Arem-Arem Mie

Arem-Arem Mie dan Lemon Juice
Arem-Arem Mie dan Lemon Juice

Mengisi liburan memang asyiknya pulkam atau mungkin pergi ke tempat-tempat wisata. Pastinya menyenangkan ya? Meski seringnya terjebak kemacetan di tengah perjalanan? hehe… Nah, bagi yang kebetulan liburannya nggak kemana-mana, yuk kita icip-icip cemilan asyik. Sebenernya resepnya dapet dari Yahoo! tapi di sini takarannya sedikit dikurangi, karena namanya juga buat percobaan, jadi porsi dikit-dikit aja dulu.

Arem-Arem Mie

Apa aja bahannya?

– 2 bungkus mie instan lengkap dengan bumbu mie instannya
– 1 butir bawang merah, kupas, iris tipis
– 1/4 butir bawang bombay, kupas, iris tipis
– 1 buah wortel, cuci, kupas, potong kecil-kecil, rebus sebentar, tiriskan
– 2 butir telur ayam
– 3 sdm kecap manis
– 6 sdm susu cair
– 2 sdm daging korned
– garam dan merica secukupnya saja, kurang dari 1/2 sdt
– daun pisang untuk membungkus
– minyak goreng untuk menumis

Yuk, kita mulai bikin….

1. Siapkan penggorengan yang sudah diberi minyak goreng. Masukkan irisan bawang merah dan bawang bombay, garam, merica, dan kecap manis. Kemudian masukkan wortel. Tumis hingga harum.
2. Rebus mie instan bersama bumbunya, jangan sampai terlalu matang. Angkat dan tiriskan.
3. Siapkan mangkuk. Aduk telur. Tuangkan susu cair, aduk lagi. Masukkan mie instan ke dalam mangkuk kemudian aduk hingga rata.
4. Masukkan adonan mie ke dalam penggorengan tumisan. Menyusul daging korned. (Karena kebetulan tidak tersedia daging cincang, saya menggantinya dengan daging korned 😀 ) Aduk-aduk hingga rata dengan nyala api kecil. Setelah mengering matikan api. Ambil adonan dengan sendok makan, letakkan dalam daun pisang dan bungkus. Hasilnya diperoleh delapan bungkus.
5. Kukus selama sekitar 20 menit, atau hingga matang.
6. Angkat. Sajikan dengan saus sambal. Arem-Arem Mie terasa semakin mantap sebagai teman minum lemon juice.

 

Paskibra

Pasukan Pengibar Bendera (Ilustrasi Banjarmasinpost.co.id)
Pasukan Pengibar Bendera (Ilustrasi Banjarmasinpost.co.id)

Terinspirasi dari seorang teman blogger yang menceritakan pengalaman konyolnya menjadi bagian dari paskibra di sekolahnya. Aku jadi teringat pengalaman sendiri jaman dulu semasa masih mengenakan seragam putih-biru.

Namanya juga pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup kita, betul??

Ceritanya pertama kali merasakan kebagian tugas jadi anggota paskibra adalah semasa aku masih duduk di kelas dua SMP. Di sekolahku dulu, tim paskibra untuk pelaksanaan rutin upacara bendera setiap hari Senin tidak pernah secara sengaja dibentuk, melainkan wajib secara bergilir bagi tiap-tiap kelas. Nah, karena ada enam kelas maka tiap-tiap siswa dari keenam kelas itu wajib hukumnya kena giliran jadi anggota paskibra untuk upacara bendera tiap Senin.

Tiba giliran kelasku, siang itu tanpa ada hujan, tanpa ada gledek tiba-tiba saja ketua kelas kami masuk ke kelas membawa list dari ruang kantor guru. Lalu mengumumkan siapa-siapa saja yang terkena tugas wajib paskibra untuk hari Senin depan.

Namaku tersebut salah satunya, sebagai pembaca teks doa. Kemudian yang disebutkan nama-nama dari list tersebut diminta meninggalkan kelas untuk latihan di lapangan sekolah. Sementara teman-temanku yang lain berlatih, ada yang latihan irama baris-berbaris untuk membawa bendera, ada yang latihan vokal selaku pemimpin upacara, ada yang latihan berjalan tegak lurus belok kiri belok kanan sebagai pembaca teks UUD, dan yang selaku pembaca teks Pancasila juga demikian, aku sendiri planga-plongo menimang-nimang map kuning berisi teks bacaan doa untuk sesi penutup upacara.

Pengalaman Pertama – Pembaca Doa

Begitu Senin pagi tiba, tak ada yang istimewa dari tim paskibra kelas kami saat itu, sama saja seperti teman-teman lainnya cukup mengenakan seragam putih-putih lengan pendek, topi dan dasi biru, kaos kaki putih dan sepatu kets hitam. Di lapangan upacara aku berdiri sejajar dengan pembaca teks UUD, pembaca teks Pancasila, dan Dirigen. Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali rasanya menunggu ‘panggilan untukku’, padahal rasa di dalam nih udah dag-dig-dug derrr. Belum lagi pidato Kepala Sekolah yang luar biasa panjang. Duuhh… begini rasanya bakal dipanggil di sesi terakhir…. hoahhmm… kepalaku pening, pikiranku melayang-layang sekadar untuk menenangkan perasaaan gak karuan, mataku mengejap menatap langit cerah pagi. Kakiku berasa berpijak entah di mana. Sampai-sampai suara komando dari Protocol upacara tak lagi terdengar olehku. Rifka, pembawa teks UUD menggamit lenganku,

“Mutii…majuu” bisiknya.

