Buku Nikahmu

Sepasang merpati

#cerita mini

Semua yang hadir di ruangan ini terdiam membisu. Menunggu detik-detik menegangkan. Wajah lelaki itupun tampak tegang dan pucat, tetapi bukan karena sakit, melainkan karena suasana ini yang sama sekali baru seumur hidupnya dan diniatkan hanya sekali sepanjang hayatnya, Insya Allah.

“Bismillahirrahmanirrahiim….”Akhirnya pak penghulu memecah keheningan. Ritual langkah awal prosesi pernikahan dimulai. Beliau sambil menjabat erat tangan sang mempelai pria. Syukur Alhamdulillah, Fadli lancar mengucap ijab kabul, disambut riuh rendah ucapan hamdalah dan kata “sah!’ oleh seluruh keluarga dan para tamu yang hadir menyaksikan sekaligus menjadi saksi akad nikah mantan kekasihku.

Usai penyematan cincin, mempelai pria menyingkap kain kerudung yang sejak tadi menyelubungkan kepala dan wajah sang mempelai wanitanya. Mengecup mesra kening Keisha yang kini telah sah menjadi istrinya. Kemudian mereka menandatangani berkas yang disodorkan oleh pak penghulu. Keisha yang sejak tadi tertunduk khidmat, kini mulai mengangkat wajahnya, menatap satu-persatu dan menebar senyum kepada para tamu, termasuk kepadaku, special… senyum yang sangat teristimewa, karena senyumnya untukku itu terlihat aneh, entah senyum sinis, atau senyum ekspresi ‘kemenangan’, beberapa detik sebelum Fadli mengulurkan berkas-berkas dan buku nikah untuk giliran Keisha menandatangani. Setelah itu Keisha melipat dan mengelus buku tersebut, masih dengan senyum. Benda itu pasti teramat istimewa, setidaknya itulah yang ada dalam benaknya, pikirku.

Antrean tamu mengular menuju ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang tengah merayakan puncak kebahagiaan hidupnya. Selangkah demi selangkah. Tak berkesudahannya mereka berdua menebar senyum dan ekspresi bahagianya serta mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang bergantian berjabat tangan memberinya ucapan selamat. Hingga tiba giliranku mendekat kepada pasangan Fadli-Keisha.

Fadli, lelaki itu tak kukenal sebagaimana dia pun tak mengenaliku sebelumnya, hanya membalas uluran jabat tanganku seraya senyum dan berucap “terima kasih”. Pada Keisha, ia menahan, mengatup kedua bilah telapak tangannya di depan dada sehingga akupun melakukan hal senada. Kumanfaatkan momen ini untuk sekali pula seumur hidupku setelah semua kisah kita tinggalkan berlalu di belakang sang waktu. Masih di hadapannya kuberkata, “Selamat ya Keisha. Semoga bahagia selamanya. Kalau buku nikahnya perlu di-scan, kantorku terima jasa scan-an dan dokumentasi arsip.” Ucapku sambil berlalu dengan senyum jahilku menyisa dalam tatapan keheranannya.

Koplak!

By: Ahmed Jahil inspirated from Alih Media Daily Jobs
January, 22 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s