Definisi Bahagia

Jadi pingin ikutan mendefinisi makna bahagia *abis dengerin definisi bahagianya Vidi Aldiano ๐Ÿ™‚

Dalam beberapa pekan ini kalau dinget-inget, seneng rasanya selain bersua sapa -meski di antaranya hanya jumpa beberapa menit saja- setidaknya bisa membuatnya tertawa lepas. Sama sekali aku tidak berbakat jadi komedian, mungkin juga nggak jarang garing, tapi siapa dapat menipu ekspresi jiwa oleh lepasnya tawa menghias wajah?

Advertisements

Amnesia

Dulu bersahabat, kini berjauhan

pernah ramah, tempo lain seperti marah

kadang memendam benci, sebentar sayang, lalu ungkap rindu lewat hamburan kisah

biasanya jujur, namun tiada jarang sembunyikan dusta

inginnya bersama tapi merenggangkan langkah

mengingini keinginannya sendiri namun merutuki keputusannya

Baiklah. Apalah aku artinya. Kerabat bukan, pun bukan orang terdekat. Maklumi saja kealpaanya yang kerap timbul-tenggelam. (baca: amnesia). Aku tak akan kemana, meski kadang kau tak suka. Kuulur keikhlasan tanpa memaksamu.

Biasanya memang kambuh lalu berangsur sembuh. Kalau tiada pulih jua biarlah kuasa Ilahi yang menyembuhkannya ๐Ÿ™‚

 

96 in the House

Sehari sebelum keberangkatan ke acara reuni 04 Agustus 2017, saya beli zipped bag ini, ternyata teksnya memang “pas” banget. Entah ini kebetulan atau apa…

Lapangkan hati seluas samudera, terangkan pikiran seterang surya, pula pemahaman atas aku, kamu, dia, dan mereka. Mengagendakan perjumpaan bagi yang lama tak bersua memang tak semudah menengadah pada langit. Sikon profesi menuntut dedikasi di sisi lain kesetiakawanan meminta belas kasihan. Pengorbanan memang harus didahulu dari diri sendiri. Waktu, biaya, tenaga, kupetakan untuk tiga hari bertandang ke ibukota. Ah, salah pula sangka mengira, mengajak semua bersua nyata dikira hanya beberapa, cemburu pun menguras jiwa. Semua mengambil langkah mundur dari agenda. Cepat aku memutar rencana awal. Perjumpaan nostalgia di satu titik batal, tak ingin semua pengorbanan sia-sia, langkah maju terus melaju, strategi pun kubuat door to door. Lebih pula, tak ada jarak berdekatan di megapolitan. Alhamdulillah, silaturahim tetap terwujud.

Hutang emas dibayar emas. Bukan, bukan tentang berapa gram dengan sejumlah nominalnya. Inilah wujud pengimpasan hutang emas yang dahulu pernah diberikan padaku. Empat tahun masih kucatat dalam ingatan, sahabat sepermainan di dua puluh empat tahun silam pernah dengan niat baik dan tulusnya ingin menautkan kembali tali silaturahim, meski kala itu dia harus berjuang melewati arus di lautan padat merayapnya mesin-mesin beroda di pasca Idul Fitri 1434H. Meski kala itu keadaan tiada sampai mengizinkan wajah kami saling bertatap agar kedua tangan kami saling berjabat erat, namun bisa kubaca niatan baik dan tulus sepanjang penempuhan perjalannya, kami saling memantau tiada putus, sebagaimana keteguhannya untuk menyinggahi keberadaanku tiada pupus.

