Simple Things

When I was in elementary school, we were playing rounder in the school backyard. When it was also based on the results of the drawing of the group division I went to the group that I was actually less familiar with the friends in the group. But anyway I keep playing.

It was my turn to hold the stick, one of the group gave a shout of excitement for me. I looked back when she was not only shouted the spirit but she also asked me first turn back. Apparently, she asked that we clap each other’s hands as a sign of encouragement. But her intention immediately canceled it because seeing my right hand wrapped in bandage. Then she asked why. I said this morning my hand was cut off by a knife. Then she pulled one of my left hand while tapping with her hand. OK! Good Luck Mut! May your hands get well soon too, you’re the best in Rounder!

Simple indeed. But for the present, sometimes we escape from and against such small things. Something you do for someone even though it may not be very useful but in fact it is a way of your attention. For me, I still appreciate those same things. As I got this morning 🙂


Advertisements

Nama yang tak Kau Simpan

​Bahkan namaku tak pernah kau simpan dalam laci relung hatimu…

Nggak seperti menjalin kisah asmara, hukumnya secara alami dan universal haruslah ada pengungkapan janji perikatan di awal. Persahabatan tumbuh bagai ilalang, seringnya dirasa tiada perlu pemroklamiran di awal.

Bermula dari suatu sore. Waktu mendekati senja di mana semestinya kami sudah diperbolehkan pulang tetapi harus memenuhi undangan boss di ruang meeting untuk membahas raker. Hari itu hari kedua berlima kami bergabung dalam suatu naungan pekerjaan. Dan moment itu berawal dari sana. Nyaris berbarengan, ketika tanganku meletakkan notes dan bolpen di atas meja, demikian pula sosok di sebelahku. Spontan kami berdua sama-sama menoleh,  saling berpandangan, dan berusaha menahan tawa. “Pasti belinya di alat tulis Yogya, kan?” celetuknya. Notes bercover semi elastic kami benar-benar serupa, motif covernya sama, tentu saja merknya juga, hanya beda warna. Miliknya berwarna hijau sedangkan punyaku warna merah maroon. Ternyata buku catatan berukuran kecil yang sama tersebut menandai jalin persahabatan kami di hari-hari berikutnya. Perbedaan bidang pekerjaan, latar belakang edukasi, pengalaman, bahkan usia justru tidak menghambat kami menemukan titik-titik kesamaan. Coffee lovers, hobi menulis, travelling, dan nyantai gak suka ribet meski nggak jarang juga ribut. Jalan kemana aja bersamanya begitu menyenangkan. Sepanjang jalan selalu ada aja cerita dan canda yang diungkap. Sama sepertiku, punya prinsip bepergian kemana aja nggak mau ribet soal kendaraan. Asalkan bisa sampai ke tujuan, selamat dan sehat wal afiat. Makan di mana aja bebas, yang penting halal. Kadang kita ngopi di café, kadang icip-icip menu baru di resto, dan nggak jarang makan di warung tenda pinggir jalan. Pernah, dalam suatu event outdoor, kami bermalam di camp di bibir sungai Ciberang, Banten. Usai makan malam bersama tim operator arung jeram, menyempatkan diri kami berbincang berdua. Dia tiba-tiba aja nyeletuk, “coba deh…lamat kita dengerin samar suara desis arus air di bawah sana, apa yang kamu rasakan? Tuangkan dalam imagi kata-kata,” Suatu cara dia sharing padaku tentang pengetahuan dunia tulis-menulisnya. Beberapa kata spontan kuungkap. Yang kutahu pasti ungkapan kata-kataku masih terlalu dangkal. Dia hanya tersenyum tanpa membantah. Namun kemudian memberikan contoh ungkapan-ungkapan yang lebih puitis. Meski dariku sering kukenalkan dia pada dunia sebagai sahabat, sebaliknya sering kudengar dia menyebutku adalah ‘rekan kerja’nya di kantor.

Seorang sahabat lain pernah pula menemani perjalananku melewati masa pendidikan. Jumpa kami dalam setiap pekannya sebatas dua kali dalam dua hari saja, Jumat dan Sabtu. Tanpa didahului pemroklamasian, sekadar karena setiap kali usai jam perkuliahan hanya kami berdua yang menyusuri trotoar sepanjang satu kilometer untuk mendapati kendaraan umum yang bisa membawa kami pulang, yang lainnya naik motor. Dari obrolan upaya saling mengenal asal-muasal diri masing-masing, saling bertutur dan bertukar cerita pengalaman, sampai pada curhat tentang alur hidup yang dijalani. Sehingga dirasa waktu sebatas Jumat petang dan Sabtu siang tiadalah memadai. Jalan bareng pun diperpanjang hingga Sabtu sore, kadang seharian di hari Minggu. Saling mengunjungi rumah dan keluarga memadati agenda kami. Satu catatanku tentangnya, mungkin ini terlihat lucu atau sedikit aneh. Dua tahun lamanya kami menjalani ritme kebersamaan. Hingga tercetus suatu ungkapan agak aneh dan penuh tanya di kepalaku. Siang itu di beranda café, tengah dia berkesah tentang calon pasangannya yang dia sendiri meragu akan perasaannya pada calon pendamping sehidup-sematinya itu, air matanya menitik di pelipis, ia bertutur lirih, “aku nggak punya sahabat yang ngerti apa yang kurasa saat ini. Nggak ada. Nggak seorangpun.” Kala itu meski dengan kening berkerut dan tatapan mataku berfokus pada wajahnya, aku hanya terdiam. Sementara dia melanjutkan kisah galaunya, dalam hati aku jadi bertanya… Terus, selama dua tahun aku nemenin dia berbagi berbagai kisah hidupnya, nggak jarang aku senantiasa menyimak, berbagi padanya saran dan nasehat, tapi aku dianggap apa?? *garukinjidat*

