Fix Position

“Nah, si juru hapus dateng….”

Seseorang yang secara mendadak mendapat julukan baru tersebut nggak ngeh sama sekali dan dengan lempengnya tetap melenggang menuju tempat persemediannya, eh maksudnya meja kerjanya. Tiba-tiba saja saya kepikiran jahil tentang itu berkait dengan pengerjaan data produksi yang inputnya harus diawali dengan ritual penghapusan dulu di database penyimpanannya.

Jadi keinget semasa di bangku sekolah dulu. Selalu ada saja salah satu teman di kelas yang kena tugas jadi juru hapus papan tulis setiap kali papan tulis sudah penuh dengan catatan atau oret-oretan materi guru. Entah kenapa selalu dia dan dia lagi yang mendapat tugas mulia itu hehe…. Mungkin karena posisi duduknya paling depan dan paling dekat dengan meja guru. Karena memang papan tulisnya mau dipake lagi buat menuliskan materi selanjutnya atau memang ada siswa-siswa lain yang akan diberi tugas mengerjakan soal di papan tulis. Sampai kami suka ngeledek, wah dia dapet nilai tambahannya dari ngapus 😆

Kalau saya semasa di bangku SMA, kejadian rutin dan aneh, setiap kali di akhir jam pelajaran Sejarah. Udah emang jam pelajaran tersebut di penghujung waktu alias di jam terakhir, dan sudah menjadi tata tertib kelas ada sesi doa penutup setiap kali usai jam pelajaran terakhir. Mungkin karena saya duduk di barisan depan, meski nggak dekat juga dengan posisi meja guru, tapi si bu guru Sejarah ini selalu aja menyerahkan teks bacaan doa sesi penutup pada saya. Padahal yang duduk di barisan depan kan bukan saya aja, masih ada lainnya lagi. Ya namanya siswa dikasi tugas sama guru, nurut aja, hanya berbeda dengan cara yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya lainnya, namun teman-teman sekelas saya sudah pada maklum dan sangat paham kenapa saya agak berbeda, yaitu tanpa menduluinya dengan ‘salam’ ala mereka sembari dengan isyarat tangan menunjuk dari arah kepala sampai dada, tetapi langsung membaca teks yang tertera pada kertas doa. Kalau bacaan yang tertera pada kertas doanya sih isinya doa yang sifatnya general. Selang beberapa waktu jam pelajaran Sejarah berikutnya, saat bubaran kelas mungkin si bu guru heran dan penasaran kali ya? Beliau nanya kenapa saya tidak pakai ‘salam’ seperti yang lainnya kalau disuruh baca teks doa. Lantas saya lugas menjawab, maaf bu, saya kan muslim. Dari sejak saat itu di akhir pelajaran Sejarah syukurlah, teman lain yang mendapat giliran hehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s