Real(ationship)

real-vs-fake
ilustration: https://wednesdayswithnancy.wordpress.com/page/6/

Dua puluh empat tahun, luar biasa untuk sebuah perjalanan keterhubungan. Niatan baik untuk kembali bersua sapa bersambut hangat bukan hanya dari satu atau dua melainkan sejumlah lainnya sesama alumni bergaung ingin bergabung. Sampai-sampai kulempar canda, “kita bikin aja reuninya jadi kesebelasan…” Layar dibentang, rencana tertata pada kalender, janji terungkap, berharap jabat erat akan tetap terwujud.

The real is not what is on the screen but on the action or behavior. If we use it solely to strengthen our friendship. Perhaps, someone could be hide behind it and and made it seem like I was not aware. Even So, forget the screen, I’ll join the actual meet-up with friends who is real as they are.

Ramenya tuh Di sini

Dua Warna

Ilustrasi dari https://jepretanhape.wordpress.com/2009/06/14/bunga-pukul-empat-mirabilis-jalapa-l/
Ilustrasi dari https://jepretanhape.wordpress.com/2009/06/14/bunga-pukul-empat-mirabilis-jalapa-l/

Udah beberapa kali mencoba memadukan benih biji warna bunga jam empat sore ini agar menjadi kombinasi merah dan kuning. Kebetulan di pekarangan depan rumahku ada dua jenis warna tanaman ini. Kalau sebelumnya pernah berhasil juga memadukannya antara yang putih dan pink. Entahlah, mungkin untuk kedua jenis warna tanamanku ini masih saling bersikeras mendominasi warna miliknya hehe…

Seperti halnya kedua warna bungaku tadi. Kadang dalam kehidupan sehari-hari pun terasa menemukan benturan di kala harus memadumadankan karakter. Padahal jauh sebelum merah dan putih berkibar pun bukankah nenek moyang kita yang terkenal dengan julukan sang pelaut sudah sering mengajarkan tentang makna toleransi. Hanya mungkin saja namanya juga manusia, kadang khilaf. Kadang perasaan yang lebih dominan, kadangkala pula pikiran jernih yang baru menyembul ke permukaan di kala hati mampu mengendalikan emosi. Di pantaran atas dua puluh karakter idealism biasanya menguat. Hemat perkiraanku ya memang begitulah siklus pertumbuhan jiwa. Dahulu pun di kala aku berada disana sering sekali harus menerima dampak yang kurang menyenangkan dan berakhir pada perselisihan bahkan dengan orang terdekat sekalipun. Di langkah selanjutnya buatku logika dan toleransilah yang lebih banyak berada di depan. Adapun bagi yang baru bermunculan semacam idealism ya disenyumin sajalah, 🙂 dengarkan, iyakan, hargai, dan jauhkan penghakiman. Jadi, apa sekarang ini lebih kepada realism? Hmm… nggak juga sih. Mungkin aku lebih kepada behavioralism :mrgreen:. Terus, hubungannya dengan warna bunga tadi? *tepokjidatinitulisankokyamakinkemana-mana*

Belajar memahami aja bagi yang masih idealis

-aku nggak suka kopi

+ya nggak pa pa… aku kan nggak ngajak kamu ngopi

#rapopo

#hatiseluassamudera

yang tulus-tulus aja

a plate of orego (oreo goreng) and a cup of chocoreo tea @Tong Tji Tea Bar Asia Toserba
a plate of orego (oreo goreng) and a cup of chocoreo tea @Tong Tji Tea Bar Asia Toserba. Foto by: mcoffeey -2016

Ada kalanya memaniskan tanpa perlu terlihat di permukaan melainkan menjadi landasan pemanis yang mungkin tidak terlihat, tidak pula ingin dilihat, namun dapat dirasa setelah semua hal lain menghampiri pencitarasa kehidupan kita #tulus-ikhlas untukmu 🙂

Ketika segala yang terlewati di hari kemarin, masa di mana ada awal yang manis lalu begitu saja berubah mungkin menjadi masam, apalah daya lagi mampu diunjukrasakan apabila hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Kembalikan semua pada yang Kuasa. Kembalikan segala upaya kepada kejernihan kalbu.