Lalu, kalau tiada lagi yang mengawali niatan baik dan tulus, haruskah kita menunggu putaran waktu menggerogoti usia kita? Tidak. Biar kutegaskan langkah. Usah beresah pada lelah. Biarkan pengorbanan semua itu termasuk pengorbanan hati karena kesilapan paham justru menjadi berkah. Selamat hari Persahabatan ๐Ÿ™‚

Shrimp City – Cilebut Bogor – Ps. Jumat Jakarta,
04 Agustus 2017

Real(ationship)

real-vs-fake
ilustration: https://wednesdayswithnancy.wordpress.com/page/6/

Dua puluh empat tahun, luar biasa untuk sebuah perjalanan keterhubungan. Niatan baik untuk kembali bersua sapa bersambut hangat bukan hanya dari satu atau dua melainkan sejumlah lainnya sesama alumni bergaung ingin bergabung. Sampai-sampai kulempar canda, โ€œkita bikin aja reuninya jadi kesebelasanโ€ฆโ€ Layar dibentang, rencana tertata pada kalender, janji terungkap, berharap jabat erat akan tetap terwujud.

The real is not what is on the screen but on the action or behavior. If we use it solely to strengthen our friendship. Perhaps, someone could be hide behind it and and made it seem like I was not aware. Even So, forget the screen, Iโ€™ll join the actual meet-up with friends who is real as they are.

Ramenya tuh Di sini

Dua Warna

Ilustrasi dari https://jepretanhape.wordpress.com/2009/06/14/bunga-pukul-empat-mirabilis-jalapa-l/
Ilustrasi dari https://jepretanhape.wordpress.com/2009/06/14/bunga-pukul-empat-mirabilis-jalapa-l/

Udah beberapa kali mencoba memadukan benih biji warna bunga jam empat sore ini agar menjadi kombinasi merah dan kuning. Kebetulan di pekarangan depan rumahku ada dua jenis warna tanaman ini. Kalau sebelumnya pernah berhasil juga memadukannya antara yang putih dan pink. Entahlah, mungkin untuk kedua jenis warna tanamanku ini masih saling bersikeras mendominasi warna miliknya heheโ€ฆ

Seperti halnya kedua warna bungaku tadi. Kadang dalam kehidupan sehari-hari pun terasa menemukan benturan di kala harus memadumadankan karakter. Padahal jauh sebelum merah dan putih berkibar pun bukankah nenek moyang kita yang terkenal dengan julukan sang pelaut sudah sering mengajarkan tentang makna toleransi. Hanya mungkin saja namanya juga manusia, kadang khilaf. Kadang perasaan yang lebih dominan, kadangkala pula pikiran jernih yang baru menyembul ke permukaan di kala hati mampu mengendalikan emosi. Di pantaran atas dua puluh karakter idealism biasanya menguat. Hemat perkiraanku ya memang begitulah siklus pertumbuhan jiwa. Dahulu pun di kala aku berada disana sering sekali harus menerima dampak yang kurang menyenangkan dan berakhir pada perselisihan bahkan dengan orang terdekat sekalipun. Di langkah selanjutnya buatku logika dan toleransilah yang lebih banyak berada di depan. Adapun bagi yang baru bermunculan semacam idealism ya disenyumin sajalah, ๐Ÿ™‚ dengarkan, iyakan, hargai, dan jauhkan penghakiman. Jadi, apa sekarang ini lebih kepada realism? Hmmโ€ฆ nggak juga sih. Mungkin aku lebih kepada behavioralism :mrgreen:. Terus, hubungannya dengan warna bunga tadi? *tepokjidatinitulisankokyamakinkemana-mana*

Belajar memahami aja bagi yang masih idealis

-aku nggak suka kopi

+ya nggak pa pa… aku kan nggak ngajak kamu ngopi

#rapopo

#hatiseluassamudera

yang tulus-tulus aja

a plate of orego (oreo goreng) and a cup of chocoreo tea @Tong Tji Tea Bar Asia Toserba
a plate of orego (oreo goreng) and a cup of chocoreo tea @Tong Tji Tea Bar Asia Toserba. Foto by: mcoffeey -2016

Ada kalanya memaniskan tanpa perlu terlihat di permukaan melainkan menjadi landasan pemanis yang mungkin tidak terlihat, tidak pula ingin dilihat, namun dapat dirasa setelah semua hal lain menghampiri pencitarasa kehidupan kita #tulus-ikhlas untukmu ๐Ÿ™‚

Ketika segala yang terlewati di hari kemarin, masa di mana ada awal yang manis lalu begitu saja berubah mungkin menjadi masam, apalah daya lagi mampu diunjukrasakan apabila hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Kembalikan semua pada yang Kuasa. Kembalikan segala upaya kepada kejernihan kalbu.

