Festival Keraton Nusantara XI 2017

Jalan-jalan Sabtuan ini (16/9) berkesempatan menyaksikan Festival Keraton Nusantara XI yang diselenggarakan di Cirebon selama 15-19 September 2017.

Beberapa bidikan yang kudapat di area Alun-Alun Keraton Kasepuhan Cirebon, dimana pembukaan perhelatan dimulai:

Dari Keraton Kasepuhan Cirebon sebelum acara dimulai, futu dulu ya pak? hehe…

DSC04218
Salah satu Kereta Kencana
DSC04211
eh, ada bule juga? *loveface-mode-on* ❤
DSC04279
Keraton Kaprabonan Cirebon
DSC04274
Keraton Kaprabonan Cirebon
DSC04243
Keraton Kanoman Cirebon
DSC04295
Puri Agung Denpasar, Bali
DSC04296
Puri Agung Denpasar, Bali
DSC04297
Puri Agung Denpasar, Bali
DSC04300
Puri Agung Denpasar, Bali
DSC04319
Kerajaan Gowa Sulawesi
DSC04320
Kerajaan Gowa Sulawesi

 

DSC04326
Kerajaan Gowa Sulawesi
DSC04281
Kesunanan Surakarta
DSC04284
Kesunanan Surakarta
DSC04286
Kesunanan Surakarta
DSC04263
Pura Pakualaman Yogyakarta
DSC04264
Pura Pakualaman Yogyakarta
DSC04265
Pura Pakualaman Yogyakarta
DSC04259
Pura Pakualaman Yogyakarta
DSC04309
Kerajaan Sumedang Larang
DSC04310
Kerajaan Sumedang Larang
DSC04314
Kerajaan Sumedang Larang
DSC04315
Kerajaan Sumedang Larang
DSC04317
Kerajaan Sumedang Larang
DSC04199
Kerajaan Tallo Sulawesi Selatan
DSC04200
Kerajaan Tallo Sulawesi Selatan
DSC04201
Kerajaan Tallo Sulawesi Selatan

 

Advertisements

Otak Bakar

Neehh… kemaren ada yang penasaran sama jenis makanan satu ini,

IMG_20170827_103629

dapetinnya nggak susah kok, cuma cukup mampir ke pasar tradisional Kanoman, terus liat aja di trotoar seberang Toko Sinta Manisan udah langsung kelihatan, yang dagangnya duduk di bawah dan selalu dikerubutin pembeli. Bentuknya ternyata imut, dimakannya dicocol sambal kacang yang agak pedas, jadi gurih-gurih maknyuss…

 

 

KRI DEWARUCI

Berakhir pekan sesekali waktu kali ini nemu keasyikan baru. Mengenal lebih dekat pada bahari dalam moment Festival KRI Dewaruci di Pelabuhan Cirebon 25-27 Agustus 2017 dengan tema “Dewaruci Marani Grage”. Senangnyaaa bisa ikutan naik ke geladak kapal sekaligus selpih sukaesih dan menikmati sore sembari bercengkerama dengan derai air laut dan semilir angin.

unknown person :mrgreen:

 

Terus, KRI Dewaruci itu sendiri seperti apa? Yuk tengok sejenak ulasannya

KRI Dewaruci tengah bersandar di Pelabuhan Cirebon 25-27 Agustus 2017 menjadi objek wisata bagi masyarakat Cirebon

 

KRI Dewaruci yang Melegenda

KRI Dewaruci merupakan Kapal Latih kebanggaan TNI AL yang telah mengelilingi tujuh samudera dan keliling dunia untuk pelatihan Taruna dan Taruni juga sekaligus memperkenalkan Kebudayaan Indonesia pada Dunia setiap tahunnya. Salah satu kapal utama dalam Armada TNI Angkatan Laut ini memiliki sejarah panjang dalam kemaritiman Indonesia.

