Berburu Ikan di Kantor

Nangkap ikan lho ini bukan mancing ikan 😆 udah gitu lokasinya di halaman kantor.

Lagi santai-santai di pantry sekitar pukul tiga sore, sembari ngemilin kuaci, hujan di luar baru saja akan mereda tetapi masih menyisakan rintikan, tiba-tiba Yoeni memekik sembari matanya melotot ke arah jendela, “ikaaaaann…. ada ikaaann di bawah!!!”

Spontan semua mata kami mengikuti apa yang diteriakan Yoeni, tapi semua pada bingung, sontak kami pun berlarian menuruni tangga menuju halaman parkir kantor. Ternyata benar. Beberapa ekor ikan jenis mujaer tengah menggelepar di aspal. Sambil berteriak-teriak kegirangan kami mencoba memungutinya.

 

Advertisements

Kopikan Pagimu

Hai…

Selamat pagi dunia… 🙂

Pagi tersenyum lembut Rabu ini, kemuning surya sedikit tersapu mega.

Menikmati hari jelang kerutinitasan tidak melulu harus indoor, kenapa nggak sekali waktu coba relax-kan seluruh raga dan jiwamu dalam damainya alam sembari membiarkan sapa mentari, kicau burung, dan samar deru perahu motor di kejauhan laut sana, agar terbiasa pola otak kita bekerja out of the box, free thinking, aahh… apalah 💡

 

DSC04195DSC04196

 

 

 

 

 

 

#new place

#driving range

#greenly morning

Ngedadak ngafé

Sekadar meluang weekend mampir berbelanja sedikit keperluan dapur. Sejak pagi mentari sudah menyemangati dengan kehangatannya menyinari bumi. Namun tanpa prediksi hujan ingin pula bersua sapa dengan keramaian pusat perbelanjaan di jantung kota.

Tak ada lain pilihan selain menunggu redanya hujan di beranda supermarket. Eh, senasib ternyata dengan seorang karib. Daripada berdiri berjejalan dengan banyak orang di pintu masuk, ya kenapa nggak kita ngafé sejenak di Tong Tji Asia Toserba. Whuaaahh tempat tongkrongan favoritku 🙂

me & hyuna @Tong Tji Toserba Asia Cirebon, Feb 2017

 

Just Fill it Free

cheese-chocochips cake by mcoffeey @Sunday, 29 2017
cheese-chocochips cake by mcoffeey @Sunday, 29 2017. Ilustration “let the cup empty, it’s free to anything you would like”

Sering kita mendengar istilah don’t judge the book by its cover. Jangan bawa buku banyak-banyak kecuali bawa koper 😆

In many times whenever you meet me there’s always a cup of coffee on table. So you named me as a coffiers. As the one who avoid coffee think it’s better take a step away from the coffiers. Hope this let you know, a cup of coffee means a free of the way of thinking. Coffee means welcome to any others except itself. Now I let you yourself fill it with anything what you like, tea, chocolate, milk, pure water, etc. Or you just choose to hold it as the empty it is.

Failed to Avoid Coffee Today!

Minggu lalu kebetulan (hampir) sarapan bareng seorang teman.

Kesannya rada-rada gimanaaa gitu ya? udah pake kata “hampir” terus dikerangkeng dalam tanda kurung, padahal hanya dengan seorang teman. Maklumlah… di kantorku yang teristimewa ini adalah kesempatan langka untuk bisa bareng-bareng sarapan. Seringnya masing-masing kami main petak umpet, ya entah karena memang kebijakan-kebijakan dari atas yang sampai menyentuh ke soal sarapan segala, atau memang dari diri kitanya sendiri ajah yang kudu rajin-rajin mengintrospeksi diri. *terus hubungannya dengan sarapan bareng teman apa yah?*

Senin pagi. Apa sih yang membuat Senin pagimu bersemangat?

mug-coffee

Buatku: kopi eksklusif seduhan tanganku sendiri, makanan kecil yang secukupnya, koneksi internet yang lancar, music, dan k.a.m.u.

Kembali ke wacana di atas, beberapa hari sebelum akhir pekan kemarin, kita emang hampir aja bareng memulai semangat pagi di pantry. Dia sedang menyantap makanan berkuah, sementara aku sudah siap menyeduh sesachet kopi instan. Tiba-tiba temanku itu bertanya

“Minum apaan Mut?”
“It’s my coffee.”Jawabku mantap.
Terus, dia bertanya lagi, tapi kali ini aku ngerti makna sebenarnya dia pingin mengingatkanku,
“Bukannya kopi kurang baik ya buat kesehatan? Aku juga suka kopi tapi jarang sih. Paling teh aja.”

