Sakinah Bersamamu-Asma Nadia (a Book Review)

sakinah-bersamamuNgambek!

Kalau saja dia masih mahasiswi, barangkali Indah sudah demo di jalan tiap hari!

Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Berusaha membentuk garis yang seketus-ketusnya. Biar Ryan tahu dia kesal. Biar Ryan ngeh, dia tersinggung berat dengan kalimat lelaki itu tadi pagi. Biar lain kali sebagai suami dia lebih hati-hati bicara. BIAR!

Dan gerakan ‘no comment’ itu diteruskan Indah hingga malam tiba, saat mereka bersiap tidur. Ia hanya mengamati saja tingkah laku Ryan. Tiba dari kantor, suaminya tampak menghabiskan waktu sorenya dengan membaca koran. Saat makan malam lelaki berkulit putih bersih itu menyelesaikannya dengan tenang. Malah masih sempat-sempatnya mengucapkan terima kasih. Setelah berwudhu dan melakukan salat Isya, kemudian mengaji sebentar, lalu rutinitas bersih-bersih di kamar mandi, dan terakhir dengan santai berjalan ke pembaringan, mengambil tempat di sisi Indah. Tidak lupa mengecup kening istrinya.

Indah menunggu. Matanya melirik jam berbentuk hati yang tergantung di dinding kamar. Sambil diam-diam menyiapkan jawaban atas kalimat-kalimat yang mungkin akan keluar dari mulut Ryan. Namun hingga lewat sepuluh menit. Tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya dua tubuh yang tergolek berpunggungan di tempat tidur dalam diam.

****

Bagaimana ya rasanya berunjuk rasa di depan pasangan alias ngambek karena sesuatu hal tapi dicuekin? Malah dianggap nggak terjadi apa-apa dan pasangan bersikap biasa aja. Lah, yang ngambeknya kan jadi bingung sendiri mau dilanjutkan ngambeknya atau menyerah tapi gengsi? haha… 😀

Itulah sepenggal kisah yang saya pungut dari salah satu kumpulan cerita pendek Mbak Asma Nadia dalam karyanya “Sakinah Bersamamu” terbitan AsmaNadia Publishing House tahun 2010. Dalam karyanya yang luar biasa ini, Asma Nadia tak melulu mengupas kisah cinta belaka namun mengajak pembaca bercengkrama melalui kisah-kisah sehari-hari yang sifatnya kita banget!. Bisa jadi salah satu dari persoalan yang kita alami terwakili di dalamnya. Bahkan ada kesimpulan dalam setiap satu bab cerita sehingga pembaca tak sekadar terhibur tetapi bisa terbuka pikirannya karena pemahaman lugas yang disampaikan. Bukan untuk menggurui, semua kisah dalam buku ini mengajak kita belajar bijak dalam berumah tangga, baik yang sudah menikah dan berumah tangga, dan tak kalah baiknya juga bagi yang belum dan berniat untuk menikah.

Tak perlu merasa enggan kalau ingin membaca Sakinah Bersamamu karya penulis besar tanah air ini, jangan nanti begitu melihat tebalnya buku karena melihat sepertinya jumlah lembar halamannya banyak lalu menduga pasti ceritanya sangat panjang dan melelahkan mata. Tentu tidak! Asma Nadia sangat cerdas mengemasnya dalam bentuk kumpulan cerita pendek dan cara pembawaan ceritanya yang sangat akrab. Jadi, membacanya tak perlu dikebet satu malam harus selesai -seolah besok mau testing- cukup bab per bab saja. Itupun akan membuat rasa penasaran ada peristiwa atau dilema apalagi di bab berikutnya yang kadang membuat kita membacanya senyum-senyum, ikut mengangguk, atau bahkan terharu. Semuanya terangkum 17 cerita + 17 pembahasan seputar ujian rumah tangga. Tunggu apalagi? Baca yuk! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s