Mencoba menggandeng solidaritas namun tanpa kabar baik, hingga sangatlah kuinsyafi saatnya tulus-ikhlas lah yang harus serentak bergerak, dan bergegas. Meski tanpa petunjuk arah, tiada juga membekali diri dengan bentangan peta, komunikasi pun sebatas tatap muka, kini hanya mengandalkan ‘lillahi ta’ala, InsyaAllah. Alhamdulillah itikad baik tersampaikan. Entah apapun penerimaan maupun penilaian, hemat keyakinanku tulus-ikhlas itu hubungannya langsung vertikal ke atas. Mempersembahkan kebajikan dari dorongan hati, tanpa meminta, atau bukan juga memberi karena diminta. Dan tulus-ikhlas itulah yang dipertemukan untuk menyambangi beranda hatimu.

ngumpul syelalu

Senengnya bisa reunian lagi dengan seorang teman lama. Selalu ada kebersamaan dari tiap event 😉

 

13934901_10153782911562747_4899863132446106355_n

DC’s Angels *lol*

 

13935044_10153782866797747_6101473287976367624_n

DC’s Angels bersama regu pemadam kebakaran 😀

14055041_10153787136342747_1479049524922650557_n

DC’s Angels 😀

Ritual rutin di kantor salah satunya adalah merayakan ultah 😀

Intinya menjaga kebersamaan sesama teman *baca: sing penting mangan-mangan ha….ha…

Namanya kalo udah ngumpul suka sampe lupa waktu, lupa usia juga kadang (sebenernya ga ada urusannya juga ya?), lupa di mana kita sedang berada. Pada dasarnya fitrah manusia bagaimanapun adalah makhluk sosial, butuh bersosialisasi, lebih mengenanya harus tetap menjaga silaturahim. ‘get real!’ Kira-kira kalau dimaknai adalah ketika kamu sejenak berlepas diri dari rutinitas pekerjaan, gunakan waktumu untuk ngobrol, bersenda gurau, rumpi-rumpi, dan bisa juga makan bareng dengan semua teman di sekitarmu. Leave your gadget behind. Simpen aja dulu di saku atau di tas. Pikiran dan jiwamu akan lebih hidup ketika kamu berkumpul bersama dan saling berbagi dalam dunia nyata. Jadi, kalau suasana seperti kemarin di mana kita -ya dimanapun kita punya kesempatan ngumpul- nggak ada yang salah kalau kita ‘PECAH!’, rame abiiiz ngerumpi, becanda, grouphy, dsb karena kita adalah makhluk sosial. Nggak asyik kan kalau kita ngumpul, makan bareng, tapi suasana sunyi senyap, yang kedengeran cuma suara klak-klik hanya karena masing-masing diri tenggelam dalam alam mayanya. Aku sendiri sepakat. Temenan yang asyik adalah kalau bareng-bareng ngumpul, makan, rumpi, bercanda, secara nyata. Yang begitu udahnya bikin lebih lagi semangat untuk beraktivitas.

#gituajadarimutz

#salam “bareng”

Mee in Memorian

2008-2010. Dua tahun saja aku mengenalnya. Dalam lingkup kedinasan organisasi. Dalam hitungan tahun yang seminim itu namun terasa panjang kami lalui karena selalu berada bersama dalam hitungan hari dan bahkan hitungan jam yang nyaris tak menghiraukan waktu, waktu kapan kami bisa pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat di kala mereka yang bekerja dengan waktu normal telah lebih dulu pulang di hari menjelang senja dan baru jumpa lagi keesokan paginya.

Keadaan jua yang menggiring kami ke dalam satu tim yang semestinya memiliki satu pemikiran sudut pandang untuk mencapai tujuan kemajuan ladang usaha. Di satu sisi aku ditugaskan mengelola pembidikan gambar sekaligus penyajian informasi aktual dalam bentuk reportase dan dia sebagai dekorator yang dipercayakan untuk mempercantik “rumah online kami”. Awal yang sebenarnya adalah wajar jika kedua sudut pandang profesi kami menuntut banyak perbedaan. Perbenturan perbedaan antara sudut pandang bahwa penyajian informasi bagiku haruslah to the point tanpa meninggalkan syarat ketentuan penulisan. Dari sisinya, seni haruslah bicara dan banyak turut ambil peran dalam mendekor kata dan kalimat. Tidaklah mengapa andai hanya sebatas itu perselisihan yang kerap mewarnai nuansa pertemanan kami, uhm, andaikan kami memang pernah berteman.