Mencoba menggandeng solidaritas namun tanpa kabar baik, hingga sangatlah kuinsyafi saatnya tulus-ikhlas lah yang harus serentak bergerak, dan bergegas. Meski tanpa petunjuk arah, tiada juga membekali diri dengan bentangan peta, komunikasi pun sebatas tatap muka, kini hanya mengandalkan ‘lillahi ta’ala, InsyaAllah. Alhamdulillah itikad baik tersampaikan. Entah apapun penerimaan maupun penilaian, hemat keyakinanku tulus-ikhlas itu hubungannya langsung vertikal ke atas. Mempersembahkan kebajikan dari dorongan hati, tanpa meminta, atau bukan juga memberi karena diminta. Dan tulus-ikhlas itulah yang dipertemukan untuk menyambangi beranda hatimu.

ngumpul syelalu

Senengnya bisa reunian lagi dengan seorang teman lama. Selalu ada kebersamaan dari tiap event ๐Ÿ˜‰

 

13934901_10153782911562747_4899863132446106355_n

DC’s Angels *lol*

 

13935044_10153782866797747_6101473287976367624_n

DC’s Angels bersama regu pemadam kebakaran ๐Ÿ˜€

14055041_10153787136342747_1479049524922650557_n

DC’s Angels ๐Ÿ˜€

Ritual rutin di kantor salah satunya adalah merayakan ultah ๐Ÿ˜€

Intinya menjaga kebersamaan sesama teman *baca: sing penting mangan-mangan ha….ha…

Namanya kalo udah ngumpul suka sampe lupa waktu, lupa usia juga kadang (sebenernya ga ada urusannya juga ya?), lupa di mana kita sedang berada. Pada dasarnya fitrah manusia bagaimanapun adalah makhluk sosial, butuh bersosialisasi, lebih mengenanya harus tetap menjaga silaturahim. ‘get real!’ Kira-kira kalau dimaknai adalah ketika kamu sejenak berlepas diri dari rutinitas pekerjaan, gunakan waktumu untuk ngobrol, bersenda gurau, rumpi-rumpi, dan bisa juga makan bareng dengan semua teman di sekitarmu. Leave your gadget behind. Simpen aja dulu di saku atau di tas. Pikiran dan jiwamu akan lebih hidup ketika kamu berkumpul bersama dan saling berbagi dalam dunia nyata. Jadi, kalau suasana seperti kemarin di mana kita -ya dimanapun kita punya kesempatan ngumpul- nggak ada yang salah kalau kita ‘PECAH!’, rame abiiiz ngerumpi, becanda, grouphy, dsb karena kita adalah makhluk sosial. Nggak asyik kan kalau kita ngumpul, makan bareng, tapi suasana sunyi senyap, yang kedengeran cuma suara klak-klik hanya karena masing-masing diri tenggelam dalam alam mayanya. Aku sendiri sepakat. Temenan yang asyik adalah kalau bareng-bareng ngumpul, makan, rumpi, bercanda, secara nyata. Yang begitu udahnya bikin lebih lagi semangat untuk beraktivitas.

#gituajadarimutz

#salam “bareng”

Jumpa Lagi

Kecil, lebih ke dalam, dan agak terisolasi dari publikasi keseharian. Lokasi yang membuat kita penghuninya seperti orang-orang dilupakan. Sempat dahulu membuatku berangan… andai suatu hari nanti aku bisa bertemu kembali. Setidaknya, mungkin saja ada semacam kunjungan kerja kesini. Ah, it’s just a wishfull thinking. Anggapku mengusir angan ringan tak bermuatan itu dari benak. Sementara ‘that good one’ yang pastinya pun sudah kian terpencar secara kedinasan ke wilayah lainnya, semakin jauh dari sini.

