Choose Your Own Taste

When you go to the food court with your friends,

do you choose the food menu or chosen by?

Likewise friendship, our hearts’ choose,

not because our thoughts are whispered by influence from anyone

Advertisements

Takut Kehilangan

Saking takutnya, ada-ada aja aksi dilakukan, bahkan sampai pada hal yang tidak masuk diakal sama sekali, kadang justru jadi terlihat lucu.

Begitu setidaknya yang tengah ingin disampaikan tayangan sinetron Dunia Terbalik di RCTI oleh peran si Nenek Burung Merak, eh… Juni 🤭 saking takutnya kehilangan batik miliknya yang disimpan dalam tas, sampai-sampai tasnya dijinjing terus kemanapun dia pergi dan selalu menaruh curiga pada setiap orang di hadapannya. Takut kalau batik di dalam tasnya yang dia bawa jauh-jauh dari kampungnya dicuri orang.

Begitu pula si Kang Akum, yang ini lebih ekstrim, saking takutnya melepas anak gadisnya yang kian beranjak dewasa, dan saking over protektif pada putri semata wayangnya, Akum rela harus terus bersitegang dan bermusuhan dengan Aceng – konconya sendiri. Takut kalau Febri dan Edward, putranya Aceng, saling menyukai, tumbuh dalam pemikiran otoriternya, kalau Febri diberi kebebasan berteman akrab dengan Edward maka kasih sayang Febri padanya akan terbagi, bahkan bisa jadi kehilangan.

Ekspresi dari rasa takut kehilangan bisa beragam, kadang dengan persuasi, kadang dengan paksaan, kadang dengan kemarahan, atau mungkin bisa juga dengan aksi tutup mulut-mogok bicara, yang semua itu dengan tanpa ada alasan logis yang mampu dijabarkan demi mempertahankan dari “kehilangan”.

Lihat sisi baiknya, tanaman pun membutuhkan alam untuk bertumbuhkembang, jika kamu menyimpannya rapat-rapat dalam rumah, mencurigai setiap orang di sekitar, meluapkan amarah mengira seseorang akan merenggutnya. Bebaskan, lapangkan, terbukalah. Dunia tidak sepi andai kamu tidak mengurung diri di balik jeruji prasangka dan pula mengebirikannya. Ingat, berkah ini… 🤭

Sate Baso

Baso Panggang

Setiap Minggu pagi kalau lagi bersepeda ke sekitar alun-alun kota, sering lihat jajanan baso bakar. Ukuran basonya kecil, pakai tusuk sate, dioles-oles mentega, dan dilumuri kecap, kalau pesanannya pedas ditambahi taburan msg rasa pedas. Saya sih nggak beli 😁 tapi terinspirasi untuk bikin sendiri.

Sabtu ini, sembari belanja ke pasar saya beli dua bungkus baso mentah seharga delapan ribu. Sampai di rumah, rebus dulu basonya, bubuhi seperempat sendok teh merica dan garam, selama sepuluh menit. Setelah itu tiriskan. Setelah dingin tusuk dengan tusuk sate. Olesi dengan mentega.

Untuk sausnya, tuangkan ke dalam piring kecap manis kurang lebihnya tiga sendok makan, dan saus sambal secukupnya saja. Aduk rata.

pixlr-1946x1946
sate baso dipanggang

Karena tidak tersedia arang jadi saya pakai pemanggang saja. Panggang sate baso. Saat setengah matang, angkat sate baso, gulirkan di adonan kecap tadi, panggang lagi. Angkat. Hidangkan panas-panas supaya lebih maknyus untuk disantap.

ngegonjing

Bukan ngegosip

🤐

Ide bikin-bikin makanan sekadar cemilan emang suka ngedadak melintas di kepala. Sstt… biasanya kalau saya lagi bété, disalahartikan melulu tentang bagaimana sebaiknya. Dulu saya mengulur tangan seringnya bersambut kata ‘tidak’. Sekarang saya diam tapi tetap berupaya berteman, eh, kok maunya menjauh seperti ingin mengulang saling bermusuhan. Jadi mending-mendingnya saya posting sesuatu hasil karya, walaupun sederhana tapi harapan saya supaya bisa menginspirasi siapapun untuk membuat apa saja yang bermanfaat. Lebih-lebih buat saya yang suka pingin aja ada varian buat sarapan.

Kue tradisional yang dibuat dari dari bahan-bahan sederhana. Kalau istilah lokal sini disebutnya kue gonjing, di Bandung lebih dikenal dengan kue bandros, sementara di Jakarta namanya kue pancong, dan di Bali dikenal dengan nama haluman. Info dari Saelekko.com

Gonjing dengan taburan keju dan susu kental manis coco pandan

Resepnya seperti ini:

+ 1 1/2 gelas santan kental

+ 1 gelas kelapa parut

+ 1 gelas tepung beras

+ 1 sendok teh garam

– untuk toppingnya bebas

Aduk semua bahan dalam satu wadah, sampai rata, jangan sampai tersisa gumpalan. Masukkan adonan ke dalam cetakan gonjing yang sudah diolesi minyak dengan menggunakan kuas bersih.

