Beranda

beranda-by-mutz

Katakanlah dalam sebuah bunga tidur,

Seorang karib bertandang ke rumahku. Bungah aku pun menyambutnya, mempersilakannya di beranda. Cakap terurai satu dua kata. Selebihnya ia diam. Kiraanku, ia butuh sesuatu agar dibantu ungkap banyak hal, nyatanya semata aku yang harus melulu aktif bertanya. Whuaaahhh sudah macam jurnalis saja? :mrgreen:

Aneh dan sangat tak kumengerti, berjam karibku terdiam. Ketika kutanya jawabnya tak ada sesuatu apa yang mengganjal benaknya. Diam lagi hingga kurasa peluru kata-kataku tinggal sebiji mata wayang. Tiba-tiba seseorang tak kukenal memanggil-manggilnya dari depan rumahku. Memintanya keluar dan berjalan menemaminya entah ‘kan kemana. Tanpa kata, karibku yang mendadak berwajah sumringah lalu beranjak pergi dengannya.

Mudah saja bagiku menutup pintu beranda dan lanjut tunaikan berbagai tugas dan aktivitas. Tetapi, esok atau lusa kembali karibku menyambangi beranda, kembali dengan sepatah dua patah kata. Lalu menunggu lontaran peluru-peluru pertanyaanku, dan kembali hanya ungkap jawab satu dua kata, hingga seseorang yang kemarin menghampiri lagi dari seberang beranda rumahku, memanggilnya untuk mengajak pergi bersama. Begitu selalu dan terulang, setidaknya belakangan waktu ini.

Lapang hatiku kapanpun bukakan pintu berandaku untukmu, namun apalah dayaku yang tak mampu menjadi penerjemah aksara yang tersembunyi dibalik kebisuan yang tak biasa.

Hanya sebatas duga, mungkin hanya kau yang tahu, mungkin seseorang itupun tahu apa yang sesunguhnya kau ingin, hanya saja………… dia tak punya beranda :p

Advertisements