Diary Istri Seorang Pelaut (a Novel Review)

diary-2
Cover Novel Diary Istri Seorang Pelaut

Awalnya sekadar meluang waktu di hari Sabtu melenggang di antara tatanan rapi rak-rak buku di Gramedia yang memuat berbagai jenis novel berisikan beragam kisah. Namun sesaat mata ini melirik pada salah satu judul yang begitu menggelitik keingintahuan dan ingatanku pun langsung tertuju pada adikku yang kini tengah merajut kisah asmara bersama seorang calon pelaut (ehmm…). Diary Istri Seorang Pelaut.

Bukan. Isi novel ini sama sekali bukan kisah lebay-alay. Meski bertabur kata rindu, bukan rindu yang melara-larakan nestapa. tetapi rindu yang dituang dari lubuk hati penulisnya bersama suaminya di tengah lautan sana adalah rindu yang saling menguatkan. Rindu yang dirajut dalam untaian doa-doa. Rindu yang menegarkan untuk mencapai asa mereka berdua yaitu untuk sebuah cita-cita mulia, kebahagiaan rumah tangga dan cinta mereka. Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah menjalin ikatan dalam rentang jarak berjauhan.

Menjadi istri seorang pelaut berarti harus siap dengan segala ujian dan cobaan yang ada di depan. Memendam rindu sedalam laut. Merangkai hari dengan kesendirian. Kehidupan seorang pelaut jauh dari pasangan, jauh dari keluarga, datang dan pergi ke satu dermaga dan yang lainnya, sehingga sering diasumsikan banyak orang sangatlah jauh mengenal arti kesetiaan. Pelaut mata keranjang, kapal sandar lempar jangkar, kapal pergi lepas tali. Kalau sudah mereka bersandar, cinta dan kesetiaan sudah tak penting lagi. Puas berkelana, lepas tali lepas cinta.

Pelaut adalah profesi di mana hanya laki-laki tangguh yang mampu menyandang gelar itu. Gelar yang tak berarti apa-apa di mata sosial, tak pernah mendapat sanjungan dan penghargaan meski jalan untuk menyandangnya membutuhkan perjuangan yang sangat panjang. Sesorang yang rela meninggalkan hiruk-pikuk daratan, rela menyabung nyawa melawan ganasnya ombak di lautan, demi membahagiakan orang-orang tercinta. Menjadi pendamping seorang pelaut adalah sebuah takdir yang membawa berkah tiada berkesudahan. Perjuangan cinta yang tertantang oleh jarak, waktu, penantian, dan kesetiaan.

“Aku tahu, menikahi Mas Aji, dan dia seorang pelaut. Seseorang yang akan menjadikan aku wanita setegar ombak di tengah laut. Melawan sepi, terbiasa sendiri berada jauh dengan kekasih hati. Bertahan dengan kesetiaan, memiliki banyak kesabaran dalam penantian.”

Judul: Diary Istri Seorang Pelaut

a Novel Based on True Love Story

By: Reni Rimbafani

Bintang Media

PT. Melvana Media Indonesia

Depok, Jawa Barat

Cetakan Pertama: September 2016

Tebal buku: 240 halaman

Cover: soft cover

ISBN: 978-602-6940-36-0

Bulan Terbelah di Langit Amerika (a Novel Review)

cover-bulan

Sejak Black Tuesday 11 September 2001, negeri ini adalah negeri yang memendam trauma. Delapan tahun terlalu sedikit dan pendek untuk menguburkan luka dan kepedihan bangsa yang ditenarkan sebagai adikuasa dunia.

Adalah suatu takdir yang telah digariskan oleh Yang Kuasa bagi Hanum dan Rangga untuk menguak misteri di balik peristiwa 9/11. Bukan perkara kebetulan karena Sang Ilahi tidak pernah main-main menakdirkan suatu jalan yang mesti ditempuh oleh manusia. Hanum ditugaskan oleh bossnya Gertrud Robinson untuk mengulas kembali peristiwa itu dengan tema “Would the world be better without Islam?” Tema yang spontan menyentak batin Hanum sebagai seorang muslim Indonesia, menantang Hanum sebagai jurnalis dan berpeluang dahsyat mengungkit luka lama antara Islam non Islam. Apakah ini semata untuk menaikkan oplah dan reputasi Harian Heute ist Wunderbar di Wina yang kian melorot atau untuk justru untuk membuktikan bahwa peristiwa 9/11 bukan hanya pembajakan atas pesawat yang sengaja ditabrakan ke arah menara kembar WTC New York melainkan juga pembajakan atas identitas Islam.

Di saat bersamaan, suaminya, Rangga, yang sedang studi S3 di Wina ditugaskan oleh Professor Reinhard untuk mempresentasikan makalah Rangga pada konferensi internasional di bidang bisnis yang akan diselenggarakan di Washington DC dimana dalam konferensi tersebut akan hadir pula pembicara tokoh filantropi dunia Phillipus Brown, jutawan Amerika, mantan boss Morgan Stanway yang belakangan namanya mencuat setelah peristiwa 9/11 karena keikhlasannya mendonasikan US$ 100 juta untuk anak-anak korban perang di Irak dan Afganistan, membantu anak-anak perempuan yang dilarang bersekolah oleh kelompok Taliban, serta menolong 10.000 anak terlantar lainnya di Timur Tengah, semata diniatkannya sebagai bentuk penghayatan terdalam atas tragedi WTC yang telah merenggut jiwa teman-teman terbaiknya.

Meski dibekali data narasumber oleh Gertrud Robinson, Hanum sama sekali tidak mempercayai riset yang dibuat oleh atasannya tersebut, malah berkeras ingin mencari sendiri dengan intuisinya sebagai jurnalis yang harus berpijak berimbang dalam mencari informasi. Bukan hal yang mudah tentunya hal itu dia lakukan di belantara megapolitan kota New York Amerika Serikat. Sementara Rangga berpendapat agar Hanum mengikuti saja petunjuk Gertrud agar tugasnya segera tuntas dan mereka dapat menikmati kesempatan sisa waktunya untuk berjalan-jalan di negeri Paman Sam. Berdua Hanum dan Rangga bersitegang berbeda pendapat. Hingga akhirnya secara situasi tanpa sengaja mereka terpisah di New York. Padahal Hanum sangat tidak pandai membaca petunjuk jalan dan sangat mudah tersesat. Di sisa tenggat waktunya yang nyaris habis, Hanum baru saja menemukan tokoh-tokoh yang ternyata memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa. Ia bertemu Julia Collins, seorang kurator Museum Memorial 9/11. Hanum juga mendapatkan Michael Jones pada hari yang sama di tanggal 11 September 2009 saat itu, Michael Jones pemimpin gerakan demonstasi menolak rencana pembangunan Masjid bagi umat Islam di kawasan Ground Zero dekat bekas menara kembar WTC New York. Karena bagi Jones, dan bagi tentunya bagi para keluarga korban bencana tragedi 9/11 pembangunan masjid di sana hanya akan mengungkit luka lama dan berkecenderungan menimbulkan konflik baru. Secara pribadi, Michael Jones menaruh dendam sengit pada umat Islam. Dalam pandangannya Islam tak lebih dari pelaku kekerasan, teroris, yang sangat jauh dari kecintaan pada perdamaian. Lebih pula peristiwa penabrakan pesawat pembajak 11 September itu telah merenggut nyawa istri tercintanya, Joana (Anna) Jones. Peringatan yang dihadiri begitu banyak kalangan dari berbagai warna kulit, yaitu mereka yang masing-masing mendekap foto anggota keluarganya yang tewas dalam peristiwa mengenaskan, semula diniatkan semata untuk berkabung tetapi dikacaukan oleh sekelompok pemabuk yang menyusup. Mereka memprovokasi menyoal perbedaan agama. Kerusuhan terjadi. Hanum terjebak di dalamnya. Rangga sendiri di saat yang sama tanpa dia tahu seperti apa keadaan Hanum, harus bergerak cepat memulai proses pendaftaran kepesertaannya dalam konferensi di Washington DC, termasuk tugas penting dari Professor Reinhard untuk mewawancarai Phillipus Brown sekaligus mengundang Filantropi dunia itu ke kampusnya di Wina. Nahasnya, seluruh dokumen hasil riset Gertrud Robinson tentang data narasumber, paspor, alat perekam, dan uang terbawa oleh Rangga. Tinggalah Hanum hanya berbekal ponselnya yang itupun sudah rusak akibat terinjak-injak oleh para perusuh. Dari orang-orang yang Hanum jadikan narasumber justru mereka itulah orang-orang yang sebenarnya sudah direncanakan oleh Gertrude. Dari penuturan Julia Collins terungkap jatidiri sebenarnya, nama aslinya adalah Azima Husein, seorang mualaf, istri dari Ibrahim Husein atau Abe yang tewas dalam tragedi 9/11 hingga sampai kini Azima terus berupaya mencari jasad suaminya tersebut. Azima selama ini pun terus mencoba menguak misteri di balik penabrakan pesawat pembajak dari kumpulan buku, foto, DVD dokumenter, kliping koran, berbagai catatan, hingga Azima menemukan kejanggalan pada peristiwa. Azima mengisahkan pada hari itu suamiya Abe menjanjikannya akan memberikan sesuatu tetapi peristiwa nahas keburu menghantam menara kembar WTC, di kala itu Abe baru saja diterima bekerja di perusahaan Morgan Stanway sebagai seorang analis. Ibrahim sempat memohon izin pada sekretaris perusahaan yaitu Joana Jones untuk pulang kerja lebih awal karena ia ingin memberikan kejutan bagi istrinya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Sayang maut keburu menjemput.

Di sisi lain apa yang ditemukan oleh Rangga, Phillipus Brown adalah saksi hidup dari peristiwa 9/11. Dalam kejadian mengerikan itu, Brown bersama Ibrahim dan lainnya berusaha menyelematakan diri. Phillipus Brown sempat melihat bagaimana Ibrahim Husein mencegah Joana atau Anna Jones yang nekad berlari menubruk kaca demi mencari udara. Anna mengidap asma dan tidak bisa bertahan dalam hiruk-pikuk gedung meledak, terbakar dan runtuh. Ibrahim menarik tangan Anna yang di kala itu memilih lebih baik mati terlempar dari gedung daripada terjebak di dalam kehancuran gedung. Ibrahim terus mengingatkan hal itu tidak boleh dilakukan Anna, ia mengingatkan bahwa Anna punya keluarga yang mencintainya menanti di rumah, dan Ibrahim yakin mereka masih bisa menemukan jalan keluar agar selamat dari kehancuran gedung. Tetapi sia-sia pegangan tangan Ibrahim tak bertahan lama. Anna terhempas jatuh hingga ke dasar. Lalu bersama Brown, Ibrahim berusaha mencari jalan terbaik agar mereka selamat yaitu turun melewati panel listrik, tidak memilih berjejelan dengan ribuan manusia melalui tangga darurat. Tetapi kondisi fisik Ibrahim yang sudah terluka parah tidak memungkinkannya lagi melanjutkan penyelematan diri. Namun begitu upayanya sangat berarti saat berusaha mencegah Joana Jones terjun dan berusaha mencarikan jalan keluar alternatif. Ibrahim hanya bertahan sebelum sembilan lantai lagi harus dilewati. Ibrahim menolak meski Brown berusaha menolongnya, merangkul badannya agar dapat terus menempuh jalan menuju lantai dasar, ia mendesak agar Brown meninggalkannya saja. Maka di acara malam penghargaan Hero of The Year yang disiarkan CNN TV Heroes, Phillipus Brown secara gamblang menyatakan bukan dirinya yang pantas menerima penghargaan sebagai pahlawan tetapi Ibrahim Husein-lah orangnya. Meski jiwanya sudah lebur bersama hancurnya WTC. Brown pun bicara pada Michael Jones melalui saluran tv agar Jones jangan salah memandang peristiwa memerihkan tersebut. Ibrahim Husein, seorang keturuan Mesir, seorang muslim yang rela membantu menyelamatkan nyawa istri Michael Jones dan Brown sendiri. Bukan Islam yang menciptakan kehancuran hingga bahkan merenggut nyawa Anna Jones, dan seluruh orang yang berada dalam gedung menara kembar WTC melainkan sekelompok orang tidak bertanggung jawab yang sekaligus turut membajak nama Islam.