KRI Dewaruci dibuat pada tahun 1952 di galangan H. C. Stulchen and Sohn, Hamburg Jerman Barat, dan diluncurkan pada 24 Januari 1953. KRI Dewaruci dibawa dari Jerman Barat menuju Indonesia oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) di bawah pimpinan kapal Kapten A. F. H. Roosenow.

Pada 1 Oktober 1953, KRI Dewaruci masuk dalam jajaran Armada RI dan diresmikan sebagai kapal latih bagi Taruna Akademi Angkatan Laut yang berbasis di Surabaya.

KRI Dewaruci telah melakukan misi pelayaran hingga ke berbagai negara dunia. Setelah 11 tahun diluncurkan, KRI Dewaruci melakukan misi keliling dunia yang pertama kali, menyusuri Samudera Hindia, Terusan Zues, Samudera Atlantik, Benua Amerika, lalu ke Terusan Panama hingga ke Samudera Pasifik.

Misi keliling dunia pertama tersebut ditempuh dalam kurun waktu sembilan bulan dari Maret hingga November 1964. Hingga di tahun 2013, KRI Dewaruci melakukan palayaran keliling dunia ke berbagai negara tujuan dalam mengemban misi latihan bagi taruna angkatan laut, misi diplomasi internasional dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke berbagai negara yang disinggahi.

KRI Dewaruci yg memiliki panjang 58,30 meter dengan lebar 9,5 meter memiliki bobot 847 ton dan dapat mengangkut 70 ABK dan 70 Taruna. KRI Dewaruci digerakkan menggunakan mesin dengan kecepatan maksimal 10,5 knot. Selain itu, KRI Dewaruci dapat digerakkan melalui fungsi layar yang ada.

Terdapat sebanyak 16 layar yang terbagi dalam tiga tiang utama, yakni Tiang Bima, Tiang Arjuna dan Tiang Yudhistira. Total luas layar dari ketiga tiang tersebut mencapai 1091 meter persegi.

Sebagian besar konstruksi KRI Dewaruci terbuat dari logam baja. Penggunaan kayu hanya ditempatkan sebagai ormen dengan ciri khas ukiran-ukiran, untuk melapisi bagian-bagian tertentu dan bagian dalam kapal, seperti ruang navigasi dan ruang komandan kapal.
Sementara, peralatan navigasi yang digunakan dalam KRI Dewaruci sebagian besar menggunakan teknologi sederhana dan kebanyakan dioperasikan secara manual.

Dalam misinya sepanjang sejarah kemaritiman Indonesia, KRI Dewaruci telah mengarungi lautan dunia sebanyak 41 kali dengan 45 Komandan Kapal berbeda.

Masa tugas KRI Dewaruci sudah mendekati akhir. KRI Dewaruci yang telah berumur 63 tahun, akan lebih banyak bersandar dan akan difungsikan sebagai sarana objek wisata sejarah maritim Indonesia.
Misi-misi KRI dewaruci akan segera digantikan oleh kapal baru dengan spesifikasi lebih besar dan jumlah layar lebih banyak. Proyek pembuatan kapal sedang dilakukan di Kota Vigo, Spanyol. Kapal baru tersebut diperkirakan akan diluncurkan pada awal 2017 dengan nama KRI Bima Suci.

Artikel oleh: Silvester Lintang

Kompasiana | Wisata | 26 April 2017   01:57 Diperbarui: 29 April 2017   11:42

Sandal Jepit ke Mall Elit

IMG_20170805_124147

Menghabiskan sisa waktu sebelum kembali ke kota tepi laut, ceritanya ngedadak nge-mall sejenak bareng salah satu sahabat alumni 96 Jakarta, namanya ngedadak ga ada prepare apa-apa, menyambangi kawasan salah satu pusat perbelanjaan elit dengan style sandal jepit. Mana di pijakan escalator di dalam jelas tertera tulisan: “Untuk kenyamanan anda, mohon tidak menggunakan sandal jepit karet di dalam mal ini. Pantas aja di pintu masuk tadi aku diajak senyum ‘penuh arti’ oleh pak sekuriti 😁 😂

@Sogo-Metro Pondok Indah Mall

05 August 2017

Lebak Bulus

IMG_20170803_155259

Melukiskanmu kini menggugah haruku, perlahan terbayang pasti garis wajahmu…

Wajahmu telah banyak berubah. Lama kutak lagi lihat keadaanmu, hanya kenangan tersimpan dalam gulungan memory ketika dahulu setiap pagi kulintasi ini dengan seragam putih dan merah, hingga putih dan biru, dua puluh tahun lebih yang lalu.

