Cerber: Memiliki Hati yang Kedua (II)

Memiliki Hati yang Kedua – Part II

beautiful1
Enter a caption

Alya: Untuk seseorang yang telah menggenapi hidupku dengan perhatian dan sayangnya. Betapa bersyukurnya aku menemukan dirimu. Merajut hari demi hari dengan gelegak rindu dan gelora hasrat tersurat. Menjalani tiap detik dengan penuh semangat ‘tuk menanti setiap momen perkasihan itu tiba menyapa. Andaikan aku adalah sang waktu, pasti akan segera kuputar cepat sehingga rindu itu akan segera tergenapi dengan sebuah perjumpaan selanjutnya.

Bagus: Kisahku takkan habis di malam keseribu satu. Dan bila engkau masih ragu padaku, hampirilah jendelaku. Di sana, kau bisa nikmati waktu yang berhenti mengalir. Di sana, kau bisa nikmati waktu melambat bagai bulir embun sehingga kau bisa menghitung tetes gerimis rindu yang jatuh. Sehinga kau akan tahu, sebanyak itulah ku di sini memikirkanmu. kucing-berdasi

At Fri 08:00 am |Hai.. sdg sibuk apa?| |Eh, mbak cantik. Biasa nih lg upload data-data yang selesai diconvert. knp?|

|Ga ada apa2. Cm minggu dpn jgn nyariin aku yaa|

|Loh, mbak al mw kmn?|

|Mw cuti seminggu. Merayakan honeymoon jilid kedua sm suamiku doonk! Hehe..|

|Ciyus?? Cieee selamat ya! moga sakinah 4ever. Btw, berarti mbak al mw berangkat ke KL?|

|Makasii. Ga, bukan aku yg nyusul ke sana, tp suamiku yg datang. Rencana kami mw ke bdg, sekalian liat perkembangan pembangunan rumah cinta kami di bdg yg udah hampir jd. Eh, mas yu, nanti kalo dah jadi mampir2 ya. ajak ce-mu sekalian kenalin ok? hehe..|

|ck ck ck mantaaap tenan! Iya InsyaAllah nanti ta’ mampirin. waduh… ce-ku siapa? Lah belum ada mbak’e hahaha bisa aja|

———-

“Kenapa sih mereka berdua tuh nggak berterus terang aja? Biar jangan membohongi publik begitu?” celetuk Nania membuka sesi rumpi di pantry sementara kesemua rekannya tengah membuka kemasan sarapan paginya masing-masing.

“Masalahnya Nan, mau berterus terang atau nggak, apa mungkin jalin cinta tanpa restu dapat bersatu? Suami mana yang akan merestui hubungan perkasihan istrinya dengan pria lain. Dan aku yakin di pihak keluarganya Bagus juga pasti hal itu tidak akan pernah terjadi!” Jawab Luna.

“Terus kira-kira Mbak Alya kemana ya selama cuti?” Sita, si sekretaris menyela.

“Alya cuti untuk honeymoon sama suaminya ke Bandung,” Tiba-tiba Wahyu tergugah angkat bicara.

“Jadi dia bilang begitu? Yakin lo?” Sita tertawa meledek.

“Memangnya ada apa Mbak Sita?”

“Dear all, aku punya info maha penting. Dan ini sifatnya top secret ya. Bagus juga di kantor Cepu mengambil cuti selama seminggu. Waktunya bertepatan dengan jadwal cutinya Mbak Alya terhitung mulai Senin kemarin,”

“So what gitu loh? Bisa aja kebetulan bareng?” Timpal Reno.

“Sebentar, Ren. Aku kan belum selesai menginformasikan info maha pentingnya. Tadi pagi…” Sita berhenti sejenak. Menarik nafas dalam. Gayanya sudah seperti seorang pimpinan hendak mengambil kebijakan luar biasa. Membuat semua mata memandang geram padanya.

“Hey! Ta, ngomong tuh yang seratus persen donk!” Protes Luna.