Allah SWT dengan keajaiban-Nya, mengizinkan Nabi Muhammad saw membelah bulan, mukjizat yang diberikan Allah kepadanya, selain mukjizat Al-Qur’an. Semua muslim mengimaninya. Nonmuslim menghormatinya. Berdasarkan penelitian di bidang astronomi, para astronaut Amerika mendarat di bulan dan mereka menemukan rekahan memanjang sepanjang diameter bulan. Rekahan bulan yang oleh para astronaut Amerika itu dijuluki Rima Ariadeus. Bukti keajaiban.
Bahwa dua kutub keyakinan berbeda telah sejak lama menoreh sejarah di tanah Amerika. Terbukti dari relief neoklasik pada dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat terdapat relief yang diasumsikan sebagai Nabi Muhammad saw, memegang kitab Al-Qur’an, diapit beberapa tokoh besar sejarah dunia seperti Hammurabi, Charlemagne, King John, Justinian, dsb. sebagai tokoh penegak keadilan. Bahkan Universitas Harvard yang begitu megah akan ketenarannnya menghasilkan intelektual-intelektual bertaraf dunia, pada pintu gerbangnya terdapat inskripsi ayat Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 135: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya).”

Setiap hari, setiap waktu, pintu gerbang itu dilalui ribuan orang-orang pandai. Mereka adalah para pendidik, dosen, mahasiswa, yang bersumpah demi Tuhan untuk menjadi pengadil yang baik. Dalam setiap langkah mereka, embusan titah Allah lewat nukilan ayat Al-Qur’an itu menjadi napas para pengadil, hakim, pengacara masa depan di Amerika Serikat.

Sedikit Catatan dari saya:

Kemarin (12/9) dari film Bulan Terbelah di Langit Amerika yang ditayangkan di SCTV pada Senin pagi sekitar pukul 07.00, memang alur cerita film berbeda dengan kisah yang tertuang dalam novel karya Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra ini. Sedikit yang mengganggu pikiran saya, dalam versi film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani, diceritakan bahwa Abe atau Ibrahim Husein datang ke kantor Morgan Stanway milik Phillipus Brown untuk meminta bantuan kucuran dana untuk membantu anak-anak korban perang di Timur Tengah. Awalnya Phillipus Brown tidak setuju. Brown balik bertanya untuk apa saya menyumbang anak-anak Timur Tengah? Apa keuntungannya buat saya sebagai pebisnis? *Aneh. Kenapa dalam versi film dibuat seperti itu? Phillipus Brown menjadi seorang filantropi setelah peristiwa keji 11 September 2001, bukan sebelumnya.  Lalu dengan motivasi apa Ibrahim Husein meminta sumbangan pada pebisnis Amerika itu? Disini seolah mencerminkan bahwa Islam adalah golongan peminta-minta, pengemis. Parahnya pula mengemis pada orang Amerika.

Jelas berbeda dengan versi novelnya yang alurnya sangat luar biasa elegan, Ibrahim Husein bekerja sebagai analis di Morgan Stanway. Dia menyelamatkan nyawa orang-orang yang dia tidak pandang apapun keyakinannya.

Untuk pemain pendukungnya, Stefan. Saya lebih suka versi novel di mana Stefan sering berdebat serius dengan Khan, teman seprofesinya yang berasal dari Pakistan tentang perbedaan aturan dalam Islam dan non Islam tentang banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dalam versi film, Stefan hanya digambarkan sebagai sosok yang sungkan membuat komitmen pernikahan.

Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesembilan: Agustus 2015
ISBN: 978-602-03-0545-5
Jumlah hal: 344 hal
Cover: softcover
National Best Seller
Penulis dan Buku Fiksi Terbaik API 2014
Difilmkan Desember 2015

Love Sparks In Korea (a Novel Review)

Love Sparks in Korea_scrap-18Traveling menjadi agenda mengenali diri bagi Rania Timur Samudra. Perjalanan berkeliling dunia mengutuhkan kesadaran betapa kecil diri saat mengeja Kemahabesaran Allah yang terpampang. Lukisan Sang Maha Indah hadir di setiap jengkal langkah. Jejak yang Rania temukan pada orang-orang di tempat yang dia kunjungi. Masyarakat lokal maupun sesama traveler, juga pada peristiwa-peristiwa yang sejatinya adalah isyarat dari Sang Pemilik Kehidupan.

Sembilan belas bukunya telah diterbitkan. Rangkaian agenda talkshow dan seminar di pelosok tanah air mengisi hari-harinya sebagai penulis. Dunia kata menerbangkan Rania lebih jauh ke negara-negara yang dulu hanya berupa noktah di lembaran peta. Label Jilbab Traveler atau solo traveler pun disematkan kepadanya.

Rentetan perjalanan melanglang buana Rania mendarat di Nepal. Keinginannya yaitu menikmati dari dekat pegunungan tertinggi di Nepal, termasuk Mount Everest, mengabadikan moment sunrise, pesona pegunungan Himalaya, Danau Phewa, dan lain sebagainya termasuk bangunan bergaya Eropa di Kathmandu. Sepanjang perjalanan itu pula rentetan peristiwa kecil menautkan goresan pena kehidupannya pada sosok pemuda bermata sipit, berambut panjang, berkumis dan berewok tipis. Hyun Geun. Seseorang yang begitu asing di mata Rania. Gadis berkerudung cerah, bertubuh ringkih, dan seorang solo traveler berjilbab ini wajar jija bersikukuh berulangkali menepis uluran tangan kebajikan yang ditawarkan sosok asing yang belum dikenalnya. Rania hanya bersyukur pada Allah masih ada orang asing sebaik Hyun Geun di negeri asing yang rela menolongnya dari tindak kejahatan di jalan. Tetapi Rania adalah tipe wanita muda yang sangat mandiri. Rania bukan orang yang mudah meminta bantuan secara berlebih pada orang lain. Dan hal itu yang justru membuat Hyun Geun penasaran. Sosok keras hati seorang perempuan yang selalu menolak bantuannya mengingatkannya akan kenangan pahit di masa lalunya. Chin Sun, satu-satunya saja wanita yang mendekap hatinya hingga kini. Bukan hanya karena Hyun Geun tidak dapat menjadi penolong hidup perempuan berparas cantik dan lembut itu, tetapi nyatanya lelaki yang menikahi Chin Sun tidak lebih adalah seorang berhati binatang dan selalu memperlakukan Chin Sun dengan keji. Meski Hyun Geun meminta Chin Sun meninggalkan saja suaminya yang kejam itu. Hyun menjamin dapat membahagiakan Chin Sun dengan tinggal bersamanya. Chin Sun menolak. Ini adalah takdirnya yang harus dia jalani. Kesetiaan Chin Sun pada suaminya yang kerap menyiksanya lahir maupun batin Chin Sun tersebut mengelamkan cara pandang Hyun Geun. Keindahan dunia seperti apapun itu, meski pada kemudian hari Hyun Geun berpetualang ke berbagai belahan dunia karena kecintaannya pada fotografi, baginya warna adalah hanya hitam dan putih. Karenannya selama bertahun Hyun Geun hanya menekuni black and white photography. Mengenal gadis ceria usia dua puluh empat tahun yang sangat mandiri dan pantang menyerah menggugah cara pandang Hyun Geun. Setiap kali berupaya mengabadikan sosok gadis itu, Hyun Geun berubah pikiran, ia mengubah setelan kameranya dari hitam dan putih menjadi berwarna. Di matanya kini, Rania lebih layak mendapat sentuhan banyak warna. Karakter Rania hangat, mandiri, murah hati, peduli, dan selalu ceria mampu mewarnai segala apapun dan siapapun yang dia temui di setiap tempat yang dikunjunginya.

Rania seperti burung kecil yang bebas. Meski seorang solo traveler, kesendirian perjalanan panjang berkeliling dunia tidak membuatnya sepi, tetap nyaman dan ceria. Misinya tidak hanya semata memenuhi berbagai undangan kepenulisan dan menyingkap segala pesona pemandangan alam yang menakjubkan, lebih dari itu kepada setiap orang asing yang menanyakan padanya tentang Islam, Rania akan menjelaskan, meluruskan pandang mereka, para masyarakat negara non muslim tentang Islam. Misi Rania sekaligus menjadi duta Islam. Sebagaimana Ibnu Battutah, tokoh yang menginspirasi mimpinya.

Tidak dapat dipungkiri, Hyun Geun mulai menyukai Rania. Sayang. Terlalu dini Hyun Geun mengungkap isi hatinya di saat yang sama badai duka menimpa keluarga Rania di kampung halamannya di Indonesia. Dan pula, ternyata seseorang tak jauh dari rumahnya, seorang pemuda santun, berpenampilan rapi, berpendidikan, memiliki karir baik, menantinya. Menanti selalu kedatangan Rania yang selama ini dikaguminya, dan diam-diam dicintainya. Ilhan. Pemuda sesama muslim, yang berharap sepenuhnya memiliki seutuhnya hati Rania, mendekapnya dalam kehidupannya yang mapan agar Rania tidak terus pergi bersama burung besi menjelajah dunia.

Rania gadis baik hati. Ilhan maupun Hyun Geun, dalam pandangannya adalah dinamika kehidupan yang dipandang ringan. Selang beberapa bulan kemudian usai menghalau rasa duka mendalam, sang mama tercinta memberinya dukungan sepenuhnya agar Rania kembali terbang, menjadi ‘mata’ mamanya ke negeri Ginseng, memenuhi undangan program kepenulisan.

Korean Literature Institute mengundang penulis dari tiga negara salah satunya adalah Rania dari Indonesia, mengirim mereka ke Korean University untuk belajar hanguk mal atau bahasa Korea. Enam jam selama lima hari dalam sepekan. Setiap penulis selain diberikan kesempatan belajar bahasa Korea, juga diwajibkan me-review sedikitnya satu buku dalam sebulan, mengikuti seminar, dan mengikuti acara pertemuan dengan para penulis senior maupun pemula Korea.

