Sampai Nanti

#cerpen

one of my favorite story 🙂

Airport

Siapa yang tahu nasib seseorang, juga nasib pasangan. Tidak seorang pun yang tahu menurutku. Tidak juga kau, dan kita, Kekasihku. Meski sampai saat ini dan nanti, aku berkeinginan kaulah milikku seorang. Tapi ketika jarak mulai membentang, dan pertemuan ragawi mulai jarang, sementara nasib terus saja mempunyai rencananya sendiri – yang sering kali berpunggungan dengan keinginan dan asa kita berdua – apa yang mampu kita lakukan, Sayang. Atas alasan itulah, aku mengikhlaskanmu terbang ke negeri orang, untuk kemudian membiarkan nasib melakukan perannya, tanpa kau perlu risau, dan aku was-was tentang segala hal yang bakal terjadi di antara kita berdua.

Toh, tidak akan ada yang pernah bisa menghadang datangnya kuasa Tuhan, Sayang. Tidak juga besarnya rasa sayangku, dan rasa sayangmu kepadaku. Karena kau pasti juga sangat tahu, yang terbaik buat kita, belum tentu terbaik buat nasib. Demikian sebaliknya, yang buruk buat kita, belum tentu buruk buat nasib.

“Iya, aku tahu. Yang menjadi pemenang pasti nasib. Kau selalu mengulang-ulang itu,” katamu lirih di telingaku, ketika kita berdua rebahan, setelah hampir setengah hari berbenah membereskan barang untuk keperluan hidupmu di negeri rantau.

Tapi, kau melanjutkan kepadaku, “Mengapa harus gentar menanggungkan kesendirian dan keterpisahan ragawi ketika kita masing-masing yakin diciptakan untuk saling mendampingi.”

“Apa pun bayarannya,” balasku.

“Ya, apa pun bayarannya,” jawabmu tangkas.

Bahkan kesepian akan kau lipat, juga kehampaan yang tak terperikan karena terpisah dari orang yang paling disayang?

Memang, meski terdengar naïf, tapi apa yang dikatakan kekasihku tentang rasa sayangnya kepadaku, bukanlah ikhwal yang kacangan. Dari dulu, semenjak berkenalan di bangku semester pertama di tempat kuliah kami, dia selalu mempunyai kecenderungan bersungguh-sungguh atas apa yang diyakini dan dikerjakan. Termasuk ketika kali pertama, dulu, kami saling meyakini jika masing-masing cinta kami akan saling bertaut, untuk kemudian saling mengisi, mewarnai, dan memaknai. Bahkan ketika kedewasaan kami sama-sama mengembang dan berkembang, kau makin yakin kita makin tak terpisahkan.

Saking yakinnya dirimu atas kebersamaan dan kelanggengan hubungan kita, bahkan pada momen ketika kita masih merebahkan kepenatan, kau berujar, “Kau akan menjadi ayah yang baik, dan kuat buat istrimu. Aku yakin itu. Dan aku berjanji akan menjadi ibu yang memayungi anak-anak kita. Bukankah dari dulu kau selalu berjanji agar aku meyakinimu, bahwa kau akan menjadi satu-satunya ayah dari anak-anakku. Anak-anak kita,” katanya mengingatkan kepadaku.

Aku membisu. Berbicara tak, bergerak pun tidak. Hanya angin dari jendela kamarmu yang membawa kelu.

“Mengapa kau hanya diam?” tanyamu.

“Aku tidak terlatih menjalin kasih dalam rentang ruang dan waktu yang berbeda,” kataku. “Aku, sebagaimana kamu, juga tidak mempunyai pengalaman itu. Kita mempunyai pengalaman yang sama.”

“Jadi, apa yang kau takutkan,” katanya dengan nada yang sangat cepat kepadaku.

“Aku mencoba berpikir realistis,” kataku.

“Kau ingin menyudahi hubungan yang luar biasa ini, hanya gara-gara kita dipisahkan ruang dan waktu? Dan kau pikir itu adalah jalan yang paling realistis untuk mengakhiri hubungan kita? Jangan kau mementahkan apa yang kau yakini sendiri atas semua yang pernah kau katakan kepadaku selama ini, Sayang,” katanya.

Aku diam saja.

“Mengapa kau diam,” katanya seperti mengejar jawaban padaku. “Atau jangan-jangan…” katanya melanjutkan.

Ah, tidak seperti yang kau pikirkan, Kekasihku. Aku, sebagaimana kau ketahui selama ini, hanya menginginkan kebaikan dan kebahagiaan. Hanya untukmu seorang. Maksudku, jika tanpa diriku kau di sana nanti menjumpai kebahagiaan dan ketenangan, dengan siapapun yang kau anggap paling bisa melindungimu, aku akan turut berbahagia di sini. Daripada bersetia, tapi saling menanggungkan kelaraan.

Seketika, dalam hitungan detik, kekasihku bangun dari rebahnya, berdiri, dan mengarahkan pandang tajam matanya ke arahku yang masih rebahan.

“Kau pikir aku adalah perempuan murahan, yang dengan gampang menukar kerinduan dengan kehadiran seseorang di luar kekasih sejatinya?”

“Aku tidak mengatakan itu,” kataku.