Tahun pun beruntun. Pun aku sudah tidak ingat kapan wishful thinking itu pernah mengusik anganku. Namun, mengapa tidak kalau Yang Kuasa mengizinkan sebuah perjumpaan sederhana? Sekadar setidaknya untuk langsung bertatap wajah, bertegur sapa di sela jabat erat pertemanan? Sesiang ini, tak ada sebersit firasat. Hanya sekilas kutahu sedang ada meeting bagi beberapa rekan. Entah dengan visitor penting darimana lagi, kantor kami lumayan sering mendapat kunjungan kerja pejabat baik dari induk maupun dari pusat. Hingga jam bergeser menunjuk waktu istirahat gegas aku mengambil langkah menuruni lantai dua untuk pergi ke masjid. Tapi, up’s… siapa mereka? Langkahku sejenak tertahan keraguan di tikungan pemisah antara tangga dan ruang lobby, khawatir jangan-jangan hari ini masih ada kunjungan paduka presdir lengkap dengan para ponggawanya seperti hari kemarin, membuat kita nggak boleh sembarangan begitu saja meninggalkan gedung kantor. Hasil pengamatan dari balik dinding tangga membuatku lega, sepertinya hanya serombongan junior angkatan baru. Atau, bahkan mungkin kelompok mahasiswa yang sedang menunaikan tugas akhir?

Belum tuntas langkahku melenggang menuruni anak tangga. Dua orang masih tersisa dekat sofa lobby. Satu orangnya hendak menyusul teman-temannya yang sudah berkerumun di bawah gedung. Satu sosok laginya hanya menampakkan punggung, tengah berbalik arah. Mendadak membuatku penasaran. Dia? Ingatanku berputar, bahkan derai ringan suaranya saat bertanya pada seseorang di lantai satu tentang posisi rest room terdekat. Aku masih bisa mengingat persis suaranya. Benarkah? Langkahku kian beku di penghujung turunan tangga. Apa aku harus menunggu di balik persembunyianku ini hingga dia keluar dari rest room? Aah! Konyol. Waktu dhuhur tidak panjang. Langkahku gegas terus turun ke area parkiran. Bisa saja itu hanya seseorang yang mirip. Sering aku menemukan rupa yang hampir menyamai postur badannya, rambutnya, tetapi justru orang lain. What a wishful thinking! berharap tiba-tiba dia ada disini. Sigap aku mengayun kendaraanku. Berputar poros di aspal menuju jalan keluar. Barulah sosok yang membuatku penasaran tadi menampakkan sumringahnya di anak tangga keluar lobby. Sesaat pandang kami saling bertemu. Tangannya spontan melambai. Keramahan wajahnya masih serupa dahulu saat keadaan belum berganti jarak dan waktu. Rutinitas dari karir dan profesinya yang telah meroket di metropolitan tidak sedikitpun mengubah tutur dan gesturnya. Kudekatkan kendaraanku padanya. Jabat erat saling bersambut, senyum-sapa mengembang, sayangnya, tidak banyak kosakata yang mampu kuungkap, syukurlah, dia masih tetap dia yang taktis meramu canda guna melumerkan kekakuan.

contemporary-furniture-coffee-tables

Teman lama? Seseorang istimewa? Atau, jangan-jangan mantan terindah? Terlalu berlebih kalau beranggapan demikian. The best employee in career, a very low profile superior in my previous employment, someone with a higher position but behave me as friend, friendly, pernah mengantarku pulang karena suatu event kemalaman, yang menjamu makan siang di rumah keluarganya dan memperlakukan tamunya bak paduka *oupโ€™s untungnya aku masih sadar diri – tetap menjaga etika bahwa bagaimanapun dia atasanku hehe…*, yang mensupport paper yang kubuat untuk dipresentasikan di ruang meeting di depan boss, yang bersedia sukarela meminjamkan sandal gunung barunya padaku di lokasi field trip *lah kok malah aku yang disuruh pake sandal gunungnya, kan dia yang mesti field trip, aku cuma panitia perjalanan h3u….*, kebaikan sikapnya susah dilupakan ๐Ÿ™‚