Hal-hal menarik dan positif dari Novel Jilbab Traveler Love Sparks in Korea ini antara lain:

  • Seseorang harus memiliki tekad dan semangat untuk mewujudkan mimpinya. Rania kecil memiliki impian untuk berkeliling dunia setelah tergugah oleh gambar-gambar pada mainan kulkas tentang ikon cagar budaya di berbagai belahan dunia. Papanya Rania bahkan selalu memberinya dukungan dan semangat dan memberinya sumber inspirasi tokoh Ibnu Battutah, seorang petualang dunia, teolog, dan ahli hukum Islam.
  • Sosok Jilbab Traveler meluruskan pandangan masyarakat negara-negara non muslim bahwa Islam tidak identik dengan kekerasan dan poligami. Dan busana jilbab adalah bentuk pakaian indah dan luwes yang mana pemakainya tidak perlu menjadi sorotan kecurigaan dan rasa takut bagi mereka yang non muslim.
  • Pemaparan sangat gamblang pengetahuan tentang berbagai obyek wisata di setiap sudut negeri. Seperti Danau Phewa, danau air tawar terluas kedua di Nepal dengan pulau kecil di mana Kuil Kuno Taal Barahi berada, sebagai tempat suci bagi umat Hindu. Di Korea, pembaca diajak mengenal bahwa di Korea Selatan pun terdapat Seoul Central Mosque di Itaewon, satu-satunya masjid di Seoul yang dibangun pada tahun 1976. Bangunannya lebih menyerupai ruko bertingkat. Lantai pertama ditempati Federasi Muslim Korea dan ruang pertemuan. Lantai kedua dan ketiga digunakan untuk sholat. Selain itu ada madrasah untuk lembaga pendidikan anak-anak muslim. Terdapat juga pusat penelitian dan organisasi Islam lainnya. Selain itu Rania juga mengenalkan Nami Island di Gangwon –do. Salah satu provinsi paling cantik di Korea. Nami Island merupakan pulau kecil berbentuk setengah bulan, merupakan lokasi syuting Winter Sonata. Nami Island sendiri diambil namanya dari nama Jenderal Nami, yang meninggal di usia sebelum tiga puluh tahun karena salah tuduhan selama kekuasaan King Sejo, raja ketujuh dari Dinasti Joseon di Korea. Demikianlah Rania semakin termotivasi mengambil foto, menggali dan membagikan informasi, berbagi keindahan Ciptaan Allah.

Lalu bagaimana selama Rania di Seoul? Tentu pembaca juga akan langsung menduga pasti Rania akan langsung bersua kembali dengan pemuda gondrong berkumis tipis, bermata sipit dan berkulit bersih yang dahulu berulang kali menolongnya. Merebut kembali ranselnya dari tangan penjambret di Kathmandu, mengantarnya ke penginapan Silver House saat Rania pingsan di Sarangkot, dan membagi pengetahuan pada Rania tentang fotografi. Justru sebaliknya, Rania tidak ingin kedatangannya kini ke Korea diketahui Hyun Geun. Entah mengapa hatinya belum yakin ingin bertemu kembali Hyun Geun. Meski sejak perpisahan mereka di bandara Nepal Hyun Geun kerap menghujani Rania dengan foto-foto hasil karyanya melalui email. Tiada berbalas. Rania fokus pada tujuannya datang ke Korea. Namun, di saat kiriman email Hyun Geun berhenti, ada seusik kegelisahan dan kekhawatiran menyusup lembut kedalam hati Rania. Kegelisahan yang kemudian dilarikan oleh Rania ke dalam doa-doa dan sujud-sujud panjang. Indahnya cinta ya? Oh… tidak. Terlalu pagi menyatakan itu cinta. Ada hal-hal prinsipil yang sangat membilah pertimbangan soal rasa dan aturan agama bagi Rania. Soal keyakinan. Di sisi lain, keberanian Ilhan memutus rasa takutnya bepergian jauh dengan pesawat, demi mengungkapkan itikad menjalin ikatan bersama Rania yang tengah berada di Korea, patut diperhitungkan. Dan di saat itu pula terungkap jati diri sebenarnya Hyun Geun. Rania harus membulatkan tekad di mana ia akan melabuhkan hatinya.

Sumber:

Penulis: Asma Nadia

Judul: Jilbab Traveler The Novel – Love Sparks in Korea

Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Cetakan pertama, Oktober 2015

ISBN: 979-6029055-39-9

376 halaman

 

Profil Seorang Prajurit TNI (a Book Summary)

Cover Buku Profil TNILahir 19 Juni 1922 di desa Jenar, sebagai putra sulung dari bapak dan ibu Wongsodiredjo, di perumahan pabrik gula. Keluarga Wongso mengabdikan diri pada keluarga Maneer Bos, seorang administratur pabrik gula di Jenar, letaknya ke arah Tenggara lebih kurang 24 km dari desa Rendeng desa asal keluarga Wongsodiredjo. Jani kecil berperawakan tinggi besar, kulit kuning, hidung mancung, sebagaimana postur pada umumnya orang dari Purworedjo termasuk desa Rendeng, Gebang, dan Jenar. Achmad Jani sudah dikenal sebagai anak yang pandai dan halus budi bahasanya. Tahun 1929 Jani kecil masuk HIS (Sekolah Dasar) di Bogor selama tujuh tahun. Menurut penuturan Soekandis Martakoesomah, teman satu kelas Jani semenjak HIS, Mulo (SMP), dan AMS (SMA), Jani biasa-biasa saja. Tetapi mulai masuk Mulo sifat-sifat kepemimpinannya mulai muncul. Jani menyukai olah raga renang, lempar lembing, lempar cakram, dan semua cabang atletik. Jani juga seorang pendiam dan serius dalam pelajaran, tidak suka pesta, tidak suka menyanyi dan dansa, kepribadiannya sederhana sekali. Ia menguasai bahasa Belanda dan Inggris sangat baik.

Sewaktu kelas 2 AMS, Jani/Yani keluar sebentar dari sekolah untuk mengikuti pendidikan Topografi di malang selama 6 bulan. Setelah lulus menjadi Sersan Topografische Dienst dan gajinya 120 gulden. Gaji yang saat itu cukup besar setara dengan gaji opsir Belanda. Yani kembali lagi ke sekolah di Batavia. Tahun 1942 Jepang masuk. Banyak Belanda yang ditawan Jepang, sekolah pun bubar, dan Yani kembali bersama orang tuanya. Ia sempat mengisi harinya dengan berjualan dan melatih anak-anak desa Rendeng baris-berbaris. Yani kemudian belajar mengetik di Purworedjo. Di sana bu guru ngetiknya adalah Yayuk Ruliah Sutodiwirjo yang di kemudian waktu menjadi istri Yani.

Masa Pendidikan Militer

Tahun 1943 Jepang membangun suatu organisasi baru, membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih militer menjadi Bu Dan-cho (Bintara), So Dan-cho (Letnan), Chu Dan-cho (Kapten), dan Dai Dan-cho (Mayor). Hal ini sebagai upaya pertahanan Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Organisasi itu diberi nama “Pembela Tanah Air” atau PETA. Selama pendidikan PETA, Yani sekamar di asrama bersama Sarwo Edhie dan Ngaeran. Regu Yani dianggap sebagai siswa yang cukup baik, mereka tidak lagi dituntut latihan merangkak tetapi lebih sering menjadi pembantu pelatih.

Hingga saat pelantikan di lapangan Ikada, Gambir, Jakarta, dengan seragam So Dan-cho Yani, Sarwo Edhie, dan Sudarmadji mendapat pedang samurai yang berbeda daripada yang lainnya. So Dan-cho kemudian ditempatkan di Batalyon II Kompi III di Prembun, Purworedjo. Komandan kompinya Chu Dan-cho Suryo Sumpeno. Di Prembun inilah Yani bertemu kembali dengan Yayuk Ruliah Sutodiwirjo. Dalam kesempatan upacara penyambutan So Dan-cho Peta yang baru kembali dari mengikuti pendidikan di Bogor, Bupati Purworedjo mengundang remaja putra-putri agar tampil kedepan menyampaikan ucapan selamat datang. Adalah suatu kebetulan akhirnya yang ditunjuk tampil adalah Yayuk, mewakili para pemuda-pemudi Purworedjo. Kenangan lama sewaktu belajar mengetik tumbuh kembali. Kemudian sesudah acara tersebut, Yani lalu lebih teratur dan kerap bertandang ke rumah ibu Tjokro, tempat Yayuk menumpang tinggal. Yani bersama perwira Peta lainnya tinggal di asrama di Prembun. Sebaliknya Yayuk sering dititipi telor dari orang tua Yani untuk dibawa ke asrama.

Dalam banyak hal Yani dikenal oleh kawan-kawannya pemberani dan nekad. Meskipun ada peraturan ketat bahwa So Dan-cho untuk jangka waktu tertentu belum boleh menikah, tetapi Yani nekad. Ia suka mencuri-curi waktu selama berlatih untuk menemui kekasihnya Yayuk. Tanggal 5 Desember 1944 Yani ditemani bapaknya, Pak Wongso, berangkat ke Magelang untuk menikah dengan Yayuk, tanpa melapor kepada kedinasan Peta. Dan tanggal 6 Desember subuhnya Yani diam-diam kembali ke asrama.

Akhir Kekuasaan Jepang
Menurut penuturan Mayjen (Purn) Panoedjoe, kawan dekatnya semasa di Batalyon II Peta Prembun, Yani sudah berpesan pada kawan-kawannya untuk tetap memelihara bahasa Belanda dan Inggris karena penting di kemudian hari. Yani yang gemar membaca, diam-diam mengikuti siaran radio BBC London tentang informasi jalannya Perang Dunia II, di saat itu semua radio disegel oleh Jepang agar rakyat Indonesia tidak tahu apa-apa tentang Perang Dunia, tetapi Yani banyak akal merusak segel radio.

Keadaan ekonomi di masa itu semakin merosot. Termasuk pula keadaan tentara Peta di Prembun. Bubur lem atau kanji dikonsumsi sebagai makan pagi. Barulah menu nasi untuk siang dan malam. Saat ditempatkan di Loano, Yani sering membolos pulang ke Rendeng dengan cara menerobos hutan, dan kembali dengan membawakan makanan hasil masakan mbahnya untuk kawan-kawan Yani.

Awal tahun 1945 tiba-tiba saja Batalyon Peta dibubarkan oleh Jepang, disusul kemudian bocornya berita bahwa Peta Blitar telah memberontak dibawah pimpinan Supriyadi. Tidak lama sesudah itu terjadi pula peristiwa pemboman oleh Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki. 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Semua Peta di pantai selatan, termasuk Karanganyar, Prembun, dan Purworedjo pun dibubarkan. Pergolakan terjadi dimana-mana untuk merebut kekuasaan dari tentara Jepang. Yayuk yang tengah mengandung anak pertama, mengungsi ke Kulon Progo. Bentrokan antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang terus terjadi, ditambah pula dengan mendaratnya pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris, dan Belanda iktu di dalamnya. Karenanya para pemuda membetuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan badan-badan kelasykaran lainnya. Keadaan berkembang cepat. Republik Indonesia yang baru diproklamasikan itu harus langsung mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya dari ancaman kekuatan kolonial Belanda yang ingin kembali menguasai tanah air Indonesia.

