Jum’at Diary

#cerita mini

Derai senyum mengembang di wajah bersegi. Mata kecokelatan membinar menyongsong sinaran bola kemuning surya di jelang senja. Pijakan kedua batang kaki kokohnya menjajak tegap di depan ambang pintu kaca. Sesekali ia membalas sapaan rekan-rekan yang melewatinya hendak pulang.

“Udah Jum’at lagi,”

Sosok tegap tadi menoleh pada arah suara yang dikenalnya.

“Kemana kita?”

Si pemilik suara memamerkan sederet gigi kelinci di balik rekahan senyum di wajahnya. Belakangan penilaian dirinya mulai mereka-reka tentang apa yang diingini pemuda yang dalam kurun dua tahun ini dikenalnya dalam tim kerja. Ada begitu banyak sang waktu telah menggiring mereka kesana kemari dengan tuntutan profesionalitas dibebankan di atas pundak mereka namun hanya sedikit saja sang putaran jam merelakan keluangannya agar individu yang bergerak di dalamnya saling mengenal secara pribadi.

“Sepertinya ada yang mulai mengajakku berkencan,”

Lelaki itu menengadahkan wajah. Tawanya menggelegar.

“Ge-er, kamu! Aku cuma pingin jalan, nyari makanan, dan ingin ada teman,”

“Sebelum ada aku di sini, terus kamu jalan sama siapa?”

“Sendiri aja,”

“Di kantor ini kulihat hampir seluruh penjuru bagian mengenalmu?”

“Sebatas rekan kerja. Kebanyakan mereka juga udah berkeluarga. Setiap jam pulang kantor, ada yang menanti segera kedatangan mereka,”

“Diplomatis sekali…”

“Jadi, kamu mau temani aku? Kamu juga kan nggak ada yang menanti cepat pulang di kos-kos an?”

“Iihh sembarangan… ada, tauk!”

“Oh ya? Siapa? Nggak mungkin ibu kos kan?”

“Bantal sama guling, termasuk cucian baju,”

“Hahaha….bisa aja kamu. Ya udah pulang dulu sana, mandi, ganti baju!”

“Yeiiiyy…emang tadi aku udah bilang mau diajak kamu?” Tanyanya meledek.

“Emang sejak kapan kamu berhenti makan malam? Udah sana pulang! Aku tunggu di depan portal kantor,”

“Baiklah. Tapi kita berangkat ba’dah Maghrib aja ya? Soalnya aku mau luluran dulu hihi…”

“Duh, ribet sih jadi cewek?”

“Emang kamu nggak suka kalau lihat aku cantik dan wangi?”

Lagi-lagi celoteh gadis belia di hadapnya mengumpan kepalnya untuk menjitak kepalanya, gemas. Namun tak pernah itu sampai ia lakukan. Menyentuh kulit tangannya saja ia hindari. Bayu menjaga sikap memperlakukan teman wanita berjilbab.

*****

Aku jatuh cinta pada Jum’at sore. Entah mengapa, seolah hari di jelang akhir pekan yang bernama Jum’at itu begitu syahdu untuk dinikmati secara khusyu lebih pula kala sang surya memamerkan senyum ramah pada hamparan langit hingga gelaran semula putih itu pun menampakkan rona tersipu jingga kemerahan. Dan aku agak membenci Sabtu. Karena aku harus bersabar menanti kembali datangnya Senin -bukan berarti pula I love Monday- Sabtu adalah makna ketika aku harus bersabar membiarkanmu sejenak pulang kampung, atau merelakanmu meluang waktu bersamanya, dia yang kau sebut cinta.

Tak ingin aku menyebutnya dalam konotasi bernuansa negatif seperti kebanyakan penilaian kacangan orang pada umumnya. Di mataku, everybody needs somebody. Bayu lelaki mapan, kapanpun seandainya dia mau bisa saja busur panah hatinya ia layangkan pada lajang yang bertebaran di kota tinggalnya ini. Dia lelaki baik sebaik  rupa fisik dan perilakunya. Meski sebagai pendengar yang baik pula dia agak bukan orang yang mudah bertutur tentang pribadinya, kecuali dirasanya berada dalam zona nyaman bersama seseorang yang bersedia meluang waktu bersamanya.