“Tapi, arah pembicaraanmu kesana, Sayangku,” katanya lagi.

“Tapi dua tahun, dan kalau itu berjalan lebih lama, dalam artian dua tahun lebih, itu bukan waktu yang sebentar.”

“Kau meragukan kekasihmu ini tidak mampu menjaga perasaan cintanya, sehingga memutuskan berpisah dengan pujaan hatinya hanya dalam waktu dua tahun lebih?”

“Aku tidak mengatakan itu, aku hanya mencoba berbicara realistis.”

“Justru kau yang tidak realistis, Sayangku.”

“Sangat menjadi tidak realistis di sini, atau di sana nanti, kalau masing-masing di antara kita ternyata saling menyiksa diri, tapi pada saat bersamaan ada seseorang yang membuat kita menjadi lebih hidup,” kataku.

“Aku hanya hidup untukmu. Aku yakini itu. Aku harap kau juga berpikiran serupa denganku,” katanya.

Aku segera terbangun, berdiri, dan menyongsong matanya, sehingga berada tepat di depan mataku.

“Aku mulai mencemaskan keterpisahan kita, atas semua pikiranmu yang baru saja kau sampaikan padaku, Sayang,”

“Aku tidak tahu Sayangku. Aku tidak pernah berpikir akan berpisah denganmu dalam waktu yang tidak sebentar ini. Meski aku bisa menyusulmu terbang ke sana, dan turut menjadi bagian dari saksi perjalanan hidupmu merampungkan studi S-2-mu. Mungkin aku hanya merasa cemas saja.”

Seketika dia merangkulku. Inilah saat yang aku takutkan dari sebuah perpisahan, kerinduan yang tak terbantahkan. Bahkan sebelum berpisah sekalipun, aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana bila berpisah sungguhan besok?

Tiba-tiba bayangan bandara menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, karena aku sangat tahu sekali di tempat seperti bandaralah, seseorang akan melepas seseorang yang sangat dicintainya, dan menyambut kedatangan orang-orang yang sangat istimewa.

Di bandara, biasanya air mata dan tawa hanya berjarak setipis benang. Dan aku meragukan diriku sendiri mampu menanggungkan perasaan kecamuk itu, kala menyaksikanmu melangkah pergi menyongsong masa depan, dengan cara meninggalkanku. Aku hanya ingin realistis. Kau cantik dan menyenangkan. Tidak sebagaimana banyak perempuan cantik lainnya, yang biasanya pintar tapi sangat tidak menyenangkan.

Hal itulah yang membuat kemungkinan laki-laki mudah jatuh hati padamu, menjadi sangat terbuka sekali. Atas alasan itulah, aku menantang diriku sendiri, untuk membiarkan nasib mengambil perannya atas hubungan kita berdua, tanpa harus menggaungkan janji apalagi sumpah rombengan. Karena aku mencintaimu, maka sebagaimana banyak dikatakan para pujangga, aku akan membiarkanmu bebas pergi kemana pun nasib membawa: Set you free.

Tapi, ketika hal itu kutawarkan kepadamu, malah kemurkaan yang aku dapatkan. Lalu apakah aku harus belajar memahami kata kesetiaan, yang cenderung lebih mudah dikatakan tapi sangat sulit diejawantahkan itu? Meski kau juga sangat tahu, betapapun besarnya cintaku padamu, demikian sebaliknya, tidak ada yang tahu tentang masa depan.

Setelah sekian lama kau peluk diriku, pelan di telingaku kau bisikkan, “Aku masih makmum sama kamu, Sayang.” Aku sangat tahu arti kata itu. Maka pelan-pelan kami akan membasuh muka dan hati untuk berwudhu. Seperti biasa, kami masih belajar untuk mendalami peran kami masing-masing. Aku belajar menjadi imam, dan dia menjadi makmum. Meski dalam banyak perkara kehidupan lainnya, terkadang dia malah menjadi imam buatku.

Pada momen belajar menjadi imam dan belajar menjadi makmum ini, biasanya akan meredakan semua perseteruan yang terjadi di antara kita. Tapi aku merasa, pada perakara menjelang keterpisahan ini, sepertinya hal itu tetap tidak akan menjadi sesuatu yang mudah juga.

Ah, apa pun itu, di bandara, pada hari yang sangat menentukan itu, aku belajar melepaskannya. Pergi. Demikian juga dengan dirinya, juga harus belajar memaknai arti perpisahan. Dan yang pasti, sebagaimana perempuan kebanyakan, dia akan lebih dari mampu menanggungkan kesendirian. Sampai nanti, Sayang.

By: Mario Ginanjar

“Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan”

25 Cerpen Kahitna | Hal 27-32

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Juli 2011

Sumber ilustrasi dari sini

Advertisements

3 thoughts on “Sampai Nanti

      1. Untaian katamu ternyata palsu
        Janji indah telah kau ingkari
        Untuk terus menjadi sahabatku
        Tahukah kau sobat???
        Bahwa segala luka yang menyobek hatimu
        Dapat juga ku rasakan dan menusuk jiwaku
        Bahwa darah yang menetes dari luka itu
        Seiring air mata yang mengalir di pipiku
        Sadarkah kau sobat???

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s