“Hah?! Dah dipanggil ya?”

Kontan suara geerrrrrr terdengar dari seluruh barisan peserta upacara. Haduuuh! Kesan pertama sudah begini….?? Tiba di atas podium baru sebait teks pembukaan doa kubaca, tiba-tiba microfonnya mati! Aku celingak-celinguk. Tetapi Yuski si Protocol nya bisik-bisik…”udah, terusin aja bacanya sampe selesai.” Yaudah, dengan perasaan tanpa berdosa aku lanjutkan. Parahnya di bagian paling bawah teks ternyata ada bacaan Arab. OMG!!! Aku gak ngerti bacaannyaaaa. Tuhan, ampuni akuuuuuu…. Langsung aku skip aja bacaan Arabnya ke teks artiannya yang tertera dalam Bahasa Indonesia. Suara gemuruh resah-gelisah dan tawa seluruh peserta upacara makin kentara. Tak berani aku melirik ke barisan guru-guru tapi kuyakin mata mereka pasti sedang pada melotot ke arahku. Akhir kata aku langsung membaca

“Aamiin….wasalammu’alaikum warrahmatulah…wabarakatuh.”

Turun dari podium bukannya berjalan tegap tegak lurus malah berjalan santai. Sumpeh! Aku benar-benar lupa cara berjalan kembalinya saking udah salting tingkat dewa. Tanpa perlu dikomando suara derai tawa dari barisan peserta upacara makin ramai.

Pengalaman Kedua – Dirigen

Awalnya nggak sengaja dapet tugas lagi selaku tim paskibra, lagian siapa juga mau nunjuk aku? Karena pastinya panitia dari kalangan guru dah pada kapok dengan kejadian setahun lalu, seorang siswi dari kelas II-A bikin malu upacara bendera. :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

Untuk Senin depan, kini giliran kelasku, III-D jadi paskibra. Temanku Lilis, saat itu uring-uringan, gelisah, wajahnya kusut, bibirnya maju beberapa senti alias manyun karena Agus si ketua kelas sesuai instruksi dari panitia upacara meminta Lilis bergabung untuk menjadi Dirigen. Jadilah mereka berdua kucing-kucingan di dalam kelas, Agus sibuk membujuk, Lilis gerah dan terus berpindah-pindah tempat duduk karena berkeras menolak perintah tugas. Tiba-tiba saja aku menghampiri mereka dan mengajukan diri untuk jadi pemeran pengganti… ehehehe… lu kata ini syuting pelem? Terang aja mereka berdua kaget banget.

“Serius lo Mut?”

“Berani sumpah ya! Awas kalo lo sampe menarik diri ngebatalin”

Duileee pake diancam-ancam segala aku? hehe… Entah aku sendiri nggak ngerti ketika itu dapet energi dari mana sehingga dengan penuh rasa percaya diri muncul keinginan untuk mengulang kesuksesan eh, salah ya? Maksudku untuk memperbaiki kesalahan peran di edisi terdahulu. Pfff…. di saat latihan aku dapat bimbingan lebih keras dari Pak Budi si guru kesenian. Masak yang bawa bendera aja abis latihan terus boleh ngaso di kantin sementara aku dipanggil lagi, disuruh latihan lagi….latihan lagi….latihan intonasi suara, olah vokal,  dan ketukan irama. Beliau khawatir banget performance-ku yang dulu bakal terulang lagi di atas podium. hihihi….gak lah! I’m different now!

Senin pagi itu, aku datang ke sekolah lebih pagi. Kemudian menuju ruang sekretariat untuk mengambil perlengkapan upacara. Kali ini lebih terasa sebagai tim paskibranya. Bersama teman-teman paskibra lainnya, kami mengenakan baju seragam putih-putih lengan panjang, sarung tangan putih, kacu merah penutup leher di balik kerah baju, kaos kaki putih dan sepatu seragam berwarna hitam, dan…. peci hitam di kepala dengan semat burung Garuda di sisi kirinya. Whuiiihh… rasa percaya diri jadi makin bertambah! At least, meski hanya sebatas paskibra di sekolah lhoo… bukan paskibraka di Istana Negara dengan segala atributnya yang lebih lengkap lagi, tetapi there was a lesson for me: Menantang untuk maju. Karena jika hanya menunggu dipilih, iya kalau ada yang memilih, tetapi siapa pula akan memberikan kesempatan itu jika kita tidak pernah membuka pintunya? #96 Junior High ’93.

Sumber Ilustrasi: Banjarmasinpost.co.id