Mengulas Catatan Lawas

(Mengulas kembali sebuah catatan lawas)

Sebuah kisah dari hasil petikan pengalaman di masa lalu yang kembali kutemukan setelah mengais-ngais pada tumpukkan memory box. Bukan maksud hati ingin mengulang semua kisah, hanya teringat masih ada catatan bermanfaat di dalamnya. Semoga menjadi berarti. đŸ™‚

What Should I do If I were Him?

Dua hari ini tanpa sengaja bertemu seorang teman lama, teman kuliah sekampus dulu, tepatnya adik kelas. Baru saja dia bercerita tentang pekerjaannya, setelah enam tahun bekerja di posisi yang ‘safe’ kemudian mendapat giliran menduduki posisi bidang penjualan. Itu promosi jabatan baginya, sekaligus tantangan baru bagi masa depannya.

Tak seperti pekerjaan sebelumnya, ternyata dalam pekerjaan barunya dia benar-benar harus bekerja dengan inisiatif sendiri, kreativitas sendiri, berpikir sendiri, tak ada lagi instruksi harus begini – harus begitu dari atasan atau pimpinannya, melainkan kalangan atas tersebut memberinya keleluasaan bekerja.

Dari caranya bekerja, terlihat bagaimana kebingunan melanda dirinya. Dia masih menggunakan cara-cara marketing klasik, yang bisa jadi orang lain menjadi malas menanggapinya, orang lain tidak mengenalnya, begitu pun sebaliknya dia tidak mengenali calon pembeli produknya. Whew! If I were him… what should I do?

Sementara itu saya jadi teringat tentang pendapat suatu jurus “Jangan menjual produk! Tapi dekati hati mereka, dan mereka akan membeli apa yang anda jual!” Tapi, bagaimana caranya???

Jadi terpikir, our last Pakde (begitulah kami menyebut our boss) udah sebegitu baiknya membelikan buku-buku pelajaran marketing, ilmu komunikasi bisnis, ilmu menjadi event organizer, cara mempromosikan produk, cara mengambil hati pelanggang, dan baaaanyak lagi sampe lemari file kami udah kepenuhan sama buku2 yang diwariskan dari beliau. Dan, event-event yang harus kami gelar semata bukan untuk mencari profit melainkan sebagai ajang pelatihan atau praktikum bagi kami.

Once again, If I were him, haduuuh…. mestikah kebetin dulu itu seabreg buku pengetahuan? Ataukah kita termasuk yang menyia-nyiakan kesempatan? Atau kita akan mengejar posisi-posisi ‘safe’ lainnya yang tetapi mungkin bisa jadi sewaktu-waktu akan sama saja, di mana pun berada kita suatu saat akan diberi kesempatan untuk menangani job yang tanpa ada lagi instruksi dari atas?

Ditulis pada 28 Oktober 2009 pukul 16:40

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s