Shell Craft Cirebon

JJS alias jalan-jalan Sabtu ala-ala mcoffeey edisi pekan ini (05/11/16) mengunjungi Rumah Kerang, atau yang punya nama resmi Multi Dimensi Shell Craft yang berlokasi di Desa Astapada, seberang tol Tengah Tani Cirebon.

Karena start point aku dari utara, maka jalur yang ditempuh melewati tengah kota, Jl. R.A. Kartini, Jl. Tuparev, Kedawung, Jl. Raya Plered, lihat plang Rumah Kerang dengan tanda panah petunjuk arah memasuki jalan kecil yaitu Jl. Ki Ageng Tapa. Jaraknya 2,9 km. Patokannya ada minimarket Indomaret lalu belok kanan. Mencapai lokasi tujuan memang haruslah berkemudi hati-hati, selain jalan kecil, saat ini sedang ada pengerjaan penggalian di sisi jalan, dan sering berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Di persimpangan berikutnya ada gapura bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Produktif Desa Gesik…” jangan salah masuk, lewati saja ke sisi kiri jalan 🙂

Menurut petunjuk warga setempat nanti rutenya melewati jembatan layang di atas tol, sedikit melewati tanjakan. Oke, kita lanjut kesana. Karena mengemudi pelan-pelan ada sekitar dua puluh menit dari jalan Raya Plered. Sampai di lokasi, mungkin sekilas hanya akan terlihat pintu pagar besi menjulang. Tenang aja, disana ada petugas keamanan dengan sopan akan menanyakan nama dan asal kita.

Rumah Kerang ini memang sangat ‘rumah’. Masuk ke dalam pemandangan mata kita disuguhkan dengan berbagai perabot rumah terbuat dari kulit kerang dengan warna-warna putih kekuningan mengilap. Mulai dari hiasan dinding, lampu hias, meja, kursi, sampai washtafel, lainnya juga ada mukena lukis, baju batik, dompet, sepatu, dsb. Soal prize masing-masing item memang w.o.w 🙂 I think memang sesuailah dengan metode kreativitas pembuatannya.

img_20161105_124315

img_20161105_124014

img_20161105_123949

the photographer :lol:
the photographer 😆

Mogok di Pastipas

Pernah ada yang ngebayangin nggak, kalau gerobak penopang bahan bakar pertamini dimasukkan ke dalam angkot terus selangnya dijulurkan lewat jendela agar bensinnya bisa dialirkan ke dalam tangki kendaraan selama melaju?

Weekend awal Oktober ini nggak punya agenda khusus, sekadar menyiakan waktu untuk suatu destinasi tidak pasti. Meski trip hari ini bener-bener nggak jelas, peristiwa atau sesuatu unik dan lumayan menghibur justru aku temukan. Memang begitulah aktivitas penulis lepas hehe…. mengakrabi lingkungan sosial dari dekat.

