Sebait Kata

Manusiawi kukira, di saat waktu dan nasib menentukan kita harus berpisah dengan sahabat, pilu rasa hati teriris sembilu. Kehilangan sosok istimewa, menjadi pembeda dengan kebanyakan lainnya. Seolah baru saja kemarin kita saling jumpa, belum lagi kita memiliki keluangan waktu lebih banyak untuk lebih mengenal diri masing-masing. Iya memang logikanya kita selayaknya memberikan dukungan penuh untuk langkah kemajuannya. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal, jangan katakan kita nggak akan jumpa lagi, koreksi dariku: Semoga kalau ada kesempatan dan jalan yang baik kita akan tetap jumpa lagi.

Baiklah, good luck adikku sayang, be the best, and ever best within my heart.

Mysist

Advertisements

Hati-hati di Jalan

Jadi keinget dengan lirik lagu yang pernah dibawain oleh Shiha Zikir di ajang DAA2, belakangan saya baru tahu kalau itu lagunya Rita Sugiarto.

Jum’at sore kemarin niat banget pengen nguliner. Baru aja markirin sepeda di parkiran dekat kantor induk di area pakir motor, tiba-tiba seorang laki-laki memanggil nama saya. Saya pun menoleh usai mengaitkan kunci sepeda pada sebilah tiang. Oww…ternyata Mas Yon, teman lama waktu tahun 2000 silam kita masih di Fungsi Tekres. Gegas dia menghampiri dan menanyakan kabar saya, termasuk bertanya di mana sekarang saya ngantor, hehe…masih di lingkungan yang sama kok, cuma gedungnya beda satu kilometeran. Dia juga nanya saya mau kemana karena nyimpan sepeda di parkiran kantor depan. Lalu saya pun menyebutkan tujuan saya, sekadar berkuliner sore ke Perjuangan.

“Oke kalau begitu hati-hati di jalan, Mutz,” pamitnya pula. Hmmm.. Sebait kalimat yang dulu pernah begitu akrab di telinga saya.

Janji Suci

Semasa kecil dulu, jamannya masih bocah, di depan halaman sekolah, berucaplah  janji, kemanapun kita kelak melangkah, kita akan tetap seperti ini. Maksudnya tetap memegang erat tali persahabatan.

Apalah arti ucapan dua sosok insan yang belum lagi matang usia, peluang lenggang melanglang pun masihlah terbentang, namun ternyata perikatan kata bagi usia kanak-kanak adalah yang justru lebih dipenuhi. Janji semasa bocah adalah janji yang tak pernah ingkar. Bandingkan dengan perikatan janji di antara orang dewasa. Seringnya (bisa jadi) lebih cenderung kemanaaaa…terbawa angin.

Bersyukur, kalau Agustus 2017 lalu aku masihlah bisa memenuhi janji semasa kecil puluhan tahun silam, sehingga membuat kata jarak adalah sekadar hitungan kilometer. Maka malam ini sahabat masa kecilku pun membuat kalkulasi serupa. Jauh-jauh berangkat subuh dari Kota hujan menuju Kota tepi pantai, entah itu harus bergerak dalam arus kemacetan lalulintas di masa akhir pekan panjang dan baru bisa bersua sapa di jelang malam, semua adalah karena kita menghargai apa yang dahulu pernah kita lisankan, di depan halaman sekolah 🙂

Simple Things

When I was in elementary school, we were playing rounder in the school backyard. When it was also based on the results of the drawing of the group division I went to the group that I was actually less familiar with the friends in the group. But anyway I keep playing.

It was my turn to hold the stick, one of the group gave a shout of excitement for me. I looked back when she was not only shouted the spirit but she also asked me first turn back. Apparently, she asked that we clap each other’s hands as a sign of encouragement. But her intention immediately canceled it because seeing my right hand wrapped in bandage. Then she asked why. I said this morning my hand was cut off by a knife. Then she pulled one of my left hand while tapping with her hand. OK! Good Luck Mut! May your hands get well soon too, you’re the best in Rounder!

Simple indeed. But for the present, sometimes we escape from and against such small things. Something you do for someone even though it may not be very useful but in fact it is a way of your attention. For me, I still appreciate those same things. As I got this morning 🙂


Nama yang tak Kau Simpan

​Bahkan namaku tak pernah kau simpan dalam laci relung hatimu…

Nggak seperti menjalin kisah asmara, hukumnya secara alami dan universal haruslah ada pengungkapan janji perikatan di awal. Persahabatan tumbuh bagai ilalang, seringnya dirasa tiada perlu pemroklamiran di awal.

