Secangkir Wedang

#cerpen

“Kita udah tinggal lima ratus meter lagi ke pos lima!!”

Jay mengulurkan tangan ke belakang punggungnya. Lama tersambut. Pengiring di belakangnya dengan sengal nafas menggumamkan sesuatu.

“Gue lelah, Jay,”

Jay mengabaikan keluhan teman sependakiannya. Sama seperti pendakian ke Rinjani beberapa waktu lalu.

“Ayolah! Sedikit lagi, pasti nggak akan kerasa,”

Mereka menapak dalam senyap. Sesenyap alam rindang melingkupi jalur yang mereka lalui.

Kembali Jay memecah kebekuan yang kian mendingin.

“Pake jaket gue nih…”

Rayna diam sembari memeluk erat kedua lututnya. Meski api unggun telah menyala beberapa meter di area pos. Jay bangkit gegas membuatkan minuman wedang hangat. Tiada pula gadis manis itu geming. Jay duduk di sebelahnya menyodorkan secangkir minuman hangat. Kilap-kilap kelebatan api sekilas pintas menerangi wajah Rayna. Kekhawatiran merayapi kalbu. Ada apa denganmu.

“Sakit Ray?”

Rayna menggeleng. “Aku hanya lelah,”

Jawaban Rayna masih serupa tadi. Tidak. Ini bukan Rayna. Setahun lalu mengenal Rayna adalah sosok pendaki mumpuni, tegar, hingga beberapa puncak telah bersamanya mereka kibarkan keberhasilan pencapaian.

“Kalau lo sakit. Kita turun besok. Gue siap anterin lo berobat,”

Rayna tetap menggeleng. “Kita terus naik, Jay.”

“Gue hanya ngerasa nggak nyaman kalau di antara kita meneruskan pendakian dengan keadaan seperti ini, lo terus mengeluh tapi masih ingin kita terus naik…”

“Jay! Bisa diam nggak?!” Hardikan Rayna menggelegar. Wajah kedua teman mereka menoleh. Ara pelan menghampiri. Tetapi sedikitpun dia juga tidak ingin terburu-buru mengajukan tanya, melihat mimik tidak nyaman dari kedua temannya. Jay beringsut menjauh. Ara mendekat di samping Rayna. Menepuk-nepuk pundak temannya. Membisikan tutur menghibur.

“Baiklah…istirahat dulu sob. Kalau lo capek kita bisa teruskan pendakian besok subuh,” Ara berjingkat mengambil ranselnya yang menggeletak agak jauh. Awan bergulir melarutkan kelamnya langit.

“Mungkin dia memang capek aja, Jay,” bisik Ara setelah Rayna terlelap dalam rundungan  tenda.

“Nggak biasa dia begitu, Ra. Dua kali pendakian terakhir dia selalu mengeluh lelah, capek, dan segala turunannya. Kalau dia capek kenapa masih mau ikut?”

“Gue rasa dia lagi galau, sob,” Imran ikut nimbrung. “Mungkin lagi ribut sama cowoknya?”

“Sejauh yang gue tau Dika ngijinin aja Ray mendaki,” Sanggah Ara.

“Mungkin Ray nggak mau bilang ke kita kalau diam-diam dia mengidap penyakit dalam,”

“Huss…ngawur aja lo Im!”

“Wedangnya nggak diminum tuh… buat gue aja kali ya?” Imran gegas menghampiri cangkir minuman hangat yang sedari tadi tak disentuh.

Beragam duga bagai dengingan nyamuk berkecamuk. Jay tak ingin meneruskan. Lebih memilih melelap bersama angin malam meski matanya tiada kunjung mau memejam. Berharap esok sapa hangat mentari pagi mengubah dinginnya jiwa namun kenyataannya tak seindah harap semalam.

Sebagaimana ritual setiap usai pendakian satu ketinggian gunung, berempat di penghujung pekan mereka berkumpul di Tora Café. Kedai ngopi bernuansa serba kayu di tepian deraian air terjun hulu sungai. Tiga puluh menit bergulir semenjak kedatangan mereka bertiga diwarnai jabat erat dan peluk hangat persahabatan, hingga air yang tadi memenuhi cangkir mereka tinggallah sepertiganya. Begitpun piring yang dipenuhi cemilan menyisakan remah.

Mereka saling berpandang. Dan seolah saling pula bertukar pikiran dan mereka tahu persis jawaban yang mesti mengemuka di atas meja kayu bundar. “Gue tau, gue mesti wa dia,” sahut Ara.

“Nggak Ra, biar gue aja,” Jay mengeluarkan handphone dari saku jeansnya.

“Guys, nggak usah mendingan…” Cegah Imran.

“Mungkin dia udah berganti haluan. Dunia kan luas, guys. Angin bisa meniupkan arah kapal kemana aja sekehendaknya,”

“Maksud lo apa Im? Nggak usah sok puitis gitu deh…” Sergah Ara.

“Kalian kan nggak sekantor sama Ray. Jadi cuma gue yang tau, cuma gue yang jadi saksi. Seminggu kepulangan kita dan balik ke kantor, gue liat Ray sekarang dianter-jemput Jag XE R-Sport. Entah siapa laki-laki pengemudinya, yang pasti sih bukan Dika,”

“Mungkin itu hadiah dari Dika buat Ray, terus yang bawa sopirnya,”

“Ngawur kamu Ra! Mana ada nyonya sama sopirnya cipika-cipiki mesra sebelum turun,”

Ara baru saja ingin melepas gelak. Sesaat menahan ketika melihat air muka Jay. Tangan Ara menepuk-nepuk pundak lelaki di sebelahnya. Diikuti oleh Imran.

Angin khas pegunungan masih setia menghilir. Membelai-belai manja dedaunan yang berdesak-desak menggantung pada juntai batang-batang kayu pepohonan.

Hari ini, masih serupa di setahun kemarin. Secangkir wedang hangat dengan kepulan asap tipisnya perlahan terangkat, diletakkan di atas batu datar dekat api unggun. Mata itu masih sejak tadi pula menatap secangkir minuman hangat di hadapannya setelah setengah gelas miliknya dalam genggamnya ia reguk. Kedua teman sependakiannya hanya bisa menatap iba pada pemuda berambut ikal beralis tebal yang kini hanya mematung menatap cangkir wedang masih berisi penuh di hadapannya.

Ray sudah lelah Jay, … berada dalam kabin Jag tentunya lebih nyaman ketimbang secangkir wedang.

 

 

01 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s