Perjuangan dan karir dalam TNI Angkatan Darat

Bekas Peta di Prembun kemudian membentuk Batalyon BKR Magelang, di dalam jajaran Resimen Hijau / Resimen XIX dengan Komandan Resimen adalah Letnan Kolonel Sarbini. Di bawah Resimen XIX terdapat lima Batalyon. Batalyon I dipimpin oleh Suryo Sumpeno, Batalyon II oleh Kusen, Batalyon III oleh Achmad Yani, Batalyon IV oleh Suwito Haryoko, Batalyon V dipimpin oleh seorang perwira bekas KNIL.

Batalyon III diperkuat oleh batalyon-batalyon BKR dari Purworedjo, mereka bertempur dengan pasukan Inggris di Magelang hingga berhasil memukul mundur pasukan Inggris dari Magelang. Batalyon III Yani bersama keempat kompi yang diantara kompi itu dipimpin oleh Sarwo Edhie dan Sudarmadji melanjutkan serangan terhadap pasukan Inggris di Ambarawa. Menurut Sarwo Edhie, Yani dalam usia yang relatif muda saat itu sudah menunjukkan sifat kepemimpinannya. Di saat Belanda memaksakan kekuatannya dengan persenjataan lengkap dan kuat menerobos Magelang dari Semarang menuju Ambarawa, Batalyon Yani menghadang di daerah Pingit. Satuan-satuan perlawanan dari lambung kiri dan kanan Pingit sudah mulai mundur, membuat limbung kompi Sarwo Edhie, namun Batalyon III Yani tetap berada di belakang kompi Sarwo Edhie. Serang Belanda gagal dan mundur kembali ke Semarang. Yani sampai dijuluki oleh masyarakat Magelang sebagai de ridder van Magelang.

Tahun 1948 diadakan reorganisasi TNI. Batalyon III Resimen XIX menjadi Batalyon V Brigade IX dipimpin oleh Komandan Batalyon Suryo Sumpeno. Yani sendiri dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel, Komandan Brigade IX Kuda Putih Diponegoro. Pada tahun itu juga terjadi pemberontakan PKI Muso di Madiun. Yani mengadakan pembersihan di Kedu Utara. Batalyon IV Panoedjoe mendapat tugas membersihkan Staf Resimen Tenggor dan Brigade Djoko Untung. Batalyon I Suryo Sumpeno bertugas di Solo dengan menggunakan badge polisi militer di bawah pimpinan Gatot Subroto yang waktu itu jabatannya adalah Gubernur Militer.

Belum pulih benar keadaan akibat pengkhianatan PKI yang menusuk Republik Indonesia dari belakang, Belanda kembali melancarkan serangan pada 19 Desember 1948. Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda, Presiden Soekarno dan beberapa pejabat pemerintah ditawan oleh Belanda. Menjelang Serangan Umum 1 Maret 1949, Yani memberikan instruksi untuk mengadakan serangan gangguan di seluruh sektor IX untuk mengimbangi Letnan Kolonel Soeharto yang melancarkan serangan umum di Yogyakarta.

Sekitar tahun 1950, Yani bersama istri dengan kelima anaknya tinggal di Tegal, mendapat rumah dinas dengan segala fasilitas kendaraan dan kesehatan. Sebagai sosok seorang bapak, Yani sangat perhatian terhadap anak-anaknya. Di waktu-waktu senggangnya, hari Minggu, Yani sering mengajak anak-anaknya berjalan-jalan ke pinggir laut di sore hari, atau sekeluarga menonton atraksi di stadion Tegal, bermotor boat ke tengah laut.

Desember 1955 Yani berangkat ke Amerika Serikat, mengikuti General Staff College di Forth Leavenworth, Kansas. Kedudukan Yani sebagai Komandan Resimen digantikan oleh Mayor Hartojo, dan keluarga Yani harus pindah ke rumah kecil dan tidak lagi mendapat fasilitas dari jabatannya. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena keluarga mereka sudah biasa hidup sederhana. Sekembalinya Yani dari Amerika setelah satu setengah tahun, ia membawa istri dan anak-anak berlibur ke Bali dan Jawa Tengah, dan menyempatkan singgah ke Magelang.

Oktober 1956, Yani memboyong keluarganya pindah ke Jakarta dan tinggal di Hotel Des Indes di Jalan Hayam Wuruk. Des Indes hotel terbaik dan termegah saat itu. Beberapa keluarga tentara lain yang juga baru kembali dari luar negeri juga tinggal di Hotel itu, selebihnya disana banyak orang-orang Eropa. Kedudukan Yani setelah pindah ke Jakarta sebagai Asisten IV KASAD dengan pangkat tetap Letnan Kolonel. Delapan bulan tinggal di Des Indes, Yani sekeluarga mendapat rumah dinas di Komplek Militer di Jalan Lembang no. D58.

Tahun 1958, sedang banyak terjadi pemberontakan di dalam negeri, ada DI/TII, Warrow, Sumual, PRRI, dan lain-lain. Menurut Jenderal (Purn) A.H. Nasution, Yani sangat keras dalam menumpas pemberontakan yang menentang RI, baginya untuk pemberontak tidak ada tawar-menawar.

Untuk memenuhi tuntutan “daerah bergejolak” dibentuk Panitia VII oleh Pemerintah. Terdiri dari Soekarno, Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Leimena, Azis Saleh, Muskita, dan A.H. Nasution untuk menyelesaikan masalah Angkatan Darat. Bertolak dari sikapnya yang keras tentang disiplin militer, Yani menolak kegunaan Panitia VII. Pendapatnya bertolak belakang dengan A.H. Nasution. Presiden Soekarno menyadari Panitia VII tidak dapat diteruskan lagi karena tidak mampu menyelesaikan perbedaan pandangan dengan kelompok-kelompok pembangkang. Akhirnya 15 Februari 1958 Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI diproklamasikan di Sumatra Barat, disusul proklamasi Permesta di Sulawesi. Beberapa perwira Angkatan Darat yang terlibat langsung dipecat, antara lain Letkol Ahmad Husein, Simbolon, Sumual, Dahlan Djambek, dan lain-lain. Bulan Februari-Maret 1958 KASAD melancarkan Operasi Tegas ke Pekan Baru karena banyak perwira terlibat urusan dagang pengeksporan hasil bumi. Berbagai operasi dilancarkan guna menumpas pemberontakan di berbagai daerah. Puncaknya adalah “Operasi 17 Agustus” dengan komandannya Ahmad Yani dengan pangkat yang sudah dinaikkan menjadi Kolonel oleh KASAD A.H. Nasution. Inilah operasi militer gabungan pertama kali dilaksanakan oleh TNI dengan unsur darat, laut, dan udara secara terpadu. Setelah operasi berhasil Yani pulang dan berkumpul kembali bersama keluarga. Jabatannya menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat.

Usai mengatasi pemberontakan di berbagai daerah dan memimpin misi pembelian senjata ke Eropa Timur, Yani mulai sering dipanggil oleh Bung Karno ke Istana Bogor. Pada 1 Januari 1960 Yani naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Pada 1 Januari 1960 naik lagi menjadi Mayor Jenderal. Nasution yang juga baru kembali dari Moskow untuk misi pembelian senjata dan PM Djuanda dipanggil ke Istana Bogor oleh Bung Karno. Saat itulah pertama kalinya Bung Karno membicarakan soal integrasi Angkatan Bersenjata RI, dan Bung Karno menyebutkan dirinya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan menetapkan Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KASAB). Konsep ini dinilai Nasution sebagai upaya memutuskan fungsi komandonya. Dan Yani terpilih sebagai pengganti posisinya yaitu Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).

Akibat kedudukan masing-masing, Kantor KASAB pindah ke Merdeka Barat, 13, Jakarta. Hubungan Yani dan Nasution mulai renggang. Dalam rapat-rapat di Istana, selanjutnya Nasution sebagai KASAB tidak pernah lagi hadir. Agaknya memang ada upaya dari Wakil Perdana Menteri Dr. Subandrio untuk memisahkan Yani dan Nasution. Sebagai Kepala Staf Komando Tertinggi (KOTI) merangkap sebagai KASAD, Yani harus membagi waktunya antara MBAD dan Istana. Kantor KOTI terletak di dalam Istana. Nasution menilai Yani tidak lagi melaksanakan fungsi-fungsinya sebagai KASAD melainkan sudah lebih banyak di Istana bersama Bung Karno dan Subandrio.

Pada 21 Juli 1962 Bung Karno mengubah KASAD menjadi Panglima Angkatan Darat yang diberi status dan jabatan Menteri, karena membawahi Departemen Angkatan Darat. Dengan demikian para Menteri/Panglima Angkatan tidak lagi bertanggung jawab terhadap KASAB. Untuk keputusan-keputusan penting tentang ABRI langsung oleh Panglima Tertinggi ABRI, yaitu Bung Karno. Kedekatan antara Bung Karno dan Yani pun ditunjukkan dengan berkunjungnya Bung Karno bersama istrinya ibu Haryati beserta rombongan ke kediaman Yani. Dan segenap fungsi pun dikerahkan untuk mempersiapkan kunjungan Presiden, termasuk Yoop Ave, Kepala Protokol Istana lebih dahulu memastikan situasi lingkungan rumah Yani yang akan dikunjungi Bung Karno. Berikutnya demikian besar perhatian Bung Karno kepada Yani sehingga nama Achmad Jani pun diganti ejaannya menjadi ejaan baru, Ahmad Yani.

PKI Mulai Unjuk Gigi

1 Januari 1964 saat pemerintah mencanangkan konfrontasi dengan Malaysia, kembali Yani ditugaskan, pangkatnya dinaikkan lagi sebagai Letnan Jenderal, tiga bintang emas.

Jenderal Ibnu Sutowo, salah seorang sahabat dekat Ahamd Yani, berpendapat bahwa terjadinya PRRI merupakan salah satu faktor yang memberi angin pada Partai Komunis Indonesia/PKI, karena PKI memanfaatkan peristiwa itu dengan propaganda seolah-olah PKI-lah yang membela rakyat yang susah karena pemberontakan itu. Berhasilnya “Operasi 17 Agustus” pun dimanfaatkan PKI untuk menjadi besar dengan mempropagandakan bahwa operasi itu berhasil karena disokong PKI.

Yani tidak pernah setuju jika orang PKI duduk di dalam kabinet, tidak pernah setuju ataupun mendukung NASAKOM sebagai tujuan akhir bangsa. PKI dan Angkatan Darat selalu berseberangan, meski begitu Bung Karno selalu meredam agar permusuhan tidak muncul ke permukaan. Bung Karno yakin beliau dapat mengendalikan PKI. Pada kenyataannya Bung Karno mulai banyak bermain dengan kebijaksanaan politik yang di kemudian hari tidak menguntungkannya. Presiden Soekarno dikelilingi oleh orang-orang yang ingin mengambil muka saja. Banyak perwira AD khawatir dengan keadaan ini, mereka menberi peringatan kepada Yani, termasuk salah seorang diplomat asing sahabat dekat Yani.

“Dokumen Gilchrist”
Selanjutnya keadaan di dalam negeri mulai dikacau oleh komunis dalam berbagai bidang politik dan ekonomi. Subandrio mengambil alih BPI, badan intelijen yang seharusnya berada di bawah Hankam. Badan ini kemudian secara sistematik mulai melancarkan desas-desus, antara lain mengenai jenderal-jenderal AD yang tidak taat kepada Bung Karno.

