Gorengan

#cerita mini

tempe

Masih derai merinai dari langit siang ini. Sebagai mana bulir itu mengurai membasahi pipi bulat telur pemilik wajah di balik tirai. Perempuan muda berambut tergerai sesenggukan. Tiada yang pasti memahami gerangan gundah gulana melanda hatinya. Pun karena ia tengah sebatang diri.

“Kenapa menangis?”

Si rambut gerai terkesiap. Hendak pula tirai pelingkup bingkai ia bentangkan agar tiada pula seseorang kan melihat lebih lagi dari jarak terdekat. Namun terlambat. Lelaki bertubuh segi empat dibalut jaket kulit berwarna cokelat tiada juga gegas beranjak.

“Kenapa menangis?” ulangnya. Seperti kali ini ingin benar sekali mengetahui sebab-musababnya.

Si rambut gerai hanya menggeleng. Gagal ia menghentikan sesenggukannya. Gegas ia beranjak meninggalkan bingkai kayu di hadapnya, pun termasuk membiarkan lelaki berambut pendek bermodel bulu landak itu termangu di depan jendela kamar yang menghadap ke ruas jalan setapak. Kedua belah telapak tangannya dibenam ke dalam kedua saku jaket. Bibir tipis kemerahan membentuk garis senyum di bawah tulang hidung berbentuk angka tujuh menukik terbalik, gurat pelipisnya terlihat tegas. Alisnya berbentuk lengkung menaungi sorot mata ramah berwarna kecokelatan menyiratkan rasa iba teramat dalam.

Mungkin lebih baik aku berjalan-jalan keluar rumah. Setidaknya cuaca di luar tinggallah rerintikkan hujan. Siapa tahu udara dingin bisa menghibur lara di kalbu. Meski entah akan kemana. Begitu bersit si rambut gerai. Langkah kecilnya mulai menyusur lorong menuju ruang tamu dan segera ia membuka ambang pintu. Tiada seseorang pun di luar. Bahkan pemuda tadi. Ah, siapalah dia. Nggak penting.

Lepas dari mulut gang. Aspal jalan raya masih menghitam basah akibat guyuran hujan sejak pagi. lalu lalang kendaraan beroda jarang melintas. Adapun melintas dengan kecepatan sangat tinggi di jalur penghubung antar kota ini. Si rambut gerai menyisir tepian jalan aspal. Satu kilometer di depan sana ada hypermart. Mungkin dengan berjalan-jalan sekadar melihat-lihat fashion atau produk-produk terbaru bisa mengusir gulana dari antah berantah membadai di benaknya sejak pagi. Lebih, food court di dalamnya selalu mengepul-ngepulkan asap dari bakaran ayam yang citarasanya limpahan bumbu rempah yang melimpah sangat khas dan nikmat. Sukar ditemui di resto cepat saji atau pujasera manapun.

“Kamu mau kemana?”

Jenis suara itu masih terekam di kepala si rambut gerai. Dia menguntitku??

“Kenapa sendiri saja? Kamu masih sedih?”

Tanyanya lebih jauh. Dan lebih percaya diri untuk bertanya seperti itu pada orang tidak dikenal.

Si gerai menyeka pipinya. Meski bukan karena basah dari air mata tetapi akibat rerintikan air dari langit yang masih menggelayutkan mega kelabu.

“Aku mau ke hypermart,” akhirnya si rambut gerai bersuara.

“Terus, kenapa kamu kelihatan sedih? Baiklah. Kuharap ini bisa mengobati kesedihanmu….”

Cekatan tangan kanannya merogoh saku belakang celana jeans untuk mengambil benda persegi kecil berbahan kulit. Dari kelopaknya cekatan pula tangannya memilah-milah lembaran merah dan biru yang tersusun rapi. Mungkin ada dua atau tiga lembar berwarna merah dan satu lembar berwarna biru cepat ia gulung-gulung dalam kepalannya lalu disodorkan tanpa basa-basi pada si rambut gerai.

“Terimalah….”

“Apa? Nggak. Makasih. Aku nggak mau itu!” Tukas si rambut gerai mulai ketus. Berani-beraninya sosok pemuda yang tidak dikenal ini tadi dia bertanya di depan jendela kamarnya, lalu menguntitnya, dan kini memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu padanya secara cuma-cuma. Apa yang di kepala lelaki mungkin sama. Beranggapan jika mereka mengepal sejumlah banyak nilai tukar barang lantas dengan mudah beranggapan setiap perempuan adalah jalang pun bisa dibeli serampang tanpa pandang.

“Nggak apa-apa, terima aja. Aku nggak akan minta imbalan apapun kok,”

Ulangnya seolah mengerti keambiguan berputar di benak si rambut gerai. Tetap berkeras menolak. Kedua bilah lengannya dia sembunyikan di belakang punggungnya. Kepala bulat telurnya menggeleng. Matanya menyipit pada lelaki sebaya di hadapnya. Lancang sekali! Apa yang akan membersit di kepalanya andai saat ini A’ Rayan, suamiku tiba-tiba muncul di dekat sini. Dia pasti akan segera menghujani wajah tampan pemuda ini dengan tatapan tajam dan gerahamnya yang turut menggeretak. Sayang, dia sedang dinas keluar kota semejak dua hari silam. Rutuk si rambut gerai membatin.