“Begini…. Kalian tau kan Mas Hutomo?” Suara Sita merendah dan nyaris berbisik. “Ya setidaknya dari fb-nya Mbak Alya mungkin ada yang pernah tau. Tadi pagi Mas Hutomo datang ke kantor, ke ruanganku. Jauh-jauh dari Kuala Lumpur hingga tiba di sini dia semula berniat memberikan surprise buat istrinya. Sumpah! Awalnya aku sendiri dibuat kelabakan ingin memberikan jawaban kemana Mbak Alya. Aku terpaksa berbohong bilang kalau Mbak Alya sedang dinas sebagai utusan dari kantor ke Surabaya. Kalau aku bilang Mbak Alya sedang cuti, up’s! Terlebih lagi sebelumnya dia beralasan untuk honeymoon sama suaminya kenapa justru Mas Hutomo datang kesini Selasa ini? Kemana Mbak Al? Setidaknya dia udah cabut dari sejak Sabtu pagi kan?”

Semua terserempak membisu. Dingin dirasa menerpa tengkuk.

“Terus kemana Mbak Alya?” Luna membentangkan layar ponsel BB-nya. Serentak tanpa komando dilakukan pula oleh Sita, Nania, dan Irin. ‘Kebahagiaan mumpuni adalah menyoal rasa dan hasrat yang tidak dapat diungkapkan sebatas lewat lirik dan larik. Adalah tentang prestise yang bisa kau gapai ketika seseorang dengan penuh kasih dan tulus mengapresiasi apa adanya dirimu. Bahagiaku bersamamu.’ Senin jam 20:25 nih,” Semua kini saling berpandangan. Wahyu geleng-geleng kepala. Matanya memejam. Gegas dirinya bangkit meninggalkan pantry.

“Mas Wahyu mau kemana?”

“Perutku ngedadak mual, Lun!”

———-

Semilir angin pantai senja menerpa. Posisi tubuh berisi bertelanjang dada menjadi penyangganya.

“Tak ada sunset indah di sini, tapi kukira aku merasakan kenyamanan yang berbeda dibanding di Kuta atau Sanur,”

“Yakin begitu, sayang?” Tangan kekarnya sebilah menyangga di atas pasir. Badan kokoh dan berbidang tak berhelai kain itu dibiarkan menjadi sandaran bagi pemilik punggung didepannya, melunglai manja padanya sembari si pemilik jari lentik memulaskan polesan-polesan pada kanvas terbentang.

“Apa kau tak merasakannya? Ketenangan dan kehangatan. Di sini jauh dari keramaian, Bli. Sedari tadi selain menikmati pemandangan sunset aku menikmati pula alunan musik slow motion,” Tentunya alunan musik yang dimaksud Alya berasal dari Holliday Inn di balik punggung mereka.

“Ya. Segara memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi pemilik jiwa seni yang terpendam,” gurau Bagus.

“Besok aku ingin mengajakmu ke Batik Galuh sekaligus ke Desa Celuk di sana juga terdapat kerajinan emas dan perak. Hari ketiga, kita ke Kintamani ya, sayang. Ada pemandangan perbukitan dengan udara segarnya,”

“Apapun itu. All with you, honey,”

———-

Seminggu kemudian…. Setiap kali melewati cubicle Wahyu, haduh! Apalagi yang terjadi ini? Setelah semua mata kini benar-benar syarat dengan tatapan sinis dan sangat menyayat hati. Wahyu tak lagi terlihat sarapan di pantry dan shalat pun entah di mana. Sapaannya via message pun seringnya tak berbalas, bahkan seringnya malah dinonaktifkan. Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan maafkan diri ini…. Wahyu menyandangkan ransel di pundaknya. Waktu sudah menunjuk pukul lima. Alya pun baru saja menuntaskan tugas tambahan hari ini. Tanpa disengaja berdua mereka menuruni anak tangga gedung menuju parkiran kendaraan. Wahyu menyimak alur kisah tertutur penuh gugah gelora. Dalam pandangannya layaknya seorang ABG sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Jadi, rumah cinta Mbak Al sudah hampir utuh donk ya? Kapan pastinya Mbak Al berhijrah ke sana?”

“Alhamdulillah Mas Yu, semua itu karena cinta suamiku, tentunya. Insya Allah setelah lebaran. Do’akan kami ya?”

“Tentu,” Jawab Wahyu datar dengan mata menanar. Pedih terlintas mendadak dalam benak. Tak ada daya lagi dirasa untuk berkata. Hanya doa dalam batin yang masih mampu melantun… “Ya Rabb, tunjukkan bila aku yang salah. Berikan padaku petunjuk-Mu agar kumampu melihat kebenaran yang nyata, agar aku mampu meyakini salah satunya dan menghindarkan diri dari dusta dan ghibah.”