Muncullah “Dokumen Gilchrist” pada Mei 1965, suatu dokumen ciptaan BPI yang menyatakan seolah-olah di Angkatan Darat terdapat Dewan Djenderal yang kegiatannya untuk menilai segala macam kebijaksanaan presiden. Inti isi dokumen tersebut sangat memojokkan pihak Angkatan Darat. Bung Karno kemudian memanggil Waperdam Subandrio, KASAB Jenderal Nasution, Ahmad Yani, dan KSAL Laksamana Martadinata ke istana. Saat itulah foto copy dokumen Gilchrist dibagi-bagikan. Kasus tersebut kemudian dibicarakan dalam Rapat Panglima AD tanggal 26-29 Juli 1965 di gedung Ganefo (Gedung KONI). Rapat bertujuan mencari langkah menjernihkan fitnah yang ditimbulkan Dokumen Gilchrist. Dalam rapat Panglima AD itu juga dibahas konsepsi politik Bung Karno tentang Nasakom Bersatu. Menurut pendapat para pemikir TNI AD, Brigjen TNI Darmo, Pangdam XII/Tanjungpura, konsepsi politik tersebut justru akan menimbulkan kompartementasi kelompok-kelompok dalam tubuh bangsa, yaitu kaum Nasionalis, kaum Agama, dan kaum Komunis, yang hanya akan mengokohkan kedudukan kaum komunis. Revolusi Indonesia menjadi mewakili aspirasi golongan komunis yang saat itu mendapat tempat kuat di hati Bung Karno.

Bulan-bulan menjelang pecahnya G-30-S/PKI penuh dengan isu, suhu politik sangat panas. Di sisi lain Yani memberikan amanat dalam kursus Seskoad Angkatan IV pada 4 Mei 1965, Yani memerintahkan agar Seskoad sebagai lembaga pendidikan Angkatan Darat yang tertinggi agar tetap berlandaskan pada Pancasila, doktrin kekaryaan, doktrin perang revolusi, manipol/usdek, sapta marga, dan sumpah prajurit, dan berpikir secara nasional. Tetap memperdalam ilmu kemiliteran, senantiasa mengikuti perkembangan di dalam masyarakat dan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Revolusi Indonesia.

Angkatan Darat Sebagai Kekuatan Sosial-Politik

Dalam upaya menghambat perkembangan pengaruh PKI. Letjen Ahmad Yani melakukan sosialisasi dan pembinaan pada lembaga sosial-politik formal maupun lembaga lainnya. Salah satunya pada lembaga Soksi, yang dipimpin oleh Mayor Suhardiman.

Mayor Suhardiman merasa perlu mengkonsolidasikan kembali perwira-perwira TNI yang anti-komunis dan di antara mereka yang pernah terlibat PRRI/Permesta, yaitu dimanfaatkan untuk perjuangan politik pada masa mendatang. Dan aktivitas Soksi ini pun telah dibicarakan oleh Ahmad Yani kepada Bung Karno agar terhindar dari situasi politik yang sedang kian memanas.

PKI menilai hal tersebut sebagai ancaman. Bahkan PKI menamakan perwira-perwira Angkatan Darat yang duduk di dalam kepemimpinan Soksi sebagai “lap merah”. Untuk menghindarkan isu tidak benar Ahmad Yani menginstruksikan agar perwira-perwira AD di Soksi mundur. Yani menegaskan Soksi bukanlah ekstra struktural / bagian organik dari Angkatan Darat.

Tahun 1965 hegemoni PKI makin besar, didukung pula oleh partai atau organisasi lainnya yang sepaham dengan PKI seperti Partindo, PNI aliran ASU (Ali Sastroamidjojo dan Surachman), menuntut agar partai Murba, Soksi, dan HMI dibubarkan. Dan Bung Karno menyetujuinya. Murba dibubarkan. Namun Soksi dan HMI masih dapat dilindungi oleh Ahmad Yani setelah melakukan pembicaraan guna menjelaskan aktivitas kedua organisasi tersebut pada Bung Karno. Dan Bung Karno masih menaruh kepercayaan pada Ahmad Yani.

Mengenai Angkatan “Ke-5”

Gagasan pembentukan Angkatan Ke-5 yang terdiri dari buruh/tani yang dipersenjatai di luar ABRI, ditolak tegas oleh Men/Pangad Ahamd Yani. Dalam rapat-rapat KOTI Yani harus sering menghadapi Waperdam maupun para menteri. Gagasan tersebut adalah dari Aidit. Bung Karno sendiri belum pernah secara jelas menyetujuinya. Kemudian Partai Komunis makin gencar melancarkan isu-isu tentang “Dewan Djenderal”, “Ganyang Tujuh Setan Desa”, “Jenderal-jenderal Korupsi”, dan sebagainya. Pada waktu itu juga Bung Karno menanyakan kepada Yani apakah benar Angkatan Darat tidak mendukung beliau, bahkan ada “Dewan AD” yang aktivitasnya untuk menilai dan mengawasi Bung Karno. Yani mengatakan bahwa hal demikian tidak ada. Memang betul di dalam Angkatan Darat ada suatu dewan tetapi tugas dewan ini adalah mengadakan pencalonan dan penilaian untuk perwira-perwira AD yang akan naik pangkat menjadi jenderal.

Pada 1 Mei 1965 Jenderal Sumitro yang baru diangkat sebagai Panglima Kaltim menggantikan Haryo Kecik yang dipandang lebih mendukung PKI, Sumitro menangkap pimpinan PKI di Kaltim dalam rapat raksasa hari buruh.

Pada 20 Mei 1965 di rumah Yani tengah berkunjung sahabat-sahabat Yani, antara lain Jenderal Taswin dan Jenderal MT Haryono. Di saat yang sama PKI tengah merayakan hari ulang tahun ke-40. Salah seorang sahabat Yani mengingatkan kalau AD tidak segera mengambil tindakan maka kelak Yani akan dibunuh oleh PKI. Tetapi Yani sangat percaya diri, yakin bahwa Angkatan Darat sangat didukung rakyat, dan ia sendiri tahu persis seberapa besar kekuatan PKI. Terhadap Bung Karno sebagai Presiden, Pemimpin Besar Revolusi, Yani bersikap sangat hormat dan loyal meskipun Yani tidak selalu sepaham dengan kebijaksanaan Bung Karno.

Pada bulan Agustus 1965 Bung Karno sakit keras. Sakitnya beliau dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk menghasut dan Bung Karno semakin curiga pada Angkatan Darat. Sejak saat itu pula Subandrio menyelundupkan orang-orangnya di antara perwira-perwira AD. Diisukan pula bahwa A.H. Nasution akan menjadi Waperdam dan Ahmad Yani akan menjadi Panglima Angkatan Bersenjata. Bung Karno semakin terpengaruh dan tidak percaya lagi pada Nasution dan Yani. Keadaan semakin meruncing.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 Bung Karno merencanakan akan memanggil Ahmad Yani dan pada pagi itu pula Bung Karno sudah mempersiapkan Jenderal Mursid, Deputi I Men/Pangad untuk menggatikan Yani, demikian diungkapkan oleh Pak Nasution. Sementara itu Yani tidak tahu-menahu akan diganti, terlanjur pagi itu gugur oleh peristiwa berdarah 1 Oktober 1965. Dan dari pertemuan di bulan Mei 1965 itu ternyata benar apa yang menjadi obrolan di rumah Yani pada 20 Mei 1965 diantara rekan-rekan dan sahabat-sahabat, Ahamad Yani dan Jenderal Haryono gugur di tangan orang-orang PKI.

Peristiwa 01 Oktober 1965

Pada hari itu, Kamis 30 September 1965, setelah upacara di Tanjung Priuk untuk penyerahan Sam Karya Nugraha, Yani pulang ke rumah. Anak-anak Yani menunggu kedatangannya dari kantornya di Markas Besar Angkatan Darat di Jalan Merdeka Utara. Sekitar pukul 14.00 kendaraan Oldmobile hijau militer bernomor AD-1 dikawal jip regu pengawal militer memasuki halaman rumah di Jalan Lembang No. D58.

Ahmad Yani turun dari mobil dan menerima jajaran kehormatan dari para pengawal rumah. Istrinya, Bu Yayuk sedang di dapur menyiapkan makan siang. Seperti biasa anak-anak menyambut riang kedatangan bapaknya terlebih kali Yani memberitahukan kepada semua anaknya bahwa besok tidak usah berangkat sekolah,bolos sekolah saja, semua ikut bapak ke istana untuk melihat upacara Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Melihat pawai, paduan suara, dan sebagainya. Sembari bercengerama tanpa sadar sebotol minyak wangi di atas meja tersenggol oleh tangan Yani dan tumpah sehingga minyaknya membasahi meja, Yani kemudian mengusap-usapkan minyak wangi tersebut ke badan dan tangan anak-anaknya. Dia mengatakan “Kalau ditanya orang dari mana kau dapatkan wangi ini, bilang ya, wanginya dari bapak.”

Siang itu juga Yani menunggu teman-teman dari AMN. Seperti biasa Taruna-Taruna dari AMN (Akademi Militer Nasional) bertandang ke rumah Ahmad Yani. Keluarga Yani menerima mereka di ruang belakang berkumpul bersama anak-anak sambil mendengarkan musik dan menikmati pisang goreng. Sorenya Yani berangkat bermain golf ditemani Pak Bob Hasan. Sepulangnya dari bermain golf Yani meminta Pak Dedeng, supirnya agar alat-alat golf dibersihkan, karena sudah tidak akan dipakai lagi. Sebentar ia menemui para taruna yang sedang berkumpul di ruang belakang dan berbicang sejenak dengan mereka. Kemudian Yani pergi ke dalam untuk mandi dan beristirahat.

Selesai mandi Yani mengenakan celana panjang abu-abu dan kemeja putih. Malam itu Yani masih harus menerima tamu lagi. Anak-anak masih di ruang belakang. Mbok Milah menyuapi putra paling kecil, Edi yang masih berumur tujuh tahun. Tamu Yani malam itu adalah Jenderal Basoeki Rachmat, Panglima Kodam V/Brawijaya, ia menyampaikan laporan tentang kejadian perusakan kantor Gubernur Jawa Timur oleh Gerwani PKI, namun situasi dapat diatasi. Yani kemudian memanggil Ajudan Mayor Subardi untuk mengirimkan teleks kepada Gubernur Wijoyo yang isinya: “Men/Pangad berterima kasih pada gubernur dan salut atas keberhasilannya mengatasi keadaan.” Yani juga berpesan besok pagi, dalam rencana pertemuan dengan Presiden jam 06.30 Yani akan membawa Mayor Jenderal Basoeki Rachmat untuk melapor kepada Presiden.