Bermula dari suatu sore. Waktu mendekati senja di mana semestinya kami sudah diperbolehkan pulang tetapi harus memenuhi undangan boss di ruang meeting untuk membahas raker. Hari itu hari kedua berlima kami bergabung dalam suatu naungan pekerjaan. Dan moment itu berawal dari sana. Nyaris berbarengan, ketika tanganku meletakkan notes dan bolpen di atas meja, demikian pula sosok di sebelahku. Spontan kami berdua sama-sama menoleh,  saling berpandangan, dan berusaha menahan tawa. “Pasti belinya di alat tulis Yogya, kan?” celetuknya. Notes bercover semi elastic kami benar-benar serupa, motif covernya sama, tentu saja merknya juga, hanya beda warna. Miliknya berwarna hijau sedangkan punyaku warna merah maroon. Ternyata buku catatan berukuran kecil yang sama tersebut menandai jalin persahabatan kami di hari-hari berikutnya. Perbedaan bidang pekerjaan, latar belakang edukasi, pengalaman, bahkan usia justru tidak menghambat kami menemukan titik-titik kesamaan. Coffee lovers, hobi menulis, travelling, dan nyantai gak suka ribet meski nggak jarang juga ribut. Jalan kemana aja bersamanya begitu menyenangkan. Sepanjang jalan selalu ada aja cerita dan canda yang diungkap. Sama sepertiku, punya prinsip bepergian kemana aja nggak mau ribet soal kendaraan. Asalkan bisa sampai ke tujuan, selamat dan sehat wal afiat. Makan di mana aja bebas, yang penting halal. Kadang kita ngopi di café, kadang icip-icip menu baru di resto, dan nggak jarang makan di warung tenda pinggir jalan. Pernah, dalam suatu event outdoor, kami bermalam di camp di bibir sungai Ciberang, Banten. Usai makan malam bersama tim operator arung jeram, menyempatkan diri kami berbincang berdua. Dia tiba-tiba aja nyeletuk, “coba deh…lamat kita dengerin samar suara desis arus air di bawah sana, apa yang kamu rasakan? Tuangkan dalam imagi kata-kata,” Suatu cara dia sharing padaku tentang pengetahuan dunia tulis-menulisnya. Beberapa kata spontan kuungkap. Yang kutahu pasti ungkapan kata-kataku masih terlalu dangkal. Dia hanya tersenyum tanpa membantah. Namun kemudian memberikan contoh ungkapan-ungkapan yang lebih puitis. Meski dariku sering kukenalkan dia pada dunia sebagai sahabat, sebaliknya sering kudengar dia menyebutku adalah ‘rekan kerja’nya di kantor.

Seorang sahabat lain pernah pula menemani perjalananku melewati masa pendidikan. Jumpa kami dalam setiap pekannya sebatas dua kali dalam dua hari saja, Jumat dan Sabtu. Tanpa didahului pemroklamasian, sekadar karena setiap kali usai jam perkuliahan hanya kami berdua yang menyusuri trotoar sepanjang satu kilometer untuk mendapati kendaraan umum yang bisa membawa kami pulang, yang lainnya naik motor. Dari obrolan upaya saling mengenal asal-muasal diri masing-masing, saling bertutur dan bertukar cerita pengalaman, sampai pada curhat tentang alur hidup yang dijalani. Sehingga dirasa waktu sebatas Jumat petang dan Sabtu siang tiadalah memadai. Jalan bareng pun diperpanjang hingga Sabtu sore, kadang seharian di hari Minggu. Saling mengunjungi rumah dan keluarga memadati agenda kami. Satu catatanku tentangnya, mungkin ini terlihat lucu atau sedikit aneh. Dua tahun lamanya kami menjalani ritme kebersamaan. Hingga tercetus suatu ungkapan agak aneh dan penuh tanya di kepalaku. Siang itu di beranda café, tengah dia berkesah tentang calon pasangannya yang dia sendiri meragu akan perasaannya pada calon pendamping sehidup-sematinya itu, air matanya menitik di pelipis, ia bertutur lirih, “aku nggak punya sahabat yang ngerti apa yang kurasa saat ini. Nggak ada. Nggak seorangpun.” Kala itu meski dengan kening berkerut dan tatapan mataku berfokus pada wajahnya, aku hanya terdiam. Sementara dia melanjutkan kisah galaunya, dalam hati aku jadi bertanya… Terus, selama dua tahun aku nemenin dia berbagi berbagai kisah hidupnya, nggak jarang aku senantiasa menyimak, berbagi padanya saran dan nasehat, tapi aku dianggap apa?? *garukinjidat*

Kalau flash back hal seperti itu sekarang jadi buatku senyum. Dulu sih, iya, aku merasa kecewa, diam-diam marah, dan mungkin menjauh. Gimana nggak capek hati, udah ngerelain waktu buat menemani dan menjadi pendengar setia, eh malah terbersit statusku sebagai sahabatnya pun tidak. Kini, kuinsyafi sedalam samudera, apalah arti dari identitas sebagai sahabat? Karena menurutku kuncinya adalah ikhlas. Mau dianggap sebatas teman, rekan, atau kenalan jauh, atau bahkan sama sekali nggak dianggap, ya sudahlah. Sejauh aku menempatkannya dalam singgasana terbaik di lubuk hati, lakukan saja hal baik yang bisa membaikkannya. Tanpa pernah menuntut balas walau sebatas identitas.

#cerpenagnez

Definisi Bahagia

Jadi pingin ikutan mendefinisi makna bahagia *abis dengerin definisi bahagianya Vidi Aldiano 🙂

Dalam beberapa pekan ini kalau dinget-inget, seneng rasanya selain bersua sapa -meski di antaranya hanya jumpa beberapa menit saja- setidaknya bisa membuatnya tertawa lepas. Sama sekali aku tidak berbakat jadi komedian, mungkin juga nggak jarang garing, tapi siapa dapat menipu ekspresi jiwa oleh lepasnya tawa menghias wajah?

Amnesia

Dulu bersahabat, kini berjauhan

pernah ramah, tempo lain seperti marah

kadang memendam benci, sebentar sayang, lalu ungkap rindu lewat hamburan kisah

biasanya jujur, namun tiada jarang sembunyikan dusta

inginnya bersama tapi merenggangkan langkah

mengingini keinginannya sendiri namun merutuki keputusannya

Baiklah. Apalah aku artinya. Kerabat bukan, pun bukan orang terdekat. Maklumi saja kealpaanya yang kerap timbul-tenggelam. (baca: amnesia). Aku tak akan kemana, meski kadang kau tak suka. Kuulur keikhlasan tanpa memaksamu.

Biasanya memang kambuh lalu berangsur sembuh. Kalau tiada pulih jua biarlah kuasa Ilahi yang menyembuhkannya 🙂