Jam sebelas siang, perjalanan sambung-menyambung angkot baru aja melintasi Jl. Dr. Wahidin, tiba-tiba mesin kendaraan tersengal dan terpaksa berhenti menepi. Untungnya menepi pun mesin angkot ini udah tau persis dimana ia harus mogok. Pas sekali di tepian jalan memang ada SPBU Pertamini 🙂 Gegas si sopir me-request beberapa liter bensin. Sayangnya, si penjual kali ini hanya menyediakan type pertalite. Si sopir nggak peduli. Asalkan mesin bisa langsung hidup lagi dan jalan lagi. Aku termasuk penumpang di antara delapan orang siswa-siswi sekolah menengah berseragam pramuka yang spontan mesam-mesem. Ajib dah, angkot seadanya begini aja isinya pake pertalite. Sepakat dengan si penjual, si sopir pun gegas turun dan memberikan sejumlah uang pada penjual. Masalahnya, tangki bensin angkot ada di sebelah kanan, gerobak SPBU Pertamini ada di sebelah kiri, di atas trotoar, selangnya nggak cukup panjang untuk melintas terlalu jauh mencapai tangki bensin angkot. Padahal nih angkot udah mogok jadi nggak mungkin memposisikan lebih mendekat lagi ke posisi selang pengisi bensin. Akhirnya setelah dibantu oleh satuan siaga dadakan seperti mamang becak, tukang bakso, tukang parkir, mereka sekuat tenaga mencoba mengangkat dan menggeser-geser gerobak penopang tabung cairan bahan bakar berwarna hijau bening tersebut agar selangnya bisa nyampe. Si ibu penjual udah memasang wajah ketar-ketir sambil berkali meperingatkan agar mereka hati-hati, cairan hijau berharga itu dibuat bergolak karena guncangan. “Uis digawa bae karo gerobaknya ning angkot, ang….biar kayak selang inpus!”* Celetuk seorang siswa sekolah. Spontanlah penumpang di dalam angkot dibikin grrrrrrrr….. :mrgreen: Alhamdulillah, akhirnya bisa keisi juga tuh tangki bensinnya, dan lanjut lagi perjalanan.

(* udah dibawa aja sama gerobaknya kedalam angkot, bang…. biar kayak selang infus *)

Bandorasa

Akhir pekan kali ini Kuningan.

mirip orang baru aja kali yaa..heu..heu…
Kuningan jarak terdekat. Udah sering juga sebelumnya menyambangi salah satu wilayah sejuk Ciayumajakuning. Masalahnya, selalu sekadar ikut rombongan aja. Entah itu rombongan keluarga, teman, dan rekan kantor. Jadi, taunya cuma duduk di dalam kendaraan, tau-tau nyampe tujuan. Sekali ini ngelp sendiri 😎

Menyenangkan banget. Apalagi berangkatnya juga pagi-pagi. Udara segernya masih terasa. Rencana sebenernya pengen tau dimana persisnya lokasi balai desa Bandorasa, karena ada temen yang nanti katanya mau nikahan dan lokasinya disana. Ternyata lokasi dimaksud belum lagi memasuki Kota Kuningan. Sebelum tikungan menuju Linggarjati. Daripada nanti pas hari-H belum tau persis di mana point-nya mana udah pake dandan dan fashion formal kan ribet tuh? Jadi mending sekarang sambil jalan-jalan sabtuan. Hmm… karena kebetulannya lagi dekat dengan Toko Oleh-Oleh Teh Diah yang populer, sekalian deh mampir, beli manisan strawberry dan keripik kuping gajah yang ukurannya imut-imut 😉

