Komunikasi Bisnis Lintas Budaya

Ketika seseorang berkomunikasi, biasanya cenderung menggunakan asumsi budayanya sendiri dan menganggap orang lain memiliki budaya, bahasa, dan persepsi sama seperti dirinya. Lalu bagaimana jika komunikasi bisnis terjadi antara orang yang berasal dari negara yang berbeda? Maka tidak hanya terdapat perbedaan bahasa melainkan juga budaya. Sebagaimana diungkap oleh Sutrisna Dewi dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Bisnis yang diterbitkan oleh ANDI Yogyakarta pada Januari 2006. Komunikasi bisnis lintas budaya bisa terjadi dalam interaksi antarpekerja yang berasal dari berbagai bangsa dan suku bangsa, dengan pelanggan, pemasok, investor, atau dengan pesaing dari berbagai negara. Karena itu untuk mempermudah komunikasi, tidak sebatas dituntut penguasaan bahasa internasional tetapi juga dituntut pemahaman terhadap budaya asing.

Merujuk pada Komunikasi Bisnis oleh Sutrisna Dewi, ada beberapa hal unik yang dapat terjadi dalam komunikasi bisnis lintas budaya:

–      Cara menunjukkan rasa hormat

Sebagai contoh, di Amerika Serikat cara menunjukkan rasa hormat pada atasan misalnya dengan menyapa sebutan nama depannya, “Mr. Robert”, “Mr. William”, atau “Mr. Black”. Sedangkan di Cina dan Korea cara menunjukkan rasa hormat dengan menyebut nama jabatannya, “Direktur Ho”, atau “Manager Han”.

–      Pembuatan Keputusan

Di Amerika Serikat dan Kanada, pelaku bisnis berusaha mencapai keputusan secepat dan seefisien mungkin. Di Pakistan, pengambilan keputusan cukup oleh eksekutif tinggi. Di Cina dan Jepang, pengambilan keputusan dilakukan secara konsensus melalui proses rumit dan waktu yang panjang.

–      Konsep Ruang Pribadi

Orang Amerika Serikat dan Kanada biasanya berdiri terpisah sekitar 5 kaki ketika berbicara bisnis. Jarak tersebut terlalu dekat bagi orang Jerman dan Jepang. Bagi orang Arab dan Amerika Latin, jarak 5 kaki tersebut tidak nyaman karena terlalu jauh. Lalu bagaimana bila orang Jerman dan Arab berbicara bisnis? Akan terjadi dansa budaya. Orang Jerman selalu bergerak menjauh dan orang Arab selalu bergerak mendekat. Akibatnya, orang Jerman merasa tidak nyaman karena selalu didekati, sementara orang Arab merasa tersinggung karena merasa dijauhi.

–      Bahasa tubuh

Orang-orang dari budaya berbeda kadang-kadang salah membaca tanda yang dikirimkan oleh bahasa tubuh. Pada umumnya untuk menyatakan ‘tidak’ disimbolkan dengan menggeleng. Orang Bulgaria menyatakan ‘tidak’ dengan cara mengangguk, orang Jepang dengan mengangkat tangan kanan, dan orang Sisilia dengan mengangkat dagunya. Bagaimana dengan orang Indonesia, apakah diam diartikan sebagai tanda setuju? 😀

Ucapan selamat datang dilakukan orang Indonesia dengan cara bersalaman. Sementara suku Indian mengucapkan selamat datang dengan cara menjulurkan lidah, tentu bagi sebagian besar orang dari negara lain yang belum mengerti akan menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk ejekan. Di Spanyol, jabatan tangan berlangsung lima sampai tujuh kali ayunan, dan menarik tangan terlalu cepat akan diartikan sebagai penolakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s