Diam.

“Jadi, cuti seminggu ber-honeymoon dengan suami yang mana?” Alya terperangah oleh pertanyaan Wahyu. Ia menoleh cepat. Didapatinya mata elang lelaki di sebelahnya begitu dingin menatapnya. Kuduk Alya merinding. Sosok yang tengah menjejeri langkahnya tiba-tiba terasa sangat asing kini.

“Apa maksud pertanyaan Mas Yu? Ya dengan suamiku lah!” Tukas Alya mulai gusar.

“Ya… tentu saja. Seandainya seperti yang pernah Mbak Al ceritakan pasti Mas Hutomo nggak bakalan nyasar jauh-jauh dari negeri Jiran sampai menyusul ke sini.” Rentetan ucapan Wahyu membekukan langkah Alya beberapa detik. Deg! Benarkah yang kudengar? Jadi itukah penyebabnya sudah dua minggu Mas Hutomo tak menelponnya setiap pagi, siang, petang, dan malam sebagaimana biasa?

“Aku nggak sampai sejauh itu dengan Bagus!”

“Oh, jadi memang benar, dengan Bagus?” Wahyu geleng-geleng kepala. Suaranya nyaris mendesis.

“Kami melakukannya tidak sampai melibatkan perasaan terdalam masing-masing,”

“Dan aku bukan saksi atas apapun yang Mbak Al lakukan!”

Alya tak melanjutkan perdebatan sengit ini. Ia bergedik menghampiri kendaraan setianya yang terparkir di dalam basement. Melajukannya segera. Tanpa pamit. Usiamu terpaut tiga tahun lebih dewasa, Mas. Namun kuyakin dirimu masih mentah soal pernak-pernik rumah tangga. Kau belum paham. Mungkin juga seperti Mas Hutomo, kurang peka terhadap impian, keinginan, harapan sang istri, yang bukan hanya melulu pelengkap hidup bagi sang suami. Ingin didengar, ingin disimak, ingin diperhatikan, ingin merasa dibutuhkan, dan terjitunya ingin diapresiasi terhadap hal sekecil apapun yang ia ciptakan dan persembahkan untuk sang suami. Karenanya, salahkah bila aku menemukan pohon rindang untuk bersandar yang sanggup menjadi peneduh bagi jiwa kerontang nan gersang?

———-

Pagi ini sesuatu lebih menyentak perasaan. BBM, SMS, intranet messenger tak satupun berbalas. Bagaimana kabar Bagus hari ini? Apa gerangan dengannya? Mengapa ketika pada akhirnya telepon Alya hanya direspon dengan jawaban-jawaban sepatah-dua patah kata belaka: “Ya / tidak” ; “Baik” ; “Hmm…” ; “Begitu” Dan, haruskah ia merasa senang atau sedih ketika menerima kabar Bagus akan singgah kemari minggu depan? Siapapun boleh menuduh Alya dan Bagus tengah melakoni sandiwara. Bagus tiba kembali di kantor induk. Jumpa mereka kini terpasung kebisuan. Ada jarak direntang. Ada lisan tertahan. Ada tatap saling berhindar untuk beradu.

“Aku hanya singgah dua pekan saja di sini. Itupun untuk mentraining PE junior yang akan melengkapi tenaga engineer di sini,“ Demikian kelu suara itu terdengar. Lelaki tinggi gagah berkulit agak kecokelatan yang begitu ia rindukan itu mengenakan kemeja biru langit bermotif garis abstrak dan jeans biru pekat. Alya pastinya ingat betul itu kado ultah darinya bulan Januari lalu. Bagus terus bicara. Punggungnya bahkan belum lagi berbalik arah. Matanya fokus membaca satu-persatu judul-judul buku di rak di ruang meeting. Alya duduk di salah satu kursi. Usai rapat dengan pimpinan sejam lalu. Mereka berdua sengaja meninggalkan diri usai rapat tadi.

“Oh ya, sekaligus aku minta kesediaanmu untuk membimbingnya juga.”

“Jadi begini caramu mengakhiri?” Tanya Alya lirih.