“Sedari tadi kita ngobrol kamu kok nggak memuji aku?”

Bayu menoleh sebentar saja. Fokus pandangannya menuntutnya menatap ke depan.

“Iya deh, kamu cantik, malam ini. Belum tentu besok, kemarin pun nggak,”

Bayu berkelit-kelit badan manakala tangan Diary mencubit manja pinggangnya.

“Hey…aku lagi nyetir nih,”

“Kita mau kemana Bay?”

“Warung tenda ikan bakar yuk,”

“Boleh, tapi bukannya kamu nggak suka makanan laut?”

“Untuk beberapa jenisnya, iya aku nggak suka. Misalnya…..ubur-ubur….,”

Bayu meski tak nenoleh ia tahu Diary memajukan bibirnya mencibir.

“Kamu suka nggak sop keong sawah? Aku traktir deh,”

“Huaaaa…dengarnya aja aku mual! Emang ada?”

“Aku nggak tau kalau kota ini, tapi dari googling, belakangan orang mulai mencari alternatif jenis makanan pengganti daging sapi yang harganya selalu bergengsi. Lebih pula, menurut Prof dr Hardinsyah, MS, Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, yang aku baca di salah satu media berita online, keong sawah memiliki kandungan gizi cukup baik meski belum bisa setara daging sapi. Keong sawah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein,”

“Kamu udah pernah nyoba?”

“Belum sih. Tapi nggak nolak kalau makannya bareng kamu, Bay,”

“Ry, suir aku pingin jitak kepalamu, deh,”

Diary tertawa geli.

“Kalau di daerahku udah mulai dibudidayakan dan gerai-gerai café nya udah mulai menjamur menyajikan menu sop keong sawah. Harganya masih sangat terjangkau, cuma sepuluh ribu rupiah aja per porsi udah termasuk nasi putih dan segelas teh hangat. Makanya Bay, sekali waktu cutilah, main ke kampung halamanku, nanti aku traktir makanan itu deh. Tapi nggak termasuk tiket pesawatnya ya, hihi…”

Mata Bayu kali ini benar-benar mentap gemas pada gadis yang puas tertawa cekikikan di jok sebelahnya.

“Kita udah nyampe, Bay. Kamu mau parkir di mana? Sepertinya di sekitar pagar alun-alun dilarang parkir,”

“Agak jauh, di depan supermarket sana, nggak apa-apa kan Ry kita jalan kaki agak jauh?”

“Kamu inget ga Bay? Kita pernah pulang abis nonton di XXI, naik angkot sampai kebablasan sampai ke situs pemakaman wali? Dari situ kita kan jalan kaki satu kilometer sampai ke rumah masing-masing,”

“Haha… waktu itu kita keasyikan ngebahas film,”

“Not exactly,”

“Hmm?”

“You love when you drawn in a conversation,”

“Hmm…okay, say that you’re right. I feel comfort when I found somebody talkative and also listening,”

“Have you found that one?”

Bayu masih sibuk dengan aktivitas mengunci pintu mobilnya.

“Yaa…”

Diary memandang wajah bersegi bersisian dengannya kini di trotoar. Mata kecokelatan itu balik menatapnya jenaka.

“Kamu, Diary-ku,”

“Yakin? Kenapa aku? Gimana kalau aku adalah sebuah diary milik orang lain? Nanti kamu kecewa,”

“Kemanapun seseorang itu membawamu, aku merasa nggak akan kehilangan kamu, karena aku yakin setiap Jum’at petang kamu akan teringat padaku, lalu menghubungi aku, dan kamu mengajakku bicara tentang film, karya penulis kenamaan favorit kamu, padu padanan dua atau tiga warna yang lalu kamu beri nama sesuka hatimu, makanan kesukaanmu termasuk keong sawah,”

Diary tak kuasa pula menahan gelak. Sok tahu memang kedengarannya. Namun nyaris tiada meleset. Bayu memang mengenal Dikta, kekasihnya yang kini tengah studi program magister di negeri Kangguru. Dulu Dikta sempat satu kerjaan dengan mereka. Nasib beruntungnya, Dikta memperoleh beasiswa S2 ke luar negeri. Dikta memang lelaki romantis tetapi ambisi akan dunia bisnis dan pencapaian karir di masa depan lebih mendominasi isi kepalanya. Dikta bahkan belum apa-apa sudah memutuskan supaya Diary meninggalkan pekerjaannya selaku editor dan desainer website Harian kota.

