Shell Craft Cirebon

JJS alias jalan-jalan Sabtu ala-ala mcoffeey edisi pekan ini (05/11/16) mengunjungi Rumah Kerang, atau yang punya nama resmi Multi Dimensi Shell Craft yang berlokasi di Desa Astapada, seberang tol Tengah Tani Cirebon.

Karena start point aku dari utara, maka jalur yang ditempuh melewati tengah kota, Jl. R.A. Kartini, Jl. Tuparev, Kedawung, Jl. Raya Plered, lihat plang Rumah Kerang dengan tanda panah petunjuk arah memasuki jalan kecil yaitu Jl. Ki Ageng Tapa. Jaraknya 2,9 km. Patokannya ada minimarket Indomaret lalu belok kanan. Mencapai lokasi tujuan memang haruslah berkemudi hati-hati, selain jalan kecil, saat ini sedang ada pengerjaan penggalian di sisi jalan, dan sering berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Di persimpangan berikutnya ada gapura bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Produktif Desa Gesik…” jangan salah masuk, lewati saja ke sisi kiri jalan πŸ™‚

Menurut petunjuk warga setempat nanti rutenya melewati jembatan layang di atas tol, sedikit melewati tanjakan. Oke, kita lanjut kesana. Karena mengemudi pelan-pelan ada sekitar dua puluh menit dari jalan Raya Plered. Sampai di lokasi, mungkin sekilas hanya akan terlihat pintu pagar besi menjulang. Tenang aja, disana ada petugas keamanan dengan sopan akan menanyakan nama dan asal kita.

Rumah Kerang ini memang sangat ‘rumah’. Masuk ke dalam pemandangan mata kita disuguhkan dengan berbagai perabot rumah terbuat dari kulit kerang dengan warna-warna putih kekuningan mengilap. Mulai dari hiasan dinding, lampu hias, meja, kursi, sampai washtafel, lainnya juga ada mukena lukis, baju batik, dompet, sepatu, dsb. Soal prize masing-masing item memang w.o.w πŸ™‚ I think memang sesuailah dengan metode kreativitas pembuatannya.

img_20161105_124315

img_20161105_124014

img_20161105_123949

the photographer :lol:
the photographer πŸ˜†

Mogok di Pastipas

Pernah ada yang ngebayangin nggak, kalau gerobak penopang bahan bakar pertamini dimasukkan ke dalam angkot terus selangnya dijulurkan lewat jendela agar bensinnya bisa dialirkan ke dalam tangki kendaraan selama melaju?

Weekend awal Oktober ini nggak punya agenda khusus, sekadar menyiakan waktu untuk suatu destinasi tidak pasti. Meski trip hari ini bener-bener nggak jelas, peristiwa atau sesuatu unik dan lumayan menghibur justru aku temukan. Memang begitulah aktivitas penulis lepas hehe…. mengakrabi lingkungan sosial dari dekat.

Jam sebelas siang, perjalanan sambung-menyambung angkot baru aja melintasi Jl. Dr. Wahidin, tiba-tiba mesin kendaraan tersengal dan terpaksa berhenti menepi. Untungnya menepi pun mesin angkot ini udah tau persis dimana ia harus mogok. Pas sekali di tepian jalan memang ada SPBU Pertamini πŸ™‚ Gegas si sopir me-request beberapa liter bensin. Sayangnya, si penjual kali ini hanya menyediakan type pertalite. Si sopir nggak peduli. Asalkan mesin bisa langsung hidup lagi dan jalan lagi. Aku termasuk penumpang di antara delapan orang siswa-siswi sekolah menengah berseragam pramuka yang spontan mesam-mesem. Ajib dah, angkot seadanya begini aja isinya pake pertalite. Sepakat dengan si penjual, si sopir pun gegas turun dan memberikan sejumlah uang pada penjual. Masalahnya, tangki bensin angkot ada di sebelah kanan, gerobak SPBU Pertamini ada di sebelah kiri, di atas trotoar, selangnya nggak cukup panjang untuk melintas terlalu jauh mencapai tangki bensin angkot. Padahal nih angkot udah mogok jadi nggak mungkin memposisikan lebih mendekat lagi ke posisi selang pengisi bensin. Akhirnya setelah dibantu oleh satuan siaga dadakan seperti mamang becak, tukang bakso, tukang parkir, mereka sekuat tenaga mencoba mengangkat dan menggeser-geser gerobak penopang tabung cairan bahan bakar berwarna hijau bening tersebut agar selangnya bisa nyampe. Si ibu penjual udah memasang wajah ketar-ketir sambil berkali meperingatkan agar mereka hati-hati, cairan hijau berharga itu dibuat bergolak karena guncangan. “Uis digawa bae karo gerobaknya ning angkot, ang….biar kayak selang inpus!”* Celetuk seorang siswa sekolah. Spontanlah penumpang di dalam angkot dibikin grrrrrrrr….. :mrgreen: Alhamdulillah, akhirnya bisa keisi juga tuh tangki bensinnya, dan lanjut lagi perjalanan.