Menyenangkan memang jika kita menemukan seorang teman dan kamu mengenalnya dengan baik lalu menemukan sosok dirimu ada di dalam dirinya, seperti kamu sedang mematut diri di muka cermin. Kamu menemukan ada sekian banyak kesamaan. Bukankah kesamaan itu yang kerap dicari bahkan meski dalam persahabatan sekalipun? Ya, seandainya pula kami pernah bersahabat. Aku dan dia sama-sama penggila kopi. Oh ya, aku pernah menyelipkan kisahnya dalam blog-ku ini (baca di: Cangkir Pink Misterius). Sama-sama menyukai dunia tulis-menulis karya fiksi, dan peminat fotografi. Selama perjalanan waktu bersamanya dia mengajakku membuka wawasan tentang dunia menulis karya fiksi. Dia mengajakku mengikuti berbagai kompetisi blog, sayembara cerpen di majalah, oww ya dia juga pernah memberiku sebuah buku unik. Ini dia. Judulnya “Kepada Cinta”, berisikan surat-surat cinta yang disayembarakan. Namanya tercantum sebagai salah satu peserta ‘gombalisasi’ di dalamnya 🙂 Saat dia memberikan buku itu padaku tahun 2009 dia tahu persis bahwa aku bakalan mual-mual membaca isi buku tersebut karena syarat kata-kata gombal tapi manis yang sebenarnya penuh dengan kalimat bernuansa seni.

DSC02887 ???????????????????????????????

Tetapi tak lain dan tak bukan semata tujuan mulianya agar aku belajar mendesain kata dan kalimat, meski untuk penyampaian informasi berita sekalipun. Dia ingin aku mampu mempercantik tulisan. Sebagaimana aku juga sering memintanya ikut ambil bagian dalam seminar dan event-event fotografi agar dia mengerti bahwa sebuah objek foto dikatakan indah bukan karena berapa ukuran megapixel-nya melainkan tentang bagaimana cara si fotografer memandang suatu objek.

Seandainya hanya perbedaan sudut pandang sebatas hal pekerjaan tidaklah semestinya pula menjalar ke ranah pribadi. Kian waktu kian kerap selalu ada sikap membanding-bandingkan untuk setiap perbedaan remeh sekalipun. Jika dia selalu berkilah mengeluarkan jurus pamungkasnya “kamu harus bisa menerima setiap kekurangan orang lain karena tidak ada orang yang sempurna,” semata untuk menangkis luapan emosiku yang tidak ingin dipersoalkan jika pilihan warna, kegemaran, olahraga, gaya penulisanku, menu makanan pilihanku berbeda dengan yang dipilihnya. Membuatku nggak ngerti siapa yang sebenarnya tidak bisa menerima kekurangan orang kalau apapun yang datang dariku berbeda dengannya dan selalu dikritiknya? Lontaran kata-kata pedas tidak dapat kami hindari dan kami terlibat perang kata-kata dan saling memperlihatkan ketajaman bahasa di media sosial.

Hingga di penghujung dua tahun terakhir seiring berakhirnya manajemen kepengurusan organisasi dan tercetus pulalah perpisahan yang menyakitkan di antara kami, untuk saling menjauh dalam diam dan amarah. Dia berhijrah ke lain kota usai tahun 2010. Adapun undangan pernikahannya di kemudian waktu entah memang direncanakan untuk terlambat tersampaikan ke tanganku atau murni kelalaian sahabatnya yang mungkin mengatasnamakan kesetiakawanan bersamanya.