Kalau flash back hal seperti itu sekarang jadi buatku senyum. Dulu sih, iya, aku merasa kecewa, diam-diam marah, dan mungkin menjauh. Gimana nggak capek hati, udah ngerelain waktu buat menemani dan menjadi pendengar setia, eh malah terbersit statusku sebagai sahabatnya pun tidak. Kini, kuinsyafi sedalam samudera, apalah arti dari identitas sebagai sahabat? Karena menurutku kuncinya adalah ikhlas. Mau dianggap sebatas teman, rekan, atau kenalan jauh, atau bahkan sama sekali nggak dianggap, ya sudahlah. Sejauh aku menempatkannya dalam singgasana terbaik di lubuk hati, lakukan saja hal baik yang bisa membaikkannya. Tanpa pernah menuntut balas walau sebatas identitas.

#cerpenagnez

Definisi Bahagia

Jadi pingin ikutan mendefinisi makna bahagia *abis dengerin definisi bahagianya Vidi Aldiano 🙂

Dalam beberapa pekan ini kalau dinget-inget, seneng rasanya selain bersua sapa -meski di antaranya hanya jumpa beberapa menit saja- setidaknya bisa membuatnya tertawa lepas. Sama sekali aku tidak berbakat jadi komedian, mungkin juga nggak jarang garing, tapi siapa dapat menipu ekspresi jiwa oleh lepasnya tawa menghias wajah?

Amnesia

Dulu bersahabat, kini berjauhan

pernah ramah, tempo lain seperti marah

kadang memendam benci, sebentar sayang, lalu ungkap rindu lewat hamburan kisah

biasanya jujur, namun tiada jarang sembunyikan dusta

inginnya bersama tapi merenggangkan langkah

mengingini keinginannya sendiri namun merutuki keputusannya

Baiklah. Apalah aku artinya. Kerabat bukan, pun bukan orang terdekat. Maklumi saja kealpaanya yang kerap timbul-tenggelam. (baca: amnesia). Aku tak akan kemana, meski kadang kau tak suka. Kuulur keikhlasan tanpa memaksamu.

Biasanya memang kambuh lalu berangsur sembuh. Kalau tiada pulih jua biarlah kuasa Ilahi yang menyembuhkannya 🙂

 

96 in the House

Sehari sebelum keberangkatan ke acara reuni 04 Agustus 2017, saya beli zipped bag ini, ternyata teksnya memang “pas” banget. Entah ini kebetulan atau apa…

Lapangkan hati seluas samudera, terangkan pikiran seterang surya, pula pemahaman atas aku, kamu, dia, dan mereka. Mengagendakan perjumpaan bagi yang lama tak bersua memang tak semudah menengadah pada langit. Sikon profesi menuntut dedikasi di sisi lain kesetiakawanan meminta belas kasihan. Pengorbanan memang harus didahulu dari diri sendiri. Waktu, biaya, tenaga, kupetakan untuk tiga hari bertandang ke ibukota. Ah, salah pula sangka mengira, mengajak semua bersua nyata dikira hanya beberapa, cemburu pun menguras jiwa. Semua mengambil langkah mundur dari agenda. Cepat aku memutar rencana awal. Perjumpaan nostalgia di satu titik batal, tak ingin semua pengorbanan sia-sia, langkah maju terus melaju, strategi pun kubuat door to door. Lebih pula, tak ada jarak berdekatan di megapolitan. Alhamdulillah, silaturahim tetap terwujud.

Hutang emas dibayar emas. Bukan, bukan tentang berapa gram dengan sejumlah nominalnya. Inilah wujud pengimpasan hutang emas yang dahulu pernah diberikan padaku. Empat tahun masih kucatat dalam ingatan, sahabat sepermainan di dua puluh empat tahun silam pernah dengan niat baik dan tulusnya ingin menautkan kembali tali silaturahim, meski kala itu dia harus berjuang melewati arus di lautan padat merayapnya mesin-mesin beroda di pasca Idul Fitri 1434H. Meski kala itu keadaan tiada sampai mengizinkan wajah kami saling bertatap agar kedua tangan kami saling berjabat erat, namun bisa kubaca niatan baik dan tulus sepanjang penempuhan perjalannya, kami saling memantau tiada putus, sebagaimana keteguhannya untuk menyinggahi keberadaanku tiada pupus.

Lalu, kalau tiada lagi yang mengawali niatan baik dan tulus, haruskah kita menunggu putaran waktu menggerogoti usia kita? Tidak. Biar kutegaskan langkah. Usah beresah pada lelah. Biarkan pengorbanan semua itu termasuk pengorbanan hati karena kesilapan paham justru menjadi berkah. Selamat hari Persahabatan 🙂

Shrimp City – Cilebut Bogor – Ps. Jumat Jakarta,
04 Agustus 2017

Real(ationship)

real-vs-fake
ilustration: https://wednesdayswithnancy.wordpress.com/page/6/

Dua puluh empat tahun, luar biasa untuk sebuah perjalanan keterhubungan. Niatan baik untuk kembali bersua sapa bersambut hangat bukan hanya dari satu atau dua melainkan sejumlah lainnya sesama alumni bergaung ingin bergabung. Sampai-sampai kulempar canda, “kita bikin aja reuninya jadi kesebelasan…” Layar dibentang, rencana tertata pada kalender, janji terungkap, berharap jabat erat akan tetap terwujud.

The real is not what is on the screen but on the action or behavior. If we use it solely to strengthen our friendship. Perhaps, someone could be hide behind it and and made it seem like I was not aware. Even So, forget the screen, I’ll join the actual meet-up with friends who is real as they are.

Ramenya tuh Di sini