(* udah dibawa aja sama gerobaknya kedalam angkot, bang…. biar kayak selang infus *)

Bandorasa

Akhir pekan kali ini Kuningan.

mirip orang baru aja kali yaa..heu..heu…
Kuningan jarak terdekat. Udah sering juga sebelumnya menyambangi salah satu wilayah sejuk Ciayumajakuning. Masalahnya, selalu sekadar ikut rombongan aja. Entah itu rombongan keluarga, teman, dan rekan kantor. Jadi, taunya cuma duduk di dalam kendaraan, tau-tau nyampe tujuan. Sekali ini ngelp sendiri 😎

Menyenangkan banget. Apalagi berangkatnya juga pagi-pagi. Udara segernya masih terasa. Rencana sebenernya pengen tau dimana persisnya lokasi balai desa Bandorasa, karena ada temen yang nanti katanya mau nikahan dan lokasinya disana. Ternyata lokasi dimaksud belum lagi memasuki Kota Kuningan. Sebelum tikungan menuju Linggarjati. Daripada nanti pas hari-H belum tau persis di mana point-nya mana udah pake dandan dan fashion formal kan ribet tuh? Jadi mending sekarang sambil jalan-jalan sabtuan. Hmm… karena kebetulannya lagi dekat dengan Toko Oleh-Oleh Teh Diah yang populer, sekalian deh mampir, beli manisan strawberry dan keripik kuping gajah yang ukurannya imut-imut πŸ˜‰

Teh Diah Oleh-Oleh

Untuk ongkos transportasi mencapai kuningan adalah IDR 10K. Halah…. ribet amat sih, maksudnya sepuluh ribu rupiah. Startnya dari Terminal Harjamukti Cirebon. Jarak tempuhnya cukup satu jam jika hanya mencapai kawasan Bandorasa, sedangkan ke Kota Kuningannya lebih lagi. O ya elpnya nggak hanya bermuara di Kuningan tetapi sampai ke Cikijing. Nah untuk bepergian ke Kuningan berarti harus tau dulu tujuan persisnya mau kemana, jangan nanti malah terbawa sampai ke Cikijing πŸ’‘ Waktu berangkat nggak perlu kesulitan mencari kendaraannya, masih kosong dan bersih. Nice! Sayangnya pas pulang, hadeeehh… kenapa jadi lama gini nunggu elp arah sebaliknya? Akhirnya setelah setengah jam menunggu baru deh dapet elp, meski sudah berjubel penumpang. Kebagian duduk pun nyempil di antara penumpang lainnya. Dua penumpang berikutnya di jalan pun diangkut dengan resiko berdiri di pintu. Menurut info si kondektur ini elp terakhir, karena lagi ada acara. Entah acaranya siapa *garuk-garuk jidat*. Lucunya, si kondektur sembari menagih tarif ongkos, dia tanya satu-persatu penumpang yang duduk di tengah. Mereka bilang mau turun di Caracas. Si Kondektur ngedumel karena kesulitan untuk mengangkut calon penumpang berikutnya di jalan. Loh…bukannya setiap penumpang udah bayar sesuai tarif tujuan ya? “A, da iyeu mah kakarak bandorasa, teu acan nepi ke caracas,” sahut penumpang sambil cengar-cengir. Yaiyalah kalau tujuannya dari Kuningan ke Caracas masa disuruh turun di tengah jalan, padahal ongkos udah bayar penuh? Lebih kocaknya lagi, ada dua penumpang berbadan gemuk-gemuk di jok belakang supir. Itupun kena omelan si kondektur gendeng ini. “….iyeu deui… penumpang meuni baradak pisan!” Hahahahaa…. segitu aja mereka yang duduk di jok belakang supir meski badannya besar-besar tapi udah umpel-umpelan empat orang di satu jok. Kok ukuran badan penumpang disalahin? πŸ˜†