Dear Mee, apapun yang udah kita lewati, meski berujung tidak baik, tidak sedikitpun aku melupakan hal-hal kecil darimu namun bermakna besar bagiku seperti pemberian “Kepada Cinta”; untuk menelponku memastikan keberadaanku baik-baik saja saat keberangkatan kloterku bersama Pak Ade terhambat karena accident di perjalanan; untuk bolem Kartika Sari di perjalanan pulang dari Bandung ke Cirebon usai workshop terakhir; untuk pagi itu sekali lagi kamu mengajariku tentang memadukan tulisan dan nyanyian alam di bibir sungai Ciberang Banten; untuk semua nasehat yang kamu sampaikan sebelum sempat aku tergelincir ke dalam jurang kesesatan 😯 ; untuk selalu bersedia menemaniku ber-je-je-es tanpa peduli sekalipun kita berjalan kaki.

Ketika malam kemarin (10-feb-2015) kudengar kabar dari temanku di kantor sini, dirimu sudah tiada di usiamu yang masih muda, maag kronis menerjang lambung hingga merenggut nyawamu. Sejenak aku terdiam. Inikah sebabnya beberapa hari kemarin bayangmu terlintas dalam benakku? Suara kecilmu yang jenaka itu mengiang dalam ingatan pendengaranku. Meski selama empat tahun terakhir kita sudah tak lagi saling bersilaturahim??? 😦 Semoga keluargamu yang ditinggalkan diberi-Nya ketabahan dan semoga segala amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT. Amiin…

Masih ada

Adakalanya semua yang kita hadapi tak berjalan sesuai performa yang sudah kita tampilkan. Kebajikan dibalas kebajikan. Begitu pula sebaliknya keburukan dibalas keburukan. Meski diri ini bukanlah hakim dunia, tetapi sebagaimana insan biasa, kita tak luput berperilaku sebagaimana cermin. Memantulkan setiap laku sebagaimana adanya. Jarang sekali pemikiran idealisme yang sebenarnya justru bisa membawa pahala di akhirat kelak sebagaimana diteladani oleh nabi kita Rasulullah SAW mampu pula kita tunaikan.

Bersyukur, di kala aku pun termasuk diantara kebanyakan orang pada umumnya yang berlaku sebagai cermin, tetapi disisi kehidupan sebagai insan harus pula menerima konsekuensinya, ternyata masih ada kebajikan-kebajikan tak terduga yang Allah SWT hadapkan kepadaku, tentunya agar aku terus belajar dari pengalaman dan perilaku agar menjadi lebih baik lagi di kemudian hari. Mereka masih ada. Alhamdulillah… mereka yang dahulu selalu tulus mengulurkan tangan dengan senyum dan canda yang tak perlu melebihi batas, mereka yang senantiasa berbagi nasihat, mereka yang tak pandang kepentingan tetapi dari bagaimana kita pun menghargai mereka. Alhamdulillah wasyukurilah bersyukur padamu ya Allah. Kau jadikan kami saudara. Indah dalam kebersamaan.

Canda Sehat

45-mph

Itu artinya, semoga anda berhasil. Karena biasanya terdapat 45 orang Mati Per Hari melewati jalur tersebut. :mrgreen:

Humor tersebut adalah dari Cak Lontong salah satu tokoh dalam tayangan LK di Trans7. Jempolan banget guyonan semacam itu, kocak habis tanpa perlu mengenai pribadi siapapun baik dari segi fisik maupun psikis.

Pemirsa,
Canda yang sehat itu nggak sulit kok. Semuanya tergantung dari niat, hati yang bersih, dan kesetiakawanan.
Canda yang sehat itu lucu-lucuan yang sama sekali tidak menyinggung personal, tidak mengarah ke segala apapaun yang melekat pada individu, terlebih kepada bentuk fisik seseorang, atau kekurangan seseorang. Jangan pernah juga: menghina orangtua yang telah melahirkannya, walaupun niatnya bercanda tetapi hal tersebut sangatlah tidak etis dan impolite.

Hal senada pernah juga diungkapkan oleh seorang seleb komedian belia dalam tayangan Just Alvin di Metro TV:

“Ada banyak cara untuk melucu tanpa harus menyakiti perasaan orang lain” #Jessica Iskandar

*Thumb’s up!* Morning all! Have a nice Friday with good friendship!