Teh Diah Oleh-Oleh

Untuk ongkos transportasi mencapai kuningan adalah IDR 10K. Halah…. ribet amat sih, maksudnya sepuluh ribu rupiah. Startnya dari Terminal Harjamukti Cirebon. Jarak tempuhnya cukup satu jam jika hanya mencapai kawasan Bandorasa, sedangkan ke Kota Kuningannya lebih lagi. O ya elpnya nggak hanya bermuara di Kuningan tetapi sampai ke Cikijing. Nah untuk bepergian ke Kuningan berarti harus tau dulu tujuan persisnya mau kemana, jangan nanti malah terbawa sampai ke Cikijing 💡 Waktu berangkat nggak perlu kesulitan mencari kendaraannya, masih kosong dan bersih. Nice! Sayangnya pas pulang, hadeeehh… kenapa jadi lama gini nunggu elp arah sebaliknya? Akhirnya setelah setengah jam menunggu baru deh dapet elp, meski sudah berjubel penumpang. Kebagian duduk pun nyempil di antara penumpang lainnya. Dua penumpang berikutnya di jalan pun diangkut dengan resiko berdiri di pintu. Menurut info si kondektur ini elp terakhir, karena lagi ada acara. Entah acaranya siapa *garuk-garuk jidat*. Lucunya, si kondektur sembari menagih tarif ongkos, dia tanya satu-persatu penumpang yang duduk di tengah. Mereka bilang mau turun di Caracas. Si Kondektur ngedumel karena kesulitan untuk mengangkut calon penumpang berikutnya di jalan. Loh…bukannya setiap penumpang udah bayar sesuai tarif tujuan ya? “A, da iyeu mah kakarak bandorasa, teu acan nepi ke caracas,” sahut penumpang sambil cengar-cengir. Yaiyalah kalau tujuannya dari Kuningan ke Caracas masa disuruh turun di tengah jalan, padahal ongkos udah bayar penuh? Lebih kocaknya lagi, ada dua penumpang berbadan gemuk-gemuk di jok belakang supir. Itupun kena omelan si kondektur gendeng ini. “….iyeu deui… penumpang meuni baradak pisan!” Hahahahaa…. segitu aja mereka yang duduk di jok belakang supir meski badannya besar-besar tapi udah umpel-umpelan empat orang di satu jok. Kok ukuran badan penumpang disalahin? 😆

Tak kalah menyenangkan malah disuruh mampir ke rumah salah seorang teman di Hunian Menoa. Iya deh lain kali yaa? Soalnya udah keburu naik elp arah pulang.
Ada ketitipan pesen juga dari seorang sahabat, kalau journey jangan ngajak teman yang ‘kelilipan gadget’. Karena nanti percuma, kamu bakalan seperti orang traveling sendirian aja.
Hahahaha… iya bener juga siih… Siip lah!

Sunyaragi 2016

Niatnya jauh-jauh menyambangi salah satu cagar budaya karena adanya pagelaran kesenian di Pesanggrahan Taman air Sunyaragi, Cirebon. Karena ternyata terlalu lama menunggu, manfaatkan sajalah dulu untuk berkeliling seputar gua Sunyaragi ini.

Sunyaragi_Collage

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

May Trip II

a more longer day!

Braga Sabtu Sore
Braga Sabtu Sore

Pagi yang cerah sayang kalau tak dimanfaatkan. Sembari menikmati udara pagi di Cipaganti, tak ada salahnya bernarsis ria di tepian greeny street. Lanjut ke Ciwalk. What a fresh morning! Foto-foto narsis lagi di celah-celah cafe di sepanjang Ciwalk. Lumayan tak perlu kuatir ada yang terusik karena semua mata tengah tertuju pada panggung band festival.

Jelang siang nyempetin beli dulu garingan buat oleh-oleh sekalian nyari lunch buat dibawa pulang, biar abis makan, shalat, trus tidur huhuhu…gempor nih kaki. Eyaaa! Tiba-tiba teman2 lama dari UCC LIA ngajak reunian setelah sebelumnya ketemuan lagi lewat fb. Hadeeeeuh mbok ya dari tadi gitu yaa..? Cuaca Bandung Sabtu siang ini mendung dan jalan makin menampakkan macet rutinnya.

Pukul tiga sore aku berjingkrak di kamarku saat melihat keluar dari balik kaca. Pantulan sinar jingga menerangi aspal jalan raya di bawah sana. Sembari menyenandung jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore. Ke mana? Braga. Menyenangkan sekali melihat orang-orang menikmati suasana sore cerah di ruas jalan yang kini sudah menjadi tempat bersantai. Tak hanya nongkrong, ada berskate board, bersepeda, bahkan poco-poco. Beautiful afternoon! take a capture! 🙂