Waktu Mayor Subardi akan berangkat ke KOTI untuk mengirim teleks, Pak Supardjo Rustam, Sekretaris Kotrar (Komando Tertinggi Retooling Aparatur Negara) datang. Mengatakan kepada Mayor Subardi, bahwa ia akan melaporkan kepada bapak (Yani), bahwa hari ini Sugandi, ajudan Bung Karno, ditanya-tanya tentang isu Dewan Djenderal. Rupanya isu tentang Dewan Djenderal makin berhembus kencang. Kedatangan Supardjo Rustam berikut pesannya kemudian disampaikan Mayor Subardi kepada Yani, setelahnya Mayor Subardi melanjutkan tugasnya berangkat ke KOTI untuk mengirim teleks kepada Gubernur Jawa Timur. Usai dari KOTI karena hari sudah malam, Mayor Subardi memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

Setelah selesai menyiapkan makan malam, bu Yayuk, istri Yani pamit kepada Pak Yani dan anak-anak untuk pergi ke rumah di Jalan Taman Suropati 10. Rumah dinas resmi Ahmad Yani saat diangkat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Namun rumah itu hanya sebentar saja dihuni oleh Ahmad Yani sekeluarga karena merasa tidak nyaman dan mereka kembali tinggal di rumah yang di Jalan Lembang D58. Namun malam itu Yayuk mengatakan ingin “nyepi” tepat di hari ulang tahunnya. Yayuk pergi ke rumah Taman Suropati ditemani Tinik, teman akrabnya sejak kecil, Tris adiknya, dan Pak Sandi ajudan Yani. Sehingga di rumah Jalan Lembang, tinggal Yani, anak-anak, pengasuh rumah dan satu regu penjaga. Jam sepuluh malam Yani masuk kamar untuk tidur. Para pengawal sudah pulang ke rumah masing-masing.

Kira-kira jam sebelas samapai dua belas malam telepon di rumah berdering. Tidak ada yang tahu siapa penelpon itu. Ketika salah seorang anak Yani menerima si penelpon hanya menanyakan di mana bapak. Mereka hanya menjawab bapak sudah tidur. Dua kali telepon berbunyi dengan pertanyaan yang sama. Tanpa rasa takut ataupun curiga, anak-anak kemudian pergi tidur.

Pagi itu, 1 Oktober 1965, jam 04.30 subuh, tiba-tiba anak-anak semua terkejut oleh suara tembakan gencar dan suara sepatu lapangan tentara yang berlarian di dalam rumah. Terdengar suara hiruk-pikuk. Segalanya berjalan tiba-tiba dan sangat cepat. Amelia mengintip dari pintu. Ia sekamar dengan adiknya yang keenam, Juni. Amelia melihat begitu banyak tentara dengan baret merah tua. Dilihatnya sesosok tubuh sedang diseret dengan kaki dan badan serta kepala di lantai. Dan di belakangnya ada seorang yang dibopong oleh dua temannya dari ruang makan. Anak-anak serta-merta menghambur keluar dari kamar dan berteriak, menjerit sejadi-jadinya, “Bapaaaak…! Bapaaaak…!”

Anak-anak mengikuti sampai ke pintu belakang, sambil menangis memanggil bapaknya. Dan pasukan itu mengancam, “Kalau anak-anak tidak masuk, akan ditembak juga semuanya!” Tentu saja anak-anak sangat ketakutan. Mereka berlari masuk ke dalam. Suara kendaraan menderu-deru membawa sosok Yani pergi. Segumpal darah hangat tertinggal di lantai ruang makan. Pintu kaca berserakan bekas tertembus peluru. Setelah pasukan tadi pergi anak-anak memunguti peluru di lantai di antara darah, mereka menemukan tujuh butir peluru. Mereka berlari ke kamar bapaknya, kamar sepi dan kosong. Telepon rumah mereka dapat sudah diputuskan hubungan teleponnya. Segera mereka meminta Mbok Milah memanggil Mayor Subardi, ajudan Yani. Mbok Mangun muncul namun ia tidak mengerti apa-apa. Semua dicekam rasa takut yang amat sangat dan tidak tahu harus berbuat apa.

Pukul lima pagi Mayor Subardi datang dan ia menanyakan ciri-ciri orang yang membawa bapak pergi. Anak-anak menuturkan, pakaian mereka seragam tentara berwarna hijau, sepatu lars, baret merah, dan banyak kain kecil warna putih, merah, dan kuning di pundak para pasukan itu. Disusul kemudian sebuah jip memasuki halaman. Rupanya Bu Yayuk baru tiba. Beliau kaget melihat semua berkumpul di ruang tengah. Bergantian secara terbata mereka mengatakan pada ibunya, “Bu, bapak, bu. Bapak.. bapak ditembak dan dibawa pergi… naik truk!” Spontan Bu Yayuk menjerit, “Cari! Cari, bapak! Cari! Cari! Sampai ketemu! Ke mana bapak!! Cari! Cari!” Selanjutnya bu Yayuk pingsan. Ketika sadarkan diri kembali beliau mengajak anak-anak dan semua yang ada di rumah berdoa bersama-sama. Antara masih yakin dan tidajk yakin bapak mereka masih hidup atau sudah mati. Tetapi bu Yayuk yakin suaminya pak Yani sudah tidak ada. Darah hangat yang masih menggumpal di lantai tiba-tiba diusapkan dengan kedua telapak tangannya ke wajah, leher dan dadanya. Kemudian Bu Yayuk membersihkannya dengan kemeja bapak. Semuanya menangis.

Jam enam pagi Jenderal Wirahadikusumah, Panglima Kodam V Jaya datang. Sekembali beliau kemudian mulai berdatangan tentara, dan penjagaan di rumah digantikan oleh pasukan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Masih banyak lagi tamu-tamu dan tetangga berdatangan dengan seribu satu pertanyaan. Bu Yayuk dan anak-anak disarankan sementara meninggalkan rumah. Darah Ahmad Yani mulai dibersihkan. Dan barulah pagi itu diketahui bahwa yang diculik dan ditembak bukan hanya Ahmad Yani, tetapi termasuk juga beberapa perwira tinggi AD yaitu para deputi dan asissten Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Menjelang tengah hari, Bu Yayuk dan anak-anak mulai mengemasi beberapa lembar pakaian kemudian pergi mengungsi ke daerah Pasar Minggu ke rumah keluarga Jenderal Marjadi. Dan untuk beberapa waktu mereka belum mengetahui secara pasti bagaimana keadaan bapak mereka. Dan mereka tersentak saat mendengarkan siaran Radio Australia yang mengabarkan bahwa Jenderal Ahmad Yani telah diculik dan dibunuh oleh sekelompok tentara yang belum dikenal, dan kedudukannya sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat oleh Bung Karno telah digantikan oleh Mayor Jenderal Pranoto.

Senin sore 4 Oktober 1965 Mayor Subardi bersama beberapa pengawal berpakaian tentara dan sepatu lapangan datang. Mengabarkan jasad Jenderal Ahmad Yani sudah ditemukan. Mayor Subardi menjelaskan semua yang terjadi kepada Bu Yayuk. Kemudian bu Yayuk meminta agar mereka dapat melihat jasad Pak Yani, seperti bagaimanapun bentuknya. Jasad Ahmad Yani sudah berada di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) untuk dibersihkan.

Pukul lima sore keluarga Yani kembali ke rumah. Suasana di jalan sangat sepi menandakan keadaan sedang benar-benar gawat. Sesampai di rumah, terlihat rumah sudah bersih sekali, pintu dan kaca pecah bekas tertembus peluru sudah diganti. Bu Yayuk langsung masuk ke kamar tidur. Suasana rumah sepi sekali. Beberapa tamu datang berkunjung untuk berbela sungkawa. Pukul sepuluh malam dengan kendaraan beriring-iringan menuju Markas Besar Angkatan Darat. Di sana sudah banyak orang menangis, dan wajah-wajah sangat geram. Saat mereka memasuki aula MBAD yang penuh sesak orang, disana terlihat sudah ada tujuah buah peti jenazah terselubung bendera Merah-Putih. Salah satu peti tertulis nama Letnan Jenderal Ahmad Yani. Bu Yayuk maupun anak-anak tentunya tidak dapat melihat lagi sudah seperti apa wujud jasad suami dan bapak mereka itu. Di ruang aula itu pula sudah berkumpul Ibu Suprapto, Ibu Haryono, Ibu Parman, Ibu Panjaitan, Ibu Sutoyo lengkap bersama putra-putrinya, serta ada keluarga Tendean. Para pengunjung semua menangis. Histeris. Karena semua merasa kehilangan. Para keluarga TNI itu berada di sana hingga pukul dua belas malam.

Besok siangnya, 5 Oktober 1965, semua jenazah TNI tersebut dimakamkan di Taman Makam Kalibata. Hari tersebut merupakan hari keramat bagi ABRI tetapi sekaligus menjadi hari yang sangat duka bagi ABRI. Pukul sepuluh pagi keluarga Yani berangkat lagi menuju MBAD. Sepanjang jalan masyarakat berbaris untuk melihat iring-iringan yang membawa keluarga ini. Tentara-tentara berjaga-jaga dengan pakaian tempur dan bersenjata lengkap seperti akan terjadi perang. Wajah mereka muram, marah, dan geram. Suasana haru, duka, dan berkabung menyelimuti Markas Besar Angkatan Darat, masyarakat Jakarta, dan seluruh Indonesia. Sampai langit siang itu pun mendung.

Pukul sepuluh upacara pemberangkatan jenazah ke Taman Makan Kalibata dimulai. Jenderal Nasution melepaskan keberangkatan jenazah dengan menyampaikan amanat sangat menyentuh hati. Intinya beliau menyampaikan bahwa kami, keluarga, rekan, sahabat, dan seluruh rakyat Indoensia yang ditinggalkan punya kewajiban meneruskan perjuangan, meneruskan tugas Angkatan Darat, meneruskan tugas TNI, meneruskan tugas janji suci membela negara dan tanah air demi cita-cita kemerdekaan Indonesia yang berlandaskan Pancasila, membela kehormatan seluruh prajurit TNI yang dicemarkan dan difitnah, membela dan mencari bukti kebenaran atas semua yang telah terjadi.

**********

Judul Buku: Profil Seorang TNI
Ditulis oleh: Amelia Yani
Penerbit: Pustaka Sinar Harapan, Anggota Ikapi, Jakarta 1988
Cetakan Pertama
Dicetak oleh: PT Sinar Agape Press
237 hlm; 20,5 cm
Diterbitkan atas kerjasama dengan Yayasan Renjani
ISBN 979-416-060-X

Kata Pengantar oleh Penulis
Buku ini diterbitkan untuk mengenang sebuah peristiwa gugurnya seorang Prajurit TNI Achmad Jani pada 1 Oktober 1965 dan bertepatan pula dengan peristiwa Lubang Buaya, 1 Oktober dinihari. Kami sekeluarga dengan rasa cinta yang benar-benar tulus menyusun buku ini sebagai sebuah kenangan. Buku ini juga diisi oleh teman almarhum ataupun mereka yang pernah mengenal beliau dengan dekat ataupun pernah mengalami peristiwa-peristiwa yang patut dikemukakan.

Buku ini ditulis dan dipersiapkan oleh putri almarhum bukan untuk menyanjung-nyanjung ayahnya. Buku ini disusun oleh karena suatu dorongan bathin yang kuat untuk mengenang Achmad Jani agar supaya generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang dapat mengerti akan keadaan yang sebenarnya dan kemudian dapat mengambil manfaat dari nilai-nilai pribadi seorang prajurit TNI Achmad Jani.

