Setia, Ikhlas, atau Bodoh?

cageKatakanlah ini sebuah anekdot. Beberapa waktu silam iseng saya pernah memelihara sepasang ekor ayam. Usia keduanya saat itu masihlah dapat digolongkan baru bertumbuh remaja. Selang beberapa bulan si jago dan si eteh (sebutan untuk keduanya) berkembang pesat, terutama untuk pertumbuhan alami si jago. Namun adakalanya kejengkelan muncul. Si jago yang terlihat semakin subur pertumbuhannya makin ‘berkuasa’. Setiap kali keduanya diberi makan si jago selalu memperlihatkan garangnya, pasangan satu-satunya itu diusir agar ia dapat menikmati sendiri. Awalnya saya nggak ‘ngeh tapi melihat pertumbuhan si eteh semakin menurun alias kurus dan sangat pucat. Lalu saya mengambil inisiatif yakni dengan memisahkan ruang bagi mereka berdua saat diberi makan. Si jago diberi pakan di halaman luar sementara si eteh diberi di halaman belakang. Tapi, apa yang terjadi? Bukannya menyantap sajiannya yang sama persis, si eteh malah gelisah dan ‘memanggil-manggil’ pasangannya. Begitu pula sebaliknya. Sehingga bukannya menghabiskan taburan pakan, yang ada keduanya sama-sama mencari jalan tembus untuk bersua dan bersama kembali. Tak ayal, atap awning rumah pun diterjang dan dijebol si eteh dengan kepakan sayap, lompatan, dan tenaganya. Kembalilah mereka bersua, si jago pun spontan berkokok nyaring sebagai tanda keriangannya. Tetapi tetaaap si jago kembali berulah, menunjukkan cakar lewat tajinya, bahwa hanya ialah yang boleh menikmati makanan. Yaaah, namanya juga binatang yang tentunya hanya dikaruniai insting dan nafsu.

Dari hal sederhana namun nyata tersebut, kadang saya analogikan ke dalam fenomena kehidupan manusia. Tak jarang saya memperhatikan sesuatu hubungan yang tak seimbang dan tidak sehat. Di satu pihak bersetia setengah mati bahkan jika perlu sampai mati tanpa pamrih sepeser pun, entah itu definisinya apa. Di lain pihak tak peduli apa itu arti kesetiaan yang telah diperoleh dan dinikmatinya, justru membalasnya dengan hal-hal yang menyakitkan, dusta, cela, pengkhianatan, kebohongan, fitnah, atau gunjingan.

Lalu logika saya bertanya, dan bahkan menggelegak ingin memprotes:

-mengapa bersetia pada yang menyakiti?
-apakah kesetiaan semacam itu dinamakan ikhlas? Atau bodoh?

Logika vs perasaan haruslah seimbang agar tercipta relationship yang sehat. Setiap induvidu manusia sebagaimana fitrahnya pantas untuk mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Kesetiaan itu baik asalkan kita juga jangan sampai dibodohi, dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan pribadi orang lain. (Pandu Dryad)

images from: Puisi Untuk Mu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s