Tak kalah menyenangkan malah disuruh mampir ke rumah salah seorang teman di Hunian Menoa. Iya deh lain kali yaa? Soalnya udah keburu naik elp arah pulang.
Ada ketitipan pesen juga dari seorang sahabat, kalau journey jangan ngajak teman yang ‘kelilipan gadget’. Karena nanti percuma, kamu bakalan seperti orang traveling sendirian aja.
Hahahaha… iya bener juga siih… Siip lah!

May Trip II

a more longer day!

Braga Sabtu Sore
Braga Sabtu Sore

Pagi yang cerah sayang kalau tak dimanfaatkan. Sembari menikmati udara pagi di Cipaganti, tak ada salahnya bernarsis ria di tepian greeny street. Lanjut ke Ciwalk. What a fresh morning! Foto-foto narsis lagi di celah-celah cafe di sepanjang Ciwalk. Lumayan tak perlu kuatir ada yang terusik karena semua mata tengah tertuju pada panggung band festival.

Jelang siang nyempetin beli dulu garingan buat oleh-oleh sekalian nyari lunch buat dibawa pulang, biar abis makan, shalat, trus tidur huhuhu…gempor nih kaki. Eyaaa! Tiba-tiba teman2 lama dari UCC LIA ngajak reunian setelah sebelumnya ketemuan lagi lewat fb. Hadeeeeuh mbok ya dari tadi gitu yaa..? Cuaca Bandung Sabtu siang ini mendung dan jalan makin menampakkan macet rutinnya.

Pukul tiga sore aku berjingkrak di kamarku saat melihat keluar dari balik kaca. Pantulan sinar jingga menerangi aspal jalan raya di bawah sana. Sembari menyenandung jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore. Ke mana? Braga. Menyenangkan sekali melihat orang-orang menikmati suasana sore cerah di ruas jalan yang kini sudah menjadi tempat bersantai. Tak hanya nongkrong, ada berskate board, bersepeda, bahkan poco-poco. Beautiful afternoon! take a capture! πŸ™‚

May Trip I

Hey, where do you spend your long weekend?

Pingin puas-puasin gara-gara bulan lalu rencana mau borong mukena gatot alias gagal total, though I stayed one night in Bandung. Jadi baru kali ini aku berkesempatan lagi trip to Bandung.

Berangkat pagi dengan travel pukul enam pagi, whew, perjalanan lumayan menyenangkan. Satu mobil isinya ibu-ibu paruh baya, dan dua orang teman muda. Si ibu-ibu ruameeeee banget pada cerita tentang banyak hal, tentang profil travel, cerita-cerita tentang si Grace, Alam Sari (hehehe… padahal Grace itu teman sekelasku semasa SMA di Santa Maria) rumah makan, makanan n masakan, sampai riweuh becanda rebutan pingin didrop lebih awal hahaha…masak yang mau turun di Taman Kopo pingin disalip dulu sama yang di Kebon Kopi? Yaa namanya juga bercanda, dibikin asyik aja, sambil ngemil bareng waduuh jadi berasa piknik keluarga padahal kita baru saling kenal saat itu πŸ™‚ sampai ketika saling berpisah saling berucap do’a moga-moga kita semua sehat, selamat, dan bisa ketemu satu trip lagi. Aamiin…

Tiba pukul 13:30 siang langsung cab’s ke Pasar Baru, alhamdulillah dapetin apa yang kucari. Cuma rada galau saat nentui’in pingin lunch di mana. Kata temenku ada bakso keju yummy! Lokasinya ternyata di Bakso Malang Karapitan. Hadeeeeuhh, nyatanya belum sempat kuliner jadi baru sebatas maksi seadanya.

Besok? Pingin hunting foto ah, semoga saja berhasil!