Aku ketawa aja mendengarnya. Tak ingin mengilah. Memang apa yang dia bilang barusan bener banget. Nggak selamanya kopi itu baik buat kesehatan. Aku juga suka cara dia mengingatkan. Bukan dengan cara langsung offen melainkan dengan bertanya. Apalagi nasehat yang baik entah itu datangnya dari siapapun sebaiknya memang kita simak dulu baik-baik kan? Karena sarapanku tertinggal di dalam tas di loker meja kerja aku bergegas kembali ke ruang kerja, niat pingin sarapan bareng teman baikku terpupus oleh sikon yang kurang menyenangkan di menit berikutnya setelah pasukan berasap datang menghambur masuk pula ke pantry.

Senin pagi ini (19/9), aku sudah bersiap tiba di kantor dengan makanan kecil dan teh. Sayang karena keterbatasan waktu aku hanya sempat mengambil teh kemasan dari lemari es sebelum berangkat tadi.

Tanpa kuduga, teh yang kubawa ini beku. Berharap berangsur kebekuannya mencair. Nyatanya, meski kutinggal ke pantry, seorang diri, mematut pada bingkai, sembari menikmati kemuning pagi, dan latar membirunya punggung Ciremai, teh kemasanku tidak kunjung mencair. Hingga sepuluh menit kemudian usai kue-kue tradisional yang kubawa tandas dan aku sudah harus kembali menunaikan pekerjaan. Bahkan hingga pukul sembilan tiga puluh teh beku tidak menunjukkan tanda-tanda mencair kecuali hanya setetes demi setetes saja yang bisa kuseruput. Terpaksa kupindahtempatkan saja minuman beku itu ke pembuangan. Nice, satu sachet kopi instan my favorite one selalu sedia di ranselku. Pergilah aku ke pantry lagi dengan hati riang seolah aku mengargumenkan alasan untuk back to coffee, yeehh… ternyata stok air di dispensernya kosong. Pilihan lain ke pantry lantai bawah. Yepz! Alhamdulillah di sana air galon di atas dispensernya masih penuh.

Batal deh menghindari kopi gara-gara tehnya beku. Andai tidak sebeku hatimu, we would looks like coffee and sugar which is listen each other. eaaaaa he…he…

Sisir

Menikmati Minggu pagi cerah.

Bersepeda melintasi jalan utama Siliwangi -car free day area- belum lagi bergeser dari agenda hobi mingguanku. Kali ini sekalian mampir ke atm di halaman bank. Usai urusan di dalam. Saat turun kembali ke halaman ada sisi unik yang menurutku halaman kecil ini cantik untuk selfie :mrgreen:

Berjarak 200 meter dari jalan raya dengan posisi menanjak dari luar ke dalam, terdapat pilar aluminium mengkilap dengan dinding marmer sebagai penopangnya. Sekelilingnya ada tanaman-tanaman hias sekadarnya tetapi cukup greeny menghadap ke lapangan alun-alun di seberangnya. Tergelitik di saat aku bersiap-siap dengan kamera saku yang selalu kubawa, ada sebuah sisir kecil terselip di antara pilar aluminum dan penyangga marmer. Berarti memang disini tempat orang selfie. Karena sebelumnya berarti pernah ada yang memanfaatkan pekarangan kecil ini sebagai latar dan memanfaatkan pilar aluminium bening ini sebagai kaca cermin buat rapi-rapi dulu sebelum selfie 😀 Memang aku mendadak pingin selfie dengan berlatar pekarangan cantik ini mumpung di hari Minggu pagi saat sekarang cerahnya matahari sedang menyapa manja, tapi tidak dengan sisir itu tak bertuan yang tergeletak tsb  untuk merapikan rambutku 😉

Antrian ke-146

waitingPernah dulu nyaris berobat ke dokter THT di salah satu apotek kimia farma Bandung. Penyebabnya telingaku kemasukan air sehabis renang.

Sore itu pukul lima seorang diri aku yang baru pertama kali mendaftar di praktek dokter THT di Bandung mendapat nomor urut ke-146. Tepok jidat! Yah mau gimana lagi? Dengan pasrah aku mengambil posisi duduk di salah satu kursi kosong di antara para antrian pasien lainnya di ruang tunggu. Waktu terus bergulir hingga tanpa terasa senja mulai turun. Nomor urutku masihlah teramat jauuuh.

Selang beberapa menit sekali bergantian satu persatu pasien keluar dari ruang praktek dokter. Yang membuatku bingung kenapa setiap pasien yang telah keluar dari ruang dokter THT baik orang dewasa maupun anak-anak, memegangi kapas kecil di lengannya? Bekas suntik? Aku baru tahu kalau ternyata dokter THT di sini main suntik. Kepenasaran dan kegelisahanku makin meningkat setiap kali pasien-pasien berikutnya pun memegangi kapas di lengannya. Ketika salah seorang ibu muda bersama anaknya yang menangis kesakitan memegangi kapas di lengannya dan menyempatkan diri duduk sejenak di sampingku untuk membaca resep yang diterimanya, aku langsung bertanya, “anaknya sakit apa bu?” Lalu si ibu pun menjawab, “sakit dadanya, tadi kata dokter paru-parunya agak bermasalah.”
Selepas si ibu dan anaknya tadi berlalu, seorang pasien baru periksa dengan action serupa, pegang kapas, langsung kutanya juga, “Sakitnya apa teh?” Wanita muda itu bilang telinganya sudah beberapa hari mendengung. *Garuk-garuk kepala*.

