Derap

#cerita mini

Isya tak ingin menoleh sedikitpun. Justru ia lambai-lambaikan botol air minumnya, memindah-mindahkannya ke tangan kanan dan kiri. Dari suara telapak sepatu dan cara langkah itu menderap ia tahu Irfan sedang pula melenggang di belakangnya.

“Suara derap sepatumu khas banget,”

Isya akhirnya membalikkan badan setiba di ruang pantry. Irfan mengembangkan senyum.

Derap

“Kayak tentara ya?”

“Bukan, kayak satgas,”

Irfan tergelak. Isya tahu Irfan bukan pribadi yang mudah tersinggung. Kecuali satu hal di masa sebelum ini yang pernah terjadi, ketika badai amarah mengoyak keakraban mereka.

“Sepertiga air dingin, setengahnya air panas? Hmmm…kamu suka minuman panas ya?”

“Nggak jadi panas banget kok, tapi jadinya anget, apalagi setelah beberapa menit kuletakkan di ruang kerjaku, panasnya kalah sama dinginnya udara ac,”

Isya ber-oo pendek. Gilirannya menuang air dari dispenser.

“Nanti aku pasang peredam suara deh di sepatuku,”

“Haah?”

Irfan terbahak sembari ngeloyor begitu saja meninggalkan Isya di pantry. Masih berkata-kata Isya membalas candaan Irfan. Bahkan setelah derap sepatu Irfan nyaris tak lagi terdengar.

Satu menit sesaat Irfan merebahkan dirinya pada jok kursi kerjanya. Kedua lengannya menangkupi wajahnya. Sedikit sesal diam-diam menyusup ke dalam rongga hati.

Irfan~ Isya tadi masih membalas kata-kata gurauanku, mengapa begitu saja gegas langkahku menderap pergi? Lama sebelum ini tiada dirinya bahkan sekadar bersua sapa, manapula menyulam lagi segala kisah sederhana di sela jam ishoma. Damn! What a stupid I was! Sekerasnya mengepal tangan dan menumbuknya pada meja. Kembali menderap ke pantry? Mudah saja itu kulakukan dalam hitungan lima detik ini juga. Namun, Bukan Isya jika suka mengulang peluang yang terlewatkan.

Isya~ Masihkan perih terpendam dalam? Aku mengerti. Kata maaf yang kami berdua tautkan dalam ucap dan tatap belum tentu menjadi ramuan mujarab menyembuhkan serta-merta luka. Seperti paku yang kau tancapkan pada permukaan kayu, meski telah kau mencabutnya, bekas paku itu akan tetap tertinggal. Namun kuyakin, rongga bernama rasa itu dipenuhi oleh beragam aksara bermakna yang dari setiap kesan pengalaman diterima tak akan tetap sama. Seperti kini, rindu yang tanpa permisi menyergap kalbu setiap kali jumpa dirimu. Rindu akan masa lalu ketika berdua kita mencabarkan cerita-cerita sedehana.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s