Sore di Mertasinga

Sungai Bondet-4
Membelah Sungai
Melaju ke arah tenggelamnya sang surya
Melaju ke arah tenggelamnya sang surya

Minggu (25/11), waktu tinggal seperempat hari lagi sebelum senja tiba untuk menyisir tepian Sungai Bondet, Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Di setiap sisi sungai ini terdapat sejumlah perahu nelayan sedang mangkal. Sebagian ada pula yang tengah hilir-mudik seolah tampak membelah aliran sungai menuju muara ke arah bola sang surya akan tenggelam. Sempat sejenak berbincang-bincang dengan salah seorang nelaya di sana, Pak Uun. Beliau telah menekuni profesinya selama lima belas tahun. ngobrol-ngobrol eh, ternyata saya dioleh-olehi seekor ikan yang ukurannya cukup besar. Wow! Ini Ikan apaan ya? hehehe…. entah saya lupa namanya ketika Pak Uun menyebutkannya tadi. Yang pastinya begitu tiba di rumah langsung digoreng aja, setelah dibumbui asam garam tentunyaΒ  deh….santaaaapp!! πŸ˜€

fish

Near to Rajagaluh

Sabtu-anΒ  iseng jalan-jalan gak punya tujuan. Naik angkot pokonya asal sambung-menyambung aja. Turun di depan Polres Sumber, Kab Cirebon, tiba-tiba kepikiran saat lihat lintasan jalan raya persis di depan kantor Polres, kok sepertinya belom pernah mengeksplore jalan ini ya?

Lihat-lihat ada angkot berwarna kuning, di kaca depannya tertulis nama trayeknya: Sumber-Kramat. Kira-kira Kramat mana ya? Karena di Cirebon ini kan banyak situs-situs yang memakai kata ‘Kramat’ seperti Kramat Megu, Kramat Talun, Kramat Tukmundal, dsb.

Yeah! Pokonya naek aja dah! Gak pake nanya-nanya dulu ama sopirnya, tar ketauan klo gw bukan orang setempat. Huaaaahhh… perjalanan start dari depan Kantor Polres tsb ternyata panjang juga ya? Jalur yang dilewatinya luruuuuuuuusss aja, dan ternyata pemandangan kiri-kanannya berupa hamparan sawah dan kebun serta di sebelah kanan terlihat deretan bukit-bukit, sementara di sebelah kiri terlihat Gunung Ciremai menjulang. Udara secerah ini pun terasa sejuk. Hmmm… menyenangkan juga ya perjalanan ini? Dan baru aku tau kalau jalan ini berada di lokasi Desa Sindangjawa Kecamatan Dukuhpuntang.

dukuhpuntangjpg

Tau-tau setelah setengah jam perjalanan angkot kuning ini berhenti pada sebuah pertigaan.

“Kramat habis, mbak!” Suara si sopir memberitahu.

Hee…ternyata emang tinggal aku sendiri di dalam angkot ini, dah sampe pula di penghujung rute. Yaudah. Turun, setelah bayar, beberapa tukang ojek menyerbu menawarkan tumpangan. Loh, emang dari sini mau kemana gue? Sambil celingak-celinguk lihat pertigaan jalan. Mana Kramatnya? Lalu kuputuskan saja berjalan kaki memasuki salah satu persimpangan. Rupanya ada sebuah pasar kagetan, tapi itupun udah mau bubar sepertinya. Ya pastinyalah, ini kan sudah jam setengah sebelas.Β  Beberapa angkot kuning kulihat lagi, tapi yang ini tujuannya adalah Kramat-Rajagaluh. Rajagaluh? Majalengka?? Busyet! Kalo sekali lagi naek angkot berati gw nyampe Majalengka nih? Ah udah ah, takut nyasar, aku cari-cari jalan tembus aja untuk kembali. Sebuah gang di pasar.Β  Moga aja ada gang, karena kalo aku putar balik kanan berarti lewat lagi kumpulan tukang ojek di pertigaan tadi hihi kan tengsin keliatan lagi jalan-jalan gak punya tujuan.

Syukurlah ternyata ada. Dengan santai dan yakin kutelusuri gang tersebut dan sampailah kembali di jalan besar, sebuah angkot kuning menuju kembali ke arah Sumber tengah menunggu penumpang. Sip! Langsung aku naik. “Loh? Balik lagi, mbak?” Haaa?? Toeng! Toeng@%&*()?? Ini sih angkot yang tadi aku tumpangin, kenapa masih ada di sini?? Jeeehhh… malu… malu donk! Beneran deh ketauan aku lagi jalan-jalan tanpa tujuan jelas hihi….

More about Rajagaluh