“Mengakhiri apa?” Kini Bagus membalikkan badan. Mimiknya tak terlihat terlalu berekspresi. Datar.

“Apa maksudmu dengan ini semua? BBM, SMS, IP message, bahkan telponku tak kau jawab. Ada apa denganmu Bli? Caramu tak pernah seperti ini?”

“Apapun yang berkaitan dengan pekerjaan, kau masih bisa menanyakan padaku selagi aku masih di sini. Aku pun mulai hari ini akan mengajar Gilang, si anak baru,” Tolong jangan dekat atau datang kepadaku lagi. Berhentilah pula menghubungiku, karena aku sendiri akan semakin tersiksa, kekasihku. Bagus membatin. Detik ini pula tak kuasa lagi menahan butiran bening yang berdesakan ingin meluruh dari balik kelopak mata. Namun sekuat tenaga pula Alya menahannya. Perlahan tanpa permisi ia mendahului meninggalkan Bagus menyendiri di ruang rapat. Menjalani hari-hari berikutnya yang sangat menyayat batin. Alya dan Bagus benar-benar memainkan peran mereka. Sempurna!

Dan dunia serasa berakhir seketika ketika Alya menemukan ini di email-nya setelah Bagus meninggalkan kantor induk: Kepada dirimu, belahan jiwa dan kekasih sejati Sebagaimana dulu pernah kau ungkapkan, nikmati kebahagiaan ini, belum tentu tahun depan akan merasakan hal yang sama. Kuingat betul kata-kata itu. Hingga akhirnya hari ini aku telah mengambil keputusan. Sebuah keputusan gila. Kau pun pasti berpikir aku sudah gila. Kau tidak salah, kekasihku. Hingga detik ini, aku masih berpikir, benarkah yang kulakukan ini? Tepatkah ini? Dan apakah yang akan terjadi setelah ini?

Kekasihku, Pernah kita genggam dunia berdua. Pernah kita miliki sesuatu yang lebih kuat dari cinta, sesuatu yang lebih hangat daripada asmara. Dan betapa beruntungnya aku karena waktu dan takdir mempersuakan kita. Merasakah hangatnya perhatianmu, memeluk manjamu, mendengar teduhnya ucapan bijakmu, dan tawamu yang melipur setiap kali jiwa ini sepi. Belahan jiwaku tersayang, Hari-hari itu mungkin tidak akan pernah datang lagi. Mungkin aku akan meratapi keputusanku ini. Tetapi kuyakin itu sangat-sangat jauh ketimbang sesalku telah membuatmu melukai dan mengkhianati pendamping hayatmu, merobek janji sakral kalian berdua. Bahagiamulah inginku. Meski aku…. harus mundur dari hidupmu.

Mengundurkan diri dari institusi yang telah mempertemukan sekaligus menautkan hati kita. Tolong jangan tanyakan kemana ku kan pergi, kerena aku sendiri belum memiliki jawabnya. Mungkin aku akan mencari nafkah di tempat lain. Atau mungkin aku akan mencoba peluang wirausaha. Do’akan langkahku yaa. Terima kasih, telah memberiku sepetak ruang di relung hatimu. Kini harus kulepas tanganmu dari genggamanku Belahan jiwamu yang sudah saatnya kau lupakan,

Bagus Oka Bramantyo

———-

Enam bulan terlewati di tahun 2013. Ramadhan menyapa. Kupasrahkan semua pada Yang Kuasa dengan penuh rasa sesak dan sesal di dada dan derai air mata yang tiada lagi berguna. Bagus pergi. Wahyu geming. Mas Hutomo memilih kian merentang waktu, jarak dan komunikasi setelah mengetahui apa yang terjadi. Hatinya hancur meluluh lantah. Rumah cinta di bandung batal kami huni sebelum separuh hati yang tersakiti terobati. Terkadang masih kumenyambangi Corner Café di senja di tengah desing asing lalu lalang kendaraan bermotor. Berharap seminimalnya kutemukan bayangmu di sana, Bli. Menemuiku dalam jumpa rindu. Tapi kutemui hanya hampa dalam kalbu.

———-

Suara itu… rindu kudengar. Suara yang selalu mengingatkan. Kini kembali menyapa usai kumandang adzan Ashar. Masih seperti dulu.

~Tamat~ Identified by: cerpenagnez

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s