Perlu juga diketahui bahwa ejaan nama Achmad Jani disempurnakan pada tahun 1962 oleh Presiden Soekarno menjadi Ahmad Yani dan meskipun ejaan ini sangat populer dipakai akan tetapi almarhum selalu menulis namanya dengan ejaan lama Achmad Jani. Demikian agar pembaca maklum adanya.

Semoga buku ini bermanfaat bagi khalayak pembaca dan sesuai dengan jasa dan jiwa seorang prajurit TNI yang dikenangkan.

Jakarta, September 1988

-Penulis-

Surga yang Tak Dirindukan (a Book Review)

Sejak sepuluh tahun lalu, Arini memaknai pernikahannya dengan Andika Prasetya seutuhnya adalah istana cinta yang tak akan pudar, surganya di dunia, begitu bahagia, indah, dan sempurna. Pras, lelaki bermata cokelat itu, dengan kelembutannya, kasih sayangnya, sikapnya yang selalu romantis seolah serupa dengan kisah Cinderella dalam dongeng menjadi begitu nyata.

Namun siapa duga, dunia seumpama dongeng indah Cinderella yang telah dirajut dengan benang-benang kasih bersama lelaki yang ia cinta dan mencintainya sepenuh jiwa dan raga selama bertahun kini harus runtuh seketika hanya karena sosok perempuan lain.

Jauh di sana, teramat jauh bahkan dari gambaran dunia dongeng penuh kasih dan keromantisan, Mei Rose hidup di bawah perlakuan kerasnya dunia. Mei Rose tumbuh sebagai pribadi yang berhati dingin, tidak suka berteman, dan egois, tidak meyakini bahwa cinta itu indah dan membawa kebahagiaan sebagaimana perjalanan pahitnya berulang kali terjerembab dalam kerakusan nafsu kaum lelaki yang menipunya atas nama cinta.

Hingga sampai pada suatu peristiwa dimana asanya sudah benar-benar pupus dan segera ingin ia akhiri hidupnya termasuk kehidupan calon anak yang sama sekali tidak ia inginkan kehadirannya. Pras datang bagaikan pangeran dari negeri dongeng, uluran tangannya mencegahnya untuk memutus nyawa begitu saja.  Tak hanya itu, Pras membuka jendela pandangan kelamnya tentang cinta dan anak, bahwa semua itu adalah anugerah dari Yang Kuasa.

Apa yang ada di kepala laki-laki ketika berkata cinta pada istrinya? Wajah cantik, tubuh molek, aroma, serta keindahan yang Tuhan berikan kepada makhluk bernama perempuan?

Anak-anak, derita, dan peluh ketika melahirkan, pengertian, dan semua pengorbanan besar yang telah menguras keindahan fisik perempuan yang mereka nikahi?

Continue reading “Surga yang Tak Dirindukan (a Book Review)”

Reuni Terindah (a Book Review)

Reuni Terindah

Membaca kisah dalam buku ini seperti diajak reuni ke suatu masa. Mengingatkan kembali… yang kayak begini niih…
Ada beberapa kisah yang menggantung di bagian akhir agar pembaca dibuat penasaran. Mungkin seperti halnya ungkapan rasa di masa lalu yang tak pernah terungkap dan justru mengetuk kembali pintu hati ketika dipersuakan untuk kedua kali, sayang… keadaan sudah tak sama lagi.

Reuni Terindah menghadirkan kembali antologi cerita pendek yang pernah dimuat di majalah Anita Cemerlang yang berjaya pada zamannya; sebagai pengobat rindu bagi mereka yang menjadi pelaku, dan pemuas rasa ingin tahu bagi generasi masa kini yang tak ikut mengalami….

… karena cinta tak pernah lekang termakan waktu.

Judul: Reuni Terindah
Penulis: Ganda Pekasih
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Kompas Gramedia
Tahun: 2013
Jumlah hal: 131 hal.

Maha Suci Cinta-Mu (a Book Review)

Maha Suci Cinta-MuPernikahan adalah hal yang sakral dalam kehidupan manusia. Untuk menjalaninya butuh persiapan matang sehingga di antara sepasang anak manusia yang hidup dalam bingkai pernikahan terdapat ketenteraman dan kebahagiaan. Mereka akan menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh keikhlasan sehingga menjadi keluarga samara; sakinah, mawadah dan rahmah.

Tema pernikahan menjadi salah satu tema menarik untuk diangkat dalam sebuah film, drama, sinetron maupun prosa. Tema seputar pernikahan selalu menarik perhatian pembaca karena pembaca bisa memetik pelajaran dari kisah-kisah yang dituturkan oleh sang pengarang.

Ganda Pekasih dalam buku Maha Suci Cinta-Mu ini mengajak pembaca menyelami kisah-kisah inspiratif, humanis dan juga romantis karena buku ini mayoritas memuat kisah-kisah seputar pernikahan.

Dalam Rumah Perkawinan, Ganda penulis berkisah tentang sebuah konflik dalam rumah tangga antara tokoh Win dan Jarot, suaminya. Ketika hubungan pernikahan di antara mereka berjalan cukup lama, dan mereka dikarunia seorang putri berusia 6 tahun, Jarot sebagai tulang punggung keluarga mendadak terkena pemutusan hubugan kerja dari kantornya. Niat untuk merayakan hari ulang tahun anaknya di sebuah restoran cepat saji dengan mengundang anak-anak yatim dan teman-teman TK anaknya terpaksa dibatalkan.

Belum sempat setahun Jarot menganggur, semua barang berharga milik mereka nyaris ludes terjual. Anehnya, Jarot sejak di-PHK tidak sibuk mencari kerja lagi. Dia lebih banyak diam di rumah, menutup diri dan sering melamun. Begitu parah dampak PHK itu bagi semangat hidup Jarot.

Hingga kemudian, Win yang selama ini dilarang suaminya bekerja, dianjurkan segera membuat surat lamaran oleh salah seorang bekas teman kuliahnya, Dandi. Dia tahu permasalahan rumah tangga Win dari sepupunya yang kebetulan tinggal sekomplek dengan Win.

Win mulai sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, kadang sampai malam baru pulang. Perhatian pada anak dan suaminya mulai tersita oleh kesibukan pekerjaan di kantor. Jarot tentu semakin merasa “direndahkan”. Dia semakin uring-uringan karena merasa tidak berdaya dengan kenyataan hidup yang ada di depannya. Di matanya, Win sudah mulai berubah. Bahkan, sejak terdengar desas-desus bahwa Win sudah mulai dekat dengan Dandi, atasannya.

Pertengkaran demi pertengkaran pun tidak bisa dihindari dalam rumah tangga mereka. Win merasa serbasalah, di satu sisi dia ingin membantu mempertahankan ekonomi keluarganya. Tapi, di sisi lain dia merasa sudah sangat jauh dari anak dan suaminya (halaman 67).

Sementara dalam Maha Suci Cinta-Mu penulis bercerita tentang perjuangan perempuan lajang bernama Khadijah yang bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup dan membantu keluarganya yang hidup dalam kekurangan. Di tempat kerjanya, Khadijah selalu mendapat perlakukan yang “kurang baik” hanya karena dia berhijab. Beberapa rekan kerja di kantornya seringkali mengusulkan agar Khadijah membuka hijab saat bekerja, karena di mata mereka Khadijah akan terlihat lebih cantik dan seksi karena penampilan dan postur tubuhnya yang menarik.

Tapi, Khadijah sedikit pun tak terpengaruh dengan “godaan” rekan-rekan kerjanya. Dia tetap dengan prinsip dan pendiriannya. Menurut Khadijah, penilaian mereka tidak objektif. Karena penampilannya sedikit pun tidak mengganggu pekerjaan di kantor. Khadijah tetap bisa bekerja dengan baik.

Hingga pada suatu hari, ketika Khadijah hendak ke luar apartemen untuk membeli makanan, dia bertemu dengan seseorang bernama Brendan. Mereka tanpa sengaja bertabrakan karena tiba-tiba saja Brendan muncul dari dalam lift. Rekan-rekan kerja di kantornya, terutama kaum perempuan, semua membicarakan keberadaan Brendan. Jadi, wajar mereka semua iri karena sejak pertemuan tidak sengaja dengan lelaki bule itu, Khadijah mulai akrab dan Brendan sering mengantarkannya makanan (halaman (11).

Selain tentang pernikahan, pengarang dalam buku kumpulan cerita inspiratif ini juga mengangkat tentang kehidupan kaum “marginal” seperti dalam cerita Kupu-Kupu Plastik. Dalam kisah ini pembaca diajak untuk berkenalan dengan tokoh waria bernama Dona. Di sebuah pinggiran stasiun, Dona selalu menghabiskan waktunya untuk mengais rezeki. Dia sadar bahwa pekerjaannya memang kotor dan menjijikkan. Dia juga tersiksa lahir batin dengan jalan hidup yang selama ini dijalaninya. Ketika bertemu dengan seorang laki-laki penulis yang sedang melakukan riset untuk karya tulisnya di lokasi itu, Dona sedikit trenyuh dengan sikap orang itu yang baik dan perhatian. Dona jadi teringat pada kakaknya yang meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan (halaman 39).

Selain tiga cerita di atas, pembaca juga bisa menikmati kisah lain yang tak kalah menarik dan inspiratif. Seperti Cinta Sepasang Syuhada, Dari Rahim Suci, Sang Janin, Batu-Batu Bercahaya, Pengarang Besar, Pak Rahman dan Mata yang Melihat Cahaya.

Secara keseluruhan kisah-kisah di dalam buku setebal 150 halaman ini mengajak pembaca untuk mengarifi serta memaknai hidup lewat jalinan kisah hidup anak manusia dengan segala macam problematika yang dihadapinya. Karena bukan hal yang mustahil, suatu saat kita akan mengalami apa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita yang dikisahkan dengan bahasa yang indah, romantis dan penuh inspirasi ini. [*]

_________________________________________

Judul              : Maha Suci Cinta-Mu

Penulis            : Ganda Pekasih

Penerbit          : Zettu, Jakarta

Cetakan          : I/2012

Tebal              : 150 Halaman

Peresensi        : Untung Wahyudi, Alumnus IAIN Sunan Ampel, Surabaya

Sumber:

Maha Suci Cinta-Mu

Karya: Ganda Pekasih

Diulas dalam Kisah-Kisah Inspiratif dan Humanis

Rimanews.com

Sat, 01/06/2013 – 22:19 WIB

Sakinah Bersamamu-Asma Nadia (a Book Review)

sakinah-bersamamuNgambek!

Kalau saja dia masih mahasiswi, barangkali Indah sudah demo di jalan tiap hari!

Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Berusaha membentuk garis yang seketus-ketusnya. Biar Ryan tahu dia kesal. Biar Ryan ngeh, dia tersinggung berat dengan kalimat lelaki itu tadi pagi. Biar lain kali sebagai suami dia lebih hati-hati bicara. BIAR!

Dan gerakan ‘no comment’ itu diteruskan Indah hingga malam tiba, saat mereka bersiap tidur. Ia hanya mengamati saja tingkah laku Ryan. Tiba dari kantor, suaminya tampak menghabiskan waktu sorenya dengan membaca koran. Saat makan malam lelaki berkulit putih bersih itu menyelesaikannya dengan tenang. Malah masih sempat-sempatnya mengucapkan terima kasih. Setelah berwudhu dan melakukan salat Isya, kemudian mengaji sebentar, lalu rutinitas bersih-bersih di kamar mandi, dan terakhir dengan santai berjalan ke pembaringan, mengambil tempat di sisi Indah. Tidak lupa mengecup kening istrinya.

Indah menunggu. Matanya melirik jam berbentuk hati yang tergantung di dinding kamar. Sambil diam-diam menyiapkan jawaban atas kalimat-kalimat yang mungkin akan keluar dari mulut Ryan. Namun hingga lewat sepuluh menit. Tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya dua tubuh yang tergolek berpunggungan di tempat tidur dalam diam.

****

Bagaimana ya rasanya berunjuk rasa di depan pasangan alias ngambek karena sesuatu hal tapi dicuekin? Malah dianggap nggak terjadi apa-apa dan pasangan bersikap biasa aja. Lah, yang ngambeknya kan jadi bingung sendiri mau dilanjutkan ngambeknya atau menyerah tapi gengsi? haha… 😀

Itulah sepenggal kisah yang saya pungut dari salah satu kumpulan cerita pendek Mbak Asma Nadia dalam karyanya “Sakinah Bersamamu” terbitan AsmaNadia Publishing House tahun 2010. Dalam karyanya yang luar biasa ini, Asma Nadia tak melulu mengupas kisah cinta belaka namun mengajak pembaca bercengkrama melalui kisah-kisah sehari-hari yang sifatnya kita banget!. Bisa jadi salah satu dari persoalan yang kita alami terwakili di dalamnya. Bahkan ada kesimpulan dalam setiap satu bab cerita sehingga pembaca tak sekadar terhibur tetapi bisa terbuka pikirannya karena pemahaman lugas yang disampaikan. Bukan untuk menggurui, semua kisah dalam buku ini mengajak kita belajar bijak dalam berumah tangga, baik yang sudah menikah dan berumah tangga, dan tak kalah baiknya juga bagi yang belum dan berniat untuk menikah.

Tak perlu merasa enggan kalau ingin membaca Sakinah Bersamamu karya penulis besar tanah air ini, jangan nanti begitu melihat tebalnya buku karena melihat sepertinya jumlah lembar halamannya banyak lalu menduga pasti ceritanya sangat panjang dan melelahkan mata. Tentu tidak! Asma Nadia sangat cerdas mengemasnya dalam bentuk kumpulan cerita pendek dan cara pembawaan ceritanya yang sangat akrab. Jadi, membacanya tak perlu dikebet satu malam harus selesai -seolah besok mau testing- cukup bab per bab saja. Itupun akan membuat rasa penasaran ada peristiwa atau dilema apalagi di bab berikutnya yang kadang membuat kita membacanya senyum-senyum, ikut mengangguk, atau bahkan terharu. Semuanya terangkum 17 cerita + 17 pembahasan seputar ujian rumah tangga. Tunggu apalagi? Baca yuk! 🙂

Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali (a Book Review)

Cover Buku Novel Ketika Mas Gagah Pergi
Cover Buku Novel Ketika Mas Gagah Pergi

Sebagai sebuah cerpen fenomenal karya Helvy Tiana Rosa, cerpen ini muncul sebagai pelopor kebangkitan sastra Islami Kontemporer di Indonesia pada era 1990-an. KMGP juga dipandang sebagai cerpen yang turut mempengaruhi perkembangan semangat belajar Islam di kalangan muda Indonesia. KMGP pertama kali dipublikasikan di Majalah Annida, tahun 1993, lalu, diterbitkan oleh Pustaka Annida dalam bentuk kumpulan cerpen, 1997. KMGP terus mengalami cetak ulang lebih dari 15 kali setelah diterbitkan lagi tahun 2000 oleh Syaamil Cipta Media. Tahun 2011 buku ini kembali diterbitkan oleh AsmaNadia Publishing House. Bedanya, cerpen KMGP yang dulu 15 halaman, kini menjadi novellet 64 halaman.

Dalam cerita ini dikisahkan Gita seorang gadis remaja yang sangat bangga dengan sosok abangnya yang biasa ia panggil Mas Gagah, sosok kakak teladan, seorang pria metropolis yang dengan segudang prestasi juga memiliki kepribadian yang sangat santun. Namun suatu hari Mas Gagah berubah setelah bertemu dengan seorang Kyai yang mengajarkannya nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Seketika penampilan dan kepribadian Mas Gagah menjadi berubah. Ia menjadi ikhwan yang sangat zuhud, seiring dengan prestasi keilmuan yang tetap digenggamnya ia pun bersemangat untuk berdakwah. Namun Mas Gagah di usianya yang muda belia harus ‘pergi’ ketika ia tengah melerai suatu aksi demonstrasi. Nyawanya tak sempat tertolong meski telah dilarikan ke rumah sakit. Tentunya kepergian Mas Gagah tak hanya meniggalkan duka mendalam bagi Gita, adik kesayangannya dan juga papa-mamanya namun pula bagi semua orang yang telah mengenal tarbiyah yang disampaikan Mas Gagah.

Waktu berselang ketika kemudian muncul sosok lelaki misterius. Mirip Mas Gagah! Tidak pada wajahnya, namun lebih kepada kemiripan perilakunya. Lelaki misterius itu selalu Gita temui tanpa sengaja dalam setiap perjalanannya kemanapun ia pergi. Gita menyebutnya si Kotak-kotak, karena kemanapun ia dapati pemuda itu selalu memakai kemeja bermotif kota-kotak, aktivitasnya selalu berdakwah, menyumbangkan bantuan, memberikan nasehat-nasehat kepada siapa saja di tempat-tempat umum.

Namun dalam penilian saya setelah membaca kisah ini, ada beberapa kejanggalan dalam alur cerita, di antaranya:

Pertama, sosok Mas Gagah yang seratus persen perfect dan idealis, sepertinya memang sudah sangat sulit ditemui dalam keseharian di masa kini.

Kedua, kemunculan Si Kotak-Kotak dikisahkan begitu ajaib, selalu muncul di setiap perjalanan Gita setiap hari. Bahkan setelah suatu hari Si Kotak-kotak mengalami kecekalaan dan dilarikan ke rumah sakit, selang berganti hari, bulan, tahun, kemudian Gita tak bertemu lagi dengannya. Tak lama kemudian setelah lulus kuliah, Gita hendak melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan Elektronik, ia dibuat terkejut tak kepalang karena ternyata Direktur perusahaan elektronik tersebut adalah Si Kotak-kotak. Kejanggalannya di sini, si pemuda itu tetap dengan baju bermotif kotak-kotaknya, dan jasnya terlipat di gagang kursinya. Padahal dia seorang yang memiliki jabatan eksekutif, dan baju motif kotak-kotak kiranya tak sepadan dengan jas, terlebih dengan posisi jabatan direktur. Masih terasa agak janggal adalah gelarnya. Untuk mencapai gelar Ir., Msc, dan PhD., logikanya membutuhkan waktu, namun sepertinya bagi Si Kotak-kotak hanya perlu waktu sekejap mata untuk semua gelar tersebut padahal dalam keseharian sebelumnya selalu ia isi dengan kegiatan dakwah kesana-kemari, berdagang buku agama, memberikan sumbangan bantuan sosial, dan mengajak orang-orang membuat kerajinan tangan.

Lalu sebagai direktur perusahaan elektronik dikisahkan agenda kerjanya lebih banyak untuk memenuhi undangan memberikan ceramah di kantor / lembaga penting lain hingga ke luar negeri dan masih sempat pula ia memberikan ceramah di dalam bus sebagaimana aktivitasnya dahulu.

Memang karangan fiksi adalah karangan rekaan. Namun saya pikir, tetap dibutuhkan alur cerita yang masuk akal (logis) bukan sekadar penuh khayalan fantasi semata. Namun demikian, secara keseluruhan KMGP sangat enak dibaca, bahasa yang digunakan Helvy Tiana Rosa begitu ringan, gaul, dan mudah dipahami serta jalan ceritanya yang inspiratif terutama bagi kalangan muda, serta pemahaman-pemahaman tentang Islam yang diselipkan di dalam cerita sangat cocok untuk segala usia. Kesan siluet yang disajikan di bagian akhir cerita menambah keren kisah menarik ini.

Judul Buku: Ketika Mas Gagah Pergi dan kembali
Pengarang : Helvy Tiana Rosa
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan Pertama, Juli 2011
Kelompok : Novel
Bahasa : Indonesia

Buku: 25 Cerpen Kahitna (a Book Review)

Waduuuwwwww!!! Jadi pingin hunting bukunya n pingin cepetan baca!

Cekidot!

kahitna1

Menandai 25 tahun perjalanan musikalnya, buku kumpulan cerpen ini berisi cerpen-cerpen yang ditulis personil Kahitna dan sahabat-sahabat Kahitna.

Keseluruhan cerpen di buku ini mengambil judul sekaligus terinspirasi dari lagu-lagu Kahitna. Membaca masing-masing cerita pendek di buku ini, kita akan memahami mengapa Kahitna bisa bertahan begitu lama di hati para penggemarnya. Jawabannya tentu ada pada cinta. Kahitna selalu memiliki cara yang menyentuh dan universal untuk menyampaikan rasa cinta mereka pada penggemarnya.

Saya fans berat Kahitna. Buku ini seperti gambaran khayalan-khayalan saya kalau lagi dengar lagu-lagu Kahitna. Tiap judul lagu Kahitna berkembang menjadi cerita-cerita yang asyik dan haru dalam buku ini. Takkan Terganti misalnya, bukan cerita tentang sepasang kekasih, tapi tentang sosok ibu yang memang selamanya “takkan terganti”. Hiks terharu banget deh bacanya….  —Tika Panggabean

Cerpen-cerpen di buku ini ternyata efeknya sama dahsyatnya dengan saat mendengarkan lagu-lagu Kahitna. Bikin hati melayang-layang, galau, dan termehek-mehek. Di sinilah kehebatan Kahitna. Lagu-lagu Kahitna mengantar pendengarnya ke kisah-kisah yang realistis dan pasti dialami siapa pun yang pernah atau sedang mengalami cinta.
—Tyas Mirasih

Untaian kata yang mengingatkan saya tentang keindahan cinta yang berbeda-beda. Reading it makes me feel peaceful and it left me with a smile.
—Agni Pratistha

Luar biasa! Itu kesan saya saat pertama kali membaca kumpulan cerpen Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan. Jalan cerita dari setiap cerpen sangat mudah dipahami dan sangat menyentuh dalam kejadian persoalan cinta sehari-sehari. Lebih dari itu, para penulisnya tak sekadar menuliskan karya fiksi melainkan mereka mengajak pembacanya berdansa dengan kata-kata, dan ini yang paling saya jagokan untuk cerpen dari Mario Ginanjar dan Hedi Yunus dalam “Sampai Nanti” dan “Mengapa Terlambat”. Kata-kata dalam cerpen mereka “nyastra” banged! — Mutz :mrgreen:

Oleh Kahitna, dkk
Harga : Rp. 40.000,-
Kategori : Fiksi dan Sastra, Kumpulan Cerpen
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 200 halaman
Terbit : Juli 2011

Sumber berita:

Media Online Indonesia

25th July 2011

Buku: 25 Cerpen Kahitna