Jam dinding di ruang tunggu sudah menunjuk pukul enam lebih empat puluh lima menit. Dan selama itu pula tak ada yang berbeda dari setiap pasien usai periksa. Nomor yang dipanggil oleh petugas pendaftaran baru sampai nomor lima puluh enam. Berpikir ulang dan terus berpikir, besok paling tidak dua hari aku tinggalkan saja kelas perkuliahan untuk secepatnya besok pagi berangkat menuju kotaku untuk berobat ke dokter THT langgananku disana. Saking takutnya dengan jarum suntik! :mrgreen: Dan……1…..2….. 3……gegas aku beranjak tanpa pamit……kabooooooooooorrrrr!

Kalau dingat-ingat moment menunggu nomor urut tersebut jadi geli sendiri. Awalnya waktu baru memperoleh selembar kartu bertuliskan angka 146 aku sudah resah, karena berarti harus menunggu entah untuk berapa jam, mungkin harus sampai malam melarut. Tetapi kenyatannya justru I was lucky at the time, karena batal berobat dan disuntik untuk keluhan telinga kemasukan air hihi…

My notes: when things or somebody makes you must wait for a very long time, you got to know the logic reason about what and why you have to wait. If there’s no a logic reason, even no explanation, better you leave.

Black Iced Coffee Day

ice-black-coffee

I’ve ever said. “When you take a cup of coffee. You do not only drink. It’s not about where’s the place, how much you pay, or the prestige you could get. But it’s about how could you slurp all the taste. It’s more about how could you feel it till someday you’ll remember the entire story from the cup of coffee. Because the real coffee is the coffee which completely left a good taste on your mouth.

I mean, if the break time and place is chosen for you, it turns out it’s not what you want, the menu is too bad, they’re expensive, but nevertheless you were forced to choose and just criticized about how to consume,  the other one is less fun, conversation is not balanced. In simple words: You’re not you at the time. So how could you enjoy it?

Being in the situation I just could say…. Oh damn! This is not “my Coffee”.

Copas ilustrasi Black Iced Coffee

Pudding Switch

Not Pudding Sweet, because it’s exactly sweet, as sweet as the maker 😆

ice cream + tape ketan hijau
ice cream + tape ketan hijau

Rencana berhari Minggu dengan pudding kaca ketan hijau buyar seketika, salah satu bahan yang dicari-cari dan akhirnya baru ketemu, tak bisa mendukung. Saat beli satu box-nya aku hanya melihat sekilas tanggal yang tertera pada kemasan. Tanpa pikir panjang setiba di rumah langsung menyiapkan segala bahan. Beuh! Baru nyadar ketika tanganku sigap meraih kemasan tape ketan hijau. Tertera teks “Tanggal masak tape 30-10-2013. 😯 Itu artinya harus menunggu si tape untuk bisa dinikmati setelah tiga hari berikutnya. Bagooooss! hahaha….. ini agar-agar yang sudah mendidih mau diapakan? Mana dua bungkus?? Bahan-bahan lainnya pun sudah siap. Let’s go! Nggak peduli harus keluar rumah (lagiiii) untuk kedua kalinya di siang bolong dan terik membakar, mencari serutan kelapa muda sebagai substitute tape ketan hijau untuk campuran pudding dua lapis.

Tuntas sudah dengan urusan pudding yang seketika telah berganti judul menjadi snow in glass pudding. Lantas satu box tape ketan hijau ini mau diapakan hari rabu nanti 😕 Aha! kebetulan cuaca Bulan Oktober di daerah saya ini masih panas jadi inspirasi membuat minuman/cemilan segar. Salah satunya here we are…..

come on………………. switch on the lamp  💡

Bagelen Bawean

bagelen-bawean

Niat mau coffeebreak di kantor nyaris gatot lagi. Perkaranya begitu usai menuangkan satu sachet my fav coffee, tapi ternyata di pantry stoples gulanya kosong, tak bersisa sebutir pun :mrgreen:

Nggak ada improve satupun buat ngakalinnya, karena biasanya kalau pas nggak ada gula aku tambahkan permen ke dalam cangkir seduhannya sebagai pengganti, tapi kali ini benar-benar nggak ada sama sekali. Masih untung bukan kotem, alias kopi item hehe…

Tak lama kubawa cangkir kopi ke meja kerja, what a nice! Seorang teman membawakan oleh-oleh Bagelen Manis Bawean. It’s so yummy! Nggak sia-sia pagiku kali ini judulnya kopi tanpa gula, karena bagelen dari toko Bawean Bandung tsb rasanya sangat manis, gurih khasnya susu bubuk, serta tekstur rotinya lebih crunchy. Benar-benar soulmate nya less sugar coffee *thumbs up!* 💡

Sumber gambar: http://www.kaskus.co.id