wrote to the world.

Then a silly question is…..

Did you take a walk? Why don’t you drive your car? Don’t you feel ashamed going anywhere by walking?

*???*