*****

“Jangan menguras air mata terlalu banyak. Karena nanti bahagia menjadi ragu mengetuk pintu hatimu, Diary,”

Bisik Bayu lembut di telinga Diary. Dibiarkannya gadis berparas cokelat manis itu menghamburkan sedu sedannya. Tiada sedikitpun kedua tangannya merangkul punggung Diary, meski secara naluriah betapa ingin ia rengkuh tubuh ringkih merebah pada pundaknya kini, menangis sejadinya. Pujaan sekaligus tambatan janji sucinya melenggang ringan begitu saja bersama wanita lain. Meski Diary awalnya beranggapan itu hanyalah isapan jempol belaka, tetapi teman-teman Diary yang kebetulan teman seperjuangan Dikta di bangku kuliah menyodorkan fakta foto. Pun sempat suatu dini hari Diary menelpon Dikta, dan yang menjawab telpon genggamnya suara seorang wanita muda. Spontan pula wanita muda itu berkata, adalah nyonya Dikta. Mereka telah resmi menikah bahkan sebelum Dikta berangkat ke Australia.

“Aku ingin pergi dari sini sejauh mungkin, Bay,”

Ungkap Diary suatu Jum’at sore usai jam kerja. Tiga bulan dirasa cukup mengobati luka hati dalam keberdiaman. Kini gadis berparas manis hendak mengepakkan sayap melanglang meski belum lagi terencana hendak kemana.

Bayu sebatas mengangguk. Disembunyikan dalam rasa memerih mendengar keinginan Diary.

“Setidaknya kabari aku dimanapun kamu mendarat. Atau aku akan tetap terjaga hingga pagi tiba,”

“Kamu nungguin aku sebegitunya, Bay?”

“Bukan, tapi emang aku sembari nonton tayangan premier league di tivi,”

“Baaayyy!

“Aku di samping kamu tapi kamu sudah merindukan aku, Ry? Aduuh…ampuuunn…”

Berkelit dalam sempit Bayu menghindari cubitan gemas Diary.

*****

Tahun ketiga namun semua kenangan tentang Diary masih hangat dalam ingatan. Jum’at sore di tahun kemarin Diary melenggang kembali ke kampung halamannya. Semenjak itu pula tiada sepatah kata sebait kalimat pun menyapa di layar ponsel Bayu. Pun di hari ketiga Bayu mencoba menghubunginya, sayang, nomor Diary sudah tidak aktif. Menjawab tanda tanyanya, nekad Bayu menyusul terbang ke kampung halaman Diary setelah memperoleh alamat rumah orang tua Diary dari rekannya di divisi HR. Tanda tanya yang lebih membentuk teka-teki misteri. Tiga hari Bayu meluang waktu untuk pencarian, selama itu pula hanya alamat kediaman yang ia temukan ternyata milik orang lain. Tiada satupun warga di pemukiman di sana mengenal nama Diary, termasuk foto yang diperlihatkannya dari layar ponsel pintarnya, pun nama orang tua Diary yang disebutkan Bayu. Hingga Bayu memutuskan kembali ke kotanya dengan nihil hasil.

Jum’at sore. Langkah Bayu menderap langsung menuju area parkir. Hasratnya pupus sudah memandang bola surya bercengkrama dengan langit yang berangsur merona jingga. Meski Diary entah di mana berada, masih Bayu menyisir setiap tepi trotoar yang dahulu pernah mereka lintasi berdua. Menoreh harap Diary dahulu ‘kan kembali, atau adakah Diary dengan lembar baru berkenan bersinggah menemani Jum’at sore kehidupannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s