From the Café

DSC00206
Ilustrasi dari Raihan’s Blog

#cerpen

Hujan sore itu mengurung langkahku dalam ruang kerja, hingga tak mungkin bagiku untuk bergegas pulang atau memilih tempat tujuan lain untuk bepergian usai jam kerja. Menyelempangkan blazer biru pekat pada sandaran jok berkulit hitam. Beranjak dari kursi mendekati dinding kaca ruang kerjaku di ketinggian gedung. Kulayangkan pandangan menembus benda bening tersebut walau pemandangan di luar masih buram akibat hujaman air hujan. Hampa. Hanya ilusi yang dapat membawaku melayang kepada sebuah kenangan.

~~~~~~~

Entah sudah berapa lama kita menghabiskan detik-detik hingga menghasilkan nilai menit dan hitungan jam untuk duduk di dalam café. Bahkan bulir-bulir orange juice yang kupesan pun sudah tak lagi bersisa dalam gelasnya. Begitu pula cangkir cokelat panas di hadapanmu tinggallah menyisakan warna kelat. Namun kita seperti orang yang paling memiliki sang waktu dan mempunyai stok bahan perbincangan yang tiada berbatas. Tak ada sesuatu yang sangat penting dalam obrolan senja kita, hanya cerita nostalgia antara dua orang teristimewa yang lama tak bersua.

“Pulang yuk! udah jam delapan,”

Kulihat dirimu bergegas dan menggumamkan sesuatu. Samar kudengar kau bertanya kapan aku akan kembali ke kotamu. Aku tak terlalu menghiraukan dan melenggang menuju ambang pintu café. Meski hujaman air di luar sana masih terus mengguyur.

“Hujan, Sean!” Dari dalam tasmu kau mengeluarkan sebuah payung lipat. Lagi-lagi aku tanpa hirau dan terus menyusur halaman café menuju jalan raya. Kau mengejar dan memayungiku, lalu merengkuh pundakku hangat. “Jangan hujan-hujanan donk! Nanti kalau sakit kamu nggak bisa pulang!” katamu menasehati.

“Hujan kan air, orang kalo mandi aja nggak terus jadi sakit kok,” kilahku bandel.

“Eh, jangan sok kuat deh! Nanti kalo kamu kenapa-napa, aku…”

“Kenapa? Huh! Sok-sok nasehatin, pantesnya kamu jadi kakakku aja deh!”

“Hmm… ga pa pa. Jadi selain kakak juga boleh!”

Aku langsung menoleh. Menatap bola matamu yang hitam kecoletan ketika itu sedikit terhalang oleh rambut ikalmu yang terbasahi tetesan air hujan. Sebagaimana percikan rasa dari tempat yang paling jauh di dalam sana selama ini terhalang oleh keadaan, dan suara percikan rasa itu pun senantiasa teredam oleh kekuatan logika kita masing-masing. “Jadi seseorang yang lebih berarti bagimu,” lanjutmu.

Aku terus berusaha mencari tatapan jenaka yang biasa terpancar dari binar bola matamu. ‘Kau pasti bercanda, kan?’ tegas hatiku meyakinkan. Namun sama sekali candaanmu tak kutemukan dalam balasan tatapan matamu terhadapku. Malam itu.

****** (sensor)

“…..ve you, Sean…” hanya itu yang terdengar dari bisikannya selebihnya aku hanya mendengar suara gemuruh hujan dan deru kendaraan bermotor di jalan raya.

Siapapun boleh mencercaku, mencaci-maki sosok ringkih dengan gerai rambut sebahu dan berwajah manis ini. Malam itu dalam pembicaraan di telepon, aku tahu niat baiknya hanya ingin memastikan malam itu aku sudah sampai di rumah tanteku dalam keadaan tiada kurang sedikitpun. Namun tekadku sepanjang perjalanan tadi sudah kian membulat. Pula tak kalah keberanian yang mampu kuhimpun untuk mengungkapkan.

“Den, sebaiknya kita nggak usah ketemuan lagi,”

“Loh, apa maksudmu Sean?”

“Kita lupakan jumpa senja tadi. Aku merasa begitu nista seolah kian mengkhianati Erin. Kita bersua hanya berdua, tanpa kehadirannya lagi,”

“Sean….” Nafasmu terdengar memburu.

“Aku ngerti betapa Erin sangat berarti buatmu. Kamu mengenalnya sebelum aku menemukan kalian. Aku juga peduli pada Erin. Aku juga merasa kehilangan dia.”

“Erin lebih memandang berarti kehadiranmu, Den. Sejak dulu kalian lebih banyak menghabiskan waktu bersama di sela-sela jam kuliah, kalian klop dalam segala hal, selera makan, film, musik, dan kalian partner debat yang hebat dalam setiap forum seminar di kampus karena sesama penggila buku pengetahuan dan informasi berita aktual. Dan kamu ingat Den dulu aku sempat menghilang dari tengah kalian selama kalian tengah berkutat menyusun skripsi dan berlomba mendapatkan nilai terbaik hanya karena aku ingin lihat sahabatku Erin bahagia. Bahagia karena memperoleh impiannya. Bahagia karena menemukan tidak sekadar sosok sahabat, partner diskusi, tetapi seseorang yang sekaligus mengerti dirinya. Karena aku tahu, kebahagiaan Erin hanya akan sementara.”

“Kamu irasional Sean. Aku dan Erin bersahabat. Sama seperti halnya denganmu. Bukankah setahun setelah kelulusan Erin juga pada akhirnya menikah dengan pria yang mencintainya. Lalu apa yang salah kalau aku mengajakmu jalan? Sekadar nongkrong menghabiskan senja seperti dulu? Bukan aku tidak ingat pada Erin. Di sela ibadah pun aku selalu menyisipkan doa untuknya agar ia tenang disana. Di lain pihak kamu tahu selama ini aku tidak pernah mempersoalkan entah kamu sedang jalan dengan siapa, sedang dekat dengan siapa. Sore ini hanya beberapa jam saja kita meluangkan waktu untuk sekadar berkisah setelah bertahun kita terpisah, kamu bilang nista?? Aku begitu peduli padamu selama ini, menyayangimu tanpa berharap balas sejak awal mengenalmu, lalu ternyata begitukah pandanganmu tentangku?”

“Bukan…bukan begitu maksudku, Den… aku… hallo… Den.. Denish….”

~~~~~~~

“Masih mau lembur, mbak?” Pertanyaan dari seorang Office Boy di belakang punggung tiba-tiba menyadarkan diriku bahwa sebenarnya pijakan kakiku kini berada di dalam ruangan lantai lima gedung kantor, bukan di pekarangan café.

“Ya. Biar nanti kuncinya saya yang kembalikan ke pos,” jawabku mantap dan membiarkan si OB pamit pulang. Kembali tatapanku menembus dinding kaca. Mencoba mencari kembali bayang-bayangmu di masa lalu untuk menghibur kepenatanku di sini.

By: Mutz
July 8, 2010 | 08:40 AM

Hujan, entah dia merinai, merintik, atau menghujam, turunnya ke permukaan bumi membasuh setiap permukaan tanpa penghalang kadang menyusupkan pula inspirasi ke dalam jiwa dan pikiran hingga tercipta karya dari apa yang dirasa. Tetapi percayalah, sederas bagaimanapun derainya janganlah lena terbawa hanyut oleh dendang kata tersirat, karena kisah ini dirangkai di musim panas.

:mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s