“Jadi, kamu beneran nggak mau uang ini?”

“TID… DAK!” Desis si rambut gerai dengan tatapan mulai menajam. Biarpun ia yakin persis di dalam lipatan dompet di saku celana panjangnya tinggallah selembar lima puluh ribu dan selembar lima ribu, tetapi menerima begitu saja beberapa lembar bernilai tinggi dari seseorang tidak dikenal, tanpa asal-muasal, sebab-musabab, sama saja dengan penistaan terhadap harga diri. Siapa pula gerangan akan menduga andai lelaki di hadapannya ini meski terlihat simpatik justru tengah menghipnotis dirinya dan hendak menjerumuskannya ke dalam jurang kenistaan?

“Ya baiklah. Kalau begitu… Alhamdulillah….” Ujarnya kalem. Beberapa lembar kertas bernilai tinggi tadi dimasukkannya kembali ke dalam lipatan dompet kulitnya. Tangannya tak urung mengelus bidang dadanya. Masih berujar ucapan syukur dari bibir tipisnya yang menyimpul senyum.

“Kamu mau ke dalam sana?”

Masih dengan intonasi ramah ia sembari menunjuk pintu kaca hypermart. Beberapa orang terlihat masuk dan keluar sembari menenteng beberapa bungkusan kantong belanja. Saat pintu kaca membentang otomatis, terhambur aorma dari kepulan asap bakaran ayam dari dalam. Udara dingin di luar makin meramaikan suara perut yang sejak tadi menyenandungkan irama lapar. Si rambut gerai melenggang ke dalam hypermart. Pada salah satu meja kosong dengan empat buah kursi, ia menarik satu darinya. Jemari lentik berhias lingkar logam mulia tipis cekatan meraih lembar daftar menu di atas meja, matanya meneliti satu-persatu daftar makanan dan minuman yang sangat menggoda. Jauh di lubuknya menyenandungkan angan, harapan paling bodoh yang tiba-tiba mengalahkan logikanya, berharap si pemuda tadi masih menguntitnya lalu menghampiri dan duduk di hadapannya, menanyakan pesanan tipe ayam bakar dan minuman yang diinginkannya, dan terakhir, setidaknya melunasi billnya di kasir. Bodooooooooohhhh… andai diterimanya saja beberapa lembar berwarna merah dan biru tadi, tak akan habis seketika untuk satu porsi nasi pulen, dengan ayam bakar beraroma khas, serta sambal selera tiada tara dan irisan lalapan, dan satu gelas jus buah segar. Toh, dia bilang, tidak meminta imbalan apapun. Lalu adakah argumen paling masuk akal untuk menolak rejeki yang tiba-tiba turun beriringan dengan derai hujan dari langit?? Mata kecil si rambut gerai diam-diam melirik ke arah pintu kaca. Berusaha sekuat mungkin agar kepalanya tidak ikut menoleh, khawatir si pemuda tadi masih bediri di luar akan menyadari kalau dirinya kini mencari-cari. Duuh…. kemana dia?

Desahan pelan mengembus dari hidung mungil. Si gerai berdiri. Langkahnya hendak meninggalkan meja. Batal memesan. Mungkin lebih nyaman kalau beralih saja dulu melihat ada produk baru apa di hypermart.

“Kamu mau kemana?”

Sontak si rambut gerai tergugah. Matanya membelalak. Semata karena kini lengan kirinya ada yang menggenggam. Namun perlahan dilepas.

“Mau makan, tapi nggak jadi , lihat-lihat aja dulu lah ke hypermart,”

“Kamu lapar? Mau aku bayarin?”

Si rambut gerai terlongong. Seolah kini jiwanya tergiring semilir.

Si pemuda menelunjuk ke arah luar pintu kaca. Mata si rambut gerai mengikuti.

“Di sana… yuk!” Ajaknya tanpa rasa canggung sedikitpun. Sekali lagi tangan kanannya menggenggam lengan kiri si rambut gerai hingga mau tidak mau langkahnya mengekori langkah panjang si pemuda. Berdua mereka menghabiskan langkah pada lantai paving block hingga batas pagar halaman hyhpermart. Si gerai rambut celingukan bingung. Apa yang tadi ditunjuk oleh si pemuda ini?

“Bang… gorengan campur ya, sepuluh ribu, pake cabe rawit sama petis,” pintanya pada penjaja gorengan dengan gerobak yang tengah mangkal di sudut pagar halaman hypermart.

Tiada sedikitpun kecanggungan tergambar di wajah tegasnya. Si pemuda mengajaknya duduk di atas dinding semen pembatas selokan di depan pagar halaman hypermart. Tangan kanannya sibuk menyuap satu demi satu gorengan dan tangan kirinya memegang bungkusan gorengan yang dikuaknya lebar setelah berulang kali mengajak si rambut gerai duduk dan menyantapnya bersama. Ooohh…. gorengan…. thok.

#cerpenagnez
Thank’s to Bochi, cerita bunga tidurnya so inspiring :mrgreen:

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s