Bakar di atas api kecil sampai menguning kecoklatan. Taburi bahan topping selagi setengah matang.

Angkat dan sajikan panas-panas. Kalau udah dingin malah rasanya jadi anyep.

Give in

Pernah nonton atau baca kisahnya Dilan & Milea? Di sini aku nggak bermaksud me-review film atau novelnya, yang beberapa waktu lalu naik daun.

Kalau diinget lagi jalan ceritanya, kenapa juga waktu Milea secara sepihak memproklamirkan kata ‘putus’ tanpa ada perundingan meja bunda eh, meja bundar kali yah? Ditambah lagi dalam situasi di saat yang sama Milea tengah ditemani sama saudara sepupunya, Yugo. Dengan mudahnya kesimpulan sepihak pun segera melintas di kepala Dilan yang tengah pula berada dalam suasana panas, menduga Yugo adalah pacar baru Milea. Sebagai cowok, sebagai pacarnya, usai kata putus dari Milea, Dilan lebih memilih sikap pasif, membiarkan Milea dengan keputusannya sendiri, nggak berusaha mengejar, nelpon kek, minta waktu buat bicara empat mata, gitu, biar ada klarifikasi masalah.

Set her free! 

Begitu kira-kira gambaran karakter yang ditunjukkan Dilan, dengan argumen terjujur dari lubuk hatinya, bahwa dengan bersikap sedemikian itu adalah bentuk penghargaan setinggi-tingginya terhadap keputusan hati kekasihnya. Emang sebenernya si Dilan itu nggak cinta-cinta banget apa sama Milea? Kok diputusin secara sepihak gitu diem aja? Padahal kala itu kesempatan masih terentang luas, masih tinggal di satu kota meski Dilan udah harus pindah sekolah, belum pula ada janur kuning melengkung di depan jalan menuju rumah Milea. Di edisi ketiga novelnya sih, pengakuan Dilan, berada dalam kondisi seperti itu nggak berbeda juga sama kaum hawa, yang pasti dirasa sedih, kehilangan, pake dalem banget lagi, pengen bisa kembali ke masa-masa indah yang sebelumnya udah terjalin manis dan lugu, cuma bedanya Dilan lebih menyimpan dalam-dalam gemuruh kesedihannya, ekspresi wajahnya tetap tenang, di kemudian hari pun ketika dipertemukan kembali dengan Milea -udah berstatus menikah dengan lelaki lain.

Jadi, set her free itu nggak berat? Berat banget malah, lebih berat ketimbang menanggung rindu.

Crunchy Choco

final decision of crunchy choco

Masih dengan bahan seperti cake sebelumnya, hanya kali ini aku mencoba memberi taburan coco crunch di atasnya. Hasilnya….agak berantakkan 🤭 tapi bitter sweetnya teteup dapeet karena terigunya berpadu dengan bubuk cokelat Van Houten.

Medcheck Ed.2

Kedua kalinya, ganti kontrak, lagi-lagi wajib medical check up. Ngumpul dan ngeksis lagi di lab Pramita 🙂


Pada so syantik yah, termasuk saiah..hahah..

Thank’s buat Adzenk cs, usai test dari lab memperkenalkan aku sama ajang kuliner asyik di csb. Nggak sempat capture sih di sana gara-gara kelupaan saking serunya kita ketawaan, ngetawain accident parkir mobil tadi. Menunya asyik-asyik, harga okelah masih termasuk standard, pake dikomporin lagi dengan Kampung Nasgor yang pilihannya menggiurkan 👍

Nice. Jempol buat moment ini. Nggak usah sungkan kalau ngajak aku hang-out, apalagi mau bareng S-white ku, cuma emang aku belakangan nggak mau nawar-nawarin, karena udah nawarin dari titik paling nol dari hati alias nggak ngarep balesan apapun nyatanya ditolak itu rasanya sampai menusuk pinggang. Jadi, mau ikut atau mau ajak-ajak aku ya tinggal bilang aja. Nggak ribet kan aku mah orangnya?

Nice Merch

Berada di suatu petak-petak ruang antah berantah, seseorang melewati langkahku dari arah belakang sembari memanggil namaku. Seketika kumenoleh kamu tengah membawa setumpuk kertas. Langkahmu mengayun mendului. Seketika pula seseorang berjalan menghadang di hadapanku menyusul ayun langkahmu. Geram kedua tanganku sangat ingin mendorongnya agar menyisi, sepertinya si penghadang sangat ingin mengumpan emosi. Kamu berkelok pada pertigaan petak ruang. Singgah sejenak untuk menempatkan setumpuk kertas itu. Kamu bergegas lagi. Kembali penghadang sengaja menggontai di depan langkahku yang mengejar. Kamu berhenti pada sebuah pekarangan. Kembali memanggil namaku. Si penghadang tadi seolah baru sadar diri, lalu pergi. Pada tepian pekarangan ada kisah kembali kamu bagi.

Jelang pagi dua puluh lima Juni

Kumandang adzan sebelum fajar mengumandang. Teranjak aku dari buai bunga tidur.

img_20180629_205812-777x1036
thank’s!