Pemadam Hati yang Terbakar

#cerita mini

Pemadam Hati“Aku pengen berhenti, Ren”

Sembari masih mengulum ice cream dan menahan dinginnya dalam mulut Kiren sahabatku menoleh sejenak saja. Pandangan kami masih lurus menatap tepi laut nun jauh yang seolah tak berbatas dengan apapun. Menjadi tradisi setiap Jum’at sepulang ngantor kami meluangkan sejenak senja duduk-duduk di tepi dermaga sekadar menghantar mentari sore hingga ke ufuk.

“Berhenti? Dari apa?” Kiren membersihkan kedua telapak dan pipinya dengan tissue. Ia menyodorkan sebungkusnya padaku.

“Dari dunia maya.” Jawabku. Selembar tissue kuambil.

“Untung ice cream-ku udah habis. Aku bisa tersedak gara-gara celotehmu,”

“Aku lelah Ren. Jenuh”

“Wait…wait a minute, dear sahabatku, apa sih sebenarnya yang kamu bicarakan? Tadi kukira kamu ingin berhenti dari job. Makanya aku udah siap-siap menutup telinga karena pasti bagai suara petir andai kamu ingin mengatakan itu. Secara aku kenal kamu dari dulu, ambisius.”

Aku terkekeh.

“Aku ingin berhenti dari dunia maya, karena selama ini seolah aku berprofesi sebagai pemadam kebakaran,”

Kiren mengerutkan alis.

“Setiap kali aku online entah itu di facebook, twitter, bbm, wa, path, dll, selalu ada dia, dia, dan dia yang entah itu siapapun datang menyapaku untuk kemudian membagi masalahnya padaku. Tak sekadar berbagi tidak jarang aku dimintai saran, sudut pandang, hingga solusi dengan dosis terendah sampai tertinggi.”

“Artinya mereka percaya sama kamu, Dee,”

“Idealnya seperti yang tampak di permukaan,”

“Kalau begitu kamu buka jasa curhat online aja, Dee. Mana tau bisa jadi sampingan yang menguntungkan?”

“Untungnya dimana?” Cibirku. Kiren tertawa.

“Terus, aku masih nggak ngerti yang kamu sebut tadi pemadam kebakaran?”

“Iya. Ibarat petugas pemadam kebakaran. Tiap orang pasti memiliki masalah. Pada umumnya setiap orang pula beranggapan masalahnyalah yang paling utama dari apapun dan siapapun. Masalah asmara, masalah rumah tangga, masalah uang dan banyak lagi. Aku selalu dimintai jawaban solusi atas persoalan mereka. Kadang tanpa kenal waktu. Seusainya kutunaikan segala kesediaanku memadamkan suluh masalah, mereka tinggal pergi dan berpesta pora bersama sanak, kerabat, dan orang-orang dekat di hati. Cukuplah mengimbalkan pemanis bibir dan sangka aku kan percaya pada omongan kosong. Aku tidak meminta imbalan materi dan bahkan tidak tertarik pada bayaran andaikan mereka anggap seperti itu. Tetapi aku lelah. Sedikitpun aku tidak pernah menjadi bagian manakala bunga-bunga taman hati mereka merekah, namun aku yang dipanggil dan mengapa pula biarkan hati terpanggil manakala si jago merah mencoba mengoyak ketenteraman hati mereka?”

“Hmm… artinya, mereka memperlakukanmu seperti recycle bin untuk setiap permasalahan pribadi? Tapi mereka lekas melupakanmu ketika masalahnya sudah sirna?”

“Yep. Recycle bin.”

“Tapi…bukankah setiap kita pun pasti ada aja berbagi masalah pribadi terhadap orang yang kita percaya? Kau pun mempercayai seseorang kan untuk menumpahkan uneg-uneg?”

“Aku jarang berbagi masalah Ren. Karena yang aku temukan biasanya bukan penyimak-penyimak yang rela meluangkan waktu sebagaimana aku setia meluangkan waktu untuk mereka. Jangankan aku berbagi tentang suatu masalah, bercerita tentang keluargaku pun orang-orang seperti itu tidak sedikitpun menyimak kecuali cukup dengan…..’oooohhh begitu’-nya.”

“Kamu memang Rossa ya? Tegar. Baiklah. Sekarang aku mengerti. Saranku, ambilah keputusan tepat di kala tidak sedang ada bara pula membakar perasaanmu, Dee. Masih ada aku kan Dee?”

Pancaran bola senja kian menemaramkan pijaran cahayanya. Berganti dengan lampu-lampu menara yang mulai menampakkan gagahnya menyambut cakrawala malam. Kiren dan aku beranjak meninggalkan dermaga. Kembali ke parkiran dan tenggelam di